Divide

Divide
Kamu Bantu Jovan


__ADS_3

Ella dan yang lainnya sudah menyusun rencana. Sepulang sekolah hari ini, mereka akan mengerjakan tugas Bahasa Inggris. Mereka akan pergi ke taman yang memiliki pemandangan yang cocok untuk tema dialog yang mereka dapatkan.


Tidak hanya mereka yang akan pergi ke taman itu, akan ada Jovan dan juga Ryan. Jovan nantinya akan merekam video mereka sementara Ryan akan menemani Jovan. Jovan bilang kalau dia tidak mau jika dia laki-laki sendiri yang ikut, alhasil muncullah nama Ryan yang menjadi teman Jovan.


"El, lo yakin mau pergi bareng Bang Ryan?" tanya Abel.


Tadi, Ella berkata kepada mereka kalau dia akan pergi dengan Ryan. Abel sebenarnya lebih suka jika Ella ikut dengan mereka, karena Abel ingin mendekatkan kakak laki-lakinya itu dengan Ella.


Ella mengangguk. "Emangnya kenapa?"


"Ya, nggak apa-apa, sih, tapi lebih bagus kalau lo satu mobil bareng kita aja. Biar di jalan sekalian bicarain tentang tugasnya," jawab Abel dengan sedikit bumbu kebohongan.


"Ya udahlah, Bel, 'kan, Ella maunya sama Ryan, biarin aja kali. Lagian kasihan Bang Ryan kalau dia harus pergi sendirian," ucap Aneska. Aneska tidak mau jika Ella dekat dengan Jovan, dia, dengan sebisa mungkin, harus menjauhkan mereka.


"Iya juga, sih," ucap Abel mengalah. Rencana Abel kali ini harus ia buang karena sudah gagal dari awal.


*


"Lo kenapa nggak bareng Jovan aja?" tanya Ryan setelah dia dan Ella sudah bertemu di parkiran motor sekolah.


Ella sedikit bingung karena menurut pandangannya Abel dan Ryan ingin dirinya pergi denganĀ  Jovan. "Gue, 'kan, maunya sama lo, Abang Tampan."


Ryan berpura-pura muntah mendengar ucapan Ella. Ryan akui itu memang terdengar sangat menjijikkan walaupun Ryan menganggap dua kata akhir yang diucapkan oleh Ella adalah benar. Dirinya tampan.


"Ya udah, deh. Ayo, kita nyusul," ajak Ryan.


Abel dan yang lainnya memang sudah pergi duluan karena mereka memakai mobil, biasalah, takut terkena macat.


"Eh, beli minum dulu, yok, Bang," ajak Ella. Minum Ella yang dia bawa dari rumah tumpah karena tersenggol oleh Ferdi. Untung saja tadi Ferdi mau menggantikan minum Ella, jadi Ella tidak perlu mengeluarkan uang untuk membeli minum baru. Akan tetapi, minuman yang dibelikan oleh Ferdi sudah diminta balik oleh Ferdi karena ia juga haus.


"Di mana? Yang dekat sini cuma kafe tongkrongan bareng Gavril," tanya Ryan.


Walaupun samar, suara Ryan masih bisa Ella dengar. "Ih, bukan itu, Bang. Maksud gue minum yang goceng gitu lho. Lo mainannya high class sih, jadi nggak tau es murah."


"Lo bilang dong kalau mau Chatime low-budget," ucap Ryan. "Emang ada yang jual dekat sini?"


"Ada, habis ini belok kanan langsung ketemu," jawab Ella.


Ryan mengangguk lalu dia mengikuti petunjuk Ella.


*


"Kalian kok lama?" tanya Abel saat Ella dan Ryan baru saja berdiri di dekat mereka. Ella dan Ryan sengaja minum di tempat agar tidak ketahuan kalau mereka singgah terlebih dahulu.


"Biasa, motor lama," jawab Ryan bohong, padahal sebenarnya motor Ryan baru saja dibeli saat Ryan naik ke kelas sebelas. Jovan yang tahu tentang fakta itu hanya diam. Menurut Jovan, jika dia ikut dalam perbincangan mereka, dia hanya membuang-buang waktu.


Ryan mengambil ponsel yang ada di saku celananya. Tadi dia merasa ponselnya bergetar.


Jovan Edsell: Modus lo anak ayam


Ryan tertawa membaca pesan dari Jovan. Jovan yang sadar Ryan tertawa karena pesan yang dia kirim hanya diam, dia tidak mau yang lain tahu kalau dia mengirimkan pesan aneh kepada Ryan.


"Lo kenapa, Bang?" tanya Ella sambil melihat ke arah sumber tertawaan Ryan, yaitu ponsel Ryan.


Ryan langsung menjauhkan ponselnya agar Ella tidak melihat pesan Jovan. "Anak kecil nggak boleh tau."


"Udah, udah, ayo, langsung kita mulai," ucap Abel.


Semuanya mengiyakan ucapan Abel. Mereka pun bersiap-siap, Ella dan yang lain sedang berlatih sedikit, Jovan memyiapkan kamera sememtara Ryan pergi membeli es krim.


*


Akhirnya setelah satu setengah jam mereka shooting, video pun selesai. Mereka hanya tinggal mengedit video tersebut agar terlihat menarik dan rapi. Dan yang mengedit video itu adalah Jovan, karena hanya dia yang pandai dalam hal seperti itu. Sebenarnya Ryan juga pandai, tetapi mereka semua tahu bagaimana sikap Ryan, Ryan pasti akan memberi sesuatu yang aneh di video mereka.


"Nes, lo pulang jam berapa?" tanya Abel.


"Sekarang, Bel, gue ada urusan soalnya," jawab Aneska.


"Hati-hati, ya, Nes," ucap Ella.


Kemudian Aneska pun berjalan kearah parkiran motor.


"Kalau si Aneska pulang duluan? Gue pulang sama siapa dong?" tanya Grisel entah kepada siapa.


"Lo sama Ella pulang bareng gue aja," jawab Abel.


"Eh, nggak usah, Bel, gue pulang sama Bang Ryan aja," tolak Ella. Ella sebenarnya ingin pulang dengan Abel dan Jovan, tetapi Ella tidak mau merepotkan mereka. Lebih baik dia pulang dengan Ryan.


"Lo pulang bareng mereka aja, El. Ini mendung nanti lo kena hujan," ucap Ryan.


"Nggak apa-apa, Bang, gue pengin hujan-hujanan."


Ryan segera mengetikkan pesan untuk Jovan agar Jovan menggunakan kesempatan ini.


Ryan Darin: Lo bilangin dia apa kek


Ryan Darin: Biar dia mau pulang bareng lo


Jovan segera membaca pesan itu, awalnya Jovan kira itu adalah pesan dari ibunya tetapi ternyata tidak. Jovan sedikit menyesal telah membuka pesan itu, bukan karena orang yang mengirim tetapi isinya.


Jovan Edsell: Rugi gue


Jovan Edsell: Dia pulang bareng lo aja


Setelah Ryan membaca pesan dari Jovan, Ryan menyimpan kembali ponselnya. Jovan tidak bisa diajak melalui ponsel, dia harus diajak secara langsung.

__ADS_1


"Lo berdua kenapa malah main hape, sih?" tanya Ella.


"Biasalah, urusan cowok," jawab Ryan.


"El, lo pulang bareng kita aja," ucap Jovan.


"Gitu kek dari tadi," ucap Ryan. "Ya udah, gue balik duluan."


Ryan pun berjalan menuju parkiran motor sama seperti yang dilakukan oleh Aneska tadi.


"Sel, temenin gue ke toilet bentar dong," pinta Ella.


Grisel mengangguk.


"Bel, Bang Jo, gue sama Grisel ke toilet dulu, ya?" pamit Ella.


"Iya, El, jangan lama-lama," pesan Abel.


Lalu Ella dan Grisel pun berjalan ke arah toilet taman yang letaknya tidak jauh dari lokasi mereka saat ini.


"Bang, nanti aku turun di rumah Grisel, ya? Aku mau buat tugas ekskul," ucap Abel.


"Ella juga turun di situ?" tanya Jovan.


"Engga, Abang nanti nganterin Ella dulu baru jemput aku di rumah Grisel," jawab Abel.


"Kenapa Ella nggak ikut?" tanya Jovan.


"Kan Ella beda ekskul sama aku," jawab Abel.


Jovan akhirnya hanya mengiyakan permintaan Abel. Jovan tidak tega menolak permintaan Abel sekalipun dia harus mengantarkan Ella pulang.


*


"Kok Abel ikut turun, Bang?" tanya Ella ketika Grisel dan Abel turun di depan rumah Grisel.


"Mereka ada tugas ekskul, jadi nanti abis nganter lo, gue balik lagi ke sini," jawab Jovan.


Ella merasa dirinya merepotkan Jovan. Menurut Ella lebih baik dia pulang dengan angkot daripada harus diantar oleh Jovan. "Kalau gitu, gue pulang dari sini aja, ada angkot ke rumah gue, kok."


"Nggak usah, El, biar gue aja yang nganterin lo," ucap Jovan.


Ella pun mengangguk, Ella tidak enak jika dia harus membantah ucapan Jovan. Tiba-tiba ponsel Ella bergetar tanda ada notifikasi yang masuk. Ternyata itu adalah pesan dari ibunya.


Mama: El, tolong beli air mineral gelas satu kotak sama kue yang biasa kita beli kalau ada acara


Mama: Nanti ada acara di rumah jadi kamu tolong beliin ya


Mama: Oh iya, kamu pulang sama Jordan kan?


Calluella Raveena: Iya ma


Calluella Raveena: Namanya Jovan, Ma, bukan Jordan


"Itu siapa?" tanya Jovan. "Mama lo?"


Ella mengangguk. Wajah Ella sedikit berubah karena perintah ibunya dan Jovan menyadari hal itu. "Lo kenapa?" tanya Jovan.


"Mama gue nyuruh buat beli air mineral sama kue gitu," jawab Ella.


"Oh, mau gue temenin, nggak?" tanya Jovan.


"Kalau nggak ngerepotin, gue mau, Jo," jawab Ella.


"Oke, kita beli air mineralnya aja dulu, nanti tempat beli kuenya lo kasih tau aja," ucap Jovan lalu dia menjalankan mobilnya.


Tanpa mereka sadari, sedari tadi Grisel dan Abel mengintip mereka dari jendela. Grisel dan Abel menerka-nerka apa yang sedang dibicarakan oleh Ella dan Jovan sampai-sampai mereka tidak langsung pergi.


"Kita harus buat mereka dekat," ucap Abel.


Grisel mengangguk. "Biar sekalian si Ella bisa move on dari Gavril gila itu."


*


"Lo ikut turun?" tanya Ella saat Jovan menghentikan mobilnya di parkiran minimarket.


Jovan mengangguk. Kemudian mereka berdua pun turun dari mobil dan berjalan masuk ke minimarket itu. Ella tiba-tiba teringat sesuatu dengan minimarket yang ia masuki dengan Jovan sekarang. Ella ingat, dia pernah ke minimarket ini bersama Gavril karena minimarket ini lumayan dekat dengan rumah Gavril.


Dekat dengan rumah Gavril. Ella baru menyadari hal itu. Ella merasa dirinya sangat bodoh.


"Lo ngapain diam di situ?" tanya Jovan ketika melihat Ella yang masih berdiri di ambang pintu masuk.


"Nggak apa-apa," jawab Ella. Ella pun berjalan mendekat ke tempat Jovan berdiri.


"Apa aja yang mau dibeli? Cuma air mineral satu kardus?" tanya Jovan.


Ella mengangguk.


"Lo nggak mau beli yang lain?" tanya Jovan.


"Gue bawa uang pas-pasan," jawab Ella.


"Oh, ya udah, berarti cuma beli itu aja, 'kan?" tanya Jovan.


Ella pun mengangguk.

__ADS_1


"Ya udah, gue ambil dulu air mineralnya, nanti lo yang langsung bayar di kasir," suruh Jovan.


"Lo nggak apa-apa, 'kan, bawa itu?" tanya Ella. Walaupun Ella tahu Jovan pasti bisa mengangkat air mineral itu, Ella tetap bertanya karena dia merasa hal itu merepotkan Jovan.


"Ginian aja gampang kok," jawab Jovan lalu mengambil satu kardus air mineral dan membawa ke mobil, sementara Ella melakukan transaksi di kasir.


Saat Ella hendak masuk ke dalam mobil, matanya menangkap Gavril dan Erlyne yang sedang berjalan ke arahnya, lebih tepatnya ke arah minimarket. Ella terus menatap Gavril, dia merasa terhipnotis oleh Gavril. Ella sedikit bingung kepada dirinya sendiri. Dia bingung karena dia tidak lagi sedih saat melihat Gavril dengan Erlyne.


Tanpa Ella sadari, Gavril menyadari kalau Ella berada di parkiran minimarket dan melihat ke arahnya. Gavril awalnya ingin menyapa Ella, tapi dia mengurungkan niatnya karena ada Erlyne di sampingnya.


"El, lo lihatin apa?" tanya Jovan dari dalam mobil.


Pertanyaan Jovan membuat Ella tersadar, Ella pun segera masuk ke dalam mobil.


"Lo habis lihatin apa?" tanya Jovan yang penasaran karena dia melihat ada perubahan setelah Ella masuk ke dalam mobilnya.


"Lihat ke kanan lo," suruh Ella dan itu menjawab pertanyaan yang Jovan lontarkan sebelumnya.


Jovan pun mengangguk-anggukan kepala tanda dia mengerti apa yang di maksud oleh Ella. Entah kenapa Jovan sedikit senang karena Ella tidak lagi sedih saat melihat Gavril dan juga Erlyne. "Bagus, deh. Lo nggak nangis lagi."


"Mungkin gue udah move on kali, ya?" tanya Ella kepada Jovan.


Mendengar pertanyaan Ella itu membuat hati Jovan sangat senang, entah mengapa Jovan merasa dia punya peluang. Jovan menggelengkan kepalanya tanpa sadar. Dia seperti itu karena ingin menghilangkan perasaa aneh soal peluang tadi.


"Kok engga?" tanya Ella. Ella merasa gelengan Jovan itu terarah untuk menjawab pertanyaannya tadi.


"Ha? Apanya yang engga?" tanya Jovan. Jovan yakin saat ini dia terlihat seperti orang yang paling bodoh.


Ella tertawa melihat ekspresi Jovan yang dia anggap sangat lucu.


Jovan merasa malu. "Malu gue, gila."


Ella lagi-lagi tertawa. "Gila, lo lucu banget. Gue nggak nyangka lo lucu kayak gini."


Jovan tersenyum melihat Ella tertawa. Jovan bingung kenapa dia bisa tersenyum karena tertawaan Ella. Jovan pun mennyetir mobilnya ke toko kue yang sebelumnya sudah diberitahu oleh Ella.


Saat sampai di toko kue, Ella menyuruh Jovan untuk menunggu sebentar. Setelah lima menit kemudian barulah Ella kembali dengan membawa beberapa kotak kue yang dibantu oleh pegawai toko itu.


"Di rumah lo mau ada apaan? Kok banyak banget kuenya?" tanya Jovan saat melihat kotak-kotak kue yang berada di jok belakang.


"Ada acara, tapi gue nggak tau acara apa," jawab Ella.


*


"Kalian kok lama?" tanya Sarah saat Ella dan Jovan turun dari mobil.


"Nggak lama, kok, Ma," jawab Ella.


"Air mineral sama kuenya mau Jovan bantu bawa ke dalam, Tan?" tawar Jovan.


"Kalau nggak ngerepotin nggak apa-apa, Jo," jawab Sarah.


"Nggak ngerepotin, kok, Tan," ucap Jovan.


"El, kamu bantu Jovan, ya?" suruh Sarah.


Ella pun mengangguk.


"Lo masuk duluan aja, biar semuanya gue yang bawa," ucap Jovan. Jujur saja, Jovan paling tidak suka jika ada perempuan yang mengerjakan hal seperti ini. Tapi sebenarnya bukan karena Ella perempuan tapi karena Ella adalah Ella.


"Ngapain gue masuk? Mending gue bantu lo aja. Ini banyak banget, Jo, nanti lo capek, 'kan, nggak enak guenya," ucap Ella.


Tidak tahu kenapa Jovan merasa senang mendengar ucapan Ella. Ella khawatir dan peduli kepadanya. Jovan teringat dengan perkataan Ryan kalau dia harus mendekati Ella. Dan Jovan memutuskan untuk mempertimbangkan hal itu mulai dari saat ini.


"Kok lo jadi diam?" tanya Ella.


"Ya udah, kalau lo mau bantu gue, ayo kita ambil dari mobil," ucap Jovan.


***


"Udah satu jam mereka gak balik," ucap Abel sambil melihat jam tangan yang bertengger di tangan kirinya. Abel bukannya khawatir, tapi dia senang dengan hal itu, terutama saat membaca pesan dari Ryan tadi.


Ryan berkata kalau dia melihat Ella dan Jovan berada di rumah Ella dan Jovan membantu Ella untuk acara nanti malam.


"Abang lo beneran nggak pernah pacaran atau suka sama cewek gitu?" tanya Grisel.


Abel menggeleng. "Tapi gue yakin, habis ini bakalan ada dan orangnya itu Ella."


"Gue bakal bantu lo buat deketin abang lo sama Ella," ucap Grisel dan disertai anggukan dari Abel.


*


Akhirnya Ella dan Jovan selesai melakukan pekerjaan mereka. Mereka berdua pun ke halaman belakang rumah Ella untuk menghilangkan penat.


"Lo capek banget, ya?" tanya Ella sambil melihat Jovan yang duduk di sebelahnya.


"Nggak, sih, cuma gue haus aja," jawab Jovan.


"Bilang dari tadi kek. 'Bentar, gue ambil minum dulu," ucap Ella.


Saat Ella hendak beranjak dari tempat duduknya, Jovan menahan tangan Ella, bermaksud melarang Ella untuk pergi dari sampingnya.


"Nanti aja lo ambil," ucap Jovan.


Ella pun kembali duduk di kursinya tadi.

__ADS_1


__ADS_2