Divide

Divide
Ella Sama Jovan


__ADS_3

Ella, Grisel, Abel, dan juga Aneska saat ini sedang berada di sekolah.  Mereka sedang latihan Seni Musik. Ada dua kelompok lain yang sedang latihan yaitu kelompok Reno dan juga Keya.  Untung saja di antara dua kelompok itu tidak ada Ferdi, jika ada maka akan terjadi keributan antara Keya dan Ferdi.


Menarilah dan terus tertawa


Walau dunia tak seindah surga


Bersyukurlah pada yang Kuasa


Cinta kita di dunia


Ooh,  selamanya


Keya bernyanyi mengikuti alunan musik yang dimainkan oleh Ella dan yang lainnya. Keya menggunakan tempat pensil miliknya sebagai microphone. Keya terus bernyanyi sampai-sampai dia tidak menyadari ada seseorang yang melihatnya dari luar.


Fika yang sadar kalau Karel sedang melihat Keya pun memberikan kode kepada Keya, tetapi Keya tidak berhenti karena dia sudah terlalu asyik.  Lalu Fika memberi kode kepada Ella dan yang lainnya untuk berhenti, dan mereka pun berhenti.


"Lha, kok kalian berhenti?" tanya Keya yang terlihat kecewa.


Saat Keya melihat ke arah luar kelas,  dia melihat dengan jelas Karel sedang berbicara dengan temannya dan pasti Karel sempat melihat aksinya.


"****** gue, ada Kak Karel," ucap Keya lalu dia dengan segera menutup pintu kelas.


"Sial amat nasib lo, Key.  Udah dua kali lo ketauan," ledek Reno.


"Ini gara-gara si pintu gila ini. Coba aja dia nggak kebuka pasti Kak Karel nggak lihat konser gue," Keya malah menyalahkan pintu yang jelas tidak bisa disalahkan.


"Sinting otak lo," ucap Reno.


"Key, ayo buruan latihan lagi," ajak Fika. Fika tidak mau Keya jadi tidak fokus karena dia baru saja melihat Karel.


Keya pun berjalan kembali ke tempat kelompoknya berlatih. "Ayo, deh."


"Oh, ya, kemarin gimana acara jalan lo sama kakak ipar?" tanya Abel walaupun sebenarnya Abel tidak suka jika Karin menjadi kakak ipar Aneska. Kalian tahulah bagaimana pandangan Abel dan yang lain terhadap Karin.


"Jangan sebut dia kakak ipar gue, tapi jujur aja nih, semalam seru banget," jawab Aneska. "Dia baik, ramah sama gue, terus nggak ada sifat-sifat yang jahat."


"Ya iyalah dia ramah, 'kan, itu first time-nya dia ketemu sama lo. Mana ada orang dari awal langsung jahat, mereka pasti menunjukkan semuanya secara perlahan," ucap Grisel.


Aneska terdiam. Dia sedang mencerna ucapan Grisel di dalam otaknya. Ucapan Grisel itu seratus persen bisa menjadi sebuah kebenaran. "Iya, sih."


"Coba gue lihat foto Karin, Nes," pinta Ella.


Aneska pun menunjukkan foto Karin yang ada di ponselnya. Bukannya Ella yang melihat foto Karin duluan malahan Abel yang melihatnya.


"Dari mukanya aja udah jahat. Udah, deh, Nes, mending lo suruh Bang Kenzie putusin Karin," suruh Abel yang sudah geram dengan Karin padahal dia tidak tahu apa-apa tentang Karin.


Ella melihat foto Karin sekali lagi. Karin terlihat mirip dengan seseorang, tetapi itu tidak mungkin. Ella pun dengan segera menghilangkan pemikirannya itu.


"Udah, deh, nggak usah bahas si Karin-Karin itu, gue laper," ucap Grisel sambil memegangi perutnya.


"Oh, iya, gue baru sadar, kok dari tadi nggak ada Bang Jovan, Bel?" tanya Aneska.


"Dia kerja kelompok sama temennya, Nes, terus nanti gue disuruh pulang bareng Ella," jawab Abel.


Tadi, sewaktu di parkiran, Ella bertemu dengan Jovan dan Abel yang juga baru sampai. Jovan meminta tolong kepada Ella untuk mengantar Abel pulang karena dia akan melakukan kerja kelompok pulang sekolah nanti. Ella pun mengiyakan permintaan Jovan karena kebetulan dia membawa kendaraan. Dan bagaimana Ella bisa menolak permintaan dari Jovan?


"Lo mau ikut pulang bareng kita, Nes?" tawar Ella.


"Mau dong, kebetulan gue lagi nggak bawa motor," jawab Aneska.

__ADS_1


"Lo juga mau nggak, Gris? Sekalian makan nanti," tanya Ella kepada Grisel.


Mendengar kata makan pastilah Grisel langsung mengiyakan pertanyaan Ella itu. Grisel memang terkenal sebagai orang yang paling sering makan di antara mereka berempat. Akan tetapi jangan salah, Grisel tidak memiliki badan yang over, malah dia terlihat kurus. Itu karena Grisel memang ada masalah dalam pencernaan yang membuat dirinya susah untuk menaikkan berat badan.


"Ya udah, kita latihan sekali lagi, ya," ucap Abel. Lalu mereka berempat kembali latihan untuk terakhir kalinya sebelum pergi mencari makan siang.


*


Saat sampai mobil, mereka berempat langsung berdiskusi mengenai tempat makan yang tidak terlalu jauh dari sekolah. Dan hasil diskusi mereka adalah mereka akan makan di kafe yang baru saja dibuka. Kafe Rossa. Aneskalah yang merekomendasikan kafe itu karena Aneska datang saat pembukaan kafe yang dilaksanakan semalam. Dia datang bersama Kenzie dan Karin.


Mereka pun mencari tempat yang strategis untuk menyantap makan siang. Dan tempat itu terletak di dekat jendela yang menunjukkan ramainya jalanan pada siang hari.


"Mbak, nasi goreng sama orange juice-nya dua, terus mie goreng sama lemon tea-nya juga dua," pesan Aneska kepada pelayan kafe itu. Sebelumnya mereka berempat juga sudah menentukan menu apa yang akan mereka santap.


Saat menatap ke arah luar kafe, secata tidak sengaja Ella melihat Kevin sedang berjalan masuk ke kafe ini.


"Eh, itu, 'kan, Kevin temennya Gavril," ucap Ella dengan refleks.


"Kevin? Yang mana?" tanya Aneska yang sangat penasaran, karena dia pernah mendengar nama Kevin sebelumnya. Aneska mendengarnya sewaktu acara pembukaan kafe ini.


Belum sempat Ella menjawab pertanyaan Aneska, Kevin sudah masuk kafe dan berjalan ke arah mereka berempat. Sepertinya Kevin sudah menyadari keberadaan Ella sejak dari luar kafe.


"Lo kok ada di sini, El?" tanya Kevin.


"Ya, gue mau makan bareng merekalah. Lo ke sini bareng Gavril?" tanya Ella. Ella sengaja bertanya seperti itu, supaya siapa tahu Gavril datang ke sini, Ella bisa terlebih dahulu pergi dari kafe ini.


Kevin menggeleng.


"Terus lo ngapain ke sini?" tanya Ella.


"Ini kafe punya Papa gue, nggak ada salahnya, 'kan, gue ke sini?" tanya Kevin.


"Lo nggak usah takut gitu, El. Gavril nggak pernah ke kafe ini, kok, bahkan dia belum tahu soal kafe ini," ucap Kevin menenangkan Ella yang terlihat takut.


Ella sedikit merasa lega. Setidaknya dia tahu kalau Gavril tidak tahu mengenai adanya kafe ini.


"Oh, iya, lo itu teman dekatnya Gavril, ya?" tanya Abel.


"Bisa dibilang, emangnya kenapa?" tanya Kevin balik.


"Lo kenal banget nggak sama Erlyne?" tanya Abel.


Ella dan yang lainnya jelas kaget karena Abel bertanya soal Erlyne kepada Kevin. Otak Ella entah kenapa langsung memberitahunya kalau Abel sedang mencari tahu bagaimana hubungan Gavril dan Erlyne yang sebenarnya.


"Nggak terlalu, sih, tapi yang gue lihat mereka berdua dekat banget waktu di sekolah," jawab Kevin.


Mendengar jawaban Kevin membuat hati Ella sedikit sakit. Padahal sebelumnya Ella tidak merasakan hal itu, bahkan, saat melihat mereka berdua kemarin Ella tidak merasakan rasa sakit.


Aneska merasa pembicaraan mereka sudah mengarah ke sesuatu yang seharusnya tidak dibicarakan. Aneska tidak mau ketiga temannya tahu bagaimana hubungan Gavril dengan Erlyne.


Keberuntungan berada di tangan Aneska, saat Abel ingin bertanya lagi, pelayan telah datang dengan membawa nampan berisi makanan dan minuman yang telah mereka pesan.


Pelayan itu meletakkan isi nampan itu di atas meja Ella. "Nasi goreng dua, orange juice-nya dua. Pesanan yang lain akan diantar sama pelayan yang lain. Terima kasih." Kemudian pelayan itu menjauh dari meja Ella.


"Pelayanannya bagus banget, ya, Vin," puji Aneska sambil mengambil piring nasi goreng yang ada di hadapan Ella.


"Oh ya? 'Makasih buat pujiannya, kalau gitu gue mau ke belakang dulu, ya? Kebetulan nyokap lagi ada di sini," ucap Kevin lalu dia berjalan ke bagian belakang kafe.


"Yah, sayang banget, padahal gue pengin nanya lebih banyak," ucap Abel yang kecewa.

__ADS_1


"Ya udahlah, Bel, lo nggak perlu cari tahu tentang mereka berdua lagi. Gue kira itu udah nggak penting lagi," ucap Ella. Ella tidak mau hatinya terasa sakit lagi saat mendengar nama Gavril apalagi ditambah dengan nama Erlyne.


Abel terlihat sedikit kesal sendiri, memang Ella tidak penasaran lagi, tetapi dirinya tetap penasaran. "Tapi, gue penasaran banget banget banget."


"Sama, gue juga," sambung Grisel dengan mulut yang berisi nasi goreng.


"Udahlah, 'kan, Ella juga nggak mau tau lagi. Emangnya kalian mau lihat Ella sedih?" tanya Aneska.


Abel akhirnya mengalah, dia juga tidak mau melihat Ella sedih. Abel menghilangkan rasa penasarannya itu demi kesenangan temannya. "Iya, deh, iya. Gue nggak bakal cari tau lagi."


"Yah, padahal gue pengin jadi detektif lagi," ucap Grisel.


Ella sadar akan kata 'lagi' yang diucapkan oleh Grisel. Itu berarti mereka pernah mencari tahu seseorang dan menyebut diri mereka sebagai detektif. "Maksud lo? Jadi kalian udah pernah nyari tau? Kalian nyari tau apa?"


Dengan refleks Aneska memberikan tatapan tajam kepada Grisel yang sudah kelepasan menyebutkan kata 'lagi'.


"Ya, 'kan, barusan kita jadi detektif, El," ucap Aneska yang dengan segera memberikan jawaban atas pertanyaan Ella.


"Bilang dong kalau yang tadi, 'kan, gue nggak tau."


Ella merasa kalau ada sesuatu yang bergetar di saku rok sekolahnya, ternyata ponselnya bergetar. Ella pun segera mengambil ponselnya.


Jovan Edsell: Udah sampai rumah?


Calluella Raveena: Belum, kita masih makan, Bang


Jovan Edsell: Oh, ya udah, nanti langsung pulangin Abel ya


Calluella Raveena: Iya, tenang aja Bang


"Siapa, El?" tanya Grisel.


"Biasalah, abang yang paling protektif sepanjang masa," jawab Ella sambil menoleh ke arah Abel yang asyik menyuapkan mie goreng ke mulutnya.


"Kok gue?" tanya Abel yang kebingungan.


"Lo sering chat-an sama Bang Jovan, El?" tanya Aneska. Aneska sebenarnya tidak nyambung jika bertanya tentang itu saat ini. Tapi, demi kebaikannya, Aneska harus menanyakan soal itu kepada Ella.


Ella menggeleng. "Paling kalau ada masalah tentang Abel."


Aneska hanya membalas 'oh' lalu kembali menyantap makanannya. Setidaknya mereka berdua tidak sering saling berkirim pesan, setidaknya.


"Oh, iya, Nes, lo tau nggak? Si Ella lagi pdkt-an lho sama Bang Jovan," ucap Abel dengan maksud menggoda Ella.


Aneska kaget mendengar hal itu, dia sama sekali pernah melihat Ella dan Jovan dekat. Dan bahkan dia tidak tahu apa-apa tentang kedekatan mereka berdua. Kedekatan mereka berdua tidak seharusnya terjadi.


"Lo serius? Sejak kapan?" tanya Aneska.


Grisel merasa ada ekspresi aneh yang ditunjukkan oleh Aneska saat mendengar ucapan Abel barusan. Grisel merasa Aneska tidak suka dengan kedekatan Ella dan Jovan. "Kok lo kayaknya nggak suka gitu, Nes?"


"Gue suka lah. Gini, ya, kalau Ella dekat sama Jovan, itu berarti dia lebih gampang move on dari Gavril," jawab Aneska dengan penuh dusta. Dia sama sekali tidak suka dengan kedekatan mereka. Kedekatan mereka bisa membawa petaka bagi dirinya.


"Oh, gue kirain lo nggak suka," ucap Grisel.


"Ih, kalian apaan, sih? Gue itu nggak suka sama Bang Jovan. Nggak usah ngarang, deh," ucap Ella, berusaha menghindari tuduhan dari Abel yang sebenarnya bisa dibilang adalah sebuah fakta. Lebih tepatnya hampir menjadi sebuah fakta dikarenakan Ella masih bingung dengan perasaannya terhadap Jovan.


"Nggak suka sama belum suka itu beda lho, El," ledek Abel sambil tertawa kecil. Abel paling suka jika membicarakan hal mengenai Ella dan Jovan. Mungkin karena Abel sangat mendukung hubungan antara Ella dan Jovan.


***

__ADS_1


__ADS_2