Divide

Divide
Saya Sepupunya Gavril


__ADS_3

"Ella, nanti kamu jadi jemput Papa, 'kan?" tanya Sarah memastikan.


"Jadi, Ma," jawab Ella.


"Nanti kamu langsung aja ke bandara. Papa sampai jam-jam kamu pulang katanya," ucap Sarah memberitahu.


Ella mengangguk, lalu dia mengambil kunci mobil yang sudah diletakkan ibunya di meja makan. "Ella berangkat, ya, Ma."


"Hati-hati, ya, El," pesan Sarah.


Ella pun mengangguk lalu keluar rumah.


Ini adalah kali pertamanya Ella membawa mobil ke sekolah. Meski pun bagi sebagian murid hal itu adalah hal yang biasa. Bagi Ella hal itu sebenarnya juga biasa, tapi tidak tahu kenapa dia merasa aneh membawa mobil ke sekolah.


Ella memarkirkan mobilnya di parkiran sekolah. Saat Ella hendak membuka pintu mobil, mobil Jovan berhenti di sebelah kiri mobilnya. Ella pun segera membuka pintu untuk menemui Abel. Ella yakin Jovan pergi bersama Abel.


"Ella!" panggil Abel.


Ella yang masih berdiri di samping mobilnya pun berjalan ke arah Abel. Tepat saat Ella sudah berada di dekat Abel, Jovan keluar dari mobil dan menghampiri mereka.


"Lo bisa naik mobil?" tanya Abel.


Ella mengangguk, tiba-tiba dia teringat akan satu hal. Dia belum berterima kasih atas tumpangan yang diberikan Jovan. Kemarin Ella lupa karena tragedi ibunya yang salah sangka. "Oh iya, makasih ya udah nganterin gue semalam."


"Sama-sama, gue pergi duluan, ya," pamit Jovan lalu dia berjalan melalui Ella dan Abel.


Ini yang Abel tidak sukai dari kakak laki-lakinya itu. Jovan selalu bersikap tak acuh kepada perempuan yang ada di dekatnya. Abel terkadang merasa lelah sendiri karena Jovan terlalu protektif kepadanya. Abel sempat berpikir untuk mencarikan Jovan pacar agar sikap protektif Jovan pindah ke pacarnya. Tetapi melihat Jovan yang seperti itu, Abel tidak lagi memikirkan hal itu.


"Lo semalam diantar sampai rumah, 'kan?" tanya Abel dan dibalas anggukan oleh Ella.


Ella sempat merasa aneh dengan pertanyaan Abel, tidak mungkin jika Jovan tidak mengantarkannya sampai rumah. Namanya juga mengantar pulang, di mana lagi tempat pulang selain rumah? Ya, walaupun terkadang bagi setiap orang kata rumah itu memiliki arti yang berbeda, tetapi tetap saja tempat untuk pulang yang paling baik adalah rumah.


"Bagus, deh, soalnya Bang Jovan pernah ngantarin temen gue cuma sampai gang rumahnya doang. Padahal, nih, ya, rumah dia itu masih jauh ke dalam," ucap Abel.


"Lah, yang bener? Mungkin mobil nggak bisa masuk kali," kata Ella.


"Bang Jovan nganterin pakai motor, El," tambah Abel.


Ella ingin tertawa tetapi itu tidak bagus. Lucu menurut Ella ketika seseorang mengantarkan pulang tetapi hanya setengah. Ella berpendapat Jovan pada waktu itu sedang tidak niat untuk mengantar orang.


"Kok Jovan aneh, sih?" tanya Ella. Ella merasa dirinya sudah salah menyebut nama Jovan tanpa ada kata 'abang' atau 'bang' di depannya.


Abel jelas sedikit kaget karena pertanyaan Ella. Dia saja yang sebagai adik kandung Jovan tidak pernah hanya menyebut nama, walaupun tidak ada Jovan di sekitarnya. Abel mulai curiga ada sesuatu di antara Jovan dan Ella. Abel berharap sesuatu itu dapat membuat dampak yang bagus untuk kakak laki-lakinya.


"Dia tuh emang aneh, gue aja bingung kenapa bisa punya abang kayak dia," ucap Abel. Abel sebenarnya ingin mengetahui bagaimana hubungan Ella dengan Jovan, tetapi Abel rasa, sekarang bukan waktu yang tepat. Mereka baru saja kenal, pasti memang belum ada sesuatu yang muncul.


"Lo tuh seharusnya bersyukur, Bel, punya abang kayak Bang Jovan, dia perhatian banget sama lo." Ada rasa sedih saat Ella mengucapkan hal itu kepada Abel, dia sedih karena pada nyatanya dia tidak mempunyai kakak apalagi yang perhatian seperti Jovan.


Melihat raut muka sedih yang ditunjukkan Ella, Abel merasa dirinya bersalah. Abel memang mempunyai perasaan yang sensitif. Sekalinya Abel melihat orang sedih, dia pasti merasa dirinya ikut campur dalam kesedihan orang itu. Walaupun sebenarnya Abel sama sekali tidak bersalah.


"Iya, sih. Ya udah, yok, masuk," ajak Abel. Dia tidak mau Ella malah memikirkan hal itu.


Ella mengangguk.


Sebelum mereka jalan Abel mengucapkan sesuatu kepada Ella. Bahwa, Ella dapat menganggap Jovan seperti kakak laki-lakinya sendiri. Dan tanpa mereka sadari, percakapan mereka didengar oleh seseorang yang sedari tadi berada di belakang mereka tanpa mereka ketahui.


*


"Aku bukanlah superman, aku juga bisa nangis, jika kekasih hatiku, pergi meninggalkan AKUUUU~~~" Keya bernyanyi lagu yang dibawakan oleh band yang beranggotakan anak dari salah satu musisi ternama Indonesia.


Keya adalah seorang siswi yang dijuluki sebagai siswi yang paling aktif di kelas. Aktif yang dimaksud bukanlah aktif saat di jam pelajaran, tetapi aktif dalam waktu kosong seperti free class atau waktu istirahat.


Keya lebih sering melakukan konser mini di depan kelas. Keya biasanya menggunakan spidol sebagai mic dan dia akan menyanyikan banyak lagu dalam sekali show. Tidak jarang Keya mengajak temannya untuk berduet bersamanya.


Semua murid kelas X MIPA 7 bersyukur karena mereka satu kelas dengan Keya. Suara Keya layaknya suara penyanyi internasional. Jadi, mereka semua merasa ada penyanyi luar yang konser ketika Keya mulai melakukan aksinya.


"Wah, biduan lagi galau," sahut Ferdi setelah Keya selesai melakukan aksinya.


Murid yang sedang berada di kelas sontak tertawa mendengar sahutan Ferdi. Ferdi memang menyebut Keya sebagai seorang biduan. Keya tidak suka dengan panggilan itu, jadilah saat ini Keya sedang berjalan menghampiri Ferdi yang duduk di pojok belakang kelas.


"Heh! Apa lo bilang? Biduan?" tanya Keya dengan suara membentak.


"Itu, 'kan, panggilan sayang gue ke lo, Biduanku," jawab Ferdi menggoda.


Keya sama sekali tidak tergoda. Ferdi sudah sering mengatakan hal itu sejak SMP. Ya, Keya dan Ferdi satu sekolah sewaktu SMP, maka dari itu mereka terlihat akrab, walaupun dalam arti yang lain.


Para murid yang melihat cara Ferdi menjawab pertanyaan Keya pun tertawa.


"Key, Kak Karel barusan lewat," teriak Fika, teman dekat Keya yang berada di ambang pintu. Keya tadi menyuruh Fika untuk berjaga-jaga di pintu agar ketika Karel lewat, dia tidak melihat aksi gila Keya. Soal Karel, dia adalah 'gebetan' Keya sejak masuk SMA, Karel adalah kakak kelas di ruangan Keya saat PLS. Jadi, Keya bisa mengetahui tentang Karel dan setidaknya Karel tahu kalau Keya satu sekolah dengannya.

__ADS_1


Keya pun langsung berlari ke arah Fika. Fika juga langsung menunjuk arah jalannya Karel. Untungnya Keya masih bisa melihat Karel, walau hanya punggungnya saja. Kalau kata Keya: "Dari belakang aja ganteng, apalagi dari depan."


"Tiba Karel aja lo senangnya kebangetan," ledek Ferdi dengan suara yang cukup kuat. Tetapi sayangnya Keya tidak mendengar ledekan Ferdi.


"Kayaknya kalau Keya sama Ferdi pacaran bakalan hancur," komentar Aneska yang hanya dapat didengar oleh Ella, Grisel, dan juga Abel. Sedari tadi mereka berempat menonton drama kecil itu, mereka juga ikut tertawa tadi.


"Nggak juga, Nes, bisa jadi mereka malah sweet," Grisel menyanggah komentar Aneska.


"Nah iya, menurut cerita yang gue baca, mereka yang awalnya benci jadi suka terus pacaran dan langgeng," tambah Ella.


"Kapan, ya?" tanya Grisel.


"Kapan apanya?" tanya Abel balik.


"Kapan gue punya pacar? Ya kali gue harus pacaran sama orang yang dikenalin ke gue kemarin," jawab Grisel.


"Ha? Jadi, lo dijodohin?" tanya Aneska dengan suara yang lumayan kuat.


***


Ella sudah sampai di bandara, dia langsung memarkirkan mobilnya lalu pergi ke terminal kedatangan domestik.


"Ella," panggil seseorang.


Ella mengenal jelas suara itu, walau sudah hampir tiga bulan tidak ia dengar. Ella pun langsung menghampiri papanya itu.


"Papa," ucap Ella sambil memeluk Hansen.


"Kamu udah makan, Nak?" tanya Hansen.


"Belum, Pa," jawab Ella.


"Nanti kita makan di restoran dekat SMP kamu, ya," ucap Hansen.


Ella menganggukkan kepalanya tanpa tahu kalau kemungkinan besar dia akan bertemu dengan orang itu.


Saat di perjalanan Ella bercerita banyak tentang sekolah barunya. Hansen hanya menanggapi dengan singkat karena fokus menyetir. Awalnya Ella menawarkan diri untuk menyetir tetapi Hansen tidak mau, jadilah sekarang Ella duduk di kursi penumpang.


Ponsel Ella bergetar, Ella pun langsung meraih ponselnya yang ia letakkan di dashboard.


Mama: Ella, nanti kamu ajak papa makan di luar ya, di rumah gak ada makanan, mama juga lagi ada rapat


"Mama, Pa, kita disuruh makan di luar," jawab Ella.


"Oh, Mama lagi ada rapat?" tanya Hansen.


Ella mengangguk. Kemudian dia pun membalas pesan dari ibunya itu.


Ketika sudah sampai di restoran itu, Hansen langsung memarkirkan mobilnya.


Saat sudah sampai di dalam, Ella dan Hansen memilih kursi yang dekat dengan jendela. Itu merupakan salah satu kebiasaan keluarga Ella, duduk di dekat jendela. Menurut mereka, itu adalah posisi yang paling strategis.


"Pa, Ella ke toilet dulu, ya," ucap Ella setelah mereka selesai memesan makanan.


Hansen hanya mengangguk.


Ella tidak lama menghabiskan waktu di toilet, setelah buang air kecil dan mencuci tangannya Ella kembali ke tempat duduk dirinya dan Hansen. Betapa terkejutnya Ella ketika melihat ada seorang laki-laki yang duduk di hadapan papanya. Ella pun buru-buru menghampiri mereka, Ella sangat penasaran dengan orang itu.


Rasanya Ella ingin membuang rasa penasaran yang sempat meyeludupi dirinya itu. Ella baru ingat risiko jika dia makan di sini. Ella juga baru ingat kalau keluarganya pernah mengajak Gavril makan di restoran ini sepulang mereka sekolah.


"Nah, ini dia Ella udah datang, kamu ambil satu kursi dari sana, ya? Papa masih mau ngobrol sama pacarmu ini," ucap Hansen.


Mendengar kata pacar terucap dari mulut papanya itu, Ella langsung menatap tajam ke arah Gavril. Gavril malah menatap Ella balik dengan tatapan yang santai, seperti ucapan Hansen soal pacar adalah benar.


Tidak ingin melawan perintah ayahnya, Ella pun mengambil kursi dari meja yang berada di seberang meja mereka. Ella sebenarnya ingin secepatnya memberitahu Hansen kalau Gavril bukan lagi pacarnya, tetapi melihat papanya sangat asyik mengobrol, Ella memutuskan untuk diam dahulu dan memainkan ponselnya.


"Gavril," panggil seseorang.


Hansen, Ella, dan Gavril pun menoleh ke sumber suara. Ella mencoba mengingat siapa perempuan yang baru datang itu. Dia adalah pacar baru Gavril yang dia lihat di mall.


"Kamu siapanya pacar anak saya?" tanya Hansen.


"Saya sepupunya Gavril, Om. Erlyne," jawab Erlyne.


Tanpa Ella ketahui alasannya, Ella merasakan perasaan lega ketika mengetahui kalau Erlyne hanyalah sepupu Gavril. Mungkin itu efek karena Ella masih menyayangi Gavril, mungkin.


"Oh, Om kira kamu pacarnya Gavril yang lain," ucap Hansen sambil terkekeh pelan.


"Om, saya sama Erlyne balik duluan, ya?" pamit Gavril.

__ADS_1


"Lho? Kok cepat sekali? Kita, 'kan, baru ngobrol, kamu makan dulu aja sama Om dan Ella," ucap Hansen.


"Ya udah, Om," balas Gavril.


"Nah, gitu dong, kita pindah meja aja, ya? Biar mudah makannya," kata Hansen.


Kemudian mereka berempat pun pindah ke tempat duduk yang cocok untuk mereka. Beberapa menit kemudian, makanan mereka pun datang.


Erlyne terlihat gelisah, sedari tadi dia melihat ke arah pintu keluar. Ella yang sadar akan hal itu pun memutuskan bertanya kepada Erlyne.


"Lo kenapa, Lyne?" tanya Ella dengan berbisik.


"Gue udah disuruh pulang sama nyokap, tapi takut nggak dibolehin sama bokap lo," jawab Erlyne yang juga berbisik.


"Pa," Ella mengangkat bicara.


"Iya, kenapa?" tanya Hansen.


"Erlyne udah disuruh sama mamanya pulang, Pa," jawab Ella.


"Kamu dijemput?" tanya Hansen.


Erlyne melirik sebentar ke arah Gavril. Kemudian Erlyne pun menjawab, "Iya, Om."


"Ya sudah, kamu cepat pulang sana, nanti Mama kamu nyariin," ucap Hansen.


Erlyne pun segera pergi, tetapi sebelumnya dia menemui pegawai untuk memberitahu kalau pesanan miliknya dibatalkan.


"Baguslah anak itu udah pulang," ucap Hansen. Ucapan Hansen itu membuat Ella hampir saja tersedak.


"Kenapa, Om?" tanya Gavril.


"Ya, nggak apa-apa, nanti kamu tolong anterin Ella pulang, bisa 'kan?" tanya Hansen.


Gavril melirik Ella sebentar lalu dia mengangguk. Sementara Ella hanya diam, Ella akui, dia masih menyayangi Gavril. Kemudian Gavril pun mengangguk dan meneruskan kegiatan makan siangnya.


***


"Kenapa lo nggak bilang ke papa gue kalau kita udah putus?" tanya Ella di tengah perjalanan. Pertanyaan Ella barusan juga sebagai pembuka pembicaraan mereka setelah berdiam sejak dari restoran sampai sebelum Ella melontarkan pertanyaannya itu.


Gavril tetap fokus dengan kegiatannya. "Emang kenapa? Salah kalau gue nggak ngasih tau?"


"Ya, jelas salahlah. Dengan lo nggak ngasih tau, Papa makin nyuruh kita dekat," jawab Ella.


"Emang kalau kita dekat itu sebuah kesalahan?" tanya Gavril.


Ella terdiam, dia tidak tahu harus menjawab apa. Ella baru ingat, Gavril adalah orang yang paling pandai kalau urusan debat seperti yang baru saja terjadi. Ella merasa malu sendiri karena tidak bisa menjawab pertanyaan Gavril.


"Makanya jangan coba-coba ajak gue debat, skakmat, 'kan, lo?" ledek Gavril.


Ella tidak membalas ledekan Gavril, cukup sekali ia dibuat terdiam oleh Gavril. Ella tidak mau lagi malu di hadapan orang yang sekarang sudah menjadi mantannya. Lebih tepatnya mantan pacar pertama dirinya.


Akibat dari Ella yang hanya diam, beberapa waktu kemudian, mereka tidak saling membuka suara. Ella sudah jelas tidak ingin malu lagi, sementara Gavril, ada hal yang sedang berputar-putar di otaknya.


Salah satunya adalah hal tentang kebohongan yang baru saja dia dan Erlyne lakukan. Erlyne sepupu Gavril, itu hanyalah sebuah kebohongan belaka.


*


Gavril dan Erlyne berencana untuk makan siang di restoran yang berada di dekat sekolah mereka, dan kebetulan restoran itu adalah restoran yang baru saja dimasuki oleh Ella dan juga Hansen. Secara tidak sengaja, mata Gavril menangkap Ella dan Hansen yang duduk di dekat jendela. Setelah berpikir sejenak, sebuah rencana pun muncul di otak Gavril.


"Gav, itu bukannya mantan kamu? Kok dia sama om-om? Pantas aja kamu putusi dia demi aku," ucap Erlyne yang ternyata juga melihat Ella dan juga Hansen.


Tidak tahu kenapa Gavril merasa marah ketika mendengar ucapan Erlyne itu. "Lo kalau ngomong bisa pakai otak, nggak? Masih punya, 'kan? Itu papanya Ella, bukan om-om yang kayak di pikiran najis lo itu."


Erlyne jelas terkejut mendengar ucapan Gavril yang terdengar seperti sebuah kemarahan. Erlyne sebenarnya tahu kalau Gavril belum bisa move on tapi Erlyne tidak mau melepas Gavril begitu saja, apalagi melepas Gavril untuk Ella. "Kok kamu malah ngebentak aku, sih? Ya, 'kan, aku nggak tau."


"Lo boleh sok cantik, tapi lo jangan sok tau," ucap Gavril dengan nada yang sedikit lebih santai dari sebelumnya.


"Gav, aku minta maaf," ucap Erlyne.


Permintaan maaf Erlyne adalah bagian yang Gavril tunggu sejak tadi. Gavril akan menggunakan permintaan maaf itu sebagai jembatan dalam menjalankan rencana dadakannya itu.


"Oke, gue bakalan maafin lo, tapi pakai syarat-" Gavril menghentikan kalimatnya sebentar untuk menunggu jawaban dari Erlyne. Erlyne yang sadar akan hal itu pun mengangguk tanda dia akan mengikuti syarat itu.


"Gue bakalan masuk duluan, nanti lo datang agak lama, terus lo kenalin diri lo sebagai sepupu gue. Oke?" tanya Gavril.


Tanpa menunggu jawaban dari Erlyne, Gavril langsung keluar dari mobil. Tepat dengan Gavril yang keluar, Ella pergi ke toilet.


*

__ADS_1


__ADS_2