
Ella sedikit kaget saat mengetahui bahwa kafe yang menjadi tempat pertemuan adalah kafe milik keluarganya Kevin. Ella takut kalau dia akan bertemu dengan Gavril di sini. Apalagi mengingat besok adalah hari libur, pastilah Gavril sedang berada di luar rumah.
"Ayo, turun, El," ajak Ryan.
Ajakan Ryan membuat Ella tersadar dari lamunannya dan dia lagi-lagi kaget karena ibunya sudah tidak ada lagi di belakang, itu berarti beliau sudah turun dari tadi.
"Mama gue mana?" tanya Ella.
"Ya udah turunlah. Lo ngapain coba ngelamun?" tanya Ryan balik.
"Nggak apa-apa," jawab Ella, berbohong.
"Oh, ya, lo tau nggak kalau ini kafenya Kevin?" tanya Ryan.
Ella mengangguk. "Lo kok bisa tau?"
"Seharusnya gue yang nanya kenapa lo bisa tau ini kafe punya Kevin," ucap Ryan.
Ella pun memutuskan untuk menjelaskannya kepada Ryan. "Kemarin gue makan di sini bareng Grisel sama yang lain, terus Kevin datang dan dia bilang ini kafe punya keluarga dia. Dan dia juga bilang kalau belum ada yang tau kalau ini kafe punya keluarga dia, makanya gue nanya ke lo kenapa lo bisa tau."
"Oh gitu, tapi kemarin dia baru bilang di grup dan gue semalam ikut pertemuan di sini," ucap Ryan.
Ella diam sejenak. Dia berpikir kalau ada sesuatu yang bisa dia dapat dari ucapan Ryan. Dan memang ada, kalau mereka sudah mengadakan pertemuan di kafe ini, dengan otomatis Gavril sudah mengetahui keberadaan kafe ini.
"Tapi lo nggak usah takut, El, tadi mereka bilang kalau mereka bakalan nongkrong di kafe biasa. Jadi, Gavril nggak mungkin ada di sini," ucap Ryan. "Ya udah, kalau gitu turun, yok, gue udah lapar."
Ella pun mengangguk lalu dia keluar dari mobil Ryan, begitu juga dengan Ryan. Hati Ella merasa sedikit lega karena setidaknya Ryan sudah memberitahukan kalau Gavril tidak mungkin ada di kafe ini.
Ella sedikit tidak menyangka kalau ibu-ibu yang datang ke tempat ini akan banyak seperti yang dia lihat sekarang. Bahkan sebagian di antara mereka membawa anak. Menurut Ella, bagian luar kafe ini sudah disewa oleh pihak perumahan. Karena ada sebuah baliho yang bertuliskan 'Selamat Datang di Pertemuan Pertama Komunitas Ibu-Ibu Perumahan Nusa Indah' yang digantung di salah satu pohon dan ada sebuah panggung kecil yang sepertinya akan dipakai sebagai penyampaian kata-kata sambutan atau semacamnya.
"El, tadi Mama lihat orang mirip sama Gavril keluar dari sini," ucap Sarah.
Ella jelas kaget mendengar ucapan ibunya itu. Tetapi Ella sedikit beruntung karena ternyata Gavril baru saja keluar dari tempat ini. Dan untung saja mereka berdua tidak sempat bertemu satu sama lain.
"Beneran, Ma?" tanya Ella.
"Iya, El, tadi Mama mau sapa, tapi dia buru-buru banget," jawab Sarah.
Ella merasa lega mendengar jawaban ibunya itu, untung saja ibunya tidak menyapa Gavril. Kalau sampai beliau menyapa Gavril, pastilah Gavril tahu kalau dirinya juga berada di sini.
"Selamat malam bagi kita semua," sapa pembawa acara yang entah sejak kapan sudah berada di panggung kecil itu. "Ya, saya berterima kasih kepada pihak Perumahan Nusa Indah yang sudah memperbolehkan saya menjadi pembawa acara di sini. Dan saya juga mengucapkan selamat datang bagi para saudara saudari yang hadir. Saya persilakan kepada ketua lingkungan untuk menyampaikan kata-kata sambutannya."
Ella menghembuskan nafasnya. Dia paling tidak nyaman jika berada di tengah-tengah acara seperti ini. Rasanya Ella ingin mematikan sambungan microphone itu agar mereka tidak bisa berbicara dengan suara yang keras. Ella pun memutuskan untuk permisi ke toilet, dia ingin melepaskan rasa ketidaksukaanya itu.
"Ma, Ella mau ke toilet, ya?" ucap Ella.
"Lho, 'kan, baru mulai, El. Kamu di sini aja, dengerin Om Ridwan ngomong," ucap Sarah.
Ella pun dengan segera memutar otaknya untuk mencari alasan yang memiliki kemungkinan besar akan membuat ibunya mengizinkan dirinya untuk ke toilet.
"Ella nggak tahan, Ma, sakit perut," ucap Ella dengan memegang perutnya. Walaupun itu cara yang cukup sering dijadikan sebagai suatu kepura-puraan, tetapi untungnya Sarah mengangguk. Ella dengan segera beranjak dari tempat duduknya lalu masuk ke dalam ruangan.
Ella memutuskan untuk masuk ke toilet karena tiba-tiba dia ingin membuang air kecil. Saat Ella masuk ke toilet, suasana toilet membuat Ella sangat tidak berniat untuk membuang air kecil. Toilet itu sangat ramai. Ella pun keluar dari toilet itu.
"Mbak mau ke toilet, ya? Di atas masih ada kok, Mbak, kemungkinan toilet di atas sepi karena jarang ada yang tau di atas ada toilet," ucap salah satu cleaning service yang kebetulan bertugas membersihkan area dekat toilet.
"Oh, gitu, 'makasih infonya, Mbak," ujar Ella kemudian dia langsung berjalan menuju lantai dua.
Walking down 29th and park
I saw you in another's arm
Only a month we've been apart
You look happier
Saat Ella sedang berada di tangga, dia mendengar suara seseorang menyanyikan bait lagu itu. Menurut Ella, suara orang itu sangat bagus. Ella pun mempercepat langkahnya untuk mengetahui pemilik suara itu.
Saw you walk inside a bar
__ADS_1
He said something to make you laugh
I saw that both your smiles were twice as wide as ours
Yeah, you look happier
Betapa kagetnya Ella ketika mengetahui siapa orang yang bernyanyi lagu itu. Tetapi, Ella tidak kembali ke bawah, karena jujur saja, Ella merasa dirinya terhipnotis dengan suara orang itu.
Ain't nobody hurt you like I hurt you
But ain't nobody need you like I do
Promise that I will not take it personal, baby
If you're moving on with someone new
Cause baby you look happier you do
My friends told me one day I'll feel it too
And until then i smile to hide the truth
But I know I was happier with you
Entah kenapa Ella merasa orang yang bernyanyi itu sangat merasa sakit. Tanpa Ella sadari, dia juga merasakan kesedihan penyanyi itu.
Sat in the corner of the room
Everything's reminding me of you
Nursing an empty bottle and telling myself
You're happier, aren't you?
Oh, ain't nobody hurt you like I hurt you
But ain't nobody need you like I do
But my darling, I am still in love with you
Ella benar-benar tidak bisa menahan air matanya. Dia benar-benar merasakan kesedihan orang itu, dari cara dia bernyanyi dan dari suara orang itu. Ella yakin, orang itu pasti tidak menyadari kehadirannya.
But I guess you look happier, you do
My friend's told me one day I'll feel it too
I could try to smile to hide the truth
But I know I was happier with you
Orang itu menatap Ella. Gavril menatap Ella. Gavril sadar akan kehadiran Ella, tetapi sayang Ella tidak tahu kalau Gavril sudah mengetahui kehadirannya.
Baby, you look happier, you do
I know one day you'd fall for someone new
And if he breaks your heart like lovers do
Just know that I'll be waiting here for you
"Gue minta maaf," ucap Gavril saat dia sudah menyelesaikan lagu yang dinyanyikannya.
Ucapan Gavril membuat Ella tersadar kalau Gavril sedari tadi melihat kearahnya. Tanpa berpikir panjang, Ella turun ke bawah, tetapi sebelumnya dia sudah membersihkan air matanya.
Gavril memutuskan untuk diam. Entah kenapa dia merasa kalau Ella hanya membutuhkan waktu untuk sendiri.
Sementara itu Ryan sedikit bingung karena Ella lama kembali dari toilet. Tadi, Ryan sudah bertanya kepada Sarah soal keberadaan Ella dan dijawab kalau Ella sedang ke toilet.
Tiba-tiba saja ponsel miliknya bergetar. Ryan pun segera memeriksa notifikasi yang masuk dan ternyata itu adalah pesan dari Jovan.
__ADS_1
Jovan Edsell: Lo tau Ella kemana gak? Ini gue ada di rumahnya tapi dianya gak ada
Jovan Edsell: Lo ada di rumah kan?
Ryan Darin: Gue sama Ella lagi ada acara di luar
Ryan Darin: Lo ke sini aja deh kalo lo emang mau ketemu sama dia
Ryan Darin: Kafe rossa
Jovan tidak membalas pesan dari Ryan. Jovan langsung bergegas pergi ke tempat yang diberitahu oleh Ryan. Entah kenapa Jovan merasa dirinya harus segera menemui Ella.
Beberapa menit kemudian barulah Jovan sampai di kafe yang diberitahu oleh Ryan. Jovan memutuskan untuk mengirimkan pesan kepada Ryan agar mengetahui dimana posisi Ella sekarang.
Jovan Edsell: Ella dimana?
Baru saja pesan itu terkirim, tiba-tiba ada seseorang membuka pintu mobil Jovan lalu tanpa izin duduk di jok belakang. Jovan sangat kaget dengan hal itu, dia pun segera menoleh ke belakang agar mengetahui siapa orang yang dengan seenaknya masuk ke dalam mobilnya.
Rasa kaget Jovan semakin bertambah saat mengetahui orang yang masuk itu. Orang itu adalah Ella. Ella hanya menatap Jovan tanpa berkata apa-apa. Jelas hal itu membuat Jovan bingung, biasanya adik kelasnya itu akan berbicara sesuatu kepada dirinya. Beberapa detik bertatapan dengan Ella membuat Jovan tersadar kalau Ella baru saja menangis.
"El? Lo kenapa?" tanya Jovan.
Ella menggeleng.
Ponsel Jovan bergetar, Jovan pun mengalihkan pandangannya dari Ella.
Ryan Darin: Ella gak ada sama gue, katanya dia ke toilet tapi sampai sekarang gak balik-balik
Jovan Edsell: Dia udah sama gue, bilangin ke mamanya kalo dia plng bareng gue
Jovan kembali menyimpan ponselnya lalu menoleh ke belakang untuk melihat Ella. Ella masih sama seperti tadi.
"Lo pindah ke depan, deh, El, kalau posisinya kek gini gue jadi gak enak kalau ngomong sama lo," suruh Jovan.
Tanpa mengucapkan apapun, Ella mengikuti perintah Jovan.
Saat Ella sudah duduk di kursi penumpang yang berada di samping Jovan. Ponsel milik Jovan kembali bergetar.
Ryan Darin: Gue barusan lihat Gavril
Ryan Darin: Ella beneran sama lo kan?
Jovan Edsell: Iya lo tenang aja
Akhirnya, Jovan tahu apa yang membuat Ella seperti sekarang ini. Pastilah alasannya karena Gavril, Jovan yakin kalau Ella bertemu dengan Gavril.
"El, 'kan, gue udah bilang, gue nggak suka lihat lo nangis kayak gini. Ini pasti karena Gavril, 'kan? Lo ketemu sama dia?" tanya Jovan dengan suara yang lembut dan membuat hati Ella sedikit meleleh.
"Iya, gue ketemu sama dia, Bang," jawab Ella.
"Terus kenapa lo nangis? Dia bawa pacarnya? Dia marahin lo? Apa gimana?" tanya Jovan.
"Bukan, Bang. Dia nyanyiin lagu dan lagu itu kayak menceritakan isi hati dia yang sedih. Dan gue ngerasa kalau lagu itu buat gue karena dia lihat gue di akhir lagu dan dia minta maaf," jawab Ella.
"Lagu apa?" tanya Jovan, sangat penasaran.
"Lagu Happier," jawab Ella.
Jovan terdiam, dia mengingat-ingat bagaimana lirik lagu itu sehingga bisa membuat Ella merasa sedih sampai nangis. Beberapa detik kemudian barulah Jovan sadar kalau lirik lagu itu jelas mengena ke hati Ella, tidak mungkin rasanya jika Ella biasa saja mendengar lagu itu.
"Gue minta, lo jangan nangis lagi, ya? Gue benar-benar nggak tega lihat lo nangis," pinta Jovan.
Ella menarik nafas lalu membuangnya kembali, berusaha untuk menyantaikan dirinya yang sedaritadi masih merasa sedih.
"Iya, Bang, gue nggak bakal nangis lagi karena dia," ucap Ella sambil tersenyum.
Melihat senyum Ella membuat Jovan juga membentuk senyum di bibirnya. Jovan lagi-lagi merasa dirinya sangat senang jika bisa membuat Ella tersenyum.
***
__ADS_1