Divide

Divide
Gue Minta Maaf


__ADS_3

Belum selesainya tugas yang diberikan oleh guru Fisika-nya membuat Ella dengan terpaksa harus datang lebih cepat ke sekolah. Ketika Ella sampai di kelas, banyak murid yang melakukan kegiatan yang akan dilakukan oleh Ella, menyalin tugas teman yang sudah selesai.


"Sel, gue pinjem Fisika dong," pinta Ella kepada Grisel yang sedang memainkan ponselnya. Grisel ada tipe murid yang rajin, maka dari itu dia sudah selesai mengerjakan tugas dari rumahnya.


Grisel meletakkan ponselnya di atas meja lalu mengambil buku tugas Fisika miliknya dari dalam tasnya. Sepertinya belum ada yang meminjam buku tugas Grisel. Biasanya akan ada murid yang meminjam buku tugas Grisel, mungkin sekarang belum ada karena masih terlalu pagi. Setelah memberikan bukunya kepada Ella, Grisel kembali ke kegiatan awalnya.


Ella dengan secepat mungkin menyalin jawaban Grisel agar Ella dapat menikmati waktu luang sebelum memulai pelajaran pertama.


Lima menit sebelum bel berbunyi belum ada tanda-tanda Abel dan Aneska datang. Kalau Abel memang sering, tetapi Aneska baru pertama kali datang lama seperti sekarang.


Saat Ella hendak bertanya kepada Grisel kira-kira kenapa mereka berdua belum datang, Aneska masuk kelas dengan buru-buru kemudian diikuti oleh Abel.


"Pinjem Fisika," pinta Aneska sambil meletakkan tasnya.


Grisel pun langsung memberikan buku tugas Fisika miliknya kepada Aneska, sementara Ella memberikan buku tugasnya kepada Abel. Ella sengaja memberikan buku tugasnya juga agar mereka berdua tidak perlu susah untuk menyalin.


Abel dan Aneska dengan sangat gesit menyalin jawaban milik Grisel dan yang ada di buku Ella. Sekitar beberapa menit lagi, guru Fisika mereka akan memasuki kelas karena bel akan berbunyi sekitar dua menit lagi.


Saat bel masuk berbunyi, ada seseorang yang mengetuk pintu. Semua murid duduk pada posisi masing-masing dan dalam kondisi diam. Orang yang mengetuk pintu itu pun masuk tanpa diberi aba-aba.


Beberapa murid lega karena yang datang adalah guru BK, tetapi sebagian murid lagi, yang jelas melanggar aturan sedang melakukan senam jantung mendadak, takut-takut mereka akan jadi sasaran guru BK mereka yang bernama Bu Demma.


"Tegang banget, ya, muka-muka kalian," ucap Bu Demma sambil memperhatikan satu-per-satu murid X MIPA 7. Beliau menghampiri salah satu murid yang melanggar aturan, itu adalah bagian favorit dari Bu Demma. Beliau jadi mendapat 'mangsa' untuk ditulis di buku dosa. "Ini dia yang saya suka. Sering-sering, ya, rambut kamu kayak gini, Ibu nggak keberatan kok nulis nama kamu di buku dosa. Ferdi Rayvan."


Beberapa murid menahan tawa karena melihat ekspresi Ferdi yang seperti sedang menahan buang air besar. Jika murid lain menunjukkan ekspresi ketakutan, Ferdi malah berbeda. Takut versi Ferdi tidak seperti yang biasa ditunjukkan oleh orang-orang yang sedang ketakutan.


Bu Demma mengeluarkan sebuah buku catatan kecil dan mengambil pena yang ada di meja Ferdi. Itu adalah kebiasaan Bu Demma jika bertemu 'mangsa'. Beliau akan bergerak cepat menulis nama 'mangsa'nya di buku catatan kecil yang selalu dia bawa.


"Kelas ini bagus, yang bermasalah hanya Ferdi, kalau gitu saya keluar. Selamat pagi." Bu Demma pun langsung keluar dari kelas. Dan setelah mereka perkirakan Bu Demma sudah jauh, mereka kembali ke kegiatan mereka sebelumnya.


Tiba-tiba pintu terbuka, dengan refleks semua murid langsung kembali ke tempatnya masing-masing. Orang yang membuka pintu tadi masuk selang beberapa detik, seperti ada yang disengajakan olehnya.


"Ye, kicep dah lo semua!" teriak orang yang masuk itu. Dia adalah Keya. Mereka semua baru ingat kalau tadi Keya permisi ke toilet.


"Garing banget lo, Biduan," ledek Ferdi.


"Pst, diam lo. Guys, katanya bapak itu nggak datang jadi kita nggak perlu ngerjain, deh!" teriak Keya lagi sambil sedikit menari tanda itu adalah sesuatu yang harus disyukuri.


Semua murid jelas bahagia mendengar informasi dari Keya. Tetapi ada sebagian yang kesal karena usaha mereka menyalin dengan gesit ternyata sia-sia.


"Konser dong, Key," suruh salah satu di antara mereka.


She said where'd you wanna go


How much you wanna risk?


I'm not looking for somebody with some superhuman gift


Some superheroes, some fairytale bliss


Just something i can turn to


Somebody i can kiss


I want something just like this


Doo doo doo doo doo doo


I want something just like this


Saat Keya sedang asik menyanyikan lagu itu sambil menari-nari kecil mengikuti beat yang dia buat sendiri, tiba-tiba pintu kelas terbuka. Keya tidak sadar akan hal itu. Dia terus melakukan konser kecilnya.


Orang yang membuka pintu kelas itu menggeleng-gelengkan kepalanya melihat kelakuan Keya yang seperti orang gila.


"Permisi," ucap orang itu dengan suara yang cukup kuat sehingga membuat Keya sadar dan menghentikan aksinya.


Keya melihat ke arah pintu. Dan saat mengetahui orang itu, Keya rasanya ingin menguburkan dirinya dalam-dalam di lantai kelas. Orang itu adalah Karel.

__ADS_1


"Siapa, Key?" tanya Reno si ketua kelas. Orang itu masih berdiri di luar pintu kelas sehingga yang mengetahui hanya Keya.


"****** gue," ucap Keya sambil menutup wajah dengan kedua tangannya.


"Siapa, sih?" tanya Ferdi yang juga penasaran. Ferdi langsung berjalan ke pintu untuk mengetahui siapa orang yang mengganggu konser kecil Keya.


Setelah mengetahui orang itu, Ferdi langsung tertawa sekeras-kerasnya. Menurut Ferdi, itu adalah hal yang sangat lucu tetapi bagi Keya hal itu sangat memalukan.


"Ada apa, Bang Karel?" tanya Ferdi dengan menekankan nada bicaranya saat menyebutkan nama Karel.


Murid X MIPA 7 sebagian tertawa dan sebagian kasihan melihat Keya yang kehabisan gaya dan jelas malu.


"Tugas Fisika kalian dikumpul di meja guru, ya, Dek," ucap Karel lalu dia langsung pergi menjauhi kelas Keya.


"Astaga, gue malu banget, gila! Ya ampun, bisa kubur diri sendiri, nggak, sih?" Keya langsung mengeluarkan semuanya saat Karel sudah pergi. Kejadian yang baru saja terjadi adalah kejadian yang paling memalukan bagi Keya.


"****** lu, Biduan," ledek Ferdi.


Kadar kekesalan di dalam Keya tiba-tiba naik drastis mendengar ledekan Ferdi. Keya pun langsung melemparkan tempat pensil yang terletak di meja yang ada di depannya. Tempat pensil itu mengenai bahu Ferdi, Ferdi langsung mengusap-usap bahunya yang sakit.


"Wah, ada biduan marah," ledek Ferdi lagi.


Keya mengambil barang yang terletak di meja yang ada di hadapannya. Saat Keya sedang mengambil aba-aba untuk melemparkan tempat pensilnya. Ferdi dengan cepat keluar dari kelas lalu menutup pintu.


"Ya Tuhan, sabarkanlah hamba-Mu ini," ucap Keya lalu dia kembali ke tempat duduk untuk meyejukkan dirinya sendiri.


*


"Kalian nggak pulang?" tanya Aneska.


"Gue sama Grisel mau ekskul dulu," jawab Abel.


Grisel dan Abel memang memilih ekstrakuliker yang sama, yaitu jurnalis. Sementara Ella dan Aneska berbeda, Ella memilih ekskul tari tradisional sementara Aneska memilih ekskul English Club.


"Gue mau balikin formulir ekskul dulu," jawab Ella. Ella memang belum mengembalikan formulir ekskul karena dia malas untuk mendatangi tempat pengembalian formulir, yaitu di kelas XI MIPA 1.


"Gue balikin formulir dulu, ya," pamit Ella lalu dia berjalan meninggalkan Grisel dan Abel.


Untungnya Ella sudah mengetahui dimana letak kelas XI MIPA 1 karena sebelumnya Ella pernah ke kelas XI MIPA 2 untuk mengumpulkan tugas miliknya.


"Wah, ada Tuan Putri," ucap Ryan.


"Kok lo ada di sini, Bang?" tanya Ella.


"Ya, 'kan, ini kelas gue," jawab Ryan.


"Seriusan? Bukannya lo di MIPA 3?" tanya Ella.


"Nih, nih, lo lihat buku gue," jawab Ryan sambil menunjukkan buku tulisnya yang ada nama serta kelasnya.


"Biasa aja dong, Bang. Kak Vanita mana?" tanya Ella.


Ryan tiba-tiba tertawa mendengar pertanyaan Ella, Ella kebingungan. Dia tidak tahu apa yang lucu atau aneh dari pertanyaannya.


"Lo mau ikut nari? Badan lo kaku gitu juga," ledek Ryan sambil terus tertawa.


"Lo jahat banget sumpah," ucap Ella.


Mendengar keributan dari luar kelas, seorang siswi pun keluar dari XI MIPA 1.


"Ada apaan, nih?" tanya siswi itu dan yang Ella lihat di badge name siswi itu. Dia adalah Vanita, orang yang Ella cari.


"Kakak, Kak Vanita?" tanya Ella sekadar basa-basi.


"Iya, lo mau ngumpul formulir?" tanya Vanita balik.


Ella mengangguk lalu memberikan kertas yang sedari tadi dia pegang kepada Vanita. Vanita pun mengambil kertas itu kemudian melihat isinya sekilas dan mengangguk pelan.

__ADS_1


"Oke, hari Jumat depan lo datang aja ke studio tari," ucap Vanita.


"Iya, Kak," balas Ella.


Vanita pun kembali ke kelas.


"Gue balik, ya, Bang," pamit Ella kepada Ryan.


"Eh, jangan dulu," ucap Ryan.


"Kenapa? Emang lo mau nganter gue?" tanya Ella.


"Bukan gue yang nganter, tapi si Jovan," jawab Ryan.


"Nggak ah, ngerepotin gue-nya," tolak Ella lalu dia langsung berjalan meninggalkan Ryan.


Ryan masuk ke kelas lalu memanggil Jovan. Jovan pun langsung menghampiri Ryan.


"Jo, itu cewek lo pulang sendiri," ucap Ryan kepada Jovan dengan suara yang kecil agar yang lain tidak mendengar ucapannya itu.


"Siapa?" tanya Jovan.


"Ya, si Ella lah," jawab Ryan.


"Terus?" tanya Jovan dengan muka polosnya, hal itu membuat Ryan sedikit kesal dengan Jovan.


"Ya, lo anter pulanglah," jawab Ryan.


"Rugi gue. Lagian, dia itu bukan cewek gue," tolak Jovan.


"Lo susah banget, sih, dibilangin. Gue nyuruh lo nganterin dia supaya lo bisa sekalian ngajarin dia main gitar," ucap Ryan. Ryan mencoba alasan yang itu dengan harapan hati Jovan tergerak.


Hati Jovan sedikit tergerak karena apa yang diucapkan oleh Ryan berkaitan dengan adiknya, Abel. "Iya, iya, gue samperin dia."


Jovan segera mengambil tasnya lalu pergi. Jovan sengaja mempercepat langkahnya, Jovan tidak mau keduluan sama angkutan yang dinaiki oleh Ella nantinya.


"El," panggil Jovan. Jovan mendapati Ella sedang menunggu di halte yang terletak tidak jauh dari gerbang sekolah.


Ella yang menyadari ada orang memanggil namanya langsung menoleh ke sumber suara. Kemudian setelah melihat Jovan, Ella beranjak dari tempat duduknya.


"Kenapa, Jo?" tanya Ella. Ella yakin Jovan ada di sini karena suruhan dari Ryan, tidak mungkin Jovan datang atas kemauan dirinya sendiri.


"Gue ngaterin lo pulang, sekalian belajar main gitar," jawab Jovan.


Ella merasa tidak enak dengan Jovan, dia merasa kalau Jovan berkata seperti itu karena sebuah paksaan. "Nggak usah, Jo, belajar gitarnya kapan-kapan aja."


"Gue maunya sekarang," ucap Jovan.


"'Gue mau' atau 'Ryan mau'?" tanya Ella sedikit menyindir Jovan. Ella tidak biasa menyindir orang, sindiran yang baru dia keluarkan itu, keluar dengan sendirinya.


Jovan terdiam. Dia tidak tahu harus menjawab apa. Mendengar sindiran Ella membuat dirinya merasa bersalah.


"Gue minta maaf," ucap Jovan.


Ella sedikit kaget karena reaksi Jovan tidak sesuai ekspektasinya. Ella pikir Jovan akan balik, tapi ternyata tidak.


"Kok lo jadi minta maaf?" tanya Ella.


"Nggak tau," jawab Jovan salah tingkah. Jovan yakin dia sekarang terlihat bodoh di hadapan Ella.


"Aneh banget lo, Jo. Ya udah, gue balik, ya? Itu ada angkot," pamit Ella sambil menunjuk angkutan kota yang mendekati halte.


Supir angkot itu menyadari kalau akan ada penumpang baru. Dia pun menghentikan angkotnya di dekat halte.


"Ya udah, gue balik, ya," pamit Ella sekali lagi. Di dalam hati Ella berharap kalau Jovan akan menahan dirinya dan mengantarkan pulang. Lagi-lagi harapan tidak sesuai realita.


*

__ADS_1


__ADS_2