
Hari minggu kali ini, Ella merasa ada yang berbeda. Dia tidak tahu jelas apa yang berbeda itu. Kemarin Ella sudah menceritakan bahwa dia dan Gavril sudah putus kepada Hansen. Hansen awalnya sangat tidak percaya karena siangnya mereka mengobrol dan seperti tidak ada masalah di antara Gavril dengan anaknya. Tetapi mendengar pernyataan langsung dari Ella, Hansen pun percaya.
Rasa bosan benar-benar menghampiri Ella. Ella pun memutuskan untuk berlari pagi sebentar. Ella melihat jam yang ada di dinding kamarnya. Jam itu menunjukkan pukul sembilan, walaupun itu sudah termasuk siang untuk berlari pagi, Ella tetap keluar rumah untuk melakukan kegiatannya.
Sebelum memulai kegiatannya, Ella memanggil kedua orangtuanya, bermaksud untuk meminta izin. Setelah beberapa kali panggilan, sahutan tetap tak ada, Ella pun langsung berjalan keluar dari rumahnya. Hanya ada satu mobil terparkir di halaman rumahnya. Kemungkinan besar orangtua Ella sedang mengunjungi teman kerja mereka.
Ella memutuskan untuk berlari ke blok bagian belakang, di mana itu adalah blok rumah Ryan. Sebenarnya Ella curiga dengan Erlyne, Ella tidak yakin kalau Erlyne adalah sepupu Gavril. Ella ingin bertanya kepada Ryan apakah Ryan mengetahui sesuatu tentang Erlyne.
Ella sudah sampai di blok bagian belakang, tetapi Ella tidak tahu rumah Ryan yang mana. Ella memarahi dirinya sendiri yang lupa bertanya kepada satpam yang tadi dia lewati. Ella memutuskan untuk mencaritahu sendiri daripada kembali ke pos satpam yang jaraknya cukup jauh.
"Ella," panggil seseorang dari belakang.
Ella mengenali suara itu, itu adalah suara Ryan. Ella pun langsung membalikkan tubuhnya untuk memastikan siapa yang memanggilnya itu. Dan ternyata benar, Ryan yang memanggilnya.
"Lo ngapain di sini?" tanya Ryan sambil berjalan mendekati Ella.
"'Kan, rumah gue di dekat sini," jawab Ella.
"Yang itu gue udah tau. Maksud gue, tumben lo jalan ke sini. 'Kan, selama ini lo nggak pernah ke sini," ucap Ryan.
"Gue mau tanya sesuatu sama lo, Bang." Ella berkata to-the-point.
"Silakan."
"Erlyne itu sepupunya Gavril?" tanya Ella.
Ekspresi wajah Ryan menunjukkan kalau dia sedang berpikir keras, berusaha mengingat orang yang bernama Erlyne itu.
"Setau gue, kedua orangtua Gavril itu anak tunggal, dan dia nggak punya sepupu atau saudara yang namanya Erlyne. Setau gue, nih, ya. Kalau lo mau pasti, ya, tanya aja sama Gavril-nya langsung," jawab Ryan.
"Gila lo, Bang. Ya kali gue nanya langsung," ucap Ella.
"Lo ada fotonya, nggak?" tanya Ryan.
Ella menganggukkan kepalanya lalu ia mengambil ponselnya dari saku celananya. Setelah membuka galeri ponselnya, Ella langsung menunjukkan wajah Erlyne kepada Ryan. "Nih, dia yang namanya Erlyne."
"Lho, ini yang namanya Erlyne? Ini mah bukan sepupu Gavril, ini pacar baru dia," ucap Ryan.
Ella benar-benar kaget mendengar ucapan Ryan. Itu artinya Gavril sudah berbohong kepadanya. "Serius ini pacarnya Gavril?"
Ryan mengangguk. "Daripada lo sedih kayak gini, mending lo ikut gue aja."
"Ke mana?" tanya Ella.
"Ke rumah Jovan sama Abel," jawab Ryan.
"Ngapain?" tanya Ella.
"Kok gue punya adik kelas yang banyak tanya kayak lo sih? Udah, ya, mending sekarang lo balik ke rumah lo, lo ganti baju, nanti gue jemput lo," jawab Ryan.
"Malu bertanya sesat di jalan lho, Bang, makanya gue nanya," ucap Ella.
"Kan lo udah tau rumah lo di mana, Siti, gimana bisa tersesat?" Ryan terlihat kesal dengan Ella.
Ella tertawa mendengar perkataan Ryan. "Lucu juga lo, Bambang."
"Udah lo balik sana, gue naik darah kalau ngomong lama-lama sama orang kayak lo," usir Ryan.
*
Ella baru pertama kali mendatangi rumah Abel. Maka dari itu Ella juga baru tahu kalau rumah Abel ternyata terletak cukup jauh dari rumahnya. Selama di perjalanan tadi, Ella mengobrol dengan Ryan, dan yang mendominasi adalah obrolan tentang Gavril. Jujur saja, Ella masih penasaran dengan Gavril, dan dia juga masih ada rasa kepada Gavril.
"Rumahnya yang ini?" tanya Ella.
"Ya iyalah yang ini, masa kita parkir di sini rumahnya di Ujung Kulon," jawab Ryan.
"Woah, it's so crispy and crunchy, Bro," ledek Ella kepada Ryan dikarenakan lelucon Ryan yang dianggap Ella 'garing'.
"Tobat gue tobat. Yok, turun," ajak Ryan.
Kemudian Ella dan Ryan pun turun dari mobil. Saat Ryan hendak mengetuk pintu, pintu itu sudah terbuka dan yang membuka adalah Abel.
"Ella? Lo kok bisa di sini?" tanya Abel.
"Gue diajakin sama Bang Ryan ikut ke sini," jawab Ella.
"Oh gitu, ya udah, ayo masuk," ajak Abel.
Abel langsung membawa Ella dan Ryan ke ruang keluarga yang berada di lantai atas. Sudah ada Jovan yang sedang bermain gitar. Menyadari adanya orang yang datang, Jovan memberhentikan kegiatannya.
"Bang Ryan main sama Bang Jovan, ya? Gue mau bawa Ella ngobrol ke kamar gue," ucap Abel kemudian dia memberi kode kepada Ella agar mengikuti dirinya.
"Yah, baru aja datang," ucap Jovan tanpa sadar.
"Apa?" tanya Ryan yang mendengar ucapan Jovan.
Jovan menggeleng lalu mengajak Ryan untuk mengerjakan tugas yang menjadi alasan Ryan datang ke rumah Jovan.
__ADS_1
Sementara itu di kamar Abel, Ella sedang bercerita tentang kejadian semalam termasuk kebohongan Gavril kepada dirinya dan Hansen. Abel terlihat serius mendengar cerita dari Ella karena Abel menganggap ini adalah cerita yang seru.
"Jadi, nama cewek itu Erlyne?" tanya Abel.
Ella mengangguk.
Di dalam lubuk hati Abel yang paling dalam, Abel ingin menceritakan saat dia, Grisel, dan Aneska datang ke sekolah Gavril lalu Aneska melabrak Gavril yang baru saja jalan dengan perempuan lain, yang sekarang Abel tahu namanya adalah Erlyne. Akan tetapi, Abel tidak bisa menyampaikan hal itu karena mereka bertiga sudah janji tidak akan menceritakan kejadian itu kepada Ella.
"Terus? Habis si Erlyne pulang gimana?" tanya Abel. Abel akhirnya memutuskan untuk tidak memberitahu kejadian itu kepada Ella. Abel lebih terfokus dengan cerita Ella yang sekarang ia ceritakan.
"Habis dia pulang, Papa gue nyuruh Gavril buat antar gue pulang, terus kan gue pulang sama Gavril, di dalam mobil gue nanya sama dia kenapa dia gak jujur aja ke Papa gue, tapi dia malah nanya balik," jawab Ella.
"Nanya balik gimana?"
"Gue lupa sih gimana, tapi seinget gue dia nanya gini 'emangnya salah?' terus gue jawab salah, terus dia nanya lagi 'emang kedekatan kita ini masalah?'. Bodohnya gue, waktu dia nanya kayak gitu, gue nggak bisa jawab pertanyaan dia," jawab Ella.
Abel menganggukkan kepalanya, dia mengerti dan bahkan dia bisa membayangkan bagaimana keadaan Ella pada saat itu. Abel punya satu kesimpulan, Abel harus memberitahukan Ella walau itu kemungkinan besar membuat Ella berharap. "El, menurut gue, Gavril masih sayang sama lo, tapi dia udah nggak bisa lagi karena dia udah pacaran sama Erlyne."
"Maksud lo? Jadi, Gavril pacaran sama Erlyne itu terpaksa?" tanya Ella.
Abel tidak percaya kalau pikiran Ella sama dengan pikirannya. Abel juga awalnya mengira kalau Gavril dan Erlyne pacaran karena terpaksa. Abel pun mengangguk, walau dengan sedikit keraguan karena itu masih perkiraannya.
"Nggak mungkin, deh, Bel. Gue pernah lihat mereka di mal dan mereka itu deket banget," ucap Ella. Ella harus mengakui hal itu walau sebenarnya dia tidak ikhlas. "Gue penasaran banget sama dia."
"Penasaran gimana? 'Kan lo udah tau nama dia dan lo, "kan, juga udah tau kalau dia itu pacar Gavril," tanya Abel.
"Bukan itu, gue penasaran gimana bisa dia pacaran sama Gavril," jawab Ella. "Lo sama yang lain mau bantu gue, nggak?"
Sebenarnya jika Abel tidak ikut dalam rencana yang sekarang dia anggap tidak berguna itu, Abel mau saja membantu Ella mencari tahu soal Erlyne dan Gavril. Akan tetapi, karena Abel ikut di dalam rencana itu, Abel bergantung kepada Aneska.
"Gue, sih, tergantung Aneska sama Grisel," ucap Abel.
"Gue chat mereka dulu, deh," ucap Ella.
Girl (4)
Calluella Raveena: Kalian mau bantu gue gak?
Aneska Deniza: Bantu apa?
Griselda Florenza: ^2
Calluella Raveena: Cari tahu soal Erlyne, pacar baru Gavril
Arabella Monica: Mending lo berdua datang ke rumah gue
Arabella Monica sent a location.
Ella mengangguk mengerti. "Oh, ya, Mama sama Papa lo di mana?"
"Mereka berdua lagi di luar kota," jawab Abel.
"Jadi, lo cuma berdua sama Bang Jovan?" tanya Ella.
Abel hanya mengangguk.
"Gimana kabar lo sama Evan?" tanya Ella.
"Oh iya, gue lupa cerita ke lo semua, Evan ngajak gue ketemuan bulan depan," jawab Abel dengan wajah yang senang dan bersemangat.
"Seriusan? Jadi, dia nyamperin lo gitu?" tanya Ella yang tak kalah semangat.
"Iya, tapi gue nggak yakin, sih, bisa ketemu dia." Ekspresi wajah Abel berubah saat mengucapkan kata itu.
Ella tahu apa alasan di balik perubahan ekspresi wajah Abel. "Bang Jovan?"
Abel mengangguk.
"Lo nggak usah sedih, gue sama yang lainnya bakalan bantu lo biar bisa ketemu sama Evan tanpa diganggu sama Bang Jovan," ucap Ella menyemangati Abel.
"Tok! Tok! Ada dua orang manis di luar, nih. Buka pintunya dong, Bunda!" teriak Aneska yang berada di luar kamar Abel sambil mengetuk pintu kamar.
Abel beranjak dari tempat tidur untuk membukakan pintu untuk Aneska yang berada di luar.
"Lo mau kita bantu apa, El?" tanya Aneska to-the-point.
"Gue udah tau kalau Gavril punya pacar baru, namanya Erlyne. Terus gue, 'kan, penasaran sama dia. Jadi, gue minta lo bertiga bantu gue buat cari tahu soal mereka," jawab Ella.
Aneska terdiam mendengar jawaban Ella. Aneska bingung harus menjawab apa. Jika dia menjawab 'ya' maka kemungkinan Gavril akan melakukan sesuatu yang tidak Aneska inginkan. Kalau Aneska menjawab tidak, maka hal itu akan mengecewakan Ella.
"Lo yakin mau cari tahu soal mereka? Lo nggak takut sakit hati?" tanya Grisel.
Aneska melirik Grisel sebentar, Aneska merasa dirinya beruntung karena secara tidak langsung Grisel membantu Aneska.
"Itu dia yang gue pikirin juga, tapi gue bener-bener kepo," jawab Ella.
"El, daripada lo sakit hati dan daripada lo nangis cuma karena hal nggak penting itu. Mending lo nggak usah peduli lagi sama mereka," kata Aneska.
__ADS_1
Ella terdiam, apa yang dikatakan oleh Aneska terasa berputar-putar di otak Ella. Benar apa yang dikatakan Aneska, mencari tahu soal mereka hanya akan membuat Ella sakit hati dan bahkan menangis. Ella kemudian memutuskan untuk menghilangkan rasa penasarannya itu. "Iya, sih. Ya udah, deh, lupain soal itu. Kita ganti topik aja. Abel sama Evan mau ketemuan bulan depan."
Mendengar ucapan Ella soal Abel dan Evan akan ketemuan, membuat Aneska dan Grisel bersemangat. Tidak tahu kenapa, bagi mereka bertiga pertemuan Abel dan Evan nantinya akan menjadi momen yang bersejarah.
"Seriusan? Pokoknya nanti kita bertiga harus ikut," ucap Aneska.
"Iya, kita pantau mereka dari jauh, siapa tahu mereka khilaf," ceplos Grisel yang disambut tertawaan dari Ella dan Aneska.
"Heh! Sembarangan lo, Sel," ucap Abel. "Tapi, gue ada masalah."
"Udah, untuk masalah itu, lo tenang aja, Bel," ucap Aneska yang langsung mengetahui apa masalah yang dimiliki Abel terkait dengan pertemuan dirinya dan Evan.
"Gue udah bilang, 'kan, Bel? Untuk rencana selanjutnya kita lihat aja nanti," tambah Ella.
"Gue penasaran banget sama muka Evan. Nanti dia bakalan seganteng yang di Instagram, nggak, ya? Atau nanti zonk?" tanya Grisel.
Akibat pertanyaan Grisel yang terakhir, Abel melemparkan guling kepada Grisel. "Lo jahat banget sama gue, Gris."
Grisel hanya terkekeh pelan. "Gue laper, makanya agak ganas gitu."
"Kita masak, yok," ajak Abel.
"Yok," balas Aneska yang bersemangat jika mengenai masak-memasak.
"Tapi, gue nggak ada bahan," ucap Abel.
"Ya udah, kita beli. Gue tadi dikasih uang sama nyokap, katanya buat makan," ucap Aneska sambil mengeluarkan uang dari dompetnya.
"Orang kaya mah beda," sindir Ella.
"Dua," tambah Grisel.
"Ya udah, yok kita pergi ke minimarket dulu," ajak Abel.
"Lo bawa mobil, El?" tanya Aneska.
Ella menggelengkan kepalanya. "Gue tadi datang ke sini bareng Bang Ryan, kita pinjem mobil dia aja."
"Emang boleh?" tanya Abel.
"Udah tenang aja, kalau nggak dikasih gue ancam aja dia," jawab Ella.
"Lo move on-nya ke Bang Ryan, ya, El?" tanya Grisel.
"Heh! Enak aja," jawab Ella.
Lalu mereka berempat pun menghampiri Ryan yang sedang memgerjakan tugas bersama Jovan.
"Bang Ryan tampan," panggil Ella.
Ryan yang merasa terpanggil pun membalikkan badannya kebelakang agar bisa melihat si pemanggil namanya.
"Ada maunya, nih, pasti. Mau pulang lo?" tanya Ryan.
Ella menggeleng. "Gue mau pinjem mobil lo."
"Buat?" tanya Ryan.
"Buat ke minimarket bareng mereka bertiga," jawab Ella.
"Ya udah, ambil kuncinya di meja dekat tangga," ucap Ryan.
"Tuh, 'kan, apa gue bilang? Pasti dikasih," bisik Ella.
*
"Lo jadian sama Ella?" tanya Jovan saat Ella dan yang lainnya sudah keluar dari rumah.
Ryan menggeleng. "Kecepatan kalau gue udah jadian sama dia."
"Maksud lo? Lo mau nembak dia?" tanya Jovan.
Ryan memperhatikan ekspresi Jovan yang terlihat berbeda dari sebelumnya. Jovan terlihat panik saat ini. Ryan tersenyum penuh kemenangan, dia tahu sesuatu mengenai perasaan teman dekatnya itu.
"Oh, jadi lo suka sama dia?" tanya Ryan.
Jovan menggeleng dengan cepat. "Ya, nggaklah."
"Jawaban pertama gue anggap sebagai jawaban asli lo," ucap Ryan.
Ucapan Ryan membuat Jovan berpikir lagi.
"Lo nggak jawab, berarti memang iya. Tenang aja, gue nggak suka sama dia, kalau lo mau ambil aja," ucap Ryan.
"Gue juga nggak suka," tambah Jovan.
"Oke, kita lihat aja nanti, lo bakalan jatuh apa nggak," ucap Ryan.
__ADS_1
Jovan terdiam.
*