Divide

Divide
Gue Tunggu Lo


__ADS_3

Ponsel yang sedari tadi Ella genggam bergetar. Ella pun langsung menghidupkan layar ponselnya untuk mengetahui notifikasi apa yang masuk.


Jovan Edsell added you by phone number.


Ella kaget melihat notifikasi itu. Tetapi setelah beberapa detik, Ella mulai menjalankan otaknya, itu pasti karena auto add friends. Kalau tidak, tidak mungkin Jovan menambahkan dirinya sebagai teman. Ella sengaja berpikir seperti itu, karena dia tidak mau terlalu berharap, apalagi berharap kepada Jovan.


Ella pun mematikan layar ponselnya. Rasa bosan pun langsung menghampiri Ella untuk kesekian kalinya, Ella jadi ingin punya saudara agar dia bisa bercerita atau sekadar menghilangkan rasa bosan yang akhir-akhir ini sering menghampiri dirinya.


"Kapan coba gue punya pacar baru?" tanya Ella kepada dirinya sendiri.


"Eh, maksud gue saudara." Ella mengoreksi dirinya sendiri, padahal tadi itu adalah kesalahan Ella yang ia sengaja.


Kemudian Ella memutuskan untuk tidur, dia tidak mau pemikirannya semakin aneh. Besok adalah hari yang paling Ella tidak suka, hari Rabu. Alasannya adalah karena Ella harus bertemu dengan guru Seni Musik.


Untuk sekadar informasi bagi kalian, nilai seni musik Ella sejak SMP sampai sekarang tidak pernah bagus, paling tinggi juga 80. Hal itu karena Ella memang tidak pandai dalam bidang seni, terutama musik. Banyak orang yang bilang kalau suara Ella bagus, tetapi Ella sama sekali tidak memasukkan perkataan orang-orang itu ke dalam hatinya, dengan kata lain, Ella menganggap suara biasa saja.


*


We're dancing in table and I'm off my face


With all of my people and  it couldn't get better they said


We're singing till last call


And it's all out of tune


Sould be laughing but there's something wrong


And it hits me when the lights go on


Shit, maybe i miss you


Tanpa diberitahu, kalian pasti sudah tahu siapa yang sedang melakukan konser kecil-kecilan itu. Ya, dia adalah Keya. Keya memang sering datang cepat untuk melakukan konser sebelum pelajaran pertama dimulai.


"Lagu lo itu-itu aja, Key. Bosen gue," protes Ferdi sambil mengerjakan tugas Kimia yang belum ia selesaikan.


"Kerjain dulu tuh tugas lo, baru protes. Dasar nggak tau diri," balas Keya. Kemudian Keya melanjutkan aktivitasnya lagi, terkadang jika pintu kelas terbuka Keya berhenti sejenak. Keya sengaja melakukan hal itu agar jika yang masuk adalah sang pujaan hati, Keya tidak perlu malu.


Sementara itu, di antara Ella, Grisel, Abel, dan Aneska, yang belum datang adalah Abel. Memang Abel adalah orang yang paling lama datang saat masuk sekolah. Ella, Grisel, dan Aneska sedang sibuk mengerjakan tugas Kimia. Mereka juga belum selesai, alasannya adalah mereka tidak mengerti materi yang ada dalam mata pelajaran Kimia. Mereka juga yakin kalau Abel belum selesai tugas Kimia, karena Abel sama seperti mereka.


"*****! Gue belum siap, lihat dong," ucap Abel yang baru datang. Dia buru-buru mengambil peralatan seperlunya dari dalam tas. Tepat seperti apa yang dipikirkan oleh mereka bertiga, Abel belum selesai.


Abel pun mengambil satu buku yang merupakan sumber jawaban tugas mereka. Jelas Ella, Grisel, dan Aneska yang sedang serius menyalin langsung menatap Abel yany sudah sibuk menyalin tugasnya.


"Rusuh lo, Bel, kita juga mau lihat," ucap Grisel sambil mengambil buku itu kembali dan meletakkan di tengah-tengah mereka berempat. "'Kan gini lebih enak."


Mereka pun tidak bersuara lagi, sibuk dengan kegiatan yang sangat berpengaruh bagi mereka. Jika mereka tidak siap tugas itu, maka mereka tidak akan pulang sekolah tepat waktu.


Beberapa menit kemudian guru Seni Musik, Pak Ahmad, memasuki kelas mereka. Beberapa murid yang sedang mengerjakan tugas Kimia pun berhenti lalu menyimpan buku mereka di laci, dengan tujuan kalau ada waktu mereka akan melanjutkan salinannya.


"Selamat pagi anak-anak," sapa Pak Ahmad sambil meletakkan laptopnya di meja guru.


Semua murid X MIPA 7 pun membalas sapaan Pak Ahmad. Pak Ahmad mengangguk lalu dia langsung duduk di kursi guru, kemudian dia memanggil sekretaris untuk mendata murid yang datang dan tidak datang pada hari ini. Itu memang kebiasaan Pak Ahmad. Jika rata-rata guru akan membacakan absensi, Pak Ahmad tidak, dia menggunakan cara yang tadi. Cara yang dia anggap lebih efektif.


"Saya akan membagi kalian dalam sebuah kelompok, masing-masing empat orang dan kalian pilih sendiri," suruh Pak Ahmad.


Jelas mendengar kata empat orang dalam satu kelompok membuat Ella dan yang lainnya senang, karena mereka jelas bisa satu kelompok.


"Mau ngapain, Pak?" tanya Ferdi.


"Kalian akan saya suruh memainkan satu lagu menggunakan alat musik, dan nilai kalian akan masuk menjadi nilai tugas pertama," jawab Pak Ahmad.


"Ada syaratnya gak, Pak?" tanya Ferdi, lagi.


"Kalau syarat jelas ada, di dalam satu kelompok itu harus ada satu orang yang bermain gitar," jawab Pak Ahmad.


*


"Eh, kalian ada yang bisa main gitar, nggam?" tanya Aneska ketika mereka sedang berada di kantin saat waktu istirahat.

__ADS_1


"Gue nggak bisa," jawab Abel.


"Dua," sambung Grisel.


"Kalau lo, El?" tanya Aneska kepada Ella yang belum menjawab pertanyaannya.


"Gue baru belajar, sih, tapi gue nggak yakin bisa," jawab Ella.


"Kalau itu lo bisa minta ajarin Bang Jovan aja, El," usul Abel yang juga merupakan sebuah izin bagi Ella untuk meminta Jovan menjadi guru sementaranya.


"Minta Bang Ryan aja, El, 'kan, rumah kalian dekat. Kalau sama Bang Jovan kan jauh rumahnya," ucap Aneska menyanggah usul dari Abel.


Ella mengangguk-angguk. Usul Aneska terlihat lebih bagus daripada Abel. "Iya, gue minta Bang Ryan aja."


"Oh, ya udah, deh," ucap Abel.


*


Ingin rasanya Ella tidak melakukan piket hari ini. Ia merasa sangat malas dan ingin bersantai di kamarnya yang dia anggap sebagai surga dunia.


Hari ini Ella piket bersama teman sekelasnya yang lain. Grisel, Abel, dan Aneska sudah pulang duluan karena hari piket mereka berbeda dengan Ella. Itu karena ketua kelas mereka membuat jadwal baru.


Untungnya Ella hanya bertugas menyapu bagian depan kelas. Saat Ella sedang jalan mundur untuk menyapu yang di depannya, Ella menabrak seseorang. Ella pun langsung membalikkan badannya agar mengetahui orang yang bernasib sial karena ia tabrak.


"Eh, maaf, Bang," ucap Ella. Ternyata yang Ella tabrak adalah Jovan.


"Abel mana?" tanya Jovan.


"Udah pulang, Bang," jawab Ella.


"Lo pulang bareng siapa?" tanya Jovan.


"Sendiri, Bang," jawab Ella.


"Oh, ya udah, gue tunggu lo di koridor, ya," ucap Jovan.


"Buat apa, Bang?" tanya Ella.


Ella masih tidak yakin kalau Jovan mau mengantarkannya pulang.


Sekitar lima menit kemudian, barulah Ella selesai mengerjakan tugasnya. Cukup melelahkan, karena dia belum makan siang.


Ella pun langsung berjalan ke koridor, ia tidak mau Jovan menunggu terlalu lama. Saat sudah sampai di koridor, Ella melihat Jovan tidak sendiri, ada Ryan yang menjadi teman bicaranya.


Hati Ella sedikit sakit karena ternyata Jovan tidak hanya mengantarkan dirinya, tetapi juga Ryan. Ella ternyata sudah terlalu percaya diri. Untungnya yang tahu ekspektasinya itu hanya dirinya sendiri, kalau ada orang lain yang tahu Ella akan malu, pastinya.


"Tuan Putri datang," ucap Ryan sambil bersiul.


"Tuan Putri pala lu," balas Ella sedikit galak.


"Jo, kita makan dulu, ya? Gue laper banget gila," minta Ryan.


Ella sangat menyetujui permintaan Ryan itu, tetapi Ella tidak mungkin mengemukakannya di depan Jovan dan juga Ryan.


"Ya udah, gue juga belum makan," ucap Jovan menyetujui permintaan Ryan.


Ella merasa hatinya sangat senang karena perutnya akan kenyang.


"Lo ikut kita, ya, El? Lo udah makan belum?" tanya Jovan.


"Belum, Bang," jawab Ella.


"Gak usah pakai 'bang' kali, El, kan gue udah pernah bilang," ucap Jovan.


"Susah, nih, susah," ledek Ryan yang bermaksud menggoda Jovan.


"Bising lo. Yok, jalan," ajak Jovan.


*

__ADS_1


"Duh, kok di situ ada Gavril, sih?" tanya Ella tanpa sadar. Saat Jovan memarkirkan mobilnya, secara tidak sengaja Ella melihat Gavril baru saja keluar dari mobil.


"Eh iya, temenin, tuh, dia sendiri," ledek Ryan.


"Enak aja. Oh, iya, lo, 'kan, bilang kalau lo itu satu tongkrongan sama dia. Lo masih ada di grup nggak, Bang?" tanya Ella kepada Ryan.


"'Bentar," jawab Ryan sambil mengambil ponsel dari saku celananya. Sementara Jovan hanya melihat percakapan antara Ella dan Ryan.


"Eh ada, hari ini mereka ngumpul di sini," lanjut Ryan lalu dia menyimpan kembali ponselnya.


"Gimana, nih? Mau di sini apa pindah?" tanya Jovan.


"Pindah aja, Jo, kasihan si Ella," jawab Ryan.


Ella merasa tidak enak dengan dua kakak kelas yang berada di depannya itu. "Eh, nggak usah, nggak apa-apa. Kalau lo berdua mau di sini, ya, di sini aja."


"Halah, sok nggak apa-apa lo. Udah, Jo, cabut aja," ucap Ryan.


Jovan mengangguk lalu menjalankan mobilnya. Dia juga tidak mau melihat Ella sedih, tidak tahu mengapa, dia hanya tidak mau.


Akhirnya mereka pun sampai di restoran cepat saji yang lokasinya dekat dengan restoran yang merupakan tempat kumpul Gavril.


Mereka pun langsung turun dan mengambil tempat. Ella pun diminta oleh Jovan dan Ryan untuk memesan makanan untuk mereka bertiga.


Beberapa menit kemudian Ella pun datang dengan membawa nampan berisi makanan.


"El, kelas sepuluh emang udah disuruh mainin alat musik?" tanya Ryan. "Soalnya gue lihat banyak anak kelas sepuluh yang bawa alat musik."


Ella mengangguk lalu meminum minumannya. "Itu disuruh per kelompok dan gue dapet bagian gitar."


"Lo sekelompok sama Abel?" tanya Jovan.


"Iya, Bang," jawab Ella.


"Jangan panggil gue 'bang' kan gue udah bilang." Jika kalian mengira itu adalah Jovan, kalian salah. Itu adalah Ryan yang meniru gaya Jovan jika Ella kelepasan menyebut nama Jovan dengan 'bang'.


"Apaan, sih, lo?" ucap Jovan.


"Terus lo main apa, El?" tanya Ryan.


"Main gitar," jawab Ella.


"Hah?! Itu seriusan? 'Kan, lo nggak bisa main gitar, belajar aja baru dua minggu," ledek Ryan.


"Lo jahat banget, Bang, asli," ucap Ella.


"Lo minta ajarin Jovan aja, El," tawar Ryan sambil memberikan kode kepada jovan agar mengiyakan tawaran dirinya.


"Kok gue?" tanya Jovan tidak terima. Menurut Jovan, mengajari seseorang hanyalah membuang-buang waktu.


"Awalnya, Abel juga nyuruh, tapi, 'kan, repot dan gue juga udah duga kalau Jovan bakalan nggak mau. Ya udah, gue disuruh belajar bareng lo," ucap Ella sambil terkekeh pelan ke Ryan yang membuat Ryan sedikit jijik dengan adik kelasnya itu.


"Lo menjijikkan, El. Nghak, gue nggak mau ngajarin lo. Rugi," tolak Ryan yang sebenarnya tidak dari hati. Ryan mau-mau saja mengajari Ella bermain gitar, tetapi Ryan ingin Jovan-lah yang mengajari Ella.


"Bang, lo jahat banget serius," ucap Ella.


Ryan berpura-pura tidak peduli jika dirinya dikatakan jahat oleh Ella, yang penting rencana dadakan Ryan berhasil.


"Bang, ayo dong. Kalau nanti gue sama yang lainnya nggak dapat nilai gimana?" tanya Ella.


"Peduli amat. 'Kan kalian semua cuma sebatas adik kelas gue. Mau lo ada nilai, mau lo nggak ada nilai, emang ngefek ke gue?" ucap Ryan. Ryan saat ini sedang bersusah payah untuk menahan tawanya yang sedari tadi ingin sekali keluar.


Jovan pun memikirkan kembali tawaran Ryan yang ia tolak tadi. Jika Jovan tidak mengajari Ella, kemungkinan besar itu berpengaruh kepada Abel. Jovan pun mengubah pemikirannya, dia tidak mau Abel sedih karena tidak dapat nilai. Lagipula, kata Ella, Abel sudah menawarkan Jovan untuk menjadi guru bagi Ella. "Gue yang bakalan ngajarin Ella."


"Nah, gitu kek daritadi," ucap Ryan.


"Makasih, Jo," ucap Ella.


"Sama-sama, El," balas Jovan.

__ADS_1


***


__ADS_2