
Upacara adalah salah satu kegiatan yang paling tidak disukai oleh sebagian murid. Alasan terbesarnya adalah lelah karena berdiri dan disengat oleh sinar mentari pagi. Walau hal itu baik untuk kesehatan, mereka yang tidak menyukainya tetap menganggap kalau hal itu tidak baik.
Terkadang memang aneh, usaha untuk menghargai para pahlawan malah tidak dihargai oleh para generasi muda. Ya, mungkin itu adalah dampak globalisasi. Kita tidak bisa menghindari dampak itu, bukan?
Pembina upacara memberitahu bahwa akan ada program sekolah mengenai literasi dan akan ditunjuk dua wakil per kelas. Untuk kelas sepuluh yang dipilih adalah para siswi, sementara kelas sebelas para siswa. Kelas dua belas tidak mengambil alih dalam program ini karena mereka harus mempersiapkan diri untuk ujian-ujian yang akan mereka hadapi.
Sampai di kelas, guru mata pelajaran tidak langsung masuk, melainkan yang masuk adalah Frau Dhea, wali kelas mereka. Sepertinya penunjukan wakil kelas langsung dilakukan hari ini juga.
"Guten Morgen!" sapa Frau Dhea.
Murid-murid kelas X MIPA 7 pun menjawab sapaan dari wali kelas mereka itu.
"Jadi, saya akan langsung nentuin siapa yang jadi wakil untuk program literasi," ucap Frau Dhea sambil mengambil kertas dari dalam tasnya. Sepertinya wali kelas X MIPA 7 itu sudah mempersiapkan semuanya dari awal. "Calluella Raveena dan Arabella Monica. Sekarang kalian ke ruangan OSIS."
Ella dan Abel tentu saja kaget karena nama mereka dipanggil dan disuruh ke ruang OSIS. Dari lubuk hati yang paling dalam, mereka berdua sama sekali tidak mau mengikuti program seperti ini. Tetapi apa boleh buat? Mereka sudah ditunjuk.
Murid-murid lainnya hanya diam, mereka tidak menentang keputusan Frau Dhea. Sepertinya mereka tidak mau dibuat sibuk oleh program ini.
Ella dan Abel pun langsung berjalan keluar kelas kemudian pergi ke ruangan OSIS.
"Kok kita bisa ke pilih gitu, ya, El?" tanya Abel.
Ella menggelengkan kepalanya. "Gue nggak tau, Bel. Males banget gila ikut ginian."
Ruang OSIS masih terlihat sepi saat Ella dan Abel sampai di depan pintu. Kelihatannya mereka terlalu cepat datang. Abel mengintip ke ruangan OSIS, tidak terlihat ada orang di dalamnya.
Abel sedikit bingung. "El, ini kok kosong, ya?"
Ella mengikuti Abel, dia melihat ke dalam ruangan OSIS. "Eh, iya, apa kita salah?"
Abel mengangkat kedua bahunya secara bersamaan pertanda dia tidak tahu apa jawaban dari pertanyaan Ella.
"Bang Ryan!" panggil Abel kepada seseorang yang berjalan ke arah mereka.
Ryan melihat ke sekeliling untuk mengetahui siapa yang memanggil namanya itu. Dia berharap dialah Ryan yang dipanggil oleh seseorang itu.
Kasihan melihat Ryan yang tidak menemukannya, Abel pun berjalan ke arah Ryan. "Bang Ryan!"
Ryan sedikit kaget dengan kedatangan Abel yang tiba-tiba itu. "Nah, kebetulan, lo lihat Jovan, nggak?"
Abel menggelengkan kepalanya. "Lah, 'kan, yang sekelas sama Bang Jovan bukan gue."
"Iya sih, bukan lo, tapi lo, kan, adik kesayangannya," ucap Ryan. Ryan menekankan ada bicaranya pada dua kata terakhir. Ryan-lah yang selama ini jadi saksi keprotektifan Jovan kepada Abel.
"Bang Ryan mau ngajak Bang Jovan bolos, ya? Gue bilangin Mama lho nanti," ancam Abel.
"Yeee, apaan, sih, Bocah? Kita berdua tuh disuruh wakilin kelas untuk program literasi," ucap Ryan.
__ADS_1
Abel rasanya ingin tertawa mendengar ucapan Ryan. Abel tidak menyangka kakaknya itu memiliki nasib yang sama seperti dirinya. "Seriusan? Kok gue bisa samaan sama Bang Jovan coba?"
"Mungkin udah di-setting sama si Jovan supaya bisa jagain-" Kalimat Ryan terhenti karena dipotong oleh Abel.
"Jangan sebutin kata itu lagi, Bang," ucap Abel.
Melihat Abel dan siswa yang dipanggil Ryan itu akrab berbicara membuat Ella ingin mencari teman berbicara juga.
Saat Ella membalikkan badannya, dia menabrak seseorang. Ella langsung mendongakkan kepalanya agar mengetahui siapa yang ia tabrak dan segera meminta maaf.
"Maaf, gue nggak sengaja," ucap Ella.
Bukannya malah membalas ucapan Ella, siswa itu langsung pergi menjauhi Ella yang masih terdiam menunggu balasan dari siswa itu.
"Dasar anak muda zaman sekarang," gerutu Ella tanpa sadar. Dia layaknya orang tidak waras karena berbicara sendiri.
"Emang lo udah tua?" tanya seseorang dari belakang Ella.
Ella lagi-lagi harus melakukan pergerakan untuk mengetahui orang yang berada di dekatnya.
"Bang Jovan?" tanya Ella memastikan dirinya tidak salah lihat.
Jovan mengangguk.
Ella melihat ke arah tempat terakhir kali ia melihat Abel. Ternyata Abel dan Ryan sudah tidak ada lagi di tempat.
Ella sebenarnya ingat, hanya saja dia tidak ingin terlihat sok akrab dengan Jovan.
"Lo perwakilan literasi?" tanya Jovan.
Ella mengangguk. "Iya, Abel juga, tapi tiba-tiba Abel hilang."
Mendengar kata-kata Abel hilang, raut muka Jovan yang tadinya biasa saja mendadak panik.
Sadar akan hal itu, Ella langsung membalikkan suasana. "Eh, Bang, gue cuma bercanda, kok. Abel tadi ngobrol sama Bang Ryan, tapi sekarang nggak tau ke mana."
Wajah panik Jovan menghilang. Jovan yakin kalau adiknya akan aman dengan sahabat itu.
"Oh ya, gimana kalau kita bareng ke tempat pertemuan?" ajak Jovan.
Ella menerima ajakan Jovan karena dia tidak tahu di mana tempat pertemuan. Kemudian mereka berdua pun berjalan ke Aula. Ternyata pertemuan dilakukan di Aula, untung saja mereka tidak terlambat.
Ella dan Jovan duduk di belakang kursi Abel dan juga Ryan. Sebenarnya, Abel dan Ryan sengaja meninggalkan Ella dan Jovan berdua, mereka berdua tidak ingin mengganggu suasana.
*
"Jadi, tugas kalian adalah mengelola perpustakaan mini yang sudah dibuat di pojok kelas dan juga tiap hari Jumat, kalian harus datang karena setiap minggu akan ada sesuatu yang akan disampaikan," ucap Kepala Sekolah menutup pidatonya yang sudah berlangsung hampir satu jam itu.
__ADS_1
Kalau untuk mengelola mungkin Ella tidak terlalu keberatan, tetapi untuk datang setiap Jumat, hal itu membuat Ella sedikit keberatan. Ella tidak ingin waktu istirahat ekskul harus diisi dengan kegiatan yang lain.
Tidak hanya Ella yang merasakan hal itu, beberapa murid lain juga seperti itu.
Pertemuan dihentikan sejenak selama lima belas menit. Semua murid yang merupakan perwakilan kelas sangat bersyukur karena adanya istirahat ini, tetapi mereka sedikit kesal karena ternyata ada sesuatu yang lain.
"Gila, kalau tiap Jumat kayak gini nggak enaklah," ucap Abel kepada Ella. Posisi Abel sekarang sudah saling berhadapan dengan Ella dan Jovan. Abel sengaja memutar kursinya, begitu juga dengan Ryan.
"Nggak usah ikut, yok, buang-buang waktu," ucap Ryan. Ryan melihat ke arah Ella, Ryan seperti tidak asing dengan wajah Ella.
"Kok Bang Ryan gitu banget lihat si Ella?" tanya Abel ketika menyadari tatapan Ryan kepada Ella yang seperti ada apa-apanya itu.
"Ella? Lo Calluella Raveena?" tanya Ryan.
Ella mengangguk walau dia sedikit bingung dari mana kakak kelasnya itu tahu namanya, apalagi nama panjangnya. Badge name Ella tertutupi oleh rambut dan Ella juga sedang tidak memakai ID Card sekolah atau biasa mereka sebut name tag.
"Bang Ryan kenal sama Ella?" tanya Abel. "Lo kenal sama Bang Ryan, El?"
Ella menggeleng.
"Emang kalau orang biasa nggak bakal dikenal, ya. Gue itu dulu kakak kelas lo, El, kelas gue sebelahan sama kelas pacar lo yang sekarang," ucap Ryan.
Ella mencoba mengingat. Alhasil dia ingat, Ryan adalah orang yang sering duduk di kursi depan kelas di sebelah kelas Gavril. Dulu Ella sering melewati kelas Gavril hanya sekadar untuk melihat Gavril dari kejauhan, maklum dulu Ella adalah seorang secret admirer.
"Lah, bukannya Ella baru putus, ya?" tanya Jovan.
Pertanyaan Jovan membuat Ella bingung darimana Jovan mengetahui hal itu.
"Eh, udah putus? Sayang banget lo putusin dia, El," ucap Ryan kepada Ella.
Ella hanya diam, dia tidak tahu mau berkata apa kepada Ryan.
"Bukan Ella yang mutusin, Bang, tapi Gavril yang mutusin," ucap Abel.
Ryan terlihat bingung dengan ucapan Abel. "Seriusan? Dalam catatan sejarah, dia nggak pernah mutusin orang dan lo itu pacar pertama yang bisa ngejalanin hubungan setengah tahun sama dia."
Ella hanya mengangkat kedua bahunya. Dia tahu mengenai fakta itu, Gavril telah bercerita semua kepadanya, kecuali tentang keluarga Gavril. Maklum Gavril adalah anak broken home, Ella sempat ingin bertanya kepada Gavril bagaimana keadaan keluarga dia sekarang, tetapi pada saat itu Ella mengurung keinginannya itu.
"Pasti ada apa-apanya, nih," ucap Ryan yang sepertinya di luar kesadarannya.
"Kok lo kayak kenal banget sama Gavril?" tanya Jovan.
"Gue, tuh, satu tempat tongkrongan sama Gavril, terus dia sering cerita-cerita gitu deh, tapi sekarang gue udah jarang ngumpul karena jadwal kosong gue sama mereka nggak samaan," jawab Ryan.
Beberapa menit kemudian, pertemuan dimulai kembali. Hal itu membuat para siswa-siswi yang sudah keenakan dengan posisi mereka pun menggerutu dalam hati masing-masing.
***
__ADS_1