Divide

Divide
Saya Sama Arabella


__ADS_3

Hampir saja Ella telat masuk sekolah di hari Senin yang sangat cerah ini. Tadi, saat di rumah, Ella sebenarnya sudah siap dengan seragam yang lengkap dan dia sudah memakai kaus kaki. Tetapi entah kenapa saat dia hendak memakai sepatu, Ella merasa perutnya tidak enak. Alhasil dia harus ke kamar mandi dan merusak seragamnya yang sudah rapi itu.


"Ini perut kenapa nggak bisa diajak kerja sama coba? Untung aja gue nggak telat," gumam Ella saat dia sampai di gerbang sekolah yang sedikit lagi tertutup rapat.


"Dek, kenapa diam di situ? Cepat masuk, udah mau mulai upacara," suruh satpam yang melihat Ella berdiam diri di gerbang sekolah.


"Iya, Pak," sahut Ella yang sadar kalau satpam itu berbicara kepadanya.


Saat Ella sampai di kelas, sudah tidak ada murid lagi. Itu berarti semua murid sudah disuruh keluar oleh salah satu guru yang bertugas menyuruh murid untuk pergi ke lapangan setiap hari Senin. Setelah meletakkan tas di kursinya, Ella segera pergi ke lapangan, takutnya akan ada guru yang masuk dan menuduh dirinya bolos upacara.


*


"Jadi, kalau misalnya kalian ditanya, wie alt bist du? Kalian harus menjawab sesuai dengan umur kalian, misalnya, ich bin sechzehn jahre alt. Nah, kalau-" Penjelasan Frau Dhea terhenti karena ada yang mengetuk pintu kelas X MIPA 7.


Frau Dhea menyuruh Ella untuk membuka pintu kelas karena posisi Ella dekat dengan pintu. Ella pun mengangguk lalu membuka pintu itu. Kemudian terlihat dua orang siswa masuk dan seorang di antara mereka berdua memegang secarik kertas.


"Permisi Frau Dhea, yang namanya Arabella dan Calluella dipanggil sama guru BK," ucap siswa yang memegang secarik kertas itu kepada Frau Dhea. Setelah Frau Dhea mengangguk, mereka berdua pun keluar kelas.


"Arabella dan Calluella, kalian berdua dipanggil ke ruang BK," ucap Frau Dhea.


Ella dan Abel kaget karena tiba-tiba saja mereka dipanggil ke ruang BK. Mereka berdua pun segera permisi kepada Frau Dhea kemudian berjalan ke ruang BK yang terletak lumayan jauh dari ruang kelas mereka. Jadi, mereka berdua bisa sedikit menerka-nerka apa kesalahan mereka saat di jalan.


"Kita ada salah apa, ya?" tanya Abel.


Ella berpikir, dia juga sedang mencari tahu apa salahnya sehingga dipanggil oleh guru BK. Pikiran Ella tiba-tiba saja langsung terarah kepada kegiatan literasi. Mereka berdua tidak datang sewaktu program literasi itu. "Literasi, Bel."


Abel menepuk dahinya, dia baru teringat akan hal itu. "Oh, iya, gue baru inget. Ya ampun, kok gue bodoh banget, ya?"


"Gue takut, gila. Gue belum pernah dipanggil BK," ujar Ella. Memang ini adalah pertama kalinya Ella dipanggil oleh BK, sewaktu SMP Ella adalah murid yang terbilang berprestasi sehingga dia jauh dari suatu masalah yang bersangkutan dengan BK.


"Gue pernah, sih, tapi, itu pun bareng ortu," sambung Abel.


Saat mereka hendak berbelok, Jovan dan Ryan yang baru saja turun dari tangga hampir saja menabrak mereka berdua.


"Eh, 'kan, hampir," celetuk Ryan.


"Kamu ngapain keluar, Bel?" tanya Jovan.


"Dipanggil BK, Bang," jawab Abel.


"Wah sama, jangan-jangan kita jodoh," ucap Ryan.


"Jodoh apaan?" balas Jovan yang tidak menyetujui ucapan Ryan.


"Abang juga dipanggil BK?" tanya Abel.


Jovan mengangguk. "Ini kayaknya karena kita bolos waktu kemarin, deh."


"Ella juga bilang gitu tadi, Bang," ucap Abel.


"Ya udah, ayo, kita langsung hampiri ibunda tercinta," ajak Ryan yang terlihat bersemangat. Ryan hanya terlihat bersemangat di luar ruang BK, jika dia sudah di dalam ruang BK, maka dia akan berubah seratus delapan puluh derajat.


"Halah, paling ntar lo di ruangan terdiam," ledek Ella yang tahu bagaimana tipikal orang seperti Ryan.


Tanpa mereka sadari, mereka sudah sampai di depan ruangan BK. Hawa-hawa tidak enak sudah mulai meresap di diri mereka berempat. Walaupun tampaknya Jovan dan Ryan adalah lelaki yang gagah, tapi jika ketemu Bu Demma, kegagahan mereka menciut begitu saja. Bukan karena masalah yang akan mereka hadapi sekarang, tetapi masalah rambut mereka. Jovan dan Ryan baru menyadari hal itu saat di depan ruang BK.


"*****, rambut gue," umpat Ryan sambil memegang rambutnya.


"****** lu, siapa suruh gegayaan?" ledek Ella.


Saat Ryan hendak membalas ledekan Ella, tiba-tiba pintu ruangan BK terbuka. Tampak dua orang siswi yang keluar, sepertinya nasib mereka akan berpindah kepada Ella dan yang lainnya.


"Tobat, deh, gue bolos literasi," ucap salah seorang dari mereka.


"Yang di luar, silakan masuk," suruh Bu Demma dari dalam dan jelas dengan berteriak karena posisi mejanya dengan pintu lumayan jauh.


Jovan pun masuk terlebih dahulu kemudian diikuti dengan Ryan, Ella, dan Abel. Ryan dengan kepercayaan dirinya duduk di salah satu kursi yang menghadap Bu Demma. Bu Demma berdeham, tanda tindakan Ryan adalah sesuatu yang seharusnya tidak dilakukan. Ryan dengan segera beranjak dari kursi itu.


"Nah, bagus. Kalian tahu apa yang membuat kalian berada di sini?" tanya Bu Demma sambil menatap mereka berempat satu per satu, mencoba mengingat wajah mereka.


"Karena kita bolos program literasi, Bu," jawab Jovan.


"Itu kalian tahu. Bolos itu adalah sesuatu yang seharusnya tidak menjadi sebuah tradisi di setiap sekolah, apalagi sekolah kita. Kalian tahu, 'kan, kalau kalian itu utusan dari kelas kalian?" tanya Bu Demma.


Mereka berempat serentak menjawab kalau mereka tahu akan hal itu.


"Ternyata kalian pintar, ya? Tapi, kalian tahu nggak, sih? Kepintaran kalian tidak berguna jika kalian tidak memiliki perilaku yang baik dan benar," sindir Bu Demma. Bu Demma memang terkenal sebagai guru yang memiliki sindiran yang paling menyayat hati.


Bu Demma masih menatap mereka satu-satu. "Saya sudah tau alasan kalian, jadi sekarang kalian tinggal tulis nama kalian di buku dosa saya dan berjanji tidak akan bolos lagi." Bu Demma menyodorkan sebuah buku yang bertuliskan 'BUKU DOSA' di sampul depannya serta sebuah pulpen.


Jovan adalah orang yang pertama kali membuka buku itu dan ternyata banyak sekali dosa murid yang terdaftar di dalamnya. Bahkan, Jovan sempat kaget melihat banyaknya tulisan para pelaku dosa di buku itu. Setelah Jovan selesai menulis nama dan janjinya, Jovan pun memberikannya kepada Ryan, kemudian dilanjut oleh Ella dan Abel.


"Oh, ya, saya dengar di antara kalian ada yang  bersaudara, siapa itu?" tanya Bu Demma saat Abel menuliskan nama dan janjinya.


"Saya sama Arabella, Bu," jawab Jovan.


"Oh, kalau begitu tolong, ya, kalau sudah tau bersaudara seharusnya saling mengingatkan, bukan malah saling menjatuhkan kayak sekarang," ucap Bu Demma yang terdengar sangat kejam dan memang kejam.

__ADS_1


"Iya, Bu," balas Jovan.


"Kalau gitu kalian silakan keluar," ucap Bu Demma mempersilakan mereka berempat untuk keluar dari ruang BK, jelas mereka berempat sangat senang atas ucapan Bu Demma itu.


Ella dan yang lainnya sangat lega saat sudah keluar dari ruang BK, terutama Jovan dan Ryan karena rambut mereka tidak kena 'tilang' oleh Bu Demma.


"Gila, pedes banget omongannya," komentar Ella.


"Untung rambut gue nggak kena," ucap Ryan.


"Iya, Yan, btw sekarang jam berapa?" tanya Jovan kepada Ryan.


Ryan melihat jam yang ada di tangan kirinya. "Lima belas menit lagi istirahat."


"Kantin aja, yok, Yan," ajak Jovan. "Gue males disuruh ngerjain soal."


Ryan pun mengangguk setuju karena sebelum mereka pergi tadi, Ryan sudah disuruh maju kedepan. Tetapi untungnya orang yang memanggil mereka datang sehingga Ryan tidak jadi menjawab soal yang tidak bisa ia jawab itu.


"Bang, gue boleh ikut?" tanya Ella kepada Ryan.


"Boleh," jawab Ryan.


"Kamu ikut bareng kita aja, Bel," ucap Jovan.


Abel pun mengangguk. Kemudian mereka berempat berjalan ke kantin. Jika kalian mengira kantin sepi, tebakan kalian sedikit salah. Saat ini kantin terbilang cukup ramai oleh para murid yang baru saja selesai pelajaran Penjas. Di sekolah mereka, para guru Penjas akan memberikan istirahat terlebih dahulu kepada muridnya yang baru saja praktik.


Mereka berempat mencari lokasi yang agak tertutupi oleh para murid yang baru saja berolahraga. Sehingga mereka dapat dikira sebagai murid yang juga baru berolahraga.


"Jumat ini kalian datang, nggak?" tanya Ryan.


"Gue datang, deh," jawab Ella yang sedikit trauma masuk ruang BK.


"Ella datang gue datang," ucap Abel.


"Ya udah, berarti minggu ini datang semua, 'kan?" tanya Jovan.


"Iya, Bang," jawab Ella.


Abel mengambil ponsel di saku rok sekolahnya berniat ingin mengirim pesan kepada Grisel dan Aneska.


"Kamu mau ngapain, Bel?" tanya Jovan.


"Mau kasih tau Grisel sama Aneska" jawab Abel.


"Udah, Bel, lo nggak usah kasih tau, nanti mereka malah ikutan," ucap Ryan.


Sekitar beberapa menit kemudian, bel berbunyi tanda waktu istirahat akan dimulai. Kantin pun semakin ramai didatangi oleh para murid yang ingin mengisi perut mereka masing-masing.


Sementara di kelas, Grisel dan Aneska sudah tahu kalau Ella dan Abel pasti bolos. Mereka pun berniat untuk menyusul Ella dan Abel ke kantin. Tepat ketika bel berbunyi, Grisel dan Aneska segera pergi ke kantin agar lebih mudah mencari Ella dan Abel.


Abel secara tidak sengaja melihat kedatangan Grisel dan Aneska di kantin. Dia pun berteriak memanggil mereka berdua. "Grisel! Aneska!"


Yang dipanggil langsung menoleh ke asal suara. Mereka berdua langsung berjalan ke asal suara setelah mengetahui kalau yang memanggil mereka adalah Abel.


"Bel, Abang sama Ryan balik duluan, ya? Nanti mereka berdua nggak ada tempat duduk," pamit Jovan kepada Abel.


"Ya udah, Bang," ucap Abel.


"Eh, tapi ini lontong gue belum habis," ucap Ryan sambil menunjuk piring yang berisi lontong.


"Udah, buat gue aja." Ella mengambil piring Ryan dari hadapannya.


"Hih, serem gue, lo cewek tapi rakus," ledek Ryan.


"Ye, gue nggak rakus, Bambang. 'Kan, tadi gue cuma minum ini," ucap Ella sambil menunjukkan gelas kosong yang tadinya berisi teh manis.


"Udah sih, Yan, kali-kali lo baik sama dia," ucap Jovan.


"Iya, deh, iya," Ryan pada akhirnya mengalah. Kemudian Jovan dan Ryan pun pergi dari kantin menuju ke kelas tersayang mereka.


"Kok mereka malah pergi?" tanya Grisel sambil duduk di kursi yang tadinya diduduki oleh Jovan.


"Kalau mereka tetap di sini nanti lo berdua nggak ada tempat duduk, makanya mereka pergi," jawab Ella.


"Oh, ya, Bang Jovan sama Bang Ryan juga dipanggil BK?" tanya Aneska.


Abel mengangguk.


"Kalian kok bisa dipanggil gitu, sih?" tanya Aneska.


"Ini karena kita berempat bolos waktu hari Jumat," jawab Abel.


Aneska mulai menduga kalau mereka bolos karena pergi berempat. Aneska tidak bisa membiarkan hal itu, dia harus mencari tahu. "Emangnya kalian berempat ke mana?"


"Kita pergi ke rumah Bang Ryan," jawab Ella.


Benar dugaan Aneska, mereka pergi berempat. Sepertinya, lain kali dia harus ikut agar bisa memastikan bahwa Ella tidak dekat dengan Jovan. Aneska tidak mau keluarganya hancur hanya karena dia lalai.

__ADS_1


*


Sepulang sekolah, Ella memutuskan untuk ke toilet terlebih dahulu. Sejak pelajaran Fisika setelah istirahat kedua tadi, Ella sudah menahan sesak buang air kecilnya itu. Jika saat itu Ella meminta izin pasti tidak akan diberi izin karena baru saja istirahat.


Saat Ella kembali ke kelasnya, kelas dalam keadaan kosong. Tadi saat Ella meninggalkan kelas, masih ada Grisel dan Abel, sementara Aneska sudah pulang lebih awal. Yang Ella tahu, hari ini Grisel dan Abel ada jadwal ekskul, itu berarti mereka sudah ke ruangan ekskul. Ella pun segera mengambil tasnya lalu keluar kelas.


"Ella," panggil seseorang saat Ella baru saja keluar dari kelas. Ella melihat ke sumber suara. Ternyata itu adalah Jovan. Ella berpikiran kalau Jovan mencari Abel.


"Abelnya, 'kan, ekskul, Bang," ucap Ella langsung bermaksud  menjawab pertanyaan yang pasti akan dilontarkan oleh Jovan.


"Yang mau nyari Abel siapa?" tanya Jovan.


"Ya, kan, biasa Abang nyari Abel," jawab Ella.


"Tapi, sekarang gue nyari lo," ucap Jovan yang membuat Ella sedikit kaget. Tidak biasanya Jovan mencari dirinya apalagi saat tidak ada Abel.


"Mau ngapain, Bang? Semua kelompok gue sama Abel udah beres kok," tanya Ella.


Jovan tertawa kecil. Dia tidak menyangka kalau adik kelasnya itu masih bersikap polos di depannya padahal mereka sudah sering jalan walaupun jarang jalan berdua.


"Kok malah ketawa sih?" tanya Ella.


"Udah deh, gue sedih lihat lo yang terlalu polos. Sekarang lo ikut gue aja," ajak Jovan.


"Mau kemana?" tanya Ella.


"Ke rumah lo lah, pulang," jawab Jovan.


"Tapi, kan, gue bisa pulang sendiri," ucap Ella.


"Udah, ayo," ajak Jovan. Jovan memutuskan untuk berjalan duluan, Jovan dapat memastikan kalau Ella pasti akan mengikutinya. Dan benar saja saat Jovan jalan, Ella ikut berjalan di belakangnya.


*


"Kok Papa bawa koper, ya?" tanya Ella saat mobil Jovan baru saja berhenti di depan pagar rumah Ella.


"Coba lo turun dulu," suruh Jovan.


Ella pun langsung turun.


"Pa, Papa mau kemana?" tanya Ella.


"Papa mau balik kerja, El. Kamu anter, ya?" suruh Sarah.


"Biar Jovan sama Ella aja yang antar, Tante," jawab Jovan yang entah sejak kapan keluar dari mobilnya.


"Kamu siapa?" tanya Hansen yang sudah lupa dengan Jovan. Maklum mereka baru bertemu satu kali.


"Saya Jovan, Om, kakak kelasnya Ella," jawab Jovan dengan sopan.


"Kamu beneran mau nganterin Papa Ella ke bandara?" tanya Sarah kepada Jovan.


Jovan mengangguk. "Iya, Tan."


Ella sebenarnya ingin menolak tawaran Jovan sejak tadi, tetapi setelah Ella pikir-pikir, menurut Ella ini adalah sebuah kesempatan. Ya, sebuah kesempatan. Entah kesempatan buat apa itu.


"Ya udah, Ma, Papa pergi dulu, ya," pamit Hansen sambil memeluk Sarah di depan Ella dan juga Jovan.


"Tante, Jovan permisi, ya," pamit Jovan.


"Ella juga, ya, Ma." Ella menyalam tangan ibunya dan diikuti oleh Jovan.


Mereka bertiga pun berjalan ke mobil Jovan. Yang membawa mobil jelas adalah Jovan, tetapi kali ini yang duduk di kursi penumpang yang berada di samping Jovan bukanlah Ella melainkan Hansen.


Selama di perjalanan, Hansen dan Jovan banyak berbicara. Entah hal apa-apa saja yang mereka bicarakan sampai-sampai Ella tidak berniat ikut pembicaraan mereka. Ella memilih untuk memainkan ponselnya. Tak terasa mereka sudah sampai di bandara.


"Jo, Om diturunin di sini aja," ucap Hansen.


"Nggak mau sampai pintu masuk, Om?" tanya Jovan.


"Nggak usah, nanti kalian susah keluar, ramai," jawab Hansen.


"Ya udah, Pa, hati-hati, ya," pesan Ella sambil menyalam tangan Hansen. Hal yang sama juga dilakulan oleh Jovan, kemudian Hansen pun keluar dari mobil Jovan.


Jovan kembali menjalankan mobilnya. Saat keluar dari bandara, Jovan baru menyadari ada sesuatu yang salah dengan dirinya dan Ella.


"Kok kayaknya ada yang salah, ya?" tanya Jovan sambil menoleh kebelakang. Yang Jovan lihat adalah Ella yang memainkan ponselnya.


Ella mengalihkan pandangan dari ponselnya saat menyadari kalau Jovan berbicara kepadanya. "Apanya yang salah, Bang?"


"Coba aja cari tau sendiri," jawab Jovan.


Ella melihat ke sekitar mencoba mencari sesuatu yang salah. Dan akhirnya Ella mengetahui hal itu. "Ini gue langsung apa mau lo berhentiin, Bang?"


"Ya gue berhentiin lah, emang lo mau langsung?" tanya Jovan balik lalu dia memberhentikan mobilnya di pinggir jalan agar Ella pindah ke depan. Kalian tahulah apa kesalahan Ella. Ya, kesalahannya adalah dia tetap duduk di jok belakang.


***

__ADS_1


__ADS_2