
"Bel, kamu nanti jadi ketemu sama teman kamu?" tanya Jovan saat sedang sarapan berdua dengan Abel di ruang makan.
Abel mengangguk sembari memakan nasi goreng miliknya. "Abang beneran bolehin aku, 'kan?"
"Iyalah, Abang, 'kan, nggak boleh terlalu protektif ke kamu," jawab Jovan.
Abel tersenyum mendengar jawaban kakak laki-lakinya itu, Abel merasa sangat lega karena akhirnya Jovan mau membebaskan dirinya walaupun belum bebas sekali.
"Tapi, inget, kalau Abang bolehin kamu, bukan berarti kamu jadi sesuka hati kamu. Kamu tetap harus jaga diri," pesan Jovan.
"Iya, Bang, iya," jawab Abel.
"Abang tunggu di mobil, ya? Kamu habisin aja dulu itu," ucap Jovan sembari beranjak dari tempat duduknya lalu berjalan keluar rumah.
*
"Gila, gue deg-degan banget gila," ucap Abel saat mereka berempat sedang berkumpul setelah pulang sekolah, "lo semua jadi ikut, kan?"
"Ya jadi dong, gue penasaran banget sama si Evan itu. Gue pengin lihat mukanya, ganteng apa engga," jawab Grisel.
"Yap, gue juga. Siapa tau Bang Jovan nggak ngerestuin lo sama Evan, si Evan, 'kan, bisa jadi sama gue," ucap Aneska bertujuan untuk membuat Abel kesal.
"Dasar perebut," ledek Grisel.
"Daripada jadi cinta terlarang mending dia buat gue, ya, nggak?" tanya Aneska dengan penuh percaya diri.
"G," jawab Ella.
"Dua," sambung Grisel.
"Tiga," sambung Abel.
"Sabar aja gue sama kalian semua," ucap Aneska sambil mengelus-elus dadanya tanda sedang meredakan rasa emosinya.
"Oh, ya, Bel, lo janjian sama dia jam berapa?" tanya Ella.
"Jam tiga, sekarang udah jam berapa?" tanya Abel.
"Masih jam dua, sih," jawab Aneska kemudian dia mematikan layar ponselnya lagi.
"Lo mau pakai baju sekolah apa ganti dulu?" tanya Grisel.
"Baju sekolah aja, deh. Ribet ganti baju, kayak gue mau ketemu sama pacar aja," jawab Abel.
"Halah, palingan habis ini lo berdua jadian," ledek Aneska. "Hashtag cinta terlarang 2019."
"Nggak secepat itu kali," ucap Abel.
Tiba-tiba saja pintu kelas mereka terbuka, lalu orang yang membuka pintu itu langsung masuk dan orang itu adalah Jovan dan Ryan, seperti biasa.
"Bel, kamu jadi pergi?" tanya Jovan.
Abel mengangguk. "Jadi, Bang."
"Oh ya, kalian pergi sama, 'kan?" tanya Jovan kepada Ella, Grisel, dan Aneska.
"Iya, Bang, kebetulan gue bawa mobil," jawab Ella.
"Ya udah, kalau gitu Abang nitip Ella sama kalian, ya?" pinta Jovan.
"Siap, Bang," jawab Aneska.
"Cie, yang mau ketemu gebetan, uhuy," ledek Ryan.
"Paan, sih, Bang," ucap Abel.
"Jo, makan dulu yok," ajak Ryan, "Lapar nih gue."
"Ya udah, Abang sama Ryan pergi dulu, ya," pamit Jovan.
"Kok gue jadi ikutan laper, ya?" tanya Grisel kepada Ella dan yang lainnya.
"Lo mah tiap saat laper, Gris," ledek Aneska.
"Ya udah, kita ke sana sekarang aja, ya? Gue juga lagi laper," ajak Ella.
"Iya, eh, tapi bentar dulu," ucap Abel sambil mengambil ponsel dari ponselnya. Sedari tadi Abel mematikan notifikasi ponselnya sehingga dia tidak tahu apakah Evan ada mengirimnya pesan atau tidak. Dan ternyata setelah Abel lihat, Evan baru saja mengirimnya pesan.
Evan Rama: Nanti ketemuan di mana? Gue mau otw nih
Abel memutuskan untuk bertanya kepada Ella dan yang lain terlebih dahulu agar mereka lebih mudah untuk berkomunikasi saat Ella ketemuan dengan Evan nantinya.
"Kalian mau makan dimana?" tanya Abel.
"Kalau di Wendy's kalian mau, nggak?" tanya Ella.
"Nah iya di situ aja. Gue udah lama nggak makan di situ," jawab Grisel.
"Wendy's nih? Biar gue bilang ke Evan buat ketemuan di situ," tanya Abel sekali lagi.
"Eh, jangan di situ kalau kalian mau ketemuan, di Starbucks aja atau nggak Chatime, biar santai gitu," usul Aneska.
"Ya kali Starbucks, gue lagi nggak bawa uang lebih sekarang. Uang gue sama Bang Jo semua," ucap Abel sambil merogoh saku seragamnya dan yang muncul hanyalah selembar uang sepuluh ribu.
"Biar kita aja yang bayarin, Bel," ucap Grisel. Tanpa Abel ketahui, Ella, Grisel, dan Aneska sudah menyiapkan uang untuk pertemuan Abel dengan Evan, jadi mereka akan membayar biaya Abel selama bertemu dengan Evan. Maklum ini adalah kali pertama Abel dekat dengan laki-laki--menurut cerita Aneska.
"Nggak apa-apa, nih?" tanya Abel yang jelas merasa tidak enak dengan ketiga temannya.
"Nggak apa-apa kali, Bel. Nih, uangnya," jawab Grisel sambil menyerahkan selembar uang seratus ribu rupiah kepada Abel.
"Kebanyakan gila, gue beli yang tall kali, bukan yang venti," ucap Abel tanpa mengambil yang itu.
"Ya ampun, Bel, mau beli yang venti juga nggak apa-apa," ucap Ella sambil mengambil-alih uang itu lalu tanpa berkata apa-apa memasukkan uang itu ke saku baju seragam Abel.
"Iya, deh, iya. 'Makasih ya, kalian udah mau biayain gue," ucap Abel pada akhirnya. "Kalau gitu gue mau kasih tau sama Evan dulu."
Arabella Monica: Di starbucks aja
Evan Rama: Oh oke, kalau lo udh smpe bilang ya
Evan Rama: Soalnya gue liat di maps jarak gue sama mallnya masih jauh
Evan Rama: Sekolah lo dekat kan sama mallnya?
Arabella Monica: Iya bakal gue bilang
Arabella Monica: Biar lo gak bingung, starbucksnya ada dilantai dua
"Udah, Bel?" tanya Ella.
Abel mengangguk.
"Ya udah, pergi yok," ajak Ella.
Lalu mereka berempat pun berjalan keluar dari kelas bersama-sama. Ella, Grisel, dan Aneska terlihat biasa saja, tetapi lain halnya dengan Abel, Abel sangat deg-degan karena dia akan bertemu dengan orang yang dekat dengannya di media sosial.
*
"Dia udah sampai di sini belum?" tanya Ella setelah ia memarkirkan mobilnya di parkiran mobil mall itu.
Tanpa menjawab, Abel mengambil ponsel di tasnya lalu memeriksa pesan yang masuk, dan ternyata belum ada pemberitahuan dari Evan. "Belum, El."
"Oh, ya udah, kalau gitu lo ikut kita makan dulu aja," ajak Ella.
"Iya, Bel, daripada lo sendiri di sana, 'kan, nggak enak," sambung Aneska.
"Iya, deh, gue ikut kalian dulu aja," ucap Abel.
Kemudian mereka berempat pun keluar dari mobil dan masuk ke mall menuju restoran cepat saji itu. Untungnya jarak dari Starbucks ke Wendy's dipisahkan oleh dua lantai, sehingga kemungkinan Evan tidak melihat mereka berempat bersama.
"Eh, gue pinjam uang kalian dulu dong buat makan," pinta Abel kepada ketiga temannya itu.
"Iya, makan lo pakai uang gue aja," ucap Ella.
"Makasih, Ella Kakak Ipar," ucap Abel sambil sedikit menggoda Ella dengan embel-embel 'Kakak Ipar'.
"Apaan, sih, Bel? Gue tarik, nih, kebaikan gue," ancam Ella, tapi itu hanya candaan belaka.
"Eh, jangan dong, gue juga laper nih," ucap Abel.
"Ya udah, Sel, temenin gue mesan dong," ajak Ella.
Grisel hanya mengangguk lalu beranjak dari tempat duduknya.
"Nes, sumpah gue deg-degan pakai banget ini," ucap Abel kepada Aneska saat Ella dan Grisel memesan makanan.
"Nanti waktu lo udah sama dia, lo jangan gugup, tolong banget jangan gugup. Nanti dia malah ngerasa gimana gitu sama lo, kalau bisa lo anggap dia teman dekat lo di kehidupan nyata biar lo bisa santai," saran Aneska.
"Tapi, 'kan, gue jarang punya teman dekat cowok, Nes," ucap Abel.
"Ya ampun, Bel, lo kok polos banget, sih? Greget gue sama lo," ucap Aneska.
"Ya, 'kan, emang benar, eh, bentar deh." Abel mengambil ponselnya yang baru saja bergetar dari saku seragam sekolahnya. Setelah Abel melihat notifikasi yang masuk, nama Evan tertera, Abel pun segera membuka aplikasi LINE.
Evan Rama: ***** macet bgt gila
Evan Rama: Malah argo taksinya mahal bgt ini
Evan Rama: Kalo ketemu lo bayar ongkos gue setengah y
Arabella Monica: Eh, salmon, kan udh gue blngin jgn naik taksi
__ADS_1
Arabella Monica: Naik ojek online kan lebih murah
Arabella Monica: Bisa nyelip lgi
Arabella Monica: G
Arabella Monica: Rugi gue bayarin lo
Evan Rama: Jahat lo
Evan Rama: Apa gue turun di sini aja? Terus gue lanjut pake ojek online?
Arabella Monica: Iya gtu aja
Arabella Monica: Kalo 15 menit lgi lo g dtng
Arabella Monica: Lo hrs byrin gue starbucks
Arabella Monica: G mau tau
Evan Rama: Oke, tantangan gue terima
Evan Rama: Otw pesan
Arabella Monica: Mudah-mudahan lama, amin
Pesan Abel itu tidak dibaca oleh Evan, Abel berpikiran mungkin sekarang Evan sedang sibuk untuk mencari cara agar dia sampai di mall ini dalam waktu lima belas menit.
"Gimana, Bel? Dia udah nyampe?" tanya Grisel yang Abel tidak tahu entah sejak kapan sudah kembali duduk di kursi.
"Belum, macet katanya," jawab Abel.
"Ya udah, lo makan dulu aja," suruh Ella.
Abel pun mengangguk lalu dia berdoa kemudian memakan makanan yang baru saja dibawakan untuknya, begitu juga dengan yang lain, mereka berdoa terlebih dahulu sebelum makan.
"Nanti lo duluan yang ke sana, terus gue sama yang lainnya nyusul," ucap Aneska memberitahukan bagaimana prosedur mereka nantinya.
Abel mengangguk sambil terus menyantap makan siangnya.
Ponsel Ella tiba-tiba bergetar, dia pun memberhentikan kegiatan makannya lalu mengambil ponselnya yang ada di saku seragamnya.
Jovan Edsell: El, lo dimana?
Jovan Edsell: Eh, mksd gue, kalian dimana?
Baru saja Ella merasa senang karena ditanyain oleh Jovan, tapi Jovan malah meralat pertanyaannya yang jelas dengan cepat langsung mengilangkan rasa senang Ella itu. Ella terlalu berharap.
Calluella Raveena: Di wendy's bang
Jovan Edsell: Abel udh ketemu sm temannya?
Calluella Raveena: Blm bang, ini msh makan
Jovan Edsell: Oh gtu, nnti lo bisa anterin Abel pulang g?
Calluella Raveena: Bisa bangg
Jovan Edsell: Ok, makasih El
Ella hanya membaca pesan dari Jovan kemudian dia meletakkan ponsel di meja.
"Siapa, El?" tanya Aneska.
"Bang Jovan," jawab Ella.
"Dia nanyain gue apa lo?" tanya Abel.
"Ya nanyain lo lah, lo kira gue adeknya," jawab Ella.
"Sedih, ya, yang gak ditanyain," ledek Aneska.
"Ululu, tayank, yang tabah, ya," Grisel ikut meledek Ella.
"Gila lo berdua," ucap Ella.
Di tengah kegiatan ledek-meledek mereka, tiba-tiba saja layar ponsel milik Abel yang terletak di atas meja hidup. Abel pun segera mengambil ponselnya itu, siapa tahu itu adalah Evan, dan benar saja itu adalah Evan.
Evan Rama: Gue udh smpai dan ini blm 15 mnt
Evan Rama: Berarti gue g nraktir lo heuheu
Arabella Monica: Bangga bgt lo, Pan
Arabella Monica: Y udh, lo lngsng ke starbucks aja
Evan Rama: Iya ibu monika
Evan Rama: Bodo amat kutu
"Kalau mau senyum ngajak dong," ledek Ella saat melihat Abel senyum sendiri.
Abel mengalihkan pandangan dari ponselnya. "Dia udah sampai di sini."
"Serius? Ya udah, lo cabut duluan sana, kita nyusul," suruh Grisel.
"Ya udah, gue duluan, ya?" pamit Abel lalu dia beranjak dari kursinya kemudian berjalan ke Starbucks untuk menemui teman dunia mayanya itu.
*
Saat sampai di gerai penjualan kopi yang disebut-sebut berkelas itu, Abel tidak melihat keberadaan Evan. Abel pun memutuskan untuk memesan minumnya terlebih dahulu, kemudian dia duduk di salah satu kursi dan memeriksa kembali ponselnya, siapa tahu ada pesan dari Evan.
"Abel, ya?" tanya seseorang yang tiba-tiba saja duduk di kursi yang berada di hadapan Ella.
Abel pun mengalihkan pandangan dari ponselnya dan dia melihat sosok Evan yang duduk di hadapannya. Betapa kagetnya Abel karena ternyata Evan lebih ganteng dari yang dia bayangkan. Entah kenapa sekarang Abel kehilangan rasa deg-degan yang sedaritadi dia rasakan itu.
"Lo Evan, kan?" tanya Abel memastikan, takut-takut dia salah orang.
Eva mengangguk sambil tersenyum.
"Lo ganteng banget, *****," ucap Abel tanpa sadar. Dia pun segera menutup mulutnya, sangat malu. Dia sangat malu menyatakan hal itu langsung di hadapan Evan.
"Apa?" tanya Evan pura-pura tidak mendengar apa yang diucapkan oleh Abel.
Abel menggeleng tanda dia tidak mengucapkan apa-apa tadi.
"Lo juga lebih cantik dari yang di foto," puji Evan.
Abel merasa dirinya seperti melayang di udara. Baru pertama kali dia dipuji oleh laki-laki selain daripada papanya dan kedua kakak laki-lakinya.
"'Makasih," ucap Abel.
"'Makasih juga," ucap Evan.
"Lah? Kok lo juga bilang makasih?" tanya Abel.
"Iyalah, 'kan, tadi lo bilang kalau gue ganteng banget," jawab Evan.
"Kegeeran lo," ucap Abel. "Oh, ya, lo udah makan belum?"
Evan mengangguk. "Sekarang gue haus banget gila. Tadi naik ojek, udah panas, macet lagi." Tanpa meminta izin kepada Abel, Evan mengambil minum Abel lalu meminumnya. Abel yang tadinya kaget akan hal itu memutuskan untuk diam.
Setelah Evan sudah merasa dirinya lega, dia pun meletakkan minum Abel di meja dengan keadaan berkurang setengah dari sebelumnya.
Mata Abel secara tidak sengaja menangkap Ella dan yang lainnya sedang memasuki gerai ini. Aneska melihat Abel, lalu Abel pun memberikan kode kepada Aneska untuk duduk di kursi yang kosong dekat mereka.
Aneska yang mengerti kode dari Abel itu pun segera menyuruh Ella dan Grisel untuk mengikutinya. Kemudian mereka bertiga duduk di salah satu tempat yang dekat dengan Abel dan Evan.
"Eh gila, si itu ternyata ganteng banget gila," ucap Grisel saat dia dan Ella serta Aneska sudah duduk di tempat yang dimaksudkan oleh Abel tadi. Grisel sengaja menyebut Evan dengan sebutan itu agar tidak kedengaran oleh Evan karena jarak mereka terbilang cukup dekat.
Ella mengangguk, dia setuju dengan apa yang diucapkan oleh Grisel. Sementara Aneska, dia masih memperhatikan Abel dan Evan yang terlihat sangat asyik berbicara berdua.
Ella mengambil ponsel dari saku seragamnya, dia baru ingat kalau dia belum izin kepada mamanya.
Calluella Raveena: Maa, Ella jalan sm teman Ella yaa
Mama: Iya El, jangan pulang malam-malam ya
Calluella Raveena: Iyaa ma
Saat Ella ingin mematikan ponselnya, tiba-tiba ada notifikasi tanda pesan masuk. Ternyata itu adalah pesan dari Jovan.
Jovan Edsell: El, hpnya Abel kok gak bisa dihubungi?
Calluella Raveena: Biasa bang, dia lagi ngobrol sm temannya
Jovan Edsell: Coba lo fotoin kalau lo lgi sm dia
Calluella Raveena: Bntr bang
"Siapa, El?" tanya Aneska.
"Bang Jovan, Nes, dia minta gue fotoin mereka," jawab Ella, "tapi posisi gue gak enak foto dari sini."
Aneska diam, dia tampak memikirkan bagaiman cara yang cocok untuk mengambil gambar Abel dan Evan, tiba-tiba Aneska melihat Grisel dengan tatapan yang penuh arti.
"Kenapa, Nes?" tanya Grisel, sadar akan tatapan yang diberikan Aneska kepadanya.
"Posisi lo cocok buat fotoin mereka," jawab Aneska.
"Nah, iya, nih, Sel," ucap Ella sambil menyerahkan ponselnya kepada Grisel.
__ADS_1
Grisel mengambil-alih ponsel Ella itu. "Halah, gitu doang, gue kira mau apa lo natap gue gitu, Nes."
Grisel kemudian mengambil ancang-ancang untuk mengambil gambar Abel dan Evan agar dia tidak terlalu kelihatan sedang melakukan hal itu.
"Udah, Sel, lo kebanyakan ngambil ancang-ancang, gila," ucap Aneska.
"Iya, bentar-bentar." Grisel pun menekan simbol kamera dan ternyata flash-nya hidup. "***** FLASHNYA HIDUP."
Ella dan Aneska dengan refleks menatap sinis Grisel. Sementara Grisel masih menutup mulutnya yang kelepasan itu.
Tapi, seperti neraka bagi mereka, Evan menyadari hal itu saat arah kamera ponsel Ella masih ke arahnya.
"Eh, Bel, itu cewek-cewek alay yang di belakang lo kayaknya mau foto gue deh, tapi flash-nya hidup," ucap Evan kepada Abel.
"Cewek alay? Yang mana?" tanya Abel sembari menoleh ke belakang dan betapa kagetnya Abel karena yang ada di belakang hanya ketiga temannya, Ella, Grisel, dan Aneska. Pantas saja Abel tadi seperti mendengar suara Grisel.
"Ya ampun, Sel, lo gila banget sumpah," ucap Aneska.
"Ya, 'kan, gue gak sengaja," Grisel membela dirinya.
"Udah, udah, gambarnya dapet, 'kan?" tanya Ella.
"Iya, udah gue kirimin sekalian," jawab Grisel.
"Alay banget, 'kan? Eh, tapi baju sekolahnya samaan sama lo deh kayaknya. Lo kenal mereka, nggak?" tanya Evan.
"Kenal, mereka teman dekat gue malah," jawab Abel.
"Lha, serius? Pantes aja mereka dari tadi kayak aneh gitu. Lo suruh mereka ngintai kita apa gimana?" tanya Evan.
"Nggak, sih, cuma lo taulah Bang Jovan gimana. Dia nggak bakalan kasih gue pergi bareng lo kalau tanpa pengawasan mereka," jawab Abel. "Dan mungkin mereka foto lo itu buat dikirim ke Bang Jovan. Oh, ya, salah satu di antara mereka ada yang dekat sama Bang Jovan dan mungkin Bang Jovan kasih izin karena dia yang minta"
"Yang mana?" tanya Evan.
"Itu, yang pakai ikat rambut warna biru," jawab Abel.
Evan hanya mengangguk. "Coba deh lo ajak teman lo gabung sama kita."
"Janganlah, nanti mereka pasti bakal malu banget, tega amat lo," ucap Abel.
"Lo, sih, punya teman yang cerobohnya minta maaf kayak mereka," kata Evan. "Oh, ya, gue balik aja kali, ya? Ini udah jam setengah lima, jam lima nanti saudara gue mau jemput gue di hotel biar gue tinggal bareng mereka."
"Lo emangnya balik kapan?" tanya Abel.
Evan menggeleng. "Belum tau, sih. Ya udah, gue balik, ya? Bilangin sama teman lo kalau mau foto orang lihat dulu flash-nya hidup apa gak." Evan pun berjalan keluar dari Starbucks.
Setelah Evan sudah menghilang dari pandangan Abel, Abel pun segera menghampiri teman-temannya yang baru saja berbuat gila itu.
"Eh, ***** lo semua," ucap Abel sambil mengambil satu kursi dari meja lain lalu duduk di kursi itu.
"Ini, nih, si Grisel," Aneska menyalahkan Grisel yang memang benar salah.
Grisel menatap tajam Aneska, tidak rela dirinya disalahkan walaupun itu adalah sebuah kebenaran.
"Dia bilang lo semua alay tau," ucap Abel.
Ella dan yang lainnya kaget mendengar ucapan Abel, mereka berpikir kalau Evan tidak menyadari hal itu.
"Eh, seriusan? Gue malu banget, sumpah," ucap Grisel.
"Terus lo kasih tau kita siapa?" tanya Ella.
Abel mengangguk. "Ya iyalah, masa gue nggak ngakuin lo semua."
"Bagus, deh," ucap Aneska.
"Ya udah, yok, balik," ajak Ella.
Mereka berempat pun berjalan keluar karena mereka sebenarnya masih menahan malu karena kejadian tadi, maka dari itu secepat mungkin mereka harus pergi dari tempat itu.
*
Abel adalah orang terakhir yang diantar oleh Ella karena itu adalah permintaan dari mereka bertiga. Mereka bertiga memang sengaja mengatur itu semua agar Ella mempunyai waktu untuk mengobrol dengan Jovan.
"El, lo turun juga, 'kan?" tanya Abel.
"Kayaknya lebih baik gue langsung balik aja deh," jawab Ella
"Jangan dong, El," ucap Abel.
"Iya deh, gue ikut turun," Ella pun mengalah. Kemudian mereka berdua pun turun dari mobil Ella.
Abel mengetuk pintu rumahnya dan tidak ada jawaban. Abel pun memutuskan untuk langsung membuka pintu, siapa tahu tidak terkunci. Dan memang tidak terkunci, kemudian Ella dan Abel pun masuk.
"Ini kayaknya cuma ada Bang Jovan, deh, di dalam, soalnya pintu gak ke kunci," ucap Abel sambil mengunci pintu. "Lo duduk aja dulu, El, biar gue ambilin minum."
Ella pun mengangguk sembari duduk di kursi yang berada di ruang tamu, sementara Abel berjalan ke dapur untuk mengambil minum untuk Ella.
"Bang Ryan?" tanya Abel saat sampai dapur dan menemukan Ryan sedang membuka kulkas.
Ryan yang sedikit kaget pun dengan refleks menutup kulkas tetapi ditangannya sudah ada satu susu kotak.
"Kalian udah pulang?" tanya Ryan sambil berpindah tempat dari depan kulkas menuju meja kecil yang terletak di dapur.
Abel mengangguk lalu dia membuka kulkas kemudian mengeluarkan dua minuman teh kotak.
"Kok dua? Ella mampir, ya?" tanya Ryan.
Abel lagi-lagi mengangguk.
"Pas banget, nih, gue nggak ada bawa kendaraan," ucap Ryan.
"Hidup lo gratisan mulu, Bang. Nggak malu apa?" ledek Abel.
"Ngapain malu? Hidup ini harus santai. Gue ke kamar Jovan dulu, ya," ucap Ryan lalu dia berjalan keluar dari dapur menuju kamar Jovan sementara Abel berjalan menuju ruang tamu.
"El, kayaknya nanti Bang Ryan mau nebeng sama lo, deh," ucap Abel sambil meletakkan minumannya dengan Ella di atas meja.
Ella langsung mengambil minum itu karena dia merasa sangat haus setelah kejadian memalukan tadi. "Bang Ryan ada di sini?"
Abel mengangguk. "Iya, tadi gue lihat dia di dapur."
Bertepatan saat Abel menyelesaikan kalimatnya, Jovan dan Ryan sudah berada di dekat mereka berdua. Entah apa tujuan Jovan dan Ryan mendatangi Ella dan Abel.
"Gimana, Bel?" tanya Jovan.
"Ya gitu, Bang, seru-seru malu," jawab Abel sambil melirik ke arah Ella.
"Malu kenapa, El?" tanya Jovan. Jovan bertanya kepada Ella karena dia melihat Abel seperti menyuruh dirinya untuk bertanya kepada Ella.
"Jadi Bang, 'kan, tadi lo nyuruh gue buat fotoin Abel sama Evan temannya itu, posisi gue gak enak buat fotoin, terus Aneska nyuruh Grisel. Dan hasilnya adalah Grisel motoin dan pakai flash," jawab Ella.
Jovan dan Ryan tiba-tiba saja tertawa mendengar jawaban Ella. Bagi mereka berdua, hal yang dilakukan oleh Grisel adalah hal yang mungkin bisa menjadi salah satu hal yang paling memalukan yang pernah ada.
"Gila, kalau gue jadi dia atau kalian, gue bakalan malu banget sumpah," ucap Ryan.
"Kayak punya malu aja lo, Bang," ledek Abel.
"Oh ya, Bel, tadi Abang lihat foto yang dikirim Ella, kamu di Starbucks, kamu belinya pakai uang siapa? 'Kan, uang kamu sama Abang semua," tanya Jovan.
"Tadi, Abel pakai uang gue sama yang lainnya, Bang. Jadi, gue sama yang lainnya emang udah patungan buat bayarin biaya jalan Abel sama Evan," jawab Ella, mengambil-alih hak Abel untuk menjawab.
"Jadi, kalian udah ngumpulin uang?" tanya Abel yang baru tahu tentang hal itu.
Ella mengangguk. "Kan ini first time lo, Bel."
Pintu rumah Jovan dan Abel tiba-tiba berbunyi tanda ada orang di luar sana sedang mengetuk pintu tersebut.
"Biar aku bukain dulu, ya," ucap Abel sembari beranjak dari tempat duduknya kemudian berjalan menuju pintu rumah. Ternyata yang datang adalah Diana, ibu dari Jovan dan Abel.
"Mama darimana?" tanya Abel.
Diana masuk ke dalam rumah terlebih dahulu, kemudian Abel menutup pintu itu kembali. "Biasalah, ketemuan teman lama, Bel."
"Tante," sapa Ella dan Ryan secara bersamaan saat Diana berjalan mendekati mereka berdua.
"Kamu Ella, 'kan?" tanya Diana kepada Ella.
"Iya, Tante," jawab Ella, dia beranjak dari tempat duduknya lalu menyalam Diana kemudian kembali duduk.
"Tante ke kamar dulu, ya?" pamit Diana kemudian berjalan menjauhi mereka berempat.
"El, gue nebeng lo boleh, nggak?" tanya Ryan.
"Iya, tenang aja lo, Bang," jawab Ella.
"Oh, ya, gue lupa, hari ini gue disuruh jemput saudara gue di hotel," ucap Ryan sambil menepuk dahinya.
"Lo janjinya jam berapa, Bang?" tanya Abel langsung, karena Abel sempat terpikir kalau saudara yang dimaksud oleh Ryan adalah Evan jika waktu janjian mereka sama.
"Jam enam sih, anjirlah, biasanya cewek pasti kerjanya marah-marah kalau telat dijemput," jawab Ryan.
Dan ternyata pikiran Abel salah.
"Ya udah, Bang. Ayo kita jemput dulu, habis itu pulang," ajak Ella.
"Iya kali, ya? Ya udah, Jo, Bel, gue sama Ella balik duluan, ya?" pamit Ryan sambil beranjak dari tempat dudukny dan kemudian diikuti oleh Ella.
"Iya sana, nanti saudara lo marah-marah lagi," ucap Jovan. Tetapi sebenarnya dia tidak mau Ella dan Ryan cepat pulang dari rumahnya. Kalian tahulah apa alasannya.
"Gue anterin sampai depan, ya," tawar Abel sambil beranjak dari tempat duduknya.
__ADS_1
***