
Sepulang sekolah seperti sekarang, seharusnya Ella dan Abel berada di aula untuk mengikuti pertemuan literasi, tetapi mereka berdua sedang malas. Jadilah sekarang mereka berada di kelas bersama dengan Keya. Keya berada di kelas karena pukul dua nanti dia akan mengikuti ekstrakulikuler yaitu paduan suara.
"Lo berdua nggak ke aula?" tanya Keya.
Ella menggeleng. "Gue lagi males dan bukunya ketinggalan."
"Sama, buku gue juga ketinggalan," sambung Abel. Abel memang sengaja meninggalkan bukunya karena dia tidak niat untuk mengikuti kegiatan literasi hari ini.
"Paling juga lo berdua sengaja," sindir Keya.
"Lo kalau ngomong suka bener, Key," ucap Abel membenarkan sindiran Keya.
"Gue mau beli jajan di luar, lo berdua mau ikut?" tawar Keya.
Ella dan Abel sama-sama menggeleng. Sebenarnya mereka berdua juga lapar, tetapi mengingat kalau mereka bolos, Ella dan Abel terpaksa harus menolak tawaran dari Keya.
"Kita takut ketemu pengurus, Key," ucap Abel.
Keya mengangguk, dia mengerti keadaan kedua temannya yang sedang bolos itu. Dulu sewaktu SMP hal seperti yang dilakukan oleh Ella dan Abel adalah tradisi Keya. Tetapi sejak dia memasuki jenjang sekolah menengah atas sekarang, dia meninggalkan tradisi itu.
"Oh, ya udah, gue pergi dulu, ya," pamit Keya.
"Eh, tapi gue laper sumpah," keluh Abel kepada Ella.
Saat Ella ingin membalas keluhan Abel dengan keluhan versinya sendiri, tiba-tiba Jovan dan Ryan masuk ke kelas mereka. Jovan dan Ryan juga bolos sama seperti mereka.
"Abang bolos juga?" tanya Abel.
"Iya, Abang lagi males." Jika kalian berpikir yang mejawab itu adalah Jovan, kalian salah, yang menjawab itu adalah Ryan.
"Yang ditanya siapa yang jawab siapa," sindir Ella.
Ryan jelas langsung merasa tersindir. "Bocah diam aja."
"Iya, Bel, Abang mau ke rumah Ryan," jawab Jovan.
"Bang, aku sama Ella boleh ikut, nggak?" tanya Abel.
Jovan mengangguk. Kemudian mereka berempat pun keluar dari kelas X MIPA 7 dan berjalan ke parkiran. Mereka memutuskan untuk tidak melewati gerbang depan karena jujur saja mereka sedikit takut bertemu dengan pengurus, jadi mereka melewati gerbang belakang yang sangat sepi. Gerbang belakang sepi karena lokasinya jauh dari parkiran motor ataupun mobil.
*
"Eh, gue baru inget, di rumah gue gak ada makanan, ortu lagi keluar kota," ucap Ryan.
Hanya Ella yang mengetahui hal itu karena saat acara di rumah Ella, orangtua Ryan datang dan menitipkan Ryan kepada ibunya.
"Jadi, gimana? Kita beli makan di luar aja?" tanya Jovan.
"Eh, nggak usah, kita makan di rumah gue aja," jawab Ella yang menolak soal makan di luar itu. Ella berkata kalau mereka makan di rumahnya karena kebetulan tadi pagi Mama Ella sedang rajin, jadi beliau memasak banyak makanan.
"Yakin, nih? Nggak ngerepotin, 'kan, El?" tanya Abel.
Ella menggeleng. "Engga, kok, kalian tenang aja."
"Oke, jadi ini kita ke rumah Ella dulu, 'kan? Terus ke rumah Ryan?" tanya Jovan.
Ryan yang berada di kursi penumpang di samping Jovan pun mengangguk. Jovan segera menghidupkan mesin mobilnya lalu mengendarai mobilnya menuju rumah Ella.
Saat mereka sampai di luar rumah Ella, kelihatan kalau rumah Ella kosong. Tidak ada mobil yang terparkir di halaman rumah Ella, itu berarti kedua orangtuanya sedang pergi.
Saat hendak mengetuk pintu, Ella menerima pesan dari ibunya.
Mama: El, makanan kamu sama yang lain udah mama siapin di meja makan
Mama: Mama sama papa lagi ada urusan keluar
Setelah membaca pesan dari mamanya itu, Ella pun membalasnya. Tapi, ada sesuatu yang membuat Ella sedikit bingung, ibunya bilang kalau beliau sudah menyiapkan makanan untuk yang lainnya. Artinya, Sarah sudah tahu kalau Ella akan membawa teman ke rumah.
"Mama lo ada di dalam, El?" tanya Abel.
"Nggak ada, tapi bentar biar gue bukain pintu," jawab Ella lalu dia membuka tasnya untuk mengambil kunci rumah cadangan yang memang diberikan untuknya. Setelah mendapat kunci itu, Ella segera membuka pintu.
Mereka berempat langsung menuju meja makan dan memang benar semuanya telah disiapkan.
"Mama lo udah tau kita bakalan ke sini?" tanya Jovan yang ternyata juga bingung karena makanan sudah tersedia padahal sedang tidak ada orang.
__ADS_1
Ella menggeleng, lalu kedua matanya melihat Ryan yang sudah langsung duduk di kursi meja makan. "Hmm, tau nih gue. Lo, 'kan, Bang?"
"Iya emang gue, terus kenapa? Yang penting, 'kan, kita makan," jawab Ryan. "Ayo, Bel, Jo, kalian duduk. Ambil aja makanannya, jangan malu-malu."
Ella sedikit kesal karena dia seperti tidak dianggap oleh Ryan terlebih di rumah milik orangtuanya sendiri. "Anak pemilik rumah siapa yang jadi tuan siapa."
"Ah, hidup lo nggak asik, El, kerjanya nyindir gue mulu," ucap Ryan dengan mulut yang penuh dengan makanan. Entah kenapa Ryan masih bisa mengucapkan kata yang jelas dengan mulut yang penuh makanan seperti itu.
Ella pun duduk di kursi seperti yang terlebih dahulu dilakukan oleh Ryan, Abel, dan Jovan. "Untung aja lo abang kelas gue."
"Sial aja lo adik kelas gue," balas Ryan yang membuat kekesalan Ella semakin bertambah.
Ingin rasanya Ella melempar sesuatu tetapi mengingat sedang makan serta ada Abel dan Jovan, Ella menghilangkan niat yang diakuinya memang buruk itu.
Lima belas menit kemudian barulah mereka selesai makan. Ella memutuskan untuk ganti baju terlebih dahulu sebelum ikut ke rumah Ryan.
Dikarenakan jarak yang dekat, mereka berempat jalan kaki ke rumah Ryan. Hanya Ryan yang merasa tersiksa karena harus membawa tas, sementara Ella, Abel, dam Jovan tidak.
Di rumah Ryan sudah jelas tidak ada orang. Ryan melakukan hal yang sama dengan Ella tadi, yaitu mengambil kunci rumahnya lalu membuka pintu.
Ella dan Abel baru pertama kali masuk ke dalam rumah Ryan. Sementara Jovan, dia jelas sudah sering ke rumah Ryan untuk sekadar melepas bosan setelah pulang sekolah dan tak jarang Jovan menginap di rumah Ryan.
"Bang, yang menarik buat cewek yang mana?" tanya Ella sambil melihat-lihat benda-benda yang ada di ruangan yang disebut keluarga Ryan adalah ruang koleksi. Banyak barang yang beranekaragam di ruang koleksi ini.
"Lo coba masuk ke pintu itu," suruh Ryan sambil menunjuk sebuah pintu yang berada di dekat Ella dan Abel berdiri.
Abel yang lebih dekat dengan pintu itu pun membukanya. Abel terpukau melihat benda-benda yang ada di dalam ruangan itu. Banyak sekali barang-barang yang berhubungan dengan perempuan.
"Ini semua punya siapa?" tanya Abel.
"Punya kakak gue," jawab Ryan.
"Lho, lo punya kakak, Bang?" tanya Ella yang selama ini tidak tahu kalau Ryan punya kakak perempuan.
"Punyalah, udah lo berdua lihat-lihat aja, tapi jangan ada yang rusak," jawab Ryan sekalian memberi pesan kepada Ella dan juga Abel agar tidak merusak barang yang ada di tempat itu.
"Wah, banyak banget, Bel," ucap Ella sambil melihat-lihat koleksi kakak perempuan Ryan. Kebanyakan barang-barang koleksi milik kakak Ryan adalah baju, sepatu, tas, dan topi, serta beberapa barang yang bertemakan warna merah muda seperti warna kesukaan para wanita pada umumnya.
"Sa-fi-ra Ra-is-sa," Abel membaca nama itu di pintu yang terletak berseberangan dengan pintu masuk mereka tadi. Abel mengambil kesimpulan kalau nama kakak perempuan Ryan adalah Safira dan pintu itu adalah pintu menuju kamar Safira.
"Itu siapa, Bel?" tanya Ella.
Beberapa menit kemudian mereka berdua keluar dari ruangan yang sekarang mereka sudah ketahui milik siapa. Mereka berdua langsung kembali ke ruang tamu karena di ruang koleksi yang pertama kali mereka masuki sudah tidak ada orangnya lagi. Di ruang tamu, Ella dan Abel juga tidak menemui Jovan dan Ryan.
"Mereka di mana ya, El?" tanya Abel.
"Ya mana gue tau, perasaan besar rumah ini sama rumah gue sama deh, tapi kok ruangannya banyak banget, bingung gue." jawab Ella.
"Di sini ada ruang musik gak ya? Siapa tahu mereka di situ," tanya Abel.
Ella berpikir sejenak, Ryan suka sekali memainkan beberapa instrumen, itu berarti tidak menutup kemungkinan kalau rumah ini memiliki ruang musik. Kemudian Ella pun mengangguk. "Tapi gue nggak tau di mana, coba bentar kayaknya tadi gue ada lihat denah rumah."
Ella berjalan ke sebuah rak yang terletak di samping pintu masuk rumah Ryan dan benar saja di situ terdapat denah rumah Ryan. Saat melihat denah itu, Ella tidak menyangka kalau banyak sekali ruang di rumah ini, termasuk yang di bawah tanah.
Abel sangat penasaran, dia pun berjalan ke arah Ella yang masih diam di tempat dengan melihat selembar kertas yang Abel duga adalah denah. Dan setelah Abel melihatnya, itu benar-benar denah. "Gila, ini rumah apa kantor? Banyak banget ruangannya."
"Gue juga bingung, Bel, ya udah, kita ke ruang musik aja , letaknya di ruang bawah tanah," ajak Ella. Menurut denah itu, tangga menuju ruang bawah tanah berada di halaman belakang yang dekat dengan kolam renang. Jika di rumah Ella terdapat kolam ikan, rumah Ryan terdapat kolam renang.
Mereka berdua pun berjalan ke halaman belakang dan benar saja ada tangga di dekat kolam renang. Kemudian mereka berdua berjalan ke arah tangga itu lalu masuk ke sebuah ruangan yang memiliki nama 'Ruang Musik'.
Jovan dan Ryan yang sedang asyik bermain alat musik itu pun sedikit kaget karena kedatangan dua tamu yang tidak mereka undang.
"Kok lo bisa tau kalau ada ruang musik?" tanya Ryan.
"Denah," jawab Ella dengan santainya.
Melihat banyaknya alat musik membuat Abel kepikiran akan suatu hal. Dan hal itu adalah tugas seni musik kelompoknya. Abel pun berencana untuk menyuruh Jovan mengajari Ella sekarang. "Nah kebetulan nih, Bang Jo, Abang ajarin Ella main gitar dong."
"Sekarang?" tanya Jovan.
Abel mengangguk. "Soalnya minggu depan aku sama yang lain mau tampil, Bang."
Jovan pun mengiyakan suruhan Abel. Jovan merasa ia mengiyakan bukan karena itu suruhan dari Abel, melainkan karena orang yang akan diajarinya.
"El, lo mau diajarin sama Bang Jovan tuh," ucap Abel kepada Ella.
__ADS_1
"Nih, El, gitarnya satu lagi." Ryan memberikan gitar yang tadi dia mainkan kepada Ella.
"Oh iya, Bel, jadi kalian pakai lagu apa?" tanya Jovan kepada Abel.
"Lagu Laskar Pelangi, Bang," jawab Abel.
Kemudian Jovan pun mengajarkan Ella chord gitar yang digunakan dalam lagu yang sangat terkenal di industri musik Indonesia itu. Ella sedikit lebih cepat menangkap ajaran dari Jovan karena sebelumnya Ella pernah mencoba memainkan lagu itu tetapi tidak berhasil karena masih berantakan.
*
"Bang, lo mau kemana?" tanya Aneska saat melihat Kenzie sudah berpakaian rapi. Sebenarnya Aneska tahu kemana kakak laki-lakinya akan pergi itu. Tetapi, dia berpura-pura tidak tahu.
"Mau ketemu sama Karin," jawab Kenzie. Kenzie sudah bercerita sedikit tentang pacarnya, Karin, kepada Aneska beberapa hari yang lalu. Kenzie memberitahu hal itu karena dia tidak mau Aneska mendesak kedua orangtuanya untuk memutuskan hubungannya dengan Karin.
"Emang tadi di kampus nggak ketemu?" tanya Aneska.
Kenzie menggeleng. "Dosennya nggak datang. Jadi, dia juga nggak datang."
"Sekarang lo mau ketemu dia dimana? Di rumahnya?" tanya Aneska.
Kali ini Kenzie mengangguk. "Iyalah, gue mau jemput dia dulu. Lo mau sendiri di rumah apa ikut gue jalan bareng Karin? Kemarin dia nyuruh gue buat bawa lo ketemu dia."
Di dalam lubuk hati Aneska yang paling dalam sebenarnya dia tidak ingin jalan dengan Karin, tetapi Aneska tidak bisa bohong, dia sangat penasaran dengan Karin di dunia nyata. Aneska pun mengiyakan ajakan Kenzie.
"Ya udah, lo ganti baju habis itu langsung ke mobil, gue tunggu," suruh Kenzie lalu dia langsung pergi menuju mobil. Sekitar sepuluh menit kemudian barulah Aneska menghampiri Kenzie.
Menurut Aneska ini adalah sesuatu yang harus dia beritahu kepada ketiga temannya itu. Maka saat perjalanan, Aneska memutuskan untuk mengirim pesan kepada mereka.
Girls (4)
Aneska Deniza: Gue mau jalan bareng kak karin pacarnya bang Kenzie
Griselda Florenza: Serius? Pokoknya besok lo harus cerita ke kita
Arabella Monica: LO HARUS PAP
Calluella Raveena: ^2
Aneska Deniza: Sabaran dong, ini gue masih otw rumah Karin
Arabella Monica: Lo harus ceritain semuanya ke kita
Griselda Florenza: Rumahnya gede gak?
Calluella Raveena: Dia masih otw kali Gris
Aneska Deniza: Ini gue udah sampe, rumahnya gede banget gila
Arabella Monica: PAP BISA X Y
Aneska Deniza: Dari sini cuma kelihatan pagarnya
Girselda Florenza: Itupun jadi
Aneska Deniza sent a photo.
Calluella Raveena: Kok gue kayak kenal pagarnya?
Griselda Florenza: Palingan lo pernah lewat situ El
Calluella Raveena: Mungkin kali ya
Belum sempat Aneska membalas pesan temannya itu, tiba-tiba pintu kursi yang didudukinya terbuka, ternyata itu adalah Kenzie dengan Karin yang berada di sampingnya.
"Lo ke belakang, ya, Dek," suruh Kenzie.
Aneska pun mengangguk lalu dia pindah ke kursi belakang. Aneska harus bisa menjaga sikapnya di depan Karin, Aneska tidak mau Karin langsung tahu kalau dia tidak terlalu suka dengan Karin.
"Kamu yang namanya Aneska, ya?" tanya Karin kepada Aneska.
Aneska pun mengangguk sambil tersenyum.
"Kamu kelas berapa?" tanya Karin lagi.
"Kelas sepuluh, Kak," jawab Aneska.
__ADS_1
Sejauh ini Aneska tidak melihat ada hal negatif dengan Karin, Karin terlihat baik dan sopan di depannya. Aneska sempat berpikir kalau Karin sama seperti dirinya, yaitu bersandiwara. Tapi, untuk sekarang Aneska membuang pikirannya itu karena Karin terlihat baik benaran, tidak terlihat adanya sandiwara apa pun.
***