
"Dikarenakan salah satu dari teman kita ada yang mengalami musibah, saya sebagai ketua kelas di kelas ini akan mengutip sumbangan seikhlas hati dari teman-teman sekalian," ucap Reno dari depan kelas.
Lalu Reno berjalan untuk mengutip sumbangan dari teman-temannya. Setelah selesai, Reno menghitung uang sumbangan yang ia kumpulkan.
"Alhamdullilah, sumbangan yang terkumpul sejumlah tiga ratus ribu rupiah. Semoga sumbangan yang terkumpul dapat berguna bagi Abel dan keluarganya," kata Reno lalu ia kembali duduk di kursinya.
"Nanti kita jadi jenguk Abel, 'kan?" tanya Grisel.
Ella dan Aneska mengangguk. Sejak semalam, mereka bertiga memang sudah berencana untuk menjenguk Abel. Malahan, mereka bertiga seharusnya tidak sekolah untuk menjaga Abel.
Tetapi karena hari ini mereka ternyata ada kuis dan tentunya orangtua Abel akan melarang mereka. Mereka bertiga pun tidak menjalankan rencana itu.
"Keadaannya udah gimana, El?" tanya Aneska.
Ella menggelengkan kepalanya. Ia belum mendapatkan informasi mengenai Abel dari siapapun. Semalam dan tadi, Ella bertanya kepada Jovan lewat LINE, akan tetapi, Jovan tidak memblas pesan dari Ella.
"Bang Jovan nggak balas chat lo?" tanya Aneska.
Ella menganggukkan kepalanya. "Dia kayaknya masih marah sama gue."
"Gimana kalau kita temui Bang Jovan langsung?" usul Grisel.
"Gila lo, yang ada nanti dia nggak mau ngomong sama kita karena ada gue," ucap Ella.
"Gue setuju, Gris. Udahlah, El, tenang aja, Bang Jovan nggak kayak gitu, kok," kata Aneska.
"Ya udah, deh. Sekarang nih temuinya?" tanya Ella.
Aneska dan Grisel mengangguk.
Mereka bertiga bangkit dari tempat duduk mereka masing-masing dan berjalan menuju kelas Jovan.
"Eh, eh, ada adek-adek kelas yang mau menggatal sama kakak-kakak kelas," ledek Ryan yang duduk di kursi yang berada di depan kelasnya saat melihat Ella, Grisel, dan Aneska berjalan menuju kelasnya.
"Sembarangan lo, Bang," balas Ella, "Bang Jovannya ada?"
"Nggak ada, dia nggak sekolah," jawab Ryan.
"Kenapa nggak sekolah, Bang?" tanya Grisel.
"Jaga adik kesayangannyalah," jawab Ryan. "Kalau kalian mau nanya keadaan Abel. Lebih baik kalian langsung datang ke rumah sakit nanti. Dia udah di ruang rawat inap. Keadaanya juga udah nggak separah semalam."
"Ya udah, deh, Bang, 'makasih infonya, ya," ucap Aneska.
Ryan hanya menganggukkan kepalanya.
"Kita bertiga balik dulu, ya, Bang," pamit Grisel.
Ryan kembali menganggukkan kepalanya. "Kecuali si Ella. El, lo sama gue dulu bentar."
"Lo berdua langsung ke kelas, 'kan?" tanya Ella.
Grisel dan Aneska menganggukkan kepalanya.
"Kita duluan, ya, El," ucap Grisel.
"Oke," balas Ella lalu dia duduk di samping Ryan.
"Jovan nggak balas LINE lo, ya?" tanya Ryan.
Ella menganggukkan kepalanya. "Lo kok tau, Bang?"
Ryan mengambil sesuatu dari saku celananya lalu menunjukkannya kepada Ella. "Handphone-nya sama gue."
Ella sedikit terkejut melihat benda yang dipegang oleh Ryan. "Kok bisa sama lo, Bang?"
"Bisalah, dia nitip. Dia lagi males pegang handphone, jadi dia dikasih ke gue," jawab Ryan.
"Terus lo tau keadaan Abel dari mana?" tanya Ella.
"Dari mamanya Jovan," jawab Ryan. "Oh ya, Jovan nggak marah sama lo, kok. Kemarin dia lagi panik makanya jadi kayak begitu."
__ADS_1
Ella hanya menganggukkan kepalanya. Ia tidak tahu harus membalas ucapan Ryan dengan apa. Dan jujur saja, Ella tidak percaya dengan apa yang diucapkan oleh Ryan. Jovan tidak mungkin tidak marah kepadanya.
"Muka lo jangan suram gitu kali, El," komentar Ryan.
"Suram dari mana? Gue biasa aja, kok," sanggah Ella.
"Halah, gue tau, pasti lo galau, 'kan, karena chat lo nggak dibalas?" ledek Ryan.
"Ih, Bang, sumpah, ya, lo itu ngeselin banget," kata Ella lalu dia beranjak dari kursi dan berjalan menjauhi Ryan. Ella tidak tahan berlama-lama duduk di samping Ryan.
"Main pergi aja lo, El, nanti kalau mau pergi ke rumah sakit bareng gue aja," kata Ryan dengan volume suara yang sedikit kuat agar Ella mendengarnya.
*
"Lo bertiga nggak makan dulu?" tanya Ryan saat mereka berempat sudah berada di mobil Ryan.
"Makan di rumah sakit aja nanti, Bang," jawab Ella.
Ryan hanya menganggukkan kepalanya lalu mengendarai mobilnya menuju rumah sakit tempat Abel dirawat.
Sesampainya di rumah sakit, Ella, Grisel, dan Aneska turun terlebih dahulu sementara Ryan harus memarkirkan mobilnya.
"Kamar nomor berapa?" tanya Grisel.
"Nomor 1070 di lantai enam," jawab Ella sambil menekan tombol lift.
Ketika mereka bertiga sudah berada di depan kamar Abel, Grisel mengintip terlebih dahulu dari jendela kecil yang ada di pintu kamar 1070.
"Ada siapa aja, Gris?" tanya Ella.
"Cuma Abel," jawab Grisel sambil membuka pintu kamar.
Grisel masuk kemudian Ella dan Aneska mengikuti Grisel.
"Ih, kalian datang kok nggak bilang-bilang, sih?" tanya Abel ketika ia melihat ketiga temannya berjalan ke arahnya.
Grisel memeluk Abel. "Kejutan dong, Bel."
Ella menepuk dahinya. "Ya ampun, kok kita nggak ada bawa apa-apa sih?"
"Eh iya, juga, ya," ucap Grisel.
"Nggak bawa apa-apa apaan, jadi ini apa?" ucap Ryan yang baru saja masuk ke kamar dan membawa sebuah kotak yang berbungkus kertas kado.
Aneska mengambil kado itu dari Ryan dan memberikannya kepada Abel. "Nih, Bel, buat lo."
Abel menerima kado itu lalu memeluk Aneska. "'Makasih, girls."
"Bang, mending lo keluar deh, kita mau girls' time," usir Ella.
"Sok-sokan girls' time, mau gosip bilang aja, nggak usah pakai girls' time-girls' time segala," kata Ryan sebelum keluar dari kamar Abel.
"Nah, itu tau," balas Grisel.
"Evan ada jenguk lo, nggak?" tanya Aneska.
Abel mengangguk. "Tadi pagi dia datang dan sekalian pamit, dia mau balik hari ini."
"Bang Jovan mana, Bel?" tanya Ella.
Bertepatan dengan Ella menghentikan pertanyaannya, Jovan tiba-tiba saja sudah berada di kamar Abel.
"Eh, ada kalian, kapan dateng?" tanya Jovan.
"Baru aja, Bang," jawab Grisel.
"Oh gitu. Bel, kamu ada lihat kunci mobil, nggak?" tanya Jovan sambil mencari di meja yang berada di dekatnya.
Ella secara tidak sengaja melihat sebuah kunci di meja kecil yang berada di sampingnya. Ella pun mengambil kunci itu.
"Nggak ada, Bang," jawab Abel tanpa mengetahui kalau kunci mobil Jovan sudah berada di tangan Ella.
__ADS_1
"Nih, Bel." Ella memberikan kunci itu kepada Abel.
Abel menerima kunci itu dari Ella. Ia tahu mengapa Ella tidak mengembalikan langsung kepada Jovan.
"Bang Jo, ini aku udah dapat kuncinya," ucap Abel.
Ucapan Abel membuat Jovan menghentikan kegiatan mencari kunci mobilnya dan berjalan ke arah Abel lalu mengambil kunci itu.
"Kamu dapat di mana?" tanya Jovan.
Abel melirik Ella. "Ella yang dapat, Bang."
Jovan melihat ke arah Ella sekilas lalu mengangguk. "Ya udah, Bel, abang mau pergi dulu, ya, ada yang mau dijemput."
"Hati-hati, Bang," pesan Abel.
Jovan mengangguk lalu dia keluar dari kamar Abel tanpa pamit kepada ketiga orang lainnya yang ada di kamar itu.
"Bang Ryan tukang tipu memang," kata Ella setelah memastikan Jovan sudah tidak ada lagi di dalam kamar.
"Pasti Bang Ryan bilang kalau Bang Jovan nggak marah sama lo, kan, El?" tanya Abel memastikan.
Ella menganggukkan kepalanya. "Kayaknya gue harus marahin dia sekarang, nih." Ella pun berjalan keluar dari kamar Abel.
"Ih, lo PHP banget, Bang, sumpah. Lo bilang dia nggak marah, tapi tadi dia nyuekin gue," ucap Ella kepada Ryan yang masih duduk di kursi yang terletak di dekat kamar Abel.
Ryan yang tadinya memainkan ponselnya langsung mengalihkan pandangannya kepada Ella yang sudah terlihat kesal. Awalnya Ryan ingin tertawa, tetapi ia baru menyadari ada seseorang di belakang Ella. Dan muncul ide gila di otak Ryan.
"Dia siapa sih, El?" tanya Ryan. Ia mencoba untuk terlihat biasa saja agar ide gilanya itu dapat terwujud.
"Ya, Bang Jovanlah, siapa lagi coba?" tanya Ella balik.
"Emang tadi lo ngapain?" tanya Ryan.
"Tadi, "kan, Bang Jovan nyari kunci mobil terus gue dapet, habis itu gue kasih ke Abel dan Abel ngasih tau Bang Jovan kalau kuncinya udah dapat. Terus si Abel ngasih tau kalau gue yang dapat, terus Bang Jovan cuma lihat gue sekilas habis itu pergi." Ella menceritakan sebagian kejadian yang baru saja terjadi di kamar Abel.
"Pergi ke mana?" tanya Ryan.
"Ya mana gue tau, dia pergi ke mana sama siapa, jam berapa. 'Kan, gue sama Bang Jovan lagi nggak ngomongan. Lo kadang-kadang suka lucu, Bang, serius," jawab Ella.
Ryan tersenyum. Sudah saatnya dia mengakhiri ide gilanya itu. Ryan tidak mau Ella terlalu malu nantinya. "Lo tuh yang lucu. Jovan pergi ke bandara, dia pergi sama gue, dan kita pergi sekarang. Yok, Jo." Ryan bangkit dari kursinya.
Ella terdiam. Ia sedang mencerna apa-apa saja yang baru dikatakan oleh Ryan.
"Lo banyakan mikir, El, balik badan, deh," suruh Ryan.
Ella pun membalikkan badannya. Betapa terkejutnya Ella ketika melihat Jovan berdiri di belakangnya dan sedang melihat ke arahnya.
Di dalam hati Ella, ia sangat ingin memutuskan urat malunya sekarang juga.
Ella kembali menghadap Ryan. "*****, Bang, sejak kapan?"
"Dari awal sampai sekarang," jawab Ryan.
Ella menepuk dahinya. Lalu ia segera masuk ke kamar Abel. Ella benar-benar malu.
"Ih, gue kok bodoh banget, ya?" ucap Ella saat ia sudah berada di dalam kamar Abel.
"Kenapa, El?" tanya Aneska dengan penasaran.
"Gue nyeritain Bang Jovan dan dia ada di belakang gue. Dari awal cerita sampai akhir lagi. Ya ampun, malu gue malu," jawab Ella.
Grisel, Abel, dan Aneska sontak tertawa mendengar jawaban Ella. Mereka bertiga tidak menyangka bahwa Ella bisa sebodoh itu.
"Boleh lihat rekaman CCTV, nggak, sih? Gue mau lihat ekspresi lo, El," ucap Aneska yang disertai dengan tawa.
"Jahat banget lo, Nes. Gue pengin ngucap, sumpah," kata Ella.
"Bang Jovan beneran nggak marah sama lo, kok, El," ucap Abel, "tadi Bang Jovan cerita ke gue kalau dia itu lagi panik. Jadi dia ngomong juga acak-acakan."
Mendengar ucapan Abel membuat Ella sedikit tenang, tetapi tetap saja, Ella malu. Sangat malu.
__ADS_1
***