Divide

Divide
Move On


__ADS_3

Ella sedang tidak ada kerjaan saat ini. Ia baru saja mencuci piring dan beberapa peralatan makan lainnya. Itu adalah pekerjaan rutin Ella setiap sore, Ella sendiri yang menawarkan dirinya untuk melakukan pekerjaan itu. Ella tidak mau dicap sebagai anak pemalas oleh orangtuanya sendiri.


Guna menghilangkan kebosanannya, Ella menghidupkan ponselnya dan membuka aplikasi LINE. Grupnya bersama Grisel, Abel, dan Aneska berada di posisi teratas dalam room chat Ella, sementara di bagian bawah kebanyakan broadcast dari akun resmi.


Girls (4)


Aneska Deniza: Ehm, ada yang mau ultah


Griselda Florenza: ^2


Arabella Monica: Kado jgn lupa


Calluella Raveena: Aman, asal ada pu


Griselda Florenza: ^2


Arabella Monica: Besok deh besok


Aneska Florenza: Lo gak ngerayain bareng keluarga?


Arabella Monica: Kata mama gue, makan aja dulu bareng temen, besoknya bareng keluarga


Ella memutuskan tidak ikut lagi mengobrol dengan mereka, dia sangat ngantuk. Kalau saja Ella tadi tidak membaca grup, mungkin dia lupa besok adalah hari ulang tahun Abel.


Saat Ella baru mau menutupkan matanya. Tiba-tiba dia mendengar suara teriakan ibunya memanggil namanya. Ella pun segera keluar dari kamar dan menghampiri ibunya, Ella sedikit khawatir karena jarang-jarang ibunya memanggilnya saat malam hari.


Ella mendapati ibunya sedang duduk di halaman belakang. Jarang sekali Sarah duduk di kursi halaman belakang.


"Ada apa, Ma?" tanya Ella, "Kok tumben Mama di sini?" Kemudian dia duduk di kursi sebelah ibunya.


"Mama lagi gabut," jawab Sarah.


Ella sedikit bingung dengan jawaban ibunya, bukan karena Ella tidak tahu apa arti gabut, tapi karena yang memakai kata itu adalah ibunya.


"Emang di sinetron baru Mama ada kata gabut?" tanya Ella.


"Ada dong," jawab Sarah, "Oh ya, Papa kamu lusa pulang."


Untuk sekadar informasi, ayah Ella yang bernama Hansen, bekerja di luar kota. Hansen hanya pulang satu kali dalam tiga bulan.


"Yang jemput Papa Ella aja, ya, Ma?" tawar Ella.


"Ya udah, lusa kamu bawa mobil ke sekolah, biar dari sekolah kamu langsung ke bandara," ucap Sarah.


*


"Kita nggak buat surprise gitu?" tanya Grisel.


Aneska menggeleng. "Bulan tua, Sel. Lagian Abel nggak suka gituan katanya."


Ella baru saja datang saat Grisel dan Aneska sedang membicarakan Abel. Ella langsung duduk di kursi sebelah Grisel.


"Kalian bicara apa?" tanya Ella.


"Bicara tentang-" Aneska menghentikan kalimatnya saat melihat Abel baru saja memasuki kelas. "Happy birthday, Abel!"


Aneska pun memeluk Abel, begitu juga Ella dan Grisel. Sementara murid kelas X MIPA 7 yang mendengar kabar kalau Abel ulang tahun memberikan selamat sambil menjabat tangan Abel. Mereka baru tahu kalau Abel ulang tahun hari ini, maklum, mereka belum sebulan kenal.


"'Makasih semua," ucap Abel dengan tersenyum.


Beberapa menit kemudian, Miss Asri, guru Bahasa Inggris mereka masuk. Sebagian murid tidak suka dengan Miss Asri karena kabar dari kakak kelas, Miss Asri sangat suka memberi tugas yang lumayan berat.


"Good morning, class!" sapa Miss Asri.


"Good morning, Miss!" jawab semua murid kelas X MIPA 7.


"Jadi, saya langsung saja, ya? Saya akan memberi kalian tugas," ucap Miss Asri.

__ADS_1


Sebagian murid bersorak tidak menyetujui adanya tugas, karena dalam ekspektasi mereka, tugas yang diberikan akan sulit.


Miss Asri mendiamkan kelasnya yang gaduh. "Tenang, tugasnya gampang, kok. Kalian akan terdiri dari beberapa kelompok isinya empat orang, dan saya membebaskan kalian untuk memilih teman satu kelompok."


Beberapa murid yang tadinya bersorak sedikit lega.


"Nah, tugasnya adalah kalian harus memerankan dialog yang saya kasih dan harus divideokan, serta harus kalian edit sebagus mungkin," ucap Miss Asri.


"Miss, harus divideokan? Nggak bisa live?" tanya Revan, siswa yang duduk di seberang kursi Ella.


"Live lo kira IG," sahut Ferdi.


Beberapa murid tertawa mendengar sahutan Ferdi. Selama tiga minggu ini, Ferdi dikenal sebagai pelawak di kelas X MIPA 7, walau terkadang lelucon yang dikeluarkan Ferdi sedikit garing.


"Oh, kalau itu tidak bisa," jawab Miss Asri.


Kemudian Miss Asri menyuruh mereka untuk menuliskan anggota kelompok lalu mengumpulkannya.


"Eh, by the way, video kita siapa yang edit?" tanya Ella. Jujur saja, Ella tidak pandai dalam hal seperti itu. Dulu Ella sempat ingin menjadi seorang Youtuber, tetapi dia menjauhkan keinginannya itu karena dia tidak pandai mengedit video.


"Bang Jovan bisa, El," jawab Abel.


"Nggak ngerepotin, Bel?" tanya Ella.


Abel menggeleng. "Engga, dia tuh kalau urusan gue paling cepet."


"Enak, ya, punya abang kayak Bang Jovan, lah ini gue? Punya kakak cerewetnya ngalahin mama gue," kata Grisel. Perkataan Grisel lebih mirip ke curahan hatinya.


Aneska semakin menguatkan tekadnya untuk menjaga Ella agar tidak berpacaran.


*


"Kita tunggu Bang Jovan, ya? Dia juga ikut," ucap Abel.


Salah satu hati dari mereka senang mendengar ucapan Abel. Jovan juga ikut.


"Iya, Abang bawa mobil, Nes," jawab Jovan yang tiba-tiba saja sudah ada di dalam kelas.


"Ya udah, ayo," ajak Abel.


Lalu mereka semua pun berjalan menuju parkiran kemudian pergi ke salah satu mal  yang lokasinya tidak terlalu jauh dari sekolah mereka.


Abel memutuskan untuk makan di tempat makan favoritnya. Awalnya, hati Ella senang, tetapi ketika dia menginjakkan kakinya di tempat makan favorit Abel, akhirnya hati Ella sedih karena mengingat kenangan saat bersama Gavril.


Jovan memutuskan untuk pisah meja dengan empat sekawan itu. Jovan tidak ingin mengganggu keseruan mereka berempat.


"Bel, gimana kabar lo sama si Evan?" tanya Aneska.


"Pst, diem, Nes," ucap Abel dengan refleks menendang kaki Aneska.


Aneska merasa kesakitan lalu dia mengusap kakinya yang ditendang oleh Abel. Abel menyuruh Aneska diam karena dia tidak ingin Jovan mengetahui hubungannya dengan Evan.


Kalau Jovan tahu soal hubungan Abel dengan Evan, maka Abel dan Evan tidak bisa dekat lagi. Jovan sangat tidak ingin jika adiknya itu di kemudian hari menangis karena seseorang yang tidak pantas untuk ditangisi.


Evan adalah teman dekat Abel di dunia maya. Mereka berdua kenal karena mereka satu grup. Mereka berdua jadi dekat karena mereka sering diledekin dan dituduh pacaran. Hal itu membuat Abel dan Evan menjadi dekat.


Hanya itu yang Ella, Grisel, dan Aneska tahu. Abel hanya bercerita sedikit tentang Evan.


"Ada abang gue, gila lo," ucap Abel.


"Emangnya Bang Jovan nggak bolehin lo deket sama cowok, Bel?" tanya Grisel.


Abel menggelengkan kepalanya.


"Kenapa?" tanya Grisel lagi.


"Katanya gue fokus sekolah aja dulu, terus dia nggak mau gue sakit hati apalagi nangis karena cowok," jawab Abel.

__ADS_1


"Gila, sama adiknya aja gitu, gimana sama pacarnya?" tanya Ella. Ella tersadar, dia tidak seharusnya bertanya seperti itu, bisa-bisa mereka mengira Ella menyukai Jovan.


"Entahlah, gue nggak tau," jawab Abel.


"Abang lo udah pernah pacaran, Bel?" tanya Grisel.


"Gue nggak tau, hidup dia itu flat banget, gue sama sekali nggak pernah denger kalau dia pacaran," jawab Abel.


"Sayang banget Abang lo nggak pernah pacaran, padahal dia ganteng lho," ucap Ella tanpa sadar.


Aneska mulai mencium sesuatu yang seharusnya tidak dibicarakan, apalagi dibicarakan oleh Ella. Aneska pun memutuskan untuk mengalihkan pembicaraan. "Oh iya, El, lo udah move on dari Gavril?"


Ella antara lega dan sedih. Lega karena tidak ada yang sadar akan maksud dari ucapan dirinya dan sedih karena Aneska mengangkat pembicaraan soal Gavril.


"Gue belum bisa move on," jawab Ella jujur. Sangat jujur. Tetapi sebenarnya ada tujuan lain Ella menjawab kalau dia belum move on dari Gavril. Mungkin kalian sudah tahu apa itu.


"El, pokoknya lo harus cepet-cepet move on dari Gavril, kita nggak mau tau," ucap Grisel.


"Iya, El," tambah Aneska.


Beberapa menit kemudian, setelah mereka semua selesai makan, Jovan menghampiri meja empat sekawan itu. Jovan berniat memberitahu kalau orangtua mereka juga berada di mal  yang sama dan meminta Abel untuk menghampiri mereka.


"Bel, kamu temui Mama sana," suruh Jovan.


"Emang Mama di mana?" tanya Abel.


"Starbucks," jawab Jovan.


"Oh, Abang nanti anterin mereka pulang, ya," pesan Abel lalu dia pergi meninggalkan Jovan bersama ketiga temannya.


"Nes, lo dijemput sama Bang Kenzie, 'kan?" tanya Jovan.


Aneska mengangguk. Dia memang dijemput oleh Kenzie karena kebetulan Kenzie sedang berada di kafe dekat mall ini.


"Kalian berdua? Duh, gue lupa lagi nama lo," tanya Jovan.


"Aku Grisel, Bang," jawab Grisel.


"Nah, iya, Grisella."


"Nggak ada 'la'nya, Bang," koreksi Grisel.


Jovan terkekeh kecil menyadari kesalahannya sendiri. "Ya, ya, Grisel pulang bareng siapa?"


"Aku pulang bareng kakak, Bang, bentar lagi sampai," jawab Grisel.


"Kalau lo?" tanya Jovan kepada Ella.


"Aku Ella, kalau Abang lupa," ucap Ella.


"Lo pulang bareng siapa?" tanya Jovan.


"Naik angkot, Bang, kebetulan dari sini ada lewat," jawab Ella.


Jovan hanya mengangguk. "Oke, berarti lo semua bisa pulang sendiri, 'kan? Ya udah, gue mau samperin Abel dulu."


Jovan pun pergi dari hadapan mereka. Sebenarnya, saat Ella menjawab kalau dia pulang naik angkutan kota, Aneska menduga kalau Jovan akan menawarkan tumpangan. Tetapi untunglah tidak.


"El, Gris, gue balik duluan ya," pamit Aneska.


"Lo mau langsung pulang apa gimana, El? Kayaknya kakak gue naik mobil, kalau lo mau bareng, ayo," tanya Grisel.


Ella berpikir sejenak, sebenarnya dia tidak ingin langsung pulang. Dia masih ingin berjalan-jalan di mal ini. "Nggak usah deh, gue males pulang."


"Oh, ya udah, gue balik ya," pamit Grisel lalu dia pergi meninggalkan Ella sendiri.


***

__ADS_1


__ADS_2