Divide

Divide
Gue Suka Lo


__ADS_3

Jovan memarkirkan mobilnya di depan pagar rumah Ella. Jovan sebenarnya sedikit ragu untuk masuk ke rumah Ella, tetapi Jovan harus tetap melakukannya. Kalau tidak, rasa bersalah itu akan terus ada di dalam Jovan.


Sementara Ella yang berada di dalam rumah, sedang mencoba bermain gitar. Dia tidak mau bergantung kepada Jovan ataupun Ryan.


"Susah banget gila," keluh Ella. Karena sudah lelah, dia pun meletakkan gitarnya di sebelah meja belajar. Lalu dia mengambil ponselnya yang ada di meja belajar.


Tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu, Ella pun membukakan pintu. Paling itu adalah ibunya yang ingin menyuruhnya makan siang.


"Iya, Ma, bentar lagi," ucap Ella tanpa melihat orang yang ada di depannya karena dia masih melihat video tutorial bermain gitar di YouTube.


"Ekhem," orang itu berdeham.


Ella sedikit kaget karena dari suara dehaman itu, orang itu bukanlah ibunya. Ella pun mendongakkan kepalanya agar bisa melihat siapa orang itu. Kekagetan di dalam diri Ella semakin bertambah. Ternyata orang itu adalah Jovan.


"Daripada lo lihat YouTube, mending gue ajarin," ucap Jovan.


"Kok lo bisa ada di sini?" tanya Ella.


"Hati gue nyuruh gue buat ada di sini," jawab Jovan.


Rasanya Ella ingin terbang mendengar jawaban Jovan, tetapi dia tidak boleh terpanah hanya karena perkataan yang belum tentu jelas itu. Siapa tahu Jovan sedang bersandiwara atau semacamnya?


"Sok bicara hati lo, Bang," ucap Ella.


"Udahlah, lupain aja. Lo mau gue ajarin, nggak?" tawar Jovan.


Tiga kata pertama yang diucapkan Jovan membuat Ella menghilangkan semua kepercayaan dirinya terhadap Jovan.


"Ya udah," ucap Ella. Ella sebenarnya ingin menolak, tapi mengingat kalau Jovan telah datang ke rumahnya, Ella pun menerima tawaran Jovan. "Tapi, lo harus ngajarin gue dengan ikhlas, jangan terpaksa. Nanti ajaran lo nggak berkah buat gue."


"Iya, iya, cerewet banget lo," ledek Jovan.


Ella pun mengambil gitarnya, kemudian mengajak Jovan ke halaman belakang. Ella takut jika mereka belajar di kamarnya, takut-takut salah satu dari mereka ada yang 'kelepasan'.


"Lo mau langsung main lagu apa gimana?" tanya Jovan.


"Maunya sih langsung lagu, tapi mereka belum tentuin mau lagu apa," jawab Ella.


"Astaga, gue kira soal lagu kalian udah fix. Jadi, gimana, nih?" tanya Jovan. "Gue ajarin basic-nya dulu aja, ya?"


Ella mengangguk. Sebenarnya Ella sangat malas untuk belajar dasar bermain gitar. Ella ingin langsung belajar mengiringi lagu, tapi sayang, lagu untuk kelompoknya belum di tentukan.


"View halaman belakang rumah lo bagus buat dijadiin video, ya," puji Jovan setelah dia selesai mengajari Ella tentang sedikit chord gitar yang paling sering digunakan.


Pujian Jovan bukannya membuat Ella sedikit bangga dengan design rumahnya, tetapi malah membuat Ella teringat akan sesuatu. Tugas dari Miss Asri, yaitu membuat video.


"Astaga, gue baru ingat," ucap Ella tanpa sadar. Ella berharap Jovan tidak mendengar ucapannya karena Ella tidak ingin ditanya-tanyain oleh Jovan.


Tetapi sayangnya, Jovan mendengar ucapan Ella. "Ingat apa lo?"


Dengan terpaksa Ella harus menjawab pertanyaan Jovan. "Tugas Bahasa Inggris, disuruh buat video dan deadline-nya tiga hari lagi."


"Kelompok? Lo satu kelompok sama Abel?" tanya Jovan.


Ella mengangguk. Sebelumnya, Ella sudah menduga kalau Jovan akan bertanya tentang Abel.


"Ya udah, besok kalian kerjain," suruh Jovan. "Kalau butuh bantuan biar gue bantu."


Ella menganggukkan kepalanya.

__ADS_1


*


Aneska memutuskan untuk kembali ke sekolah, dia tidak ingin langsung pulang. Kalau dia pulang, pastilah rumah kosong. Keluarga Aneska memang begitu, semenjak Kenzie sering sekali membuat onar di keluarga, ibu Aneska lebih sering ke rumah nenek Aneska sedangkan ayah Aneska tetap bekerja.


Aneska terkadang merasa harus memperbaiki keluarganya lagi, terutama kakak laki-lakinya itu. Aneska tidak mau mamanya sering menangis karena tingkah Kenzie. Tapi, sampai sekarang Aneska hanya punya satu cara, yang jelas akan menjadikan dirinya sebagai orang yang jahat.


Saat Aneska sampai kelas, sudah tidak ada lagi murid yang berada di dalamnya. Padahal dia baru saja meninggalkan kelas sekitar tiga puluh menit, seharusnya masih ada murid lain yang sedang piket harian.


Aneska pun memutuskan untuk pergi ke warung yang dekat dengan sekolah. Aneska dulu cukup sering pergi ke warung itu bersama dengan orang yang dia sukai. Tetapi sekarang sudah tidak pernah lagi karena Daniel, orang yang disukai oleh Aneska, kelihatannya sudah melupakan Aneska.


"Kamu yang dulu sering ke sini bareng Daniel, ya?" tanya ibu si penjual di warung itu. Ibu penjual itu dulu sering melayani Aneska dan Daniel saat mereka makan di warung itu. Dan nama ibu itu adalah Bu Berta.


Aneska mengangguk sambil tersenyum. Di luar Aneska terlihat senyum, tetapi di dalam, Aneska merasakan sakit saat mendengar nama Daniel. Mungkin ini terlihat berlebihan, tetapi memang seperti itu faktanya.


"Anes pesan nasi goreng sama jus jeruk, ya, Bu," pesan Aneska.


"Oke, ngomong-ngomong, kamu masih satu sekolah sama Daniel?" tanya Bu Berta.


"Masih, Bu," jawab Aneska.


"Oh, kok udah nggak pernah ke sini barengan sama Daniel lagi?" tanya Bu Berta.


"Anes banyak tugas, Bu," jawab Aneska berbohong. Mereka jelas tidak lagi datang ke warung karena hubungan mereka sudah tidak sebaik dan sedekat dulu.


"Eh, itu ada Daniel," ucap Bu Berta sambil menunjuk seseorang yang baru saja turun dari motor.


Aneska pun melihat ke arah yang ditunjukkan oleh Bu Berta. Deg. Aneska merasa jantungnya mendadak berhenti berdetak. Aneska tidak menyangka kalau dia akan bertemu dengan Daniel di warung ini. Di sekolah, Aneska sangat jarang melihat Daniel walaupun letak kelas mereka terbilang dekat.


Aneska ingin pergi dari warung itu, tapi dia tidak enak dengan Bu Berta yang seperti senang dengan kedatangannya. Aneska akhirnya hanya duduk di warung itu, sementara Daniel berjalan mendekat, sepertinya Daniel tidak mengetahui keberadaan Aneska.


"Bu, teh manis dingin sama mie gorengnya satu, ya, Bu," pesan Daniel lalu dia langsung duduk di bangku yang berada di dekatnya.


"Siap, Dan," balas Bu Berta.


"Nes, ini kamu pakai bawang goreng, nggak?" tanya Bu Berta kepada Aneska.


Karena pertanyaan Bu Berta, barulah Daniel menyadari ada orang lain selain dirinya di warung. Daniel pun mendongakkan kepalanya untuk melihat orang itu. Sama seperti Aneska, Daniel juga tidak menyangka akan bertemu dengan Aneska.


"Nggak usah, Bu," jawab Aneska.


"Lo di sini, Nes?" tanya Daniel yang tiba-tiba saja sudah berada di samping Aneska.


Kehadiran Daniel di sampingnya membuat Aneska kaget. Aneska merasa dirinya keringat dingin, entahlah, mungkin itu karena ini adalah kali pertama mereka berdekatan setelah lama tidak berinteraksi.


"Ya, gue di sini," jawab Aneska sedikit gugup.


"Lo lagi ada masalah, ya?" tanya Daniel.


Aneska menggelengkan kepalanya. "Engga, kok."


"Lo nggak bisa bohong ke gue, Nes. Gue tau lo," ucap Daniel.


Aneska terdiam mendengar ucapan Daniel. Daniel memang mengenal Aneska karena mereka sangat dekat selama tiga tahun di SMP, bahkan mereka bisa dibilang bersahabat. Dan itu juga merupakan alasan mengapa Aneska bisa jatuh kepada Daniel.


Seperti orang bilang, jika ada dua orang berbeda gender bersahabat, maka kemungkinan besar salah satu di antara mereka akan ada yang jatuh cinta. Dan mereka berdua sama-sama pernah jatuh cinta. Tetapi hati salah satu dari mereka sudah jatuh ke hati orang lain.


"Udahlah, lupain," ucap Aneska. Untungnya pesanan mereka berdua datang, jadi Aneska tidak perlu lagi menerima pertanyaan aneh dari Daniel dan menjawabnya.


"Kalian sering-sering datang ke sini, ya? Ibu suka lihat kalian bareng," ucap Bu Berta.

__ADS_1


Aneska hanya tersenyum, sementara Daniel membalas ucapan Bu Berta. "Iya, Bu."


Sekitar sepuluh menit kemudian, barulah Aneska menyelesaikan kegiatan makan siangnya itu. Aneska segera membayar makanan dan minumnya itu agar bisa terhindar dari Daniel.


"Kok Aneska buru-buru banget? Kalian nggak pulang bareng?" tanya Bu Berta.


"Engga, Bu, saya harus nganter pacar saya pulang," jawab Daniel.


Daniel punya pacar adalah salah satu hal yang Aneska tidak tahu. Daniel memang menyembunyikan hal itu dari teman-temannya, terutama Aneska. Daniel tidak mau Aneska sakit hati karena kenyataannya dirinya sudah mempunyai pacar. Dan pacar Daniel adalah teman Aneska saat SMP, tetapi mereka tidak terlalu dekat.


"Lah, Anes bukan pacar kamu?" tanya Bu Berta.


Daniel menggeleng. "Bukan, Bu."


"Ibu kira kalian berdua itu pacaran lho, cocok soalnya," ucap Bu Berta.


"Cocok kayak sahabat kali, Bu, bukan cocok kayak pacar," balas Daniel.


*


Aneska melemparkan tasnya ke sembarang tempat di kamarnya, dan tasnya tepat mendarat di tempat tidur miliknya.


"Gila banget sumpah! Kenapa gue bisa ketemu dia coba?" tanya Aneska sambil berteriak. Tidak ada orang di rumah, jadi Aneska bisa teriak sepuasnya.


Aneska pun duduk di kursi belajarnya. Mata Aneska secara sengaja melihat figura foto perpisahan sewaktu dia SMP. Di dalam foto itu, Aneska dan Daniel bersampingan. Aneska ingat, pada waktu itu, Daniel menyuruh dirinya untuk berdiri di samping Daniel.


"Lupain, Nes, lupain." Aneska menyemangati dirinya sendiri untuk melupakan semua momen dengan Daniel, momen sederhana sekalipun. Aneska tidak mau dia semakin menyukai Daniel di saat seharusnya dirinya menganggap Daniel sebagai temannya.


Ponsel Aneska tiba-tiba bergetar, Aneska pun mengambil ponselnya yang ada di saku rok sekolah.


Daniel Nicholas: Lo knp langsung pergi?


Aneska melihat pop-up message yang ternyata berasal dari Daniel. Tanpa berniat untuk membalasnya, Aneska langsung menekan kata close.


"Kenapa lo datang lagi coba?" tanya Aneska kepada ponselnya sendiri. Saat ini Aneska mengakui dirinya terlihat seperti orang yang sudah tidak waras lagi.


Daniel Nicholas: Gue cuma mau mastiin lo baik-baik aja


Aneska melihat pop-up message yang berasal dari Daniel, lagi. Pesan yang baru saja dikirim oleh Daniel terlihat seperti jawaban atas pertanyaan yang baru dilontarkan oleh Aneska.


"Nggak usah sok care lo," ucap Aneska kepada ponselnya, lagi. Aneska menganggap ponsel yang digenggamnya sekarang adalah Daniel.


Daniel Nicholas: Gue masih peduli sama lo, Nes


"Kenapa lo ngejawab pertanyaan gue, sih?" tanya Aneska dengan sedikit berteriak. Dia kesal karena pesan yang dikirimkan oleh Daniel seperti membalas semua yang dia katakan.


"Gue bisa jawab, karena pintu rumah lo gak ke kunci," jawab seseorang dari arah belakang Aneska.


Jantung Aneska serasa menghilang dari tempatnya. Aneska yakin yang dia dengar adalah suara Daniel. Aneska pun segera memutar tubuhnya. Aneska terdiam. Perasaanya sangat campur aduk, rasa malu adalah yang paling mendominasi.


"Gue bukan kayak yang lo bilang, Nes. Gue memang sengaja ngejauh dari lo, karena gue mau move on dari lo," ucap Daniel.


Aneska benar-benar tidak bisa bicara apa-apa. Dia sedang mencerna kata-kata yang baru saja diucapkan oleh Daniel.


"Gue dulu emang suka sama lo, tapi gue nggak mau persahabatan kita putus cuma karena perasaan gue yang gak penting ini. Jadi, gue harap lo ngerti sama gue," lanjut Daniel lalu dia keluar dari kamar Aneska.


Daniel sangat lega karena dia sudah mengeluarkan semua curahan yang ada di hatinya. Selama ini Daniel merasa tidak ada waktu yang tepat.


Aneska hanya diam saja, dia tidak memanggil Daniel ataupun yang lainnya. Dia hanya membiarkan Daniel pergi. Tanpa keinginannya, dia meneteskan air mata.

__ADS_1


"Dia pernah suka sama lo, dan itu sesuatu yang nggak penting," ucap Aneska dalam tangisnya.


***


__ADS_2