
Ella menendang kaleng minuman soda yang berada di depannya lalu kembali berjalan layaknya orang yang sedang tidak ada semangat hidup.
Dan Ella memang merasakan hal itu, hari ini adalah hari yang cukup membuat Ella ingin melayang dari lantai lima ke lantai satu sebuah gedung. Namun, Ella tidak melakukan hal itu karena dia masih sayang kepada nyawanya.
Ella kembali menendang sampah yang ada di hadapannya. Ella sedikit heran, ia sekarang sedang berada di parkiran rumah sakit dan banyak sekali sampah yang bertebaran. Tempat ini lebih layak disebut sebagai lapangan yang baru saja dipakai untuk sebuah acara daripada sebuah lapangan parkir kendaraan bermotor di sebuah rumah sakit.
"Kalau lihat sampah itu, lebih baik dibuang daripada ditendang," ucap seseorang dari belakang.
Ella dengan refleks langsung melihat ke belakang untuk mengetahui siapa orang yang mungkin sedang berbicara dengannya karena hanya dialah yang menendang sampah.
Ella memperhatikan wajah orang itu. Ella merasa tidak asing dengan wajahnya.
"Lihatin gue nggak usah gitu banget, kali," kata orang itu. "Kayak lo nggak pernah lihat muka gue aja."
Ella bingung dengan apa yang dikatakan oleh orang itu. "Hah? Maksud lo?"
"Lo udah berapa lama, sih, nggak ke rumah gue?" tanya orang itu.
Ella menautkan kedua alis matanya, ia mencoba mencerna pertanyaan dari orang itu. Dan dapat jawabannya, orang yang sekarang berdiri di depannya adalah kakak laki-laki pertama dari Abel. Kalau Ella tidak salah, namanya adalah Jordan.
"Bang Jordan?" tanya Ella memastikan.
Jordan mengangguk dengan senyum terukir di wajahnya. "Lo habis jenguk Abel atau mau jenguk?"
"Awalnya gue mau jenguk, Bang, cuma tadi di dalam ada Bang Jovan sama Bang Ryan. Jadi, lebih baik gue pulang," jawab Ella.
"Lo ke sini naik apa?" tanya Jordan.
"Jalan kaki," jawab Ella.
__ADS_1
"Serius? 'Kan, dari sekolah ke sini lumayan jauh, El," kata Jordan.
"Gue tadi jalan sekalian meratapi nasib, Bang," ucap Ella.
"Lo mau gue anter pulang, nggak?" tawar Jordan.
Ella langsung menggelengkan kepalanya. "Enggak usah, Bang. Gue bisa pulang sendiri, kok."
"Jalan kaki juga?" tanya Jordan.
Ella kembali menganggukkan kepalanya. "Rumah gue dekat sini, kok, Bang."
"Kayaknya lebih baik lo gue anter deh, soalnya gue mau bicarain tentang satu hal ke lo," kata Jordan.
Perkataan Jordan barusan membuat Ella penasaran.
"Hal apa, Bang?" tanya Ella.
Rasa penasaran Ella saat ini melebihi rasa-rasa yang lainnya. Maka dari itu, Ella pun setuju dengan Jordan bahwa mereka akan pergi ke sebuah kafe yang jaraknya tidak jauh dari rumah sakit.
*
"El, lo tau nggak kalau lo itu orang yang buat Jovan jadi normal lagi?" tanya Jordan ketika dirinya dan Ella sudah duduk di kursi kafe.
"Jadi, selama ini Bang Jovan nggak normal?" Ella malah balik bertanya dikarenakan pertanyaan Jordan membuat Ella sedikit terkejut dan pastinya, ia juga sedikit bingung.
"Dianya, sih, normal, cuma perasaannya agak nggak normal," jawab Jordan.
"Perasaan agak nggak normal gimana, Bang?" tanya Ella. Rasa penasaran yang tadinya sudah ada di dalam tubuh Ella kian bertambah besar.
__ADS_1
"Kayaknya gue harus langsung ceritain semuanya ke lo, deh, El," kata Jordan.
Ella menganggukkan kepala pertanda ia setuju dengan apa yang dikatakan oleh Jordan.
"Jadi gini, sekitar setahun yang lalu, sebelum gue pindah ke luar kota, Jovan ngasih tau ke gue kalau dia suka sama seseorang. Dan gue di situ langsung ngedesak dia buat kasih tau gue, karena seingat gue, dia sangat jarang dekat sama cewek dan dia juga baru masuk SMA.
Awalnya dia nggak mau kasih tau gue dan pada akhirnya gue tau sendiri dari secarik kertas yang gue temui di selipan ensiklopedia punya gue yang dia pinjam. Pada saat gue tau hal itu, gue langsung datengi dia dan marah sama dia-"
"Kenapa marah?" tanya Ella sekaligus memotong cerita Jordan.
"Karena dia suka sama orang yang nggak seharusnya dia suka. Dan lo pastinya tau dia siapa," jawab Jordan.
Ella berpikir sejenak sebelum ia mengucapkan nama sahabatnya. "Abel?"
Jordan mengangguk. "Nah, setelah gue marahin dia, dia ngasih tau ke gue alasan dia suka sama Abel. Alasan dia suka sama Abel karena setiap dia suka sama perempuan yang ada di sekolahnya, pastilah perempuan itu sudah punya pacar atau sebagainya.
"Gue suruh dia buat pikirin baik-baik dan mengubah pemikirannya terhadap perasaan yang dia punya ke Abel. Tapi, selama setahun, dia tetap nggak bisa mengubah pemikirannya. Dan akhirnya, sebulan yang lalu, Jovan ngasih tau gue kalau dia suka sama cewek yang namanya Ella. Awalnya, gue mikir Ella itu Abel, karena Jovan dulu sering manggil Abel dengan panggilan Ella. Tapi, ternyata, Ella yang buat Jovan kembali normal adalah lo."
Ella terdiam. Ia masih belum tahu harus memberi tanggapan seperti apa karena ia masih terkejut mendengar cerita dari Jordan. Ella tidak menyangka kalau Jovan pernah suka dengan adiknya sendiri.
"Jadi, Bang Jovan beneran suka sama gue?" tanya Ella.
Jordan mengangguk. "Ya, dia benar-benar suka sama lo dan seharusnya dua hari yang lalu dia nembak lo. Tapi, karena Abel sakit, semuanya batal."
"Dan Bang Jovan kayaknya udah nggak suka lagi sama gue dan gue yakin dia udah benci banget sama gue," kata Ella dengan raut wajah yang sedih.
"Siapa bilang gue benci sama lo?" tanya seseorang dari belakang.
Sontak Ella langsung menoleh ke belakang. Betapa terkejutnya Ella saat melihat sosok orang yang ia sayangi berdiri di belakangnya dengan membawa sebuah hadiah.
__ADS_1
"Gue nggak bakal benci sama lo, El," ucap Jovan, "karena gue sayang sama lo."
***