
"Kok lama?" tanya Gavril saat Ella baru saja masuk ke mobilnya.
"Tadi ada mama temen aku yang nelpon, jadi hape aku dipake bentar," jawab Ella.
Gavril hanya mengangguk lalu dia menjalankan mobilnya. Ella merasa ada yang aneh dengan pacarnya itu, tidak biasanya Gavril hanya mengangguk. Biasanya Gavril akan bertanya siapa temannya itu dan ada keperluan apa. Akan tetapi, kali ini tidak.
Gavril tidak membawa Ella langsung ke rumahnya. Gavril memutuskan untuk mengajak Ella ke taman kota yang dekat dengan lokasi sekolah Ella. Gavril rasa dia harus segera mengatakan hal itu kepada Ella. Gavril pun memakirkan mobilnya.
Ella sedikit bingung karena Gavril membawanya ke taman kota. "Gav, kita ngapain berhenti di sini?"
"Ada yang mau aku omongin ke kamu," jawab Gavril.
Tidak tahu kenapa Ella merasa kalau apa yang akan diberitahu oleh Gavril adalah sesuatu yang buruk. Ella segera menghilangkan perasaannya itu dan berusaha untuk berpikiran positif.
"Kenapa nggak di sini aja ngomongnya?" tanya Ella.
"Di sini nggak berkesan," jawab Gavril.
Jawaban Gavril membuat Ella semakin penasaran dengan apa yang akan diberitahu oleh Gavril. Tetapi sejujurnya, Ella berharap kalau sesuatu itu adalah sesuatu yang baik. Bukan sesuatu yang buruk seperti yang tadi Ella pikirkan.
"Ayo, El." Gavril keluar dari mobilnya, begitu juga dengan Ella.
Mereka berdua berjalan sampai ke tepi sebuah danau buatan. Ella belum pernah ke danau ini, tetapi Gavril sudah pernah walaupun dia tidak bersekolah di sekolah yang letaknya dekat dengan taman ini.
"Aku nggak tau di sini ada danau," ucap Ella sambil memandangi danau itu.
"Kamu, sih, nggak pernah jalan-jalan. Dasar anak rumahan," ledek Gavril.
Ledekan Gavril membuat Ella semakin menghilangkan pikiran negatifnya terhadap Gavril.
"Emang kamu pernah ke sini?" tanya Ella.
Gavril mengangguk. "Pernah."
"Ih, kamu jahat, nggak ngajak," ucap Ella dengan ekspresi seperti anak kecil yang kesal.
Gavril melihat ekspresi Ella itu. Gavril menjadi tidak tega untuk memberitahu Ella tentang hal itu. Gavril mengutuk dirinya sendiri yang sewaktu itu dengan bodohnya mau menerima tawaran gila itu.
"Kamu kok lihatin aku gitu banget?" tanya Ella ketika menyadari kalau sedaritadi Gavril menatapnya.
Gavril tersadar akan lamunannya. "Engga, kok. Nggak ada apa-apa."
"Yang bilang ada apa-apa siapa? Oh, ya, kamu mau bilang apa tadi?" tanya Ella dengan ceria karena sudah sepenuhnya pikiran negatifnya menghilang.
Rasanya Gavril ingin menangis. Dia benar-benar tidak tega dan tidak kuat untuk memberitahu Ella.
"Kok kamu kayak mau nangis gitu?" tanya Ella. Ella menatap mata Gavril dalam-dalam.
Gavril menoleh ke arah lain. Dia menguatkan dirinya sendiri agar tidak kelihatan sedih di hadapan Ella.
"Aku mau kita putus." Gavril kembali menoleh Ella.
Ella terdiam. Dia berharap Gavril sedang berbohong, tetapi nyatanya tidak. Ella tidak merasa ada kebohongan yang dikeluarkan oleh Gavril. Tanpa Ella sadari, air matanya jatuh begitu saja.
Gavril melihat kejadian itu. Akan tetapi, dia tidak menghapus air mata Ella, Gavril tidak mau Ella beranggapan kalau dia masih menyayangi Ella. Padahal kenyataannya, Gavril memang masih menyayangi Ella. Tawaran gila itu memang gila.
Tidak adanya pergerakan dari Gavril membuat Ella semakin yakin kalau Gavril benar-benar mengatakannya. Gavril benar-benar ingin putus dengan dirinya.
"Kenapa kamu mutusin aku?" tanya Ella. Kali ini dia sudah tidak menangis lagi, Ella tidak mau terlihat lemah di hadapan Gavril.
"Aku udah nggak sayang lagi sama kamu," jawab Gavril. Bohong. Apa yang diucapkan oleh Gavril sepenuhnya adalah sebuah kepalsuan.
__ADS_1
Ella tidak dapat menahan lagi, air matanya jatuh untuk ke sekian kalinya.
"Kamu nggak perlu nangisin cowok berengsek kayak aku," ucap Gavril.
Gavril masih terus menatap Ella. Tanpa Ella ketahui, sedari tadi Gavril menahan dirinya untuk tidak melakukan sikap peduli kepada Ella.
"Aku mau pulang," ucap Ella.
"Ya udah, kita ke mobil terus kamu ambil tas kamu, nanti aku yang nyariin taksi," kata Gavril.
Sakit di hati Ella semakin bertambah. Awalnya, Ella berharap kalau Gavril akan mengantarkannya pulang untuk terakhir kalinya. Tetapi pada akhirnya, Gavril malah berkata seperti tadi.
Saat sampai di parkiran, Ella langsung membuka pintu mobil Gavril lalu mengambil tasnya.
"Gue panggilin taksi ,ya?" tawar Gavril.
Semua udah berubah, batin Ella.
"Nggak usah, l-lo pulang aja sana," tolak Ella.
Ella tidak ingin langsung pulang, maka dari itu dia menolak tawaran Gavril. Ella mengambil ponselnya, dia ingin menanyakan keberadaan ketiga temannya itu sekarang.
Girls (4)
Calluella Raveena: Kalian di mana?
Aneska Deniza: Masih di sekolah
Griselda Florenza: Ribet banget ini formulir gila
Arabella Monica: Lo emng masih di sekolah El?
Aneska Deniza: Lo bareng Gavril kan?
Calluella Raveena: Engga, gue sendiri
Aneska Deniza: Yha sedih gue
Arabella Monica: Cepetan El
Arabella Monica: Gue penasaran sama berita lo
Calluella Raveena: Ok
Ella menyimpan kembali ponsel miliknya di saku roknya. Ella memutuskan untuk berjalan kaki ke sekolahnya. Ella berharap ketiga temannya tidak menyadari kalau dia baru saja menangis.
*
Keadaan kelas kosong saat Ella sampai di sana. Ella melihat ada sebuah kertas yang sepertinya baru ditempel di mading kelas. Dia langsung berjalan mendekati mading kelas.
Kita masih ada urusan sekitar 10 menit lagi. Lo jangan pulang dulu
-Grisel imut, Abel cantik, and Aneska manis
Ella terkekeh pelan saat membaca embel-embel yang ketiga temannya pakai di belakang nama mereka masing-masing.
"Lo semua emang bisa bikin gue senang," ucap Ella tanpa sadar.
Ponsel Ella bergetar, Ella langsung mengambil ponselnya itu. Ella secara tidak sadar menjatuhkan air matanya saat melihat nama orang yang mengirimnya sebuah pesan itu, bahkan dia belum tahu apa isi pesan itu.
Gavril Dean: Botol minum lo ketinggalan
__ADS_1
Gavril Dean: Tapi lo tenang aja, gue udh kasih ke abangnya temen lo
Gavril Dean: Jovan namanya
Ella hanya membaca pesan dari Gavril, Ella tidak berniat untuk membalas pesan Gavril itu. Bahkan Ella tidak peduli dari mana Gavril tahu kalau dia kembali ke sekolah.
Gavril Dean: Tadi gue lihat lo balik ke sekolah
Ella hanya melihat pesan itu dari pop up message tanpa membukanya.
"Tadi ada orang yang ngasih botol minum ini ke gue."
Ella menghapus dengan sigap air matanya sebelum dia menoleh ke belakang untuk mengetahui siapa yang mengucapkan kalimat itu.
Orang itu adalah Jovan. Jovan berjalan mendekati Ella. Jovan melihat kedua bola mata Ella yang warnanya sudah berubah menjadi merah, ia menduga teman adiknya itu baru saja menangis.
"Lo nangis?" tanya Jovan.
Ella menggeleng. "'Makasih udah mau nganterin." Ella mengambil botol minumnya dari tangan Jovan.
"Oh, gue kirain lo abis nangis. Gue mau keluar dulu. Nanti kalau Abel udah siap, lo suruh dia langsung ke koridor, ya," pesan Jovan.
Ella mengangguk. Jovan pun berjalan keluar dari kelas Ella. Sebenarnya Jovan masih ingin di kelas Ella, bukan karena ingin dekat dengan Ella, tetapi karena Jovan ingin merasakan sensasi AC kelas Ella.
Beberapa menit kemudian, ketiga teman Ella datang dengan raut muka berseri-seri. Mereka mengira kalau Ella akan memberitahu mereka tentang sesuatu yang baik, tetapi sayangnya mereka belum tahu.
"Lo mau kasih tau kita soal apa, El?" tanya Grisel.
Ella memandangi temannya satu-satu. Dia tidak yakin dia akan kuat memberitahu mereka tanpa mengeluarkan air mata.
Ella menguatkan dirinya sendiri agar dia tidak terlihat lemah. Ketika sudah cukup kuat, Ella pun memberitahu mereka. "Gue putus sama Gavril."
Satu kalimat yang dilontarkan oleh Ella mampu membuat raut wajah bahagia dari Grisel, Abel, dan Aneska menghilang seketika. Mereka terlihat sangat kaget mendengar hal itu.
"Yang bener aja, El?" tanya Aneska masih tidak percaya dengan ucapan Ella.
Ella mengangguk. Entah kenapa Ella senang karena dia tidak menangis di depan ketiga temannya itu. Setidaknya, Ella masih merasakan kebahagian karena temannya yang perhatian.
"Kenapa coba?" tanya Grisel.
"Kata dia, dia udah nggak sayang lagi sama gue," jawab Ella, ia berusaha sesantai mungkin menjawab pertanyaan dari Grisel.
Abel berpikir sejenak. Menurutnya, alasan Gavril sangat tidak bisa diterima karena semalam Abel melihat bahwa Gavril sangat menyayangi Ella. Abel mengambil kesimpulan itu saat melihat dari cara Gavril menatap Ella.
"Gue rasa itu bukan alasan satu-satunya, El," ucap Aneska.
"Itu yang dia bilang ke gue, Nes. Ya udahlah, kita nggak usah mikirin hal itu lagi. Gue pulang, ya," pamit Ella. Dia langsung keluar dari kelas tanpa menunggu balasan dari teman-temannya itu. Ella takut jika dia terlalu lama ditanyain seperti tadi, dia tidak tahan dan malah menangis.
"Kita harus cari tau apa alasan si Gavril mutusin Ella," ucap Aneska.
"Gue setuju," balas Grisel.
"Gimana kalau kita samperin Gavril aja?" usul Abel.
"Nah iya, besok kita ke sekolahnya Gavril." Grisel setuju dengan usul Abel, begitu juga dengan Aneska, dia menganggukkan kepalanya.
"Jangan sampai Ella tau, kalau Ella tau, kita bakalan dilarang sama dia," pesan Aneska kepada Grisel dan Abel.
Tanpa dipesankan oleh Aneska pun, Grisel dan Abel jelas tidak akan memberitahu Ella. Mereka tidak mau rencana mereka ini gagal.
*
__ADS_1