Divide

Divide
Nggak, Satu Aja


__ADS_3

Karin tidak bisa berlama-lama menahan rasa penasarannya terhadap perempuan yang dekat dengan pacarnya itu. Karin rasanya ingin sekali untuk langsung bertanya kepada Kenzie tentang perempuan itu. Namun sayangnya, Karin tidak bisa. dia sudah berjanji kepada Aneska untuk tidak melakukan hal itu.


Yang Karin tunggu-tunggu saat ini adalah pesan dari Aneska yang berisi pemberitahuan kalau Aneska sudah mengetahui siapa perempuan itu. Namun, sampai sekarang tidak ada tanda-tanda mengenai hal itu.


Selain pesan dari Aneska, Karin juga sedang menunggu balasan pesan dari kakaknya Aneska, Kenzie. Kenzie sedari tadi tidak menjawab pesan yang ia kirimkan. Dia sudah mengirimkan pesan setidaknya sepuluh kali dihitung sama yang terakhir, tetapi tetap saja tidak ada balasan dari Kenzie.


Karin pun memutuskan untuk mengirimkan pesan kepada Aneska. Dia tidak menanyakan perempuan itu, tetapi ia menanyakan tentang Kenzie yang tiba-tiba saja tidak ada kabar.


Karin Fahira: Nes?


Aneska Deniza: Iyaa kak, kenapa?


Karin Fahira: Kenzie ada di rumah gak? Kok daritadi gak balas pesan kakak?


Aneska Deniza: Di rumah kak, bentar deh biar aku lihat dulu bang kenzie lgi ngapain


Karin Fahira: Iyaa nes


Karin Fahira: Makasii ya nes


Aneska tidak membalas pesan dari Karin melainkan dia meletakkan ponselnya lalu berjalan keluar dari kamarnya menuju kamar Kenzie. Aneska sangat kesal mengetahui kalau kakaknya itu tidak membalas pesan dari Karin.


Aneska mengetuk pintu kamar Kenzie, tetapi tidak ada jawaban. Aneska pun mengetuknya sekali lagi dan barulah Kenzie membukakan pintu.


"Bang, coba, deh, lo check hape lo," suruh Aneska sambil melihat ke arah ponsel Kenzie yang berada di genggaman Kenzie.


Kenzie menatap Aneska dengan penuh tanya kemudian dia menghidupkan ponselnya lalu memeriksa notifikasi yang masuk. Ternyata ada lebih dari sepuluh pesan masuk dikirim oleh Karin. Kenzie sedikit menyesal karena sedaritadi dia tidak memegang ponselnya melainkan dia menonton pertandingan basket melalui laptop.


"Eh, ada LINE dari Karin," ucap Kenzie. Kemudian dia pun membaca pesan itu lalu membalasnya.


"Kenapa nggak Abang balas dari tadi?" tanya Aneska.


"Gue nggak hidupin notif," jawab Kenzie.


"Lain kali, Abang hidupin aja notifnya, biar kedengeran. Jangan notif dari yang sana aja yang dihidupin," ucap Aneska sedikit menyindir Kenzie.


"Yang sana yang mana?" tanya Kenzie.


"Ya, pertandingan basketlah," jawab Aneska sambil berjalan menjauhi Kenzie untuk kembali ke kamarnya.


Aneska mengambil kembali ponselnya yang ia letakkan di atas meja belajar tadi. Tiba-tiba Aneska memiliki rencana untuk mempertemukan Kenzie, Karin, dan Alissa hari ini juga. Aneska pun membuka room chat dengan Daniel untuk mengirim pesan kepada Daniel yang berisi tentang rencana itu.


Aneska Deniza: Dann


Daniel Nicholas: Yaa


Aneska Deniza: Hari ini gue ada rencana buat ketemuin mereka bertiga


Daniel Nicholas: Serius? Ya udah, nnti lo ksh tau jam brp biar gue jmpt lo


Aneska Deniza: Iyaa, biar gue ksh tau sm mrk dulu


Daniel Nicholas: Okok


Aneska kemudian beralih ke room chat Karin terlebih dahulu.


Aneska Deniza: Kak, nnti bisa ketemu sm perempuan itu gak?


Karin Fahira: Kamu udh tau? Dia siapa?


Karin Fahira: Bisa bisa


Aneska Deniza: Kakak bisanya jam brp?


Karin Fahira: Jam tujuh nes


Aneska Deniza: Kalau tempat di kafe Kitarang, kakak bisa gak?


Karin Fahira: Bisa ness


Aneska Deniza: Oke kak, aku ksh tau yg lain dulu ya


Karin Fahira: Iya ness


Bodoh, itulah kata yang cocok untuk Aneska saat ini. Dia baru menyadari kalau dia tidak punya kontak Alissa. Aneska segera memikirkan cara agar dia bisa memberitahu.


Pintar, kali ini kata itu cocok untuk Aneska. Dia pun segera berjalan ke kamar Kenzie untuk mendapatkan kontak Alissa. Rencananya Aneska akan meminjam ponsel Kenzie untuk mendapatkannya. Kalau Aneska meminta langsung kepada Kenzie, kata pertama paragraf sebelumnya sangat cocok untuk Aneska.


"Kenapa, Nes?" tanya Kenzie. Kebetulan saat Aneska hendak mengetuk pintu kamar Kenzie, sang pemilik kamar membuka pintunya.


"Gue pinjem hape lo boleh, nggak, Bang? Bentar aja," tanya Aneska.


Kenzie mengangguk lalu mengambil ponsel dari saku celana yang ia kenakan.


"Password?" tanya Aneska.


"Oh, iya lupa, lo ketik nama panjang Karin aja," jawab Kenzie.


Entah kenapa Aneska merasa sangat senang karena ternyata Kenzie menggunakan nama Karin sebagai password ponselnya. Aneska pun mengetikkan nama panjang Karin di ponsel Kenzie dan terbuka.


Aneska mundur satu langkah agar Kenzie tidak dapat melihat apa yang akan dia lalukan. Untung saja Kenzie tidak menyadari adanya pergerakan dari Aneska. Aneska pun dengan segera mengirimkan kontak Alissa kepada dirinya kemudian langsung menghapus pesan itu agar Kenzie tidak mengetahui hal itu.


"Makasih, Bang," ucap Aneska sambil mengembalikan ponsel Kenzie kepada Kenzie.


"Lo pakai buat apa, Nes?" tanya Kenzie.


"Gue cuma meriksa siapa tau lo nggak jawab pesan dari Kak Karin lagi," jawab Aneska berbohong.


"Oh, gitu, ya udah, gue mau ke bawah dulu, ya," ucap Kenzie lalu dia berjalan menjauhi Aneska sementara Aneska kembali ke kamarnya.


Aneska pun langsung menambahkan kontak Alissa itu dan mengirim pesan kepadanya.


Aneska Deniza: Kakk, ini gue Aneska, adik bang Kenzie


Aneska Deniza: Kakak inget?


Alissa Sophia: Iyaa, ada apa ya?


Aneska Deniza: Kakak nnti bisa ngajak bang Kenzie buat ketemuan jam tujuh di kafe Kitarang?


Alissa Sophia: Bisa Nes, emng ada apa?


Aneska Deniza: Biar kalian bertiga ketemu, oh ya, kak nnti perginya jangan brng sm bang Kenzie ya

__ADS_1


Alissa Sophia: Iya Nes, brrti gue blng ke dia jam set8 aja kali ya


Aneska Deniza: Iya jam segtu aja


Alissa Sophia: Okok


Aneska saat ini merasa sedikit lega, karena setidaknya dia sudah memberitahu Karin dan Alissa kalau mereka akan ketemuan hari ini. Dan jika itu berhasil, maka masalah Aneska dapat dia katakan selesai.


Sekarang, saatnya Aneska memberitahu Daniel mengenai waktu dan tempat pertemuan Kenzie, Karin, dan Alissa.


Aneska Deniza: Dann


Aneska Deniza: Nnti jam 7 di kafe Kitarang


Daniel Nicholas: Okee, nnti gue jmpt lo ya


Aneska Deniza: Okee


*


Ketika sampai di kafe, Karin tidak melihat keberadaan Alissa. Dan bahkan Karin lupa menanyakan bagaimana wajah Alissa itu kepada Aneska. Karin kemudian memutuskan untuk memesan segelas kopi terlebih dahulu. Setelah itu, Karin memutuskan untuk mengirimkan pesan kepada Aneska.


Karin Fahira: Ness, muka cewek itu gmn? Kakak bru ingt kakak gak punya fotonya


Aneska Deniza: Kakak tenang aja, nnti dia yg datengi kakak. Namanya Alissa


Karin Fahira: Oh gtu, kmu ikut ke sini Nes?


Aneska Deniza: Ikutt kak, ini otw


Aneska Deniza: Tpi jgn ada yg tau klo aku ke sana jg y kak


Karin Fahira: Sipp


"Permisi, lo Karin, ya?" tanya seseorang.


Karin yang tadinya sedang menatap layar ponselnya itu pun mengalihkan tatapannya kepada orang yang mungkin sedang bertanya kepadanya itu. Kemudian, Karin pun menganggukkan kepalanya, dengan sedikit ragu.


"Gue Alissa, lo tau gue, 'kan?" tanya Alissa.


"Oh, lo Alissa, ya? Duduk dulu, Sa," suruh Karin, dengan sedikit canggung.


Alissa tersenyum lalu dia duduk di hadapan Karin. Mereka berdua sama-sama merasa canggung. Alissa masih diam, dia tidak tahu harus memulai percakapan mereka darimana. Alissa takut dia salah bicara dan membuat Karin tersinggung atau semacamnya.


"Lo beneran dekat sama Kenzie?" tanya Karin, memulai percakapan mereka.


Alissa mengangguk. "Gue bener-bener minta maaf sama lo. Gue nggak tau kalau Kenzie punya pacar. Kalau gue tau dia punya pacar, pasti gue nggak dekat sama dia."


"Lo nggak salah, Sa, nggak perlu minta maaf. Gue cuma butuh pengakuan dari lo aja, kok," ucap Karin dengan tersenyum.


Melihat Karin yang sepertinya tidak menganggap dirinya salah, membuar rasa bersalah Alissa malah bertambah. Sepertinya benar apa yang dikatakan oleh Aneska, Karin adalah orang yang baik.


"Tapi, 'kan, gue tetap salah, Rin. gue udah buat Kenzie berubah," ucap Alissa.


"Udahlah, Sa, sekarang gue cuma pengin dengar pengakuan langsung dari Kenzie," ucap Karin.


"Gue udah nyuruh Kenzie datang ke sini, mungkin beberapa menit lagi dia datang," Alissa memberitahu Karin.


"Lo bilang kalau gue ada di sini juga?" tanya Karin.


"Oh, ya, Sa, kalau boleh tau, lo kenal Kenzie dari mana?" tanya Karin. Jujur saja, Karin sangat penasaran bagaimana Alissa bisa kenal dengan Kenzie dan menjadi dekat. Tapi, kalau soal menjadi dekat, Karin merasa bertanya langsung bukanlah hal yang tepat.


"Jadi, waktu itu gue lagi ada projek buat bikin drama dan itu direkam. Gue sama kelompok gue baru sadar kalau ada scene dimana kita semua dalam satu frame, dan kebetulan Kenzie lewat habis itu, salah satu teman gue minta tolong ke dia. Terus, tiba-tiba aja dia nawarin gue buat pulang bareng, dan teman-teman gue suruh gue buat terima, ya udah gue terima, dan akhirnya ya gini," jawab Alissa panjang lebar.


Jawaban Alissa membuat Karin teringat kembali saat dia baru kenal dengan Kenzie. Kejadiannya sama seperti Alissa, hanya saja saat itu Karin sedang kesusahan dalam mengerjakan sebuah soal di perpustakaan.


Sementara itu, Aneska dan Daniel baru saja sampai di Kafe Kitarang. Mereka berdua pun langsung mencari keberadaan Karin dan Alissa. Setelah menemukan keberadaan mereka, Aneska dan Daniel pun duduk di salah satu tempat yang lokasinya tidak jauh dari tempat Karin dan Alissa.


"Mereka cepet akur, ya?" tanya Daniel.


Aneska menganggukkan kepalanya. "Bang Kenzie kok belum datang, ya? Padahal dia duluan pergi tadi."


"Mungkin dia singgah di tempat lain dulu kali, Nes," jawab Daniel.


"Mungkin sih, lo mau mesan, nggak? Biar gue yang pesanin," tanya Aneska.


"Green Tea Latte deh, Nes," jawab Daniel kemudian dia mengambil dompet dari saku celananya.


"Biar gue aja yang bayar, hitung-hitung tanda terima kasih," ucap Aneska.


"Beneran? Untung deh gue, kalau gitu tambah satu lagi deh, Nes, boleh, 'kan?" tanya Daniel, bercanda.


"Boleh palamu. Nggak, nggak, satu aja," jawab Aneska lalu dia berjalan menjauhi Daniel untuk memesan minuman.


Daniel tidak sengaja mengarahkan pandangannya ke pintu masuk. Dan tiba-tiba saja Kenzie memasuki kafe itu, Daniel pun berpura-pura memainkan ponselnya agar tidak kelihatan oleh Kenzie.


Kenzie tiba-tiba saja berdiri di belakang Daniel, untung saja tidak di depannya. Tetapi, bukannya mendekati Karin dan Alissa, Kenzie malah berbalik arah dan keluar dari kafe itu. Daniel melihat kepergian Kenzie itu, kemudian dia pun beranjak dari tempat duduknya lalu menghampiri Alissa yang sedang mengantre.


"Lo kenapa ke sini?" tanya Aneska saat Daniel sudah berdiri di sampingnya.


"Tadi Bang Kenzie datang, terus dia pergi lagi," jawab Daniel.


"Lah serius? Kenapa nggak lo panggil?" tanya Aneska.


"Heh, gila lo, kalau gue panggil, ya, kita bakal ketauan lah. Gimana, sih, lo?" jawab Daniel.


"Astaga, bodohnya gue, terus kita harus gimana?" tanya Aneska.


"Mbak, silakan," ucap pelayan kafe itu.


"Kita gak jadi pesan, Mbak," ucap Daniel kepada pelayan kafe. Kemudian Daniel menarik Aneska agar keluar dari antrian.


"Kayaknya lebih baik kita ngikutin Bang Kenzie, Nes," ucap Daniel.


"Ya udah, ayo," ajak Aneska.


Kemudian mereka berdua pun keluar dari kafe itu lalu pergi mengikuti Kenzie walau mereka sudah kehilangan jejak Kenzie.


"Ini kita mau kemana, Dan?" tanya Aneska.


"Ke rumah lo dulu, habis itu kalau Bang Kenzie nggak ada kita ke club," jawab Daniel.


Sekitar sepuluh menit kemudian barulah mereka berdua sampai di rumah Aneska. Sepeda motor Kenzie terparkir di halaman rumah, itu berarti Kenzie benar-benar ada di rumah. Aneska dan Daniel pun langsung turun dari motor Daniel.

__ADS_1


"Mama!" panggil Aneska sambil mengetuk pintu.


"Fungsi bel di rumah lo apa, sih, Nes? tanya Daniel sambil menekan bel yang ada di dekat pintu rumah Aneska, kemudian terdengarlah bunyi bel.


"Oh, iya *****, lupa gue," jawab Aneska.


Beberapa detik kemudian barulah pintu rumah Aneska terbuka.


"Kalian kenapa cepat banget pulangnya?" tanya Rena.


"Tempatnya lagi tutup, Ma," jawab Aneska, berbohong.


"Oh, gitu, Daniel nggak langsung pulang, 'kan?" tanya Mama Aneska.


"Engga, Tante, Daniel masih ada urusan sama Aneska," jawab Daniel.


"Oh, gitu, ya udah, kamu ajak Daniel masuk, ya, Nes, Mama mau ke kamar," ucap Rena lalu berjalan menjauhi Aneska dan Daniel. Sementara Aneska dan Daniel berjalan menuju ruang tamu lalu mereka berdua duduk di kursi tamu.


"Jadi, ini gimana, ya? Apa kita dulu aja yang ngomong ke Bang Kenzie?" tanya Daniel.


"Gimana, ya? Kalau mau ngomong langsung ke Bang Kenzie, gue nggak berani," jawab Aneska.


"Ya udah, biar gue aja yang ngomong," ucap Daniel.


"Kapan lo mau ngomong?" tanya Aneska.


"Sekarang," jawab Daniel.


"Serius?" tanya Aneska untuk meyakinkan Daniel tentang idenya itu.


Daniel mengangguk. "Bang Kenzie sekarang di mana?"


Aneska menggeleng. "Kayaknya di lapangan basket samping."


Daniel pun beranjak dari tempat duduknya kemudian berjalan ke halaman samping rumah Aneska yang menjadi lapangan basket untuk Kenzie. Sementara Aneska, dia memutuskan untuk pergi ke kamarnya agar dia bisa mendengar percakapan Daniel dengan Kenzie dari jendela kamarnya. Dan semoga saja Aneska dapat mendengarnya.


Benar saja, Kenzie sedang bermain basket di lapangan kecil itu. Daniel pun duduk di kursi yang tersedia. Sekitar dua menit kemudian, barulah Kenzie menyadari kehadiran Daniel. Dia pun menghentikan permainannya lalu duduk di samping Daniel.


"Lo sejak kapan di sini, Dan?" tanya Kenzie.


"Baru aja, Bang," jawab Daniel. Tanpa Kenzie ketahui, Daniel sedang berpikir keras mencari kata-kata yang tepat untuk ia katakan kepada Kenzie.


"Lo ada mau ngomong sesuatu ke gue?" tanya Kenzie.


Daniel menganggukkan kepalanya.


"Ya udah, ngomong aja," suruh Kenzie.


"Lo tadi kenapa kabur?" tanya Daniel.


Kenzie terlihat sedikit kaget mendengar pertanyaan Daniel. Kenzie sama sekali tidak tahu kalau Daniel juga ada di kafe itu.


"Lo ada di situ?" tanya Kenzie.


"Gue nanya duluan sama lo, Bang, tolong banget lo jawab jujur," ucap Daniel.


"Lo tau?" tanya Kenzie, lagi-lagi Kenzie tidak menjawab pertanyaan Daniel, dia malah melontarkan pertanyaan kepada Daniel.


Daniel mengangguk. "Gue tau semuanya, Bang."


"Lo serius tau semua?" tanya Kenzie, terlihat ketakutan dan panik.


Daniel menganggukkan kepalanya lagi. "Tolong lo jawab pertanyaan gue yang pertama tadi, lo jujur aja sama gue."


"Oke, gue kabur karena gue nhgak mau terjadi keributan di situ, gue gak mau mereka ribut di situ," jawab Kenzie.


"Bang, lo sama aja lari dari masalah. Lo nggak usah takut mereka bakalan ribut, karena mereka itu udah dekat dan Kak Karin itu cuma butuh pengakuan dari lo, Bang. Mereka cuma mau lo datang dan ngejelasin semuanya sejelas-jelasnya," ucap Daniel.


Kenzie terdiam. Apa yang diucapkan oleh Daniel itu benar. Dirinya tidak harus pergi dari kafe itu. "Gue nggak kepikiran soal itu, Dan. Gue panik."


"Oke, lo panik, gue udah duga itu. Memang terkadang kalau kita lagi panik, pemikiran nggak sinkron sama perbuatan. Tapi, Bang, lo kan udah dewasa, secara umur, jadi, lo harus udah bisa ngimbangin itu semua. Maaf banget, Bang, gue sekarang jadi sok gimana gitu sama lo. Gue kayak gini biar semua masalah lo clear, nggak ada lagi yang namanya lo dekat sama dua cewek sekaligus," ucap Daniel. "Intinya, gue harap sama lo, Bang, lo harus temui Kak Karin sama Kak Alissa. Mau gimana pun juga, masalah ini nggak bakalan selesai kalau bukan kalian bertiga yang nyelesain."


"Iya, gue tau soal itu, Dan. 'Makasih lo udah mau bantu gue, ya setidaknya lo udah buat gue sadar. Tapi, gue masih bingung, kenapa lo tau masalah gue?" tanya Kenzie.


"Lebih tepatnya kenapa gue sama Aneska bisa tau." Daniel mengoreksi pertanyaan Kenzie.


Kenzie terlihat kaget, sama seperti saat dia mengetahui kalau Daniel tahu mengenai masalahnya. "Aneska juga tau?"


Daniel menganggukkan kepalanya. "Aneska tau bukan sebuah masalah, Bang. Lo nggak perlu kaget kayak gitu."


"Jadi, selama ini lo dateng ke rumah buat nyari tau soal gue?" tanya Kenzie.


"Ya, nggak sepenuhnya sih, Bang," jawab Daniel.


"Maksud lo?" tanya Kenzie.


"Maksud gue, gue nggak sepenuhnya mau datang ke sini buat nyari tau tentang lo, tapi biar gue bisa dekat lagi sama Aneska," jawab Daniel.


Aneska mendengar hal itu, tanpa Daniel dan Kenzie ketahui. Entah kenapa, mengetahui fakta itu bukannya membuat Aneska merasa senang, tetapi malah membuat Aneska merasa tidak enak dengan pacar Daniel.


Kenzie mengangguk-anggukkan kepalanya. Kenzie mengerti apa maksud dari ucapan Daniel itu. "Lo kenapa ngejauh dari adik gue?"


"Ngejauh, sih, sebenarnya nggak terlalu, Bang, cuma lebih ke kelihatan menjauh. Tanpa Aneska sadari, gue sering ngelihatin dia bareng teman-temannya di sekolah. Yang dia tau soal gue, gue menjauh dan gue pacaran sama temannya waktu SMP," jawab Daniel. Daniel merasa dia harus menceritakan isi hatinya ini kepada orang yang tepat dan baginya Kenzie adalah orang yang tepat.


"Jadi, lo udah punya pacar?" tanya Kenzie.


Daniel mengangguk. "Tapi, semalam dia ngambek gitu sama gue, Bang."


"Kenapa?" tanya Kenzie.


"Biasalah, cewek," jawab Daniel.


"Untung banget pacar gue nggak kayak gitu, Dan," ucap Kenzie, jelas yang dia maksud adalah Karin, bukan yang lain.


"Halah, gitu-gitu lo duain dia juga, ya," ledek Daniel.


"***** lo," umpat Kenzie. "Eh, tapi menurut lo, gue bakalan diputusin sama Karin gak?"


Daniel terdiam beberapa saat, untuk hal itu Daniel tidak terlalu yakin dengan jawaban yang dia punya. Jarang sekali fenomena jika seorang laki-laki berselingkuh kemudian pacarnya tetap menerima laki-laki itu. "Pengalaman teman-teman gue sih, Bang, mereka malah diputusin. Tapi, berhubung cewek lo sabar kayak gitu, mungkin lo gak bakal diputusin."


"Semoga aja sih, soalnya gue masih sayang sama dia," ucap Kenzie.


Daniel tiba-tiba saja teringat akan satu hal yang belum dia tanyakan kepada Kenzie, yaitu tentang perasaan Kenzie kepada Alissa. "Bang, coba lo jujur, lo ada perasaan gak ke Kak Alissa?"

__ADS_1


Kenzie dengan cepat menggeleng. "Kalau soal itu, gue sama sekali nggak punya."


***


__ADS_2