Divide

Divide
Gue Kecewa


__ADS_3

Ella kaget membaca pesan itu. Pikiran Ella langsung menuju kepada Abel yang kemungkinan masih berada di kafe itu. Ella pun segera mengambil ponselnya lalu menghubungi ponsel Abel, tetapi tidak ada jawaban. Kemudian Ella pun mengirimkan pesan kepada Abel.


"Lo kenapa panik?" tanya Gavril.


"Temen gue ada di sana," jawab Ella, "dan kayaknya gue harus balik ke kafe itu, deh."


"Ya udah, lo hati-hati, ya. Semoga teman lo nggak kenapa-napa," pesan Gavril.


Ella pun mengangguk kemudian dia segera keluar dari kamar Gavril. Ella dengan buru-buru keluar dari rumah sakit itu.


Saat Ella baru saja sampai di dekat Unit Gawat Darurat rumah sakit, Ella melihat ada seseorang yang baru saja memasuki bagian UGD, dan dia sangat mirip dengan, Abel. Ella dengan segera ikut masuk ke Unit Gawat Darurat dan menghampiri salah satu orang yang tadi ia lihat ikut mengantarkan Abel.


"Maaf, Bu, saya mau nanya, yang tadi itu kenapa, ya?" tanya Ella.


"Dia kena rampok, Nak, di dekat restoran yang letaknya nggak jauh dari sini," jawab ibu yang bernama Ratih itu, Ella bisa mengetahui nama ibu itu dari name tag yang ia kenakan di baju dinasnya.


"Rampoknya berhasil ngambil barangnya nggak, Bu?" tanya Ella.


"Ibu tidak tahu lebih jelasnya, tapi ini handphone-nya, Ibu dapat di sakunya," jawab Bu Ratih sambil menunjukkan ponsel Abel yang dia pegang. "Kamu temannya?"


Ella mengangguk.


"Ini kamu pegang saja ponselnya, tadi banyak sekali panggilan dan pesan dari orang yang bernama Ella dan Jovan. Ibu tadinya mau langsung ngabarin mereka, tapi untunglah kamu sudah datang, jadi lebih baik kamu yang ngasih tau mereka," ucap Bu Ratih sambil memberikan ponsel Abel kepada Ella.


"Oh, ya, Bu, teman saya itu diapain sama rampoknya? Kenapa sampai bisa masuk sini?" tanya Ella.


"Ibu kurang tau, tapi kata orang yang sempat nolong dia. Katanya dia kena tusukan di bagian perut, dan kayaknya itu karena dia sempat melakukan perlawanan," jawab Bu Ratih.


Jantung Ella rasanya tidak lagi berada pada tempatnya, perasaan Ella benar-benar campur aduk. Tetapi perasaan bersalah dan menyesal lebih dominan, Ella sangat menyesal karena sudah meninggalkan Abel di kafe itu.


"Oh ya, Nak, Ibu balik dulu, ya? Ibu masih ada kerjaan," pamit Bu Ratih.


"Iya, Bu, hati-hati, ya, Bu," pesan Ella.


Bu Ratih pun berjalan keluar dari ruang Unit Gawat Darurat. Ella segera menuliskan pesan kepada Jovan yang berisikan kalau Abel sedang berada di rumah sakit. Sejujurnya, Ella sangat takut untuk memberitahu kepada Jovan. Tetapi mau tidak mau, dia harus memberitahu Jovan.


Calluella Raveena: Bang, Abel lagi di rumah sakit


Jovan Edsell: Rumah sakit mana?


Calluella Raveena: rumah sakit jaya abadi


Jovan Edsell: Gue otw


Jantung Ella berdegup lebih cepat dari sebelumnya. Ella merasa sangat takut akan bertemu dengan Jovan. Ella sudah bisa membayangkan betapa marahnya Jovan kepada dirinya. Ella benar-benar merasa bersalah.


Ella pun memutuskan untuk duduk di kursi ruang tunggu. Dia tidak dapat berbuat apa-apa selain menyiapkan mental mendengar kemarahan Jovan nantinya.


"El," panggil seseorang.


Ella yang tadinya menundukkan kepalanya pun beralih menjadi menatap orang itu. Dia adalah Jovan.


"Ikut gue," suruh Jovan kemudian dia berjalan terlebih dahulu.


Ella pun beranjak dari kursi kemudian berjalan mengikuti Jovan. Jovan menghentikan langkahnya di parkiran rumah sakit.

__ADS_1


"Bang, maafin gue," ucap Ella.


Jovan membalikkan badannya. Jujur, dirinya sangat marah terhadap perempuan yang berada di depannya saat ini. Perempuan itu telah melanggar janjinya untuk menjaga orang yang dia sayang. Tetapi, Jovan tidak dapat mengeluarkan amarahnya saat ini. Entah kenapa Jovan merasa seperti ada yang menahannya untuk tidak memarahi perempuan yang ada di hadapannya.


"Silakan lo marahin gue sepuasnya. Gue salah, Bang. Lo berhak marahin gue." Ella menyerahkan dirinya kepada Jovan untuk dimarahi, karena dengan begitulah Ella dapat mengurangi rasa bersalahnya, walau itu hanya berkurang sedikit.


Jovan hanya menatap Ella, dia melihat jelas kalau Ella sedang menahan air matanya. Jovan sangat-sangat tidak tega melihat keadaan Ella saat ini. "Gue nggak bakal marahin lo. Gue cuma mau tanya, kenapa dia bisa sampai masuk sini?"


Ella tidak yakin Jovan tetap tidak akan memarahinya jika Jovan tahu penyebab Abel bisa masuk rumah sakit. Ella dengan segera mengumpulkan keberaniannya untuk menjawab pertanyaan Jovan yang sangat sulit untuk dijawab itu. "Dia kena rampok di depan kafe tempat dia ketemuan sama Evan."


Jovan masih belum dapat mengeluarkan amarahnya. Dia masih mau mendengar cerita dari Ella. "Kenapa cuma dia yang kena? Kalian, 'kan, pergi berempat."


"Oke, gue cerita dari awal, jadi Grisel sama Aneska udah pulang duluan karena ada urusan, dan tinggal gue yang ada di sana. Terus gue ngobrol sama Kevin, dan ternyata dia dapat telepon kalau Gavril masuk rumah sakit terus gue minta ikut sama dia buat jenguk Gavril. Waktu di rumah sakit Kevin pulang duluan karena ada perampokan dekat kafenya dan korbannya adalah Abel," jawab Ella. Ella saat ini sedang mempertahankan kekuatannya karena dia tahu mendengar jawaban dirinya barusan, Jovan pasti akan marah besar. Dia pun memutuskan untuk menundukkan kepalanya.


Jovan diam, dia masih memproses jawaban Ella barusan. Jujur saja, Jovan sangat kecewa mendengar hal itu. Ella lebih memilih untuk menjenguk Gavril dibandingkan menjaga adiknya. Jovan sebenarnya ingin sekali memarahi Ella, tetapi dia lebih memilih untuk diam saja. Dia sudah terlalu kecewa dengan Ella.


Ella menaikkan kepalanya karena dia tidak mendengar adanya respons dari Jovan. Ella melihat dari mata Jovan kalau dia sangat marah. Tanpa Ella sadari matanya mengeluarkan air. Dia pun buru-buru menghapus air matanya itu.


Melihat Ella menangis membuat Jovan berhasil merendam emosinya walau hanya sedikit. "Gue kecewa sama lo." Setelah mengucapkan kalimat itu, Jovan berjalan melalui Ella begitu saja lalu ia berhenti sebentar. "Oh ya, satu lagi, gue nggak suka lihat lo nangis kayak tadi. Jangan jadi cewek cengeng." Kemudian Jovan kembali berjalan.


Ella membalikkan badannya dan yang dapat dia lihat hanyalah Jovan yang berjalan menjauh. Ella tahu kalau Jovan sebenarnya sangat marah, tetapi Jovan pasti menahan kemarahannya itu. Bukan karena Jovan sayang pada dirinya, tetapi karena ini adalah rumah sakit. Itu adalah teori Ella yang tanpa dia sadari itu salah besar.


Ella pun memutuskan untuk kembali ke rumah sakit, lebih tepatnya ke kamar Gavril. Entah kenapa Ella merasa dia harus segera menceritakan hal ini kepada Gavril.


Saat sudah sampai di depan pintu kamar, Ella mengintip dari jendela kecil untuk melihat siapa yang berada di dalam. Ella melihat ada seorang perempuan yang sedang duduk di kursi. Ella tidak tahu siapa dia.


Ella memutuskan untuk masuk ke dalam, perempuan itu dengan refleks melihat ke arah pintu.


"Siapa, Kak?" tanya Gavril.


"Kamu Ella, 'kan?" tanya perempuan yang merupakan kakak dari Gavril. Ya, dia adalah Karin.


Ella mengangguk.


Ella melihat kepergian perempuan yang menyebut dirinya sendiri sebagai kakak. Ella tidak tahu siapa perempuan itu tetapi sepertinya dia tahu siapa Ella.


"Yang tadi siapa?" tanya Ella.


"Lo habis nangis?" tanya Gavril.


Ella diam, Gavril memang paling pandai dalam membaca keadaannya.


"Kenapa?" tanya Gavril.


"Bang Jovan kecewa sama gue dan tadi dia kelihatan marah banget sama gue," jawab Ella.


"Jangan bilang korban dari perampokan itu teman lo dan dia itu adik Jovan?" tanya Gavril.


Ella mengangguk. "Gue takut dia jadi benci sama gue."


"Ini bukan salah lo, El. Lo nggak usah takut dia benci sama lo," ucap Gavril berusaha untuk menghibur Ella.


"Ini salah gue, Gav, gue yang pergi gitu aja, nggak pamit sama dia." Air mata Ella turun begitu saja, Ella akui dirinya sangat cengeng. Padahal memang sepenuhnya ini bukan salah dia.


"Nggak usah nangis, El. Gue nggak suka lihat lo nangis," ucap Gavril, sama seperti yang diucapkan oleh Jovan tadi, "mending lo sekarang pulang aja deh, tenangin diri lo."

__ADS_1


Ella mengangguk, dia memang harus menenangkan dirinya. "Cepat sembuh, ya." Ella pun pergi dari kamar Gavril.


"Udah siap ngobrol sama Gavril, El?" tanya Karin ketika melihat Ella kelar dari kamar adiknya itu.


Ella mengangguk.


"Oh ya, kenalin, aku Karin, kakaknya Gavril." Karin memperkenalkan dirinya.


"Aku Ella, Kak," balas Ella walau dia sudah tahu kalau Karin mengetahui dirinya.


"Kamu mau pulang?" tanya Karin.


"Iya, Kak," jawab Ella.


"Mau Kakak antar pulang, nggak?" tawar Karin.


"Boleh, Kak," jawab Ella, ia merasa tidak enak bila menolak tawaran dari Karin. Berpikir tentang kendaraan membuat Ella teringat akan satu hal, kunci mobil Jovan masih ada di saku roknya.


Karin sedikit bingung melihat Ella yang diam saja padahal tadi Ella sudah menerima tawarannya. "Kamu kenapa malah diam?"


"Eh, gini, Kak, aku baru inget kalau kunci mobil Abangnya teman aku ada di aku, dan aku harus kembaliin ke dia sekarang," ucap Ella.


"Dia di mana?" tanya Karin.


"Di ruang tunggu UGD, adiknya masuk rumah sakit," jawab Ella.


"Oh, gitu, ya udah nanti kita sekalian balikin ke dia," ucap Karin.


"Tapi, Kak, aku boleh minta tolong, nggak?" tanya Ella.


"Boleh," jawab Karin.


"Kakak yang ngasih ke dia, ya?" pinta Ella. Ella tidak mau memberi langsung ke Jovan bukan karena dia bermaksud untuk menghindari Jovan, tetapi maksudnya adalah agar Jovan tidak muak melihat dirinya.


Karin hanya mengangguk walaupun sebenarnya dia tidak mengerti mengapa Ella menyuruhnya untuk memberikan kunci mobil itu kepada pemiliknya. "Nanti kamu kasih tunjuk orangnya dari jauh aja."


*


"Orangnya yang mana, El?" tanya Karin ketika mereka berdua sudah sampai di pintu masuk ruang tunggu Unit Gawat Darurat.


Ellla mengintip ke dalam, dan untungnya dia langsung menemukan Jovan yang sedang memainkan ponselnya. "Itu, Kak, cowok yang main handphone, namanya Jovan. Oh, ya, Kak, nanti bilang sama dia kalau mobilnya ada di kafe dekat sekolah, dia pasti tau." Ella menunjuk Jovan.


Karin merasa tidak asing dengan nama Jovan, tetapi dia memutuskan untuk tidak bertanya sekarang karena yang harus dia lakukan adalah menemui orang yang bernama Jovan itu lalu memberikan kunci mobilnya. Karin pun berjalan menuju Jovan.


"Jovan, ya?" tanya Karin sambil duduk di kursi kosong samping Jovan.


Jovan sedikit terkejut dengan kehadiran orang yang tidak dikenalnya itu, apalagi orang itu menyebutkan namanya. "Iya, kenapa?"


Karin menyerahkan kunci mobil Jovan kepada Jovan. "Ini kunci mobil lo."


Jovan menatap Karin dengan tatapan orang kebingungan. Jovan sangat bingung mengapa kunci mobil miliknya berada di tangan orang yang tidak dia kenal. Tetapi tidak tahu kenapa, Jovan merasa kalau orang yang di sampingnya ini mendapatkan kunci mobil itu dari Ella. Jovan pun mengambil kunci mobilnya itu.


"Mobil gue sekarang ada di mana?" tanya Jovan sedikit mengintrogasi Karin.


"Di kafe dekat sekolah lo," jawab Karin kemudian dia langsung beranjak dari tempat duduknya kemudian berjalan keluar dari ruang tunggu Unit Gawat Darurat.

__ADS_1


Karena penasaran, Jovan mengikuti Karin sesaat setelah Karin sudah terlihat keluar dari ruang tunggu. Benar seperti dugaannya, dia melihat ada Ella berjalan bersama perempuan itu. Jovan jadi sedikit merasa bersalah karena sudah terlihat marah kepada Ella tadi.


***


__ADS_2