Divide

Divide
Gavril Mobil Baru


__ADS_3

"Bang, mereka semua pulangnya gimana?" tanya Abel ketika Jovan sudah duduk di hadapannya. Sekarang hanya tinggal mereka berdua, kedua orangtua mereka sedang pergi ke salah satu gerai yang menjual pakaian.


"Aneska pulang sama Kenzie, Grisella pulang sama kakaknya, kalau Ella pulang naik angkot," jawab Jovan.


Ketika mendengar Ella pulang sendiri, Abel menatap Jovan dengan tajam. "Bang, itu kok Ella pulang sendiri?"


"Lah, emang kenapa? Masa harus Abang anter pulang?" Jovan malah bertanya balik.


"Ya iyalah, pokoknya Abang harus cari Ella habis itu Abang anter pulang," jawab Abel.


"Ya udah, kamu LINE dia, tanyain udah dapet angkot apa belum, kalau udah biarin, kalau belum bilang ke Abang," suruh Jovan.


Yang Abel lihat, Jovan sama sekali tidak niat untuk mengantarkan Ella pulang. Awalnya Abel sempat berpikir kalau Jovan tertarik dengan Ella, tetapi melihat sikap tak acuh Jovan barusan. Abel membanting pikirannya itu.


"Hape gue mati, Bang," ucap Abel.


"Terus Abang harus keliling cari teman kamu itu?" tanya Jovan.


"Ya enggalah, Bang, dia itu suka baca novel, Abang ke toko buku aja," jawab Abel.


"Okelah, Abang pergi dulu," pamit Jovan.


*


Untungnya Jovan mendapati Ella sedang berada di toko buku. Setidaknya, dia tidak perlu berkeliling mal yang besar ini untuk mencari Ella. Jovan pun langsung menghampiri Ella yang sibuk melihat-lihat novel.


"Ella," panggil Jovan.


Ella sedikit kaget, kemudian dia menoleh ke sumber suara. Jovan. Melihat kehadiran Jovan membuat Ella merasa ada yang aneh.


"Bang Jovan?"


"Kan gue udah bilang nggak usah pake 'bang'," Jovan mengingatkan.


"Kenapa yang tadi nggak lo gituin?" tanya Ella.


"Ya, nggak apa-apa. Oh iya, gue anterin lo pulang, ya?" tawar Jovan, dia langsung to-the-point.


"Nggak usah, gue bisa pulang sendiri," tolak Ella.


"Amanat, Ella. Lo mau beli novel dulu?" tanya Jovan.


"Engga," jawab Ella.


"Ya udah, ayo pulang," ajak Jovan.


Kemudian mereka berdua pun keluar dari toko buku. Saat mereka baru saja keluar dari lift, tiba-tiba ada seseorang yang memanggil nama Ella.


Ella pun langsung menoleh ke sumber suara. Dia sangat kaget ketika mengetahui siapa yang memanggilnya. Sudah sangat lama dia tidak bertemu dengan orang itu. Orang itu adalah sahabat Gavril, yang membantu Ella untuk dekat dengan Gavril.


"Baru, El?" tanya orang itu, namanya adalah Kevin.

__ADS_1


"Baru apaan, Bang?" tanya Ella balik.


"Gue Jovan," Jovan memperkenalkan dirinya kepada Kevin tanpa aba-aba.


"Gue Kevin," ucap Kevin.


"Lo ke sini bareng siapa?" tanya Ella.


"Gavril sama pacar barunya," jawab Kevin, untuk dua kata terakhir sepertinya Kevin kelepasan. "Eh, maksud gue, duh, ya udah deh, gue pergi dulu." Kevin langsung berjalan menjauhi Ella dan Jovan.


Mendengar ucapan Kevin membuat hati Ella sangat sakit. Ternyata, Gavril memang benar-benar sudah tidak menyayanginya lagi. Gavril sudah menemui orang baru. Ella sudah tidak berguna di hidup Gavril.


Tanpa sadar Ella menjatuhkan air matanya, lagi, untuk orang yang sama. Jovan melihat kejadian itu. Jovan memilih untuk diam, dia tidak mau mencampuri urusan orang. Apalagi urusan itu hanyalah urusan teman adiknya dengan orang yang menitipkan dirinya botol minuman.


"El? Kita buruan balik, yok, nanti lo malah ketemu sama Gavril," ajak Jovan. Walaupun Jovan tidak mau mencampuri urusan mereka, Jovan tetap tidak mau melihat seorang perempuan nangis hanya karena masa lalunya.


Ella mengangguk. Lalu mereka berdua pun berjalan ke parkiran.


"Nih." Jovan menyodorkan tisu saat mereka sudah berada di dalam mobil.


Ella mengambil tisu itu lalu mengeringkan wajahnya yang basah akibat air matanya.


Jovan memperhatikan Ella. Sempat terpikir di otak Jovan untuk memeluk Ella. Jovan pernah membaca kalau seseorang sedih, yang dapat menghiburnya adalah sebuah pelukan. Akan tetapi, Jovan tidak mungkin melakukan hal itu.


"Lo jangan nangis lagi dong, El, gue nggak suka lihat cewek nangis," ucap Jovan.


"Maaf, Bang. Menurut lo, gue orangnya lemah, ya, Bang?" tanya Ella.


"Emang lo udah pernah pacaran?" tanya Ella. Ella bertanya seperti itu karena dia penasaran dengan kisah percintaan Jovan. Tidak tahu alasan pasti, hanya saja Ella ingin tahu.


Jovan menggeleng. "Nggak pernah."


"Jadi, lo tau darimana rasa sakit itu?" tanya Ella.


"Ya, gitu deh, lo nggak perlu tau," jawab Jovan.


Saat Ella ingin melontarkan pertanyaannya lagi, tiba-tiba matanya menangkap Gavril sedang berjalan dengan perempuan di depan mobil Jovan. Ella ingin menangis, tetapi dia tidak mau. Dia tidak mau terlihat lemah di depan Jovan untuk kesekian kalinya. Ella harus bisa menguatkan dirinya sendiri.


Jovan mengikuti arah padangan Ella. Dia memang baru bertemu Gavril dua kali, tetapi dia sudah dapat mengingat wajah Gavril. Setelah melihat Gavril dan perempuan itu, Jovan menatap Ella yang masih melihat mereka.


Jovan pun memutuskan untuk melajukan mobilnya sekarang, dia tidak mau melihat Ella menangis.


"Lo nggak mau cari tau siapa cewek itu?" tanya Jovan.


Ella terdiam. Sementara Jovan merasa kalau dia sudah salah bertanya tentang perempuan yang bersama dengan Jovan tadi.


"Gue penasaran, tapi ya udah, deh, kapan-kapan aja. Gue takut nanti gue malah sedih," jawab Ella.


Melihat dari jauh aja udah pengin nangis, gimana kalau dari dekat? batin Ella berbicara.


"Lo masih sayang nggak sama dia?" tanya Jovan.

__ADS_1


Ella terdiam, lagi. Ella tidak menyangka kalau ternyata Jovan akan bertanya soal perasaannya kepada Gavril sekarang. "Namanya juga baru putus, ya, masih ada rasa lah, Jo."


"Berarti lo belum move on?" tanya Jovan.


"Ya, gitu," jawab Ella.


"Oh, ya, rumah lo di mana?" tanya Jovan, ia memutuskan untuk langsung bertanya alamat rumah Ella, dia tidak mau percakapan mereka menjadi aneh karena menyinggung soal perasaan.


"Di perumahan dekat kafe The Rise," jawab Ella.


"Oh, perumahan Nusa Indah itu?" tanya Jovan memastikan. Jovan sedikit hapal lingkungan di sekitar kafe itu karena saat SMP kafe itu merupakan tempat kumpul Jovan bersama temannya. Tetapi sekarang sudah tidak lagi, biasalah, karena sudah pisah sekolah.


"Iya," jawab Ella.


Jovan mengarahkan kemudinya ke kanan. Kafe itu tidak terlalu jauh dari mal tadi, itu berarti rumah Ella juga tidak terlalu jauh. Tapi, entah kenapa Jovan merasa kecewa mengenai fakta itu.


Kenapa harus dekat,sih?


*


Jovan memarkirkan mobilnya di depan rumah Ella. Jovan ingat, dia pernah ke perumahan ini sebelumnya. Dan dia baru ingat kalau rumah Ryan di perumahan ini.


Jovan mengetahui satu fakta baru lagi, rumah Ella dan Ryan berada di perumahan yang sama. Jovan yakin Ella dan Ryan tidak tahu mengenai hal itu. Terbukti saat mereka berdua tidak saling mengenal.


"Lo tau nggak kalau lo satu perumahan sama Ryan?" tanya Jovan.


Ella mencoba mengingat siapa Ryan kemudian Ella menggeleng. "Bang Ryan? Emang rumahnya dekat sini?"


"Iya, tapi rumahnya yang di pojok-pojok sana," jawab Jovan.


"Pantes gue nggak pernah lihat dia, paling dia lewat gerbang satu lagi kalau mau pergi atau balik," ucap Ella.


"Lho, Gavril mobil baru?" tanya Sarah dengan suara yang lumayan besar sehingga terdengar oleh Ella dan juga Jovan. Sarah pun menghampiri mobil Jovan yang beliau kira mobil baru Gavril.


"Duh, pasti Mama lupa kalau gue udah putus sama Gavril," ucap Ella. "Gue keluar, ya?"


Jovan mengangguk. Jovan merasa aneh dengan dirinya sendiri, dia tidak suka ada orang yang mengira dirinya adalah Gavril, sekalipun itu adalah Sarah yang merupakan ibu Ella. Jovan tidak tahu kenapa dia malah tidak suka melihat Gavril, padahal awalnya Jovan biasa saja.


"Ma, itu bukan Gavril. Ella, kan, udah putus sama Gavril," ucap Ella.


"Astaga, El, Mama lupa. Terus itu siapa?" tanya Sarah.


Jovan memutuskan untuk keluar dari mobil. Dia ingin Sarah mengenal dirinya, entah ada dorongan apa Jovan ingin berkenalan dengan Sarah.


"Saya Jovan, Tante," ucap Jovan memperkenalkan dirinya.


"Tante mamanya Ella, Tante minta maaf ya, Jovan, Tante kira kamu Gavril," ucap Mama Ella.


"Nggak apa-apa, kok, Tante. Ya udah, saya mau balik dulu, ya?" pamit Jovan.


Sarah mengangguk. "Hati-hati, ya, Jovan."

__ADS_1


***


__ADS_2