
Saat ini Ella, Grisel, Abel, dan juga Aneska sedang berada di kantin sekolah. Kabarnya, guru akan rapat selama satu jam sehingga mereka berempat mengambil kesempatan untuk mengobrol di kantin.
Ketika mereka tengah asyik mengobrol, ponsel Aneska bergetar. Aneska pun langsung mengambil ponselnya yang ia letakkan di atas meja kantin. Penyebab ponsel Aneska bergetar adalah pesan dari kakak lelakinya yang tahun ini baru memasuki tingkat dua pada jenjang perguruan tinggi, yaitu Kenzie.
"Siapa, Nes?" tanya Abel.
"Bang Ken," jawab Aneska.
"Lo punya abang, Nes?" tanya Ella.
Aneska menganggukkan kepalanya.
"Wah, enak banget. Gue dari dulu pengin banget punya abang. Tapi, apa daya? Gue anak tunggal." Ella mencurahkan isi hatinya selama ini.
"Nggak tau aja lo kayak gimana kelakuan abang gue," ucap Aneska.
Ucapan Aneska membuat Ella dan Grisel kebingungan. Mereka tidak mengerti maksud dari ucapan Aneska itu. Sementara Abel, ia tidak kebingungan sebab Aneska sudah pernah menceritakan bagaimana kelakuan Kenzie kepada dirinya.
"Emang abang lo kelakukannya kayak apa, Nes?" tanya Grisel penuh dengan rasa penasaran.
"Jadi, abang gue itu punya pacar. Mereka baru pacaran selama dua minggu. Nah, di minggu pertama mereka pacaran, abang gue itu berubah banget." Aneska menghentikan kalimatnya sejenak, bermaksud untuk menghirup udara segara sebelum mengatakan keburukan kakak lelakinya itu. "Bang Ken jadi sering pulang malem dan sering bohong ke orang tua gue. Dan lebih parahnya lagi, Bang Ken merokok."
Sama seperti Abel sewaktu Abel mendengar cerita dari Aneska itu, Ella dan Grisel juga terkejut mendengarnya. Mereka berdua tidak menyangka kakak lelaki Aneska telah terjerumus ke dalam lingkaran yang salah.
"Mama lo tau soal itu?" tanya Ella.
Aneska menganggukkan kepalanya. "Mama gue tau, bahkan mama gue udah nyuruh Bang Ken buat putus sama pacarnya. Tapi, Bang Ken malah ngelawan mama gue. Dia nggak mau putus sama pacarnya."
Ella menggeleng-gelengkan kepalanya. Ella tidak menyangka ada sebuah hubungan yang sangat penuh racun seperti hubungan Kenzie dengan pacarnya. "Lo kenal sama pacarnya, nggak?"
"Jangankan kenal, tau namanya aja gue nggak, El," jawab Aneska. "Untuk pertama kalinya, Bang Ken nutupin identitas pacarnya."
"Eh, sekarang gantian dong," ucap Abel yang tiba-tiba mengeluarkan suaranya setelah beberapa menit menjadi pendengar setia.
"Gantian apaan?" tanya Ella tidak mengerti.
"Sekarang kita interogasi si Ella. Di antara kita berempat yang punya pacar, 'kan, cuma si Ella," jawab Abel.
Perasaan Ella tidak enak. Dia paling tidak nyaman jika ditanya oleh orang lain, apalagi tentang hubungannya dengan Gavril. Akan tetapi, mau tak mau, Ella harus menjawab pertanyaan-pertanyaan yang akan dilontarkan oleh ketiga temannya itu.
"Ide bagus, tuh. Pacar lo namanya siapa, El?" tanya Aneska.
"Gavril," jawab Ella dengan singat, padat, dan amat jelas.
"Dari namanya aja udah cakep," komentar Abel. "Lihat fotonya dong, El."
Ella mengambil ponsel miliknya yang ia simpan di saku rok sekolahnya. Kemudian ia membuka aplikasi galeri dan menunjukkan foto Gavril kepada Abel. Abel mendapat giliran pertama karena melihat foto Gavril adalah permintaannya.
"Tuh, 'kan, benar. Ganteng banget, woy," ucap Abel dengan penuh semangat.
Tanpa berbasa-basi, Aneska langsung mengambil alih ponsel Ella dari tangan Abel. Setelah melihat rupa Gavril, Aneska juga mengeluarkan ekspresi yang sama dengan ekspresi yang telah ditunjukkan oleh Abel. "Ya ampun, ini malaikat apa manusia, sih? El, kita nggak mau tau, pokoknya lo harus kenalin dia ke kita bertiga."
"Mana-mana? Gue belum lihat." Grisel langsung berucap heboh mengingat ia adalah satu-satunya orang yang belum melihat rupa Gavril.
Aneska pun mengarahkan layar ponsel Ella kepada Grisel.
"Dia nggak ganteng sampai kita bertiga lihat dia secara langsung," ucap Grisel setelah melihat rupa Gavril.
"Nah, benar, tuh," timpal Abel.
"Lah, kayaknya tadi ada yang bilang Gavril ganteng banget, deh," sindir Ella. Ella kemudian hening sejenak. Ia sedang memikirkan permintaan teman-temannya itu. Ella sedikit ragu untuk langsung menyetujuinya karena Gavril tidak terlalu suka diperkenalkan kepada orang lain.
"Kok, diam, El?" tanya Aneska. "Kita bertiga pokoknya harus lihat si Gavril. Gue udah lama nggak lihat cogan soalnya."
"Heh, punya gue, tuh," ucap Ella.
"Wah, ada yang marah, tuh," sindir Abel kemudian diikuti dengan dehaman pelan.
*
Gavril memarkirkan mobilnya di depan salah satu ruko yang berada di dekat sekolah Ella. Sebuah bencana sedang menghampiri Gavril, lelaki itu meninggalkan ponselnya di sekolah sehingga ia tidak dapat menghubungi Ella. Dikarenakan ia tidak punya alat komunikasi untuk menghubungi Ella, Gavril pun memutuskan untuk langsung mendatangi kelas Ella.
Dengan tampang penuh akan kepercayaan diri, Gavril memasuki sekolah Ella. Di balik tampang penuh percaya diri itu, Gavril sebenarnya tidak tahu ke mana dia akan berjalan. Jadilah Gavril menghampiri salah satu siswa yang sedang berdiri di dekat koridor.
"Permisi, gue boleh numpang nanya, nggak?" tanya Gavril kepada siswa itu. Gavril langsung menggunakan sapaan universal itu karena ia melihat ada badge penanda kelas sebelas yang tersemat di seragam siswa itu.
Setelah siswa itu menganggukkan kepalanya, Gavril pun langsung melontarkan pertanyaannya. "Kelas sepuluh MIPA tujuh di mana, ya?"
"Oh, itu kelas adik gue." Sang siswa kemudian mengambil ancang-ancang untuk menunjukkan jalan menuju kelas X MIPA 7 kepada Gavril. "Dari sini, lo belok ke kanan. Habis itu, lo terus aja. Kelasnya di paling pojok."
Gavril menganggukkan kepalanya, pertanda ia mengerti pentunjuk yang diberikan oleh siswa itu. "Lo nggak sekalian nyamperin adik lo?"
Siswa itu menggelengkan kepalanya. "Adik gue lagi piket. Jadi, gue disuruh nunggu di sini."
__ADS_1
"Oh, ya udah, gue duluan, ya, Bro," pamit Gavril lalu dia berjalan mengikuti petunjuk yang telah diberitahukan oleh siswa itu.
Setelah sampai di kelas yang ia tuju, Gavril langsung memasuki kelas tersebut. Sadar akan ada orang yang masuk, Ella pun langsung menoleh ke belakang. Senyuman terukir di wajah gadis itu ketika ia mengetahui bahwa yang datang adalah Gavril. Ia pun langsung mendatangi Gavril yang masih berdiri di dekat pintu.
"Kok, kamu nggak bilang mau datang ke sini?" tanya Ella.
"Handphone aku ketinggalan di kelas," jawab Gavril.
Ella tidak kaget mendengar kalimat itu keluar dari mulut Gavril. Sejak dulu, Gavril memang sering meninggalkan ponselnya di kelas. Untungnya, ponsel lelaki itu tidak pernah hilang.
"Kebiasaan, deh. Oh, ya, Gav, kebetulan banget, teman-teman aku mau kenalan sama kamu," ucap Ella. "Kamu mau, 'kan, Gav?"
Raut wajah Gavril sedikit berubah setelah ia mendengar kalimat itu. Hal itu membuat Ella sudah tahu bahwa Gavril akan menolak permintannya itu.
"Ehm, kamu nggak mau, ya?" tanya Ella dengan sedikit berhati-hati.
Gavril kemudian mengembalikan ekspresi awalnya. "Aku mau, kok. Teman-teman kamu sekarang di mana?"
"Lagi ke toilet," jawab Ella. "Kalau kamu mau duduk, duduk aja."
Gavril pun duduk di salah satu kursi yang berada di dekat tempat ia berdiri. "El, pinjam handphone kamu dong."
"Kamu ambil aja di tas aku," ucap Ella.
Gavril kemudian mengambil ponsel Ella yang berada di tas sang pemilik. Kebetulan tas Ella berada di belakang kursi yang tengah ia duduki.
Beberapa menit kemudian, Abel dan Grisel kembali dari toilet. Aneska tidak bersama mereka karena ia sudah dijemput oleh sang kakak tercinta, yaitu Kenzie. Abel dan Grisel sedikit terkejut ketika mereka melihat kehadiran seorang lelaki yang tengah memainkan ponselnya di kelas mereka.
"El, itu Gavril?" tanya Abel dengan suara pelan, seperti sebuah bisikan.
Ella menganggukkan kepalanya.
"Ganteng benaran, gila," ucap Grisel dengan refleks. Tanpa sadar bahwa orang yang tengah ia puji sedang duduk tidak jauh dari tempat ia berdiri.
"Gav," panggil Ella.
"Iya, Sayang," jawab Gavril sambil mengangkat kepalanya agar ia bisa melihat Ella. Ekspresi Gavril sedikit berubah saat ia melihat ada dua gadis lain yang tidak ia kenal.
"Sweet banget, gila. Idaman euy." Abel berbisik kepada Grisel yang berada di sampingnya.
Grisel menganggukkan kepalanya. Ia sangat setuju dengan kata-kata yang dibisikkan Abel kepadanya.
"Eh, ada kalian, kalian temannya Ella, 'kan?" tanya Gavril memastikan seraya beranjak dari tempat duduknya. "Kenalin, gue Gavril, cowoknya Ella."
"Gue Grisel." Grisel menyebutkan namanya seraya tersenyum.
Baru saja Abel memperkenalkan dirinya, ponsel yang ia simpan di sakunya tiba-tiba saja bergetar. Abel pun langsung mengambil ponselnya. Sebuah pesan masuk dari kakak lelakinya yang sedari tadi sudah menunggunya. "Gue balik duluan, ya?" pamit Abel sembari menyimpan ponselnya kembali.
"Lo udah dijemput?" tanya Grisel.
"Gue pulang bareng abang gue, Sel," jawab Abel.
Ella dan Grisel sedikit kaget mendengar jawaban Abel. Mereka tidak tahu bahwa teman mereka itu memiliki kakak laki-laki. Belum sempat Ella dan Grisel bertanya soal kakak lelaki Abel itu, Abel sudah mengambil tasnya dan berjalan keluar kelas.
"Gue baru tau dia punya abang," ucap Grisel kepada Ella.
"Gue juga," balas Ella.
"Lha, kamu nggak tau dia punya abang?" tanya Gavril kepada Ella.
Bukannya menerima anggukan dari Ella, Gavril malah menerima anggukan dari Grisel. Grisel yang sadar bahwa ia tidak seharsunya menjawab pertanyaan Gavril sedikit salah tingkah karena malu.
"Aku tadi lihat abangnya," ucap Gavril.
Ucapan Gavril itu membuat Ella dan Grisel kaget untuk yang kedua kalinya.
"Kok bisa?" tanya Ella.
"Jadi, tadi aku kan nggak tau kelas kamu di mana. Terus, aku tanya ke orang dan ternyata adiknya itu satu kelas sama kamu," jawab Gavril.
Melihat interaksi antara Ella dan Gavril membuat Grisel merasa aneh. Grisel merasa tidak seharusnya ia berada di tengah-tengah pasangan itu. Grisel pun memutuskan untuk pamit kepada Ella dan Gavril.
"Hati-hati, ya, Sel," pesan Ella.
Grisel menganggukkan kepalanya sebelum ia mengambil tasnya dan berjalan keluar kelas.
"Cuma itu teman kamu yang mau kenalan sama aku?" tanya Gavril.
"Sebenarnya ada tiga cuma yang satunya lagi udah pulang duluan," jawab Ella.
"Oh, aku pikir banyak. Tau gini, aku nggak bakal siap-siap dulu tadi," ucap Gavril dengan sengaja. Ia sengaja mengucapkan kata-kata yang dapat membuat Ella marah.
"Oh, jadi, kamu mau tebar pesona sama teman aku makanya kamu pake siap-siap dulu?" tanya Ella dengan nada yang terdengar seperti orang marah padahal ia tidak marah.
__ADS_1
Gavril tersenyum, dia merasa puas karena telah berhasil menjahili pacar satu-satunya itu. "Engga, Sayang, aku cuma bercanda tadi."
"Bodo amat, gue mau pulang," ucap Ella sembari mengambil tasnya lalu berjalan keluar kelas, meningggalkan Gavril yang masih tetap di posisinya. Ada satu hal yang terlupakan oleh Ella, ia lupa mengambil ponselnya yang masih berada di tangan Gavril.
Gavril pun berjalan dengan santai menuju tempat ia memarkirkan mobilnya. Gavril sangat yakin Ella pasti tidak akan pulang duluan. Gavril sangat yakin karena benda berharga milik gadis itu ada di genggamannya.
"Handphone aku mana?" tanya Ella sambil menyodorkan tangannya tanda menyuruh Gavril untuk menyerahkan ponselnya.
"Masuk dulu baru aku kasih," pinta Gavril lalu dia langsung masuk ke dalam mobilnya.
Tepat saat Gavril menutup pintunya, pintu lain terbuka tanda Ella akan masuk.
"Mana?" tagih Ella lagi.
Gavril tidak mengembalikan ponsel Ella, ia malah terus menatap Ella. Tatapan Gavril itu berhasil membuat Ella sedikit salah tingkah.
"Handphone aku, Gavril Dean," ucap Ella.
Gavril lagi-lagi tidak mengembalikan ponsel Ella. Kini lelaki itu malah menghidupkan mesin mobil lalu menjalankannya. Ella pun mengembuskan napas dengan kasar, tentu itu untuk memberitahu Gavril kalau dirinya sedang kesal. Namun, Gavril tidak menghiraukan Ella, ia tetap mengendarai fokus mengendarai ponselnya.
"Kamu mau handphone kamu balik?" tanya Gavril setelah mobilnya sudah berhenti di depan rumah Ella. Niatnya untuk membawa Ella jalan-jalan sebentar dengan terpaksa harus ia batalkan karena dirinya baru ingat akan sesuatu yang sangat penting.
"Bodo amat, bawa pulang aja sana." Jawaban Ella sangat tidak cocok untuk menjadi jawaban atas pertanyaan Gavril.
Gavril menganggukkan kepalanya lalu ia mematikan mesin mobilnya. Lalu tanpa mengucapkan sepatah atau dua patah kata, Gavril langsung keluar dari mobilnya. Hal itu membuat Ella bingung karena seharusnya dialah yang keluar dari mobil Gavril. Ella terus memperhatikan pergerakan Gavril dari dalam mobil Gavril. Gavril berjalan menuju rumahnya dan terlihat ibunya membukakan pintu untuk Gavril.
Sarah, ibu Ella, mempersilakan Gavril masuk. Ella mulai merasakan sesuatu yang aneh. Ia pun segera keluar dari mobil Gavril dan berjalan memasuki rumahnya. Ella tidak melihat Gavril di ruang tamu, itu pertanda bahwa Gavril berada di halaman belakang. Ella mengetahui hal itu karena halaman belakang adalah tempat favorit Gavril jika sedang berkunjung ke rumah Ella.
Saat Ella melewati dapur, dia melihat Sarah sedang menyiapkan sesuatu. Ella pun menghampiri ibunya itu. Setelah jarak Ella dengan ibunya semakin dekat, barulah Ella tahu bahwa ibunya sedang menyiapkan minuman dan sudah pasti minuman itu adalah minuman untuk Gavril.
"Ma, itu minuman buat Gavril?" tanya Ella memastikan.
Sarah mengangguk.
Tanpa direncanakan sebelumnya, tiba-tiba ada sedikit ide yang muncul di otak Ella. "Ella yang nganter, ya, Ma?" tawar Ella.
Sarah mengangguk. "Ya udah, kamu yang nganter. Mama ke kamar dulu, ya?" Kemudian Sarah berjalan menjauhi Ella yang akan melakukan sebuah eksperimen jadi-jadian.
Ella melirik gelas yang sudah berisi lemon tea itu. Ella kemudian mengambil garam lalu memasukkannya ke dalam minuman Gavril. "Makanya kalau jadi pacar jangan usil." Ella berucap seraya mengaduk lemon tea itu agar garamnya larut.
Setelah Ella merasa semuany sudah selesai, ia pun menghampiri Gavril yang berada di halaman belakang.
Sadar akan ada seseorang yang datang, Gavril pun menoleh ke arah pintu. Dia mendapati Ella yang sedang membawa nampan yang di atasnya terdapat segelas minuman yang bisa Gavril tebak itu adalah minuman untuknya.
"Pacar aku baik banget, sih," puji Gavril sambil beranjak dari tempat duduknya lalu menghampiri Ella yang masih terdiam di depan pintu.
Ella pun tersenyum. "Iya dong, nih kamu minum."
Gavril mengambil gelas itu dari nampan lalu meminumnya. Melihat reaksi Gavril yang biasa saja membuat Ella sedikit bingung. Seharusnya Gavril memuntahkan minuman itu karena pahit, tetapi nyatanya tidak.
Ella masih menunggu reaksi Gavril sampai Gavril selesai meminumnya, tetapi sama saja, Gavril tetap biasa.
"Kok lemon tea-nya manis banget, El?" tanya Gavril.
Ella menepuk dahinya, itu berarti dia tadi salah memasukkan 'ramuan'. Pantas saja Gavril tidak mengeluarkan rekasi yang aneh.
"Manis banget, ya?" tanya Ella.
Gavril mengangguk. "Mungkin karena aku minum di depan kamu kali, ya?"
"Apaan, sih? Gombal," ucap Ella. Tiba-tiba Ella mengingat sesuatu yang seharusnya sejak tadi berada di tangannya. Ya, yang diingat Ella adalah ponselnya. "Handphone aku mana?"
"Di mobil aku," jawab Gavril.
"Ambil!" perintah Ella dengan sedikit sangar.
Bukannya membuat Gavril sedikit takut, hal itu malah membuat Gavril terkekeh pelan. Menurutnya, Ella sangat lucu jika bertingkah seperti tadi.
"Ambil Gavril, aku mau nge-LINE selingkuhan aku," ucap Ella.
Seharusnya Gavril cemburu mendengar hal itu, tetapi lagi-lagi Gavril dibuat terkekeh oleh Ella. Ella sendiri bingung mengapa Gavril malah memberikan reaksi yang bertolakbelakang dengan reaksi yang diharapkan oleh Ella.
"Gav, aku serius." Kali ini Ella memasang wajah memelas, wajah sangar yang dia tunjukkan tadi luntur begitu saja.
Tanpa membalas ucapan Ella, Gavril berjalan menuju mobilnya untuk mengambil ponsel Ella dan memberikannya kepada pemiliknya. Gavril sebenarnya masih ingin menjahili pacarnya itu, tetapi dia tidak tega jika terlalu lama.
Ella memutuskan untuk mengikuti langkah Gavril, dia tidak ingin Gavril malah membawa ponselnya pulang.
Ella menunggu di teras rumah sementara Gavril masih berada di dalam mobil. Ella yakin Gavril pasti sedang mencari ponsel Ella yang lupa Gavril letak di mana.
Sekitar lima menit kemudian, Gavril kembali lalu memberikan ponsel Ella.
Gavril tiba-tiba saja langsung memeluk Ella. Ella terkesiap, ia sedikit kaget. Ia dan Gavril belum pernah saling berpelukan. Alasannya adalah karena Ella tidak terbiasa akan hal itu. Akan tetapi, Ella tidak tahu kenapa saat ini dia malah membalas pelukan Gavril.
__ADS_1
"Aku sayang kamu, El," ucap Gavril sambil membalas pelukan mereka. Lalu tanpa menunggu balasan Ella, Gavril pergi begitu saja tanpa pamit.
***