
Hari ini adalah jadwal Ella melaksanakan kegiatan mingguannya, yaitu piket membersihkan kelas. Dan kali ini dia harus mengerjakan semua ini sendiri karena tadi dia mendapat dare dari teman-temannya yang dijadwalkan untuk piket bersamanya.
Ella jelas sangat menyesal karena mengikuti permainan yang baru saja dia anggap sebagai permainan yang membuat dirinya sial dan itu termasuk pembodohan.
"Yha, kasihan, ya, yang piket sendiri," ledek Ferdi yang sedang lewat dari kelas mereka.
Rasanya Ella ingin melemparkan penghapus papan tulis yang sedang ia pegang. Tapi Ella takut kalau penghapus itu malah mengenai orang lain. Ella jelas tidak mau menambah kesialannya hari ini. Membersihkan satu kelas penuh sudah cukup dia anggap sebagai sesuatu yang paling sial sepanjang hari ini.
"Gue pergi dulu ya, Miss Cleaner," pamit Ferdi masih dengan maksud meledek Ella.
Ella pun menyabarkan dirinya sendiri. Ella kembali melanjutkan kegiatannya yang terhenti karena Ferdi tadi. Saat Ella hendak mengambil tempat sampah kelas yang entah siapa meletakkan di dekat pintu, Ella melihat Jovan berjalan menuju ke kelasnya. Tiba-tiba saja Ella kembali mengingat kejadian saat di rumahnya itu.
"Kenapa lo cuma sendiri?" tanya Jovan.
"Gue kena dare, Bang," jawab Ella.
"Makanya kalau main itu pilih truth, jangan dare," pesan Jovan.
"Mana bisa, Bang," ucap Ella.
"Lah, kenapa?" tanya Jovan kebingungan.
"Orang gue main dare or dare, ya mana ada truth-nya lah," jawab Ella.
Jovan sedikit malu karena pesan yang dia beri kepada Ella sama sekali tidak berguna.
"El, jalan yuk," ajak Jovan.
Ella terdiam. Dia benar-benar kaget. Ini adalah kali pertamanya Jovan mengajak dirinya jalan.
"Gue nggak bisa, Bang," tolak Ella.
"Kenapa?" tanya Jovan. Jovan dengan segera mengambil sapu yang berada dekat dengan mereka. "Sini, biar gue bantuin."
"Eh? Lo beneran mau bantu?" tanya Ella yang tidak percaya karena Jovan mau membantu membersihkan kelas agar bisa jalan dengan dirinya.
"Udah, ayo kerja, biar cepat perginya," suruh Jovan.
Ella pun mengangguk di atas ketidakpercayaannya saat ini. Menurut Ella, ini benar-benar aneh.
Sekitar lima belas menit kemudian, barulah pekerjaan mereka selesai. Ella setidaknya bersyukur karena ada orang yang mau membantunya.
"Udah, 'kan? Ayo kita jalan," ajak Jovan.
Ella masih tidak menyangka kalau Jovan mengajaknya jalan. "I-iya, Bang."
Kemudian mereka berdua pun berjalan ke parkiran mobil. Tanpa mereka tahu, Grisel dan Abel melihat kepergian mereka berdua. Grisel dan Abel sangat senang melihat kedekatan mereka berdua karena dari awal mereka berdua ada tim sukses hubungan Ella dengan Jovan.
"Itu mereka mau kemana, ya, kira-kira?" tanya Grisel.
"Menurut gue, nih, Bang Jovan bakalan bawa si Ella ke tempat yang sering dia datangi," jawab Abel.
"Oh, ya, Bel, gue sebenarnya masih penasaran sama hubungan Gavril dan Erlyne," ucap Grisel mengeluarkan semua rasa penasaran yang selama ini dia pendam karena tidak mau dianggap 'mencampuri' hubungan orang lain.
"Gue juga, sih, gimana kalau kita cari tau?" usul Abel. Abel setidaknya merasa senang karena dia mempunyai teman untuk diajak menjadi detektif.
"Besok gimana? Tapi, jangan sampai Ella sama Aneska tau, kalau mereka tau bisa-bisa kita dilarang," tanya Grisel.
Abel mengangguk. "Kita ke sekolah Gavril siap pulang briefing."
"Nah, iya, biar nggak ketauan sama yang lain."
*
"Rooftop? Kita mau ngapain ke sini, Bang?" tanya Ella ketika mobil Jovan berhenti di sebuah kafe.
Jika kalian berpikiran kalau Kafe Rooftop adalah kafe yang terletak di atap sebuah gedung, kalian salah besar. Kafe Rooftop ini terletak di ruangan bawah tanah, entah apa yang menghantui pikiran pendiri kafe itu. Sekadar informasi, Kafe Rooftop adalah kafe yang paling sering Jovan datangi bersama temannya.
Walaupun lokasi kafe itu terbilang cukup jauh dari sekolah mereka, tetap saja Jovan dan teman-temannya sering datang ke sini. Apa lagi alasan selain kafe ini merupakan kafe ternyaman bagi mereka?
"Gue mau beli minum," jawab Jovan. "Ayo turun."
Jovan pun keluar dari mobil. Ella hanya bisa mengikuti Jovan tanpa banyak bertanya.
"Selamat siang, selamat datang di Kafe Rooftop, mau berapa orang?" tanya pelayan kafe yang bertugas menjadi penjaga pintu kafe.
"Dua orang, Mbak," jawab Jovan.
Pelayan kafe itu tampak melihat sesuatu di ponsel yang baru saja ia ambil, Ella menduga kalau pelayan itu sedang bertanya kepada rekannya yang berada di bawah.
"Silakan Mas sama Mbaknya ke bawah, meja nomor dua tersedia untuk kalian," ucap pelayan itu.
"Oke, terima kasih," ucap Jovan. "Yok, El."
Sama seperti sebelumnya, Ella hanya bisa mengikuti Jovan. Ella sedikit terkesima melihat interior kafe, maklum Ella baru pertama kali datang ke kafe ini.
"Lo baru pertama kali datang ke sini?" tanya Jovan sembari duduk di kursi yang memiliki nomor meja nomor dua.
Ella mengangguk sembari duduk di kursi yang berhadapan dengan kursi yang baru saja diduduki oleh Jovan.
"Pantes," ucap Jovan.
Ella jelas kebingung dengan ucapan Jovan. "Pantes kenapa?"
"Norak," jawab Jovan dengan singkat, padat, dan sangat jelas sehingga membuat Ella menendang kaki Jovan secara refleks.
"Sakit, kan?" tanya Ella saat melihat ekspresi Jovan yang kesakitan.
"Vy, gue mau pesan," ucap Jovan kepada salah satu pelayan yang bernama Ivy itu. Perlu kalian ketahui, Ivy adalah pacar salah satu teman Jovan. Ivy adalah pekerja paruh waktu atau part time di kafe ini.
Ivy yang merasa terpanggil pun langsung menghampiri meja Ella dan Jovan.
"Lo bawa siapa, Jo?" tanya Ivy.
"Adik kelas," jawab Jovan.
Ivy mengangguk-anggukkan kepalanya. Lalu dia mendekati Ella untuk membisikkan sesuatu. "Lo itu cewek kedua yang dibawa Jovan ke sini."
"Yang pertama siapa?" tanya Ella dengan suara yang pelan.
"Adiknyalah, siapa lagi?" jawab Ivy.
"Lo berdua kok malah bisik-bisik?" tanya Jovan untuk menyadarkan Ella dan Ivy kalau dia ada di tengah-tengah mereka.
__ADS_1
"Ya, ya. Lo mau pesan apa?" tanya Ivy kepada Jovan.
"Vanilla Latte-nya satu, Vy," pesan Jovan.
"Di sini ada apa aja?" tanya Ella dengan polosnya karena dia belum pernah datang ke kafe ini.
"Jadi dua, Vy," pesan Jovan kepada Ivy tanpa menjawab pertanyaan Ella.
Ella sedikit kesal melihat tingkah Jovan barusan. Jovan langsung memesan minumnya. Ella melihat ke sekitar, siapa tahu dia menemukan harga untuk segelas Vanilla Latte. Dan tepat sekali, Ella menemukan apa yang dia cari. Ternyata harga segelas Vanilla Latte empat kali lipat harga ice blend yang selama ini Ella beli di dekat sekolah.
Jovan sedang memainkan ponselnya, jadi Ella ada kesempatan untuk memeriksa uang yang dia bawa. Setelah Ella periksa, ternyata dia cuma membawa uang sebanyak lima ribu rupiah, itu hanya seperempat dari harga minuman yang dipesankan oleh Jovan.
"Lo kenapa?" tanya Jovan.
"Gue nggak bawa uang, Bang. Lo, sih, pake langsung mesenin, kan gue tadinya cuma mau pesan Teh Kotak," ucap Ella yang langsung menyalahkan Jovan dengan tujuan mungkin Jovan akan membayari minuman atau setidaknya meminjamkan dirinya uang.
Jovan malah tertawa, dan lagi-lagi tingkah Jovan membuat Ella kesal. Saat ini benar-benar kesal.
"Udah norak, kere lagi," ledek Jovan sambil tertawa.
"Sabarkanlan hamba-Mu ini, ya Tuhan," ujar Ella sambil mengelus dadanya.
"Udah, lo tenang aja, gue bawa lo ke sini berarti gue yang bayari lo," ucap Jovan. Jovan sebenarnya masih ingin melontarkan ledekan kepada Ella akan tetapi Jovan sedikit tidak tega melihat wajah Ella yang sudah kelihatan sangat kesal dengan ledekan dan tingkahnya.
"Vanilla Latte-nya dua, silakan diminum," ucap Ivy sambil meletakkan dua Vanilla Latte di hadapan Ella dan Jovan. Lalu Ivy berjalan menjauhi meja mereka berdua.
"Lo sering dateng ke sini, ya?" tanya Ella.
Jovan mengangguk. "Dulu gue hampir tiap hari ke sini, tapi sekarang udah jarang."
"Kok gitu?" tanya Ella.
"Ya, karena akhir-akhir ini gue menganggap ada sesuatu yang harus gue jadiin prioritas," jawab Jovan.
Mendengar jawaban Jovan jelas membuat Ella penasaran dengan sesuatu yang harus dijadikan prioritas oleh Jovan.
"Apa?" tanya Ella.
"Suatu saat lo juga bakalan tau," jawab Jovan sambil tersenyum.
Ella tidak mengerti apa maksud dari senyuman Jovan barusan. Yang jelas Ella menganggap ada sesuatu yang aneh dari Jovan.
"Sok rahasia lo," ucap Ella.
"'Kan, nggak mungkin gue kasih tau ke lo sekarang," ucap Jovan.
Sekarang Ella benar-benar penasaran. Bagi Ella, hari ini Jovan sangat membuat dirinya kesal. Sangat.
Ella kemudian memutuskan untuk memainkan ponselnya daripada harus berinteraksi dengan Jovan. Jika dia berinteraksi dengan Jovan, yang ada dirinya malah kesal sendiri.
Ella melihat tanggal di ponselnya, ternyata ini adalah tanggal 17, tanggal dimana Jovan memutuskan Ella di taman. Tak terasa sudah sebulan dirinya dan Gavril sudah tidak berhubungan lagi.
"Kok lo lihat hape lo gitu banget? Ada apaan?" tanya Jovan. Jovan daritadi memang memperhatikan Ella, entah kenapa Jovan hanya merasa tenang jika melihat wajah Ella.
"Engga ada apa-apa, cuma gue baru inget aja ini tanggal 17," jawab Ella.
Jovan terdiam. Dia memikirkan apa yang sebelumnya terjadi di tanggal itu.
Jovan mengangguk. Jovan masih melihat wajah Ella, kali ini ada rasa sedih yang sepertinya sedang menghampiri Ella. Jovan memutuskan untuk melakukan sesuatu kepada Ella. "Mau ngerayain bareng gue, nggak?"
Ella sangat kaget mendengar ajakan Jovan. Aneh, itulah yang Ella pikirkan mengenai ajakan Jovan barusan. Sangat aneh bila tanggal putusnya sebuah hubungan dirayakan.
"Mau, nggak?" tanya Jovan sekali lagi.
Ella masih terdiam, dia masih menganggap kalau Jovan sedang, dalam tanda kutip, miring. Ella kemudian mengangguk.
"Lo habisin aja dulu minumnya," suruh Jovan.
Ella melihat segelas Vanilla Latte yang ada di hadapannya, Ella bahkan hanya menyeruput sekali minumannya.
"Lo nggak mau lagi?" tanya Jovan.
Ella menggeleng dengan pelan.
Jovan mengambil gelas minuman Ella lalu meminumnya. "Bilang kek daritadi, 'kan, gue bisa minta."
"Ih, rakus lo, Bang," ledek Ella.
"Kan pake duit gue," ucap Jovan.
*
Ella seperti mengingat jalan yang sedang dia lalui dengan Jovan saat ini. Jalan ini kalau tidak salah menuju ke suatu tempat yang merupakan tempat Ella dan Gavril pertama kali jalan berdua.
Semoga Bang Jo nggak ngajak gue ke tempat itu, mohon Ella dalam hati. Jika mereka datang ke tempat itu, bukannya terhibur Ella malah akan merasa sedih.
Tempat itu sudah lewat, berarti mereka tidak akan ke tempat itu. Hati Ella pun sedikit lega.
"Bang, ini kita mau kemana?" tanya Ella.
"Tadinya gue mau ngajak lo ke tempat yang barusan kita lewati, tapi lagi sepi," jawab Jovan.
Ella hanya mengangguk, dia tidak mungkin memberitahu kepada Jovan kalau tempat yang sebelumnya mereka lewati adalah tempat dirinya dan Gavril jalan berdua untuk pertama kalinya.
Beberapa menit kemudian, Jovan memarkirkan mobilnya di parkiran suatu tempat yang Ella tidak tahu tempat apa itu. Yang Ella lihat, banyak beberapa spot yang bagus untuk diabadikan gambarnya. Pemandangannya benar-benar bagus.
"Ini tempat apa?" tanya Ella.
"Gue juga nggak tau," jawab Jovan.
Ella sedikit bingung, Jovan mengajaknya ke tempat ini tetapi Jovan sendiri tidak tahu mengenai tempat ini.
"Aneh lo, Bang. Eh, tapi tempat ini bagus banget," ucap Ella, mengeluarkan semua rasa takjubnya terhadap apa yang dia lihat sekarang.
"Ayo turun," ajak Jovan sembari keluar dari mobil dan diikuti oleh Ella.
Tempat ini juga sepi, tetapi Ella jelas lebih memilih tempat ini dibandingkan dengan tempat yang tadi. Nama tempat ini adalah Forest Garden.
"Kakak sama Abang mau duduk di mana? Dekat danau atau dekat menara?" tanya seorang anak kecil yang berpakaian seragam layaknya seorang pelayan.
Ella bingung dengan 'pelayan kecil' yang sedang berada di depannya sekarang. Ini sedikit, aneh.
"Kamu mau menara atau danau?" tanya Jovan kepada Ella.
__ADS_1
Lagi-lagi Ella bingung. Kali ini karena Jovan menyebutnya dengan sebutan 'kamu'.
"Menara aja, deh," jawab Ella.
"Ayo ikut Jeje," ajak Jeje. Kemudian pelayan kecil yang bernama Jeje itu menuntun jalan Ella dan Jovan agar sampai menara.
"Sudah sampai menara. Jangan pacaran, Jeje masih kecil," pesan Jeje saat mereka sudah sampai di dekat menara. Kemudian Jeje pun berjalan menjauhi Ella dan Jovan.
Menara yang dimaksud oleh Jeje hanya miniatur menara Eiffel yang tingginya sama seperti Ella. Sungguh itu di luar dugaan Ella, serta Jovan juga.
"Gila, gue kira menaranya tinggi, eh ternyata pendek," ucap Jovan.
"Lo ngejek gue, ya?" tanya Ella karena tinggi badannya dan menara itu sama.
"Itu nyadar," ucap Jovan.
Ella dengan refleks mendorong Jovan, hampir saja Jovan jatuh mengenai menara itu.
"Aduh, duh," ucap Jovan.
"Makanya jangan ngejek orang pendek," ucap Ella.
"Bodo amat, Sayang."
Jantung Ella rasanya berhenti berdetak. Ella dengan segera menetralisasikan jantung dan juga dirinya.
"Cie geer," ledek Jovan sambil tertawa.
"Gue nggak geer kali," ucap Ella membela dirinya sendiri.
"Oh, ya, El," ucap Jovan.
"Kenapa?" tanya Ella.
"Kalau misalnya Gavril ngajak lo balikan, lo terima apa, nggak?" tanya Jovan.
Ella terdiam mendengar pertanyaan Jovan yang dia anggap berbobot dalam arti lain pastinya. Ella tidak mungkin menjawab ya di hadapan Jovan apalagi dengan kondisi seperti ini.
"Ya enggaklah, mana mungkin gue balik ke dia," jawab Ella tanpa berbohong. Ella jujur, dia memang tidak mau balikan dengan Gavril walau sebenarnya Ella masih memiliki rasa kepada Gavril, tetapi percayalah rasa itu tinggal sedikit.
Jovan merasa sedikit lega mendengar jawaban dari Ella. Itu berarti peluang dia untuk menjadikan Ella sebagai pacarnya sangat terbuka. Tapi, sampai sekarang Jovan masih belum bisa untuk menyatakan keinginannya itu kepada Ella.
"Emang kenapa, Bang?" tanya Ella. Ella penasaran dengan tujuan Jovan menanyakan hal itu kepada dirinya.
"Nggak apa-apa gue cuma nanya aja," jawab Jovan, berbohong.
Keheningan menghampiri mereka berdua sebentar karena Ella sedang berkutat dengan ponselnya yang tadi baru saja bergetar di saku rok seragam sekolahnya.
"Siapa, El?" tanya Jovan ketika Ella menyimpan kembali ponselnya.
"Mama, Bang," jawab Ella.
"Nyuruh lo pulang? Coba siniin hape lo," suruh Jovan.
Tanpa bertanya mengapa Jovan meyuruhnya seperti itu, Ella mengambil kembali ponselnya lalu memberikan kepada Jovan.
"Password?" tanya Jovan sambil menunjukkan layar ponsel Ella ke hadapan Ella sendiri.
Ella pun mengetikkan kata sandi ponselnya tanpa memegangnya.
Setelah layar ponsel Ella sudah terbuka, Jovan langsung mencari kontak Sarah. Jovan kemudian menghubungi Sarah.
"Halo, Tante, ini Jovan," ucap Jovan saat sudah terhubung dengan Sarah yang entah sedang dimana. Tetapi menurut Jovan, Sarah sedang berada di rumah mereka.
"Jovan? Temen Ella, 'kan? Ada apa?"
"Ella lagi sama Jovan, Tan, jadi kita bakalan pulang agak sore. Nggak apa-apa, 'kan, Tan?"
"Oh gitu, ya udah gak apa-apa, tapi kamu jaga Ella, ya? Terus pulangnya jangan lama."
"Siap, Tan, Jovan bakal jaga Ella," ucap Jovan pada akhirnya, kemudian Sarah memutuskan sambungan telepon mereka.
"Lo kenapa telepon Mama gue, Bang?" tanya Ella.
"Biar Mama lo gak khawatir aja sama lo, kan kasihan kalau Mama lo panik cuma gara-gara lo pergi bareng gue gak izin ke beliau," jawab Jovan sembari mengembalikan ponsel Ella kepada Ella.
Ella mengambil ponselnya lalu menyimpannya kembali ke saku rok seragam sekolahnya.
"Lo mau jalan ke danau yang dibilang sama adek tadi, nggak?" tanya Jovan.
Ella menganggukkan kepalanya tanda setuju. Semoga saja danau yang di maksud oleh Jeje tadi seperti danau pada umumnya. Menara yang tidak sesuai ekspektasi barusan cukup menghilangkan kepercayaan Ella dengan tempat ini.
Ternyata jarak dari menara kecil ke danau cukup jauh. Ella dan Jovan memerlukan waktu lima menit untuk tiba di danau. Untung saja danau yang mereka datangi benar-benar sebuah danau dan bukan miniatur seperti menara tadi.
Tiba-tiba Ella teringat dengan suatu kejadian yang berhubungan dengan danau. Gavril memutuskan hubungan mereka di dekat danau. Rasanya Ella ingin membuang memori otaknya kemudian memasukkan yang baru, tapi sayang itu tidak bisa dia lakukan. Mau tidak mau dia mengingat kejadian yang berhubungan dengan Gavril.
"Kenapa muka lo gak enak lagi, El?" tanya Jovan.
"Nggak apa-apa, Bang," jawab Ella berbohong.
"Kalau gue nembak lo gimana?" tanya Jovan.
Mendengar pertanyaan Jovan barusan membuat jantung Ella seperti sudah tidak lagi di tempatnya. Ella benar-benar kaget mendengar pertanyaan Jovan.
Jovan melihat ekspresi Ella yang jelas sangat berubah dari sebelumnya. Jovan pun dengan segera mengambil tindakan.
"Ya, nggak mungkinlah gue nembak lo, muka lo gitu amat, El," ucap Jovan sambil merangkul Ella agar lebih terlihat kalau Jovan hanya bercanda. Setidaknya untuk saat ini.
Ella melihat tangan Jovan yang berada di bahunya. Satu hal yang Jovan tidak tahu, Ella merasa nyaman berada dirangkulan Jovan. Dan satu lagi, Ella tidak bisa menyimpan senyumannya.
"Kakak! Abang! Kan, Jeje udah bilang, di sini nggak boleh pacaran," ucap Jeje yang tiba-tiba saja sudah berada di samping Jovan dengan ekspresi marah dan melipat tangannya di depan dada.
Jovan dengan refleks melepas rangkulannya lalu melihat Jeje. "Kok kamu ada di sini?"
"Ini kan tempat main Jeje, jadi kalau Abang sama Kakak mau pacaran jangan di sini," jawab Jeje sambil mendorong Jovan.
Jovan pun menabrak Ella karena didorong oleh Jeje. Kemudian Jeje berlari menjauhi mereka. Sementara Ella, bukannya kesakitan karena tertabrak oleh Jovan, dia malah tertawa.
"Itu anak kecil minta disekolahin," ucap Jovan. "Lo kenapa ketawa coba?"
"Lucu lo, Bang, masa lo bisa didorong gitu sama anak kecil. Mana, nih, yang katanya anak bela diri?" ledek Ella sambil tertawa.
***
__ADS_1