Divide

Divide
Rugi Punya Pacar


__ADS_3

"Lo kok bisa ada di sini, Nes?" tanya Daniel yang tiba-tiba saja sudah berada di samping Aneska.


"Iya, gue abis ketemuan sama teman," jawab Aneska. Aneska sengaja tidak memberitahukan siapa teman yang ia maksud karena pastilah jika dia memberitahu, Daniel akan bertanya lebih banyak.


"Oh gitu, gue ngajak lo ke sini karena cewek itu juga ke sini. Tadi, gue abis nganter nyokap ke salon yang dekat sini, terus cewek itu keluar, gue ikutin dan ternyata dia ke sini," ucap Daniel memberi penjelasan mengapa dia menyuruh Aneska untuk menemuinya.


"Lo yakin itu dia? Soalnya dari tadi gue gak ada lihat dia," tanya Aneska.


Daniel mengangguk. "Kita coba masuk, deh, biar lo yakin."


Kemudian mereka berdua pun berjalan bersama-sama ke kafe itu. Saat mereka masuk di lantai satu kafe yang merupakan tempat pertemuan Aneska dengan Gavril dan Jovan tadi, tidak terlihat ada sosok perempuan itu. Mereka berdua pun memutuskan untuk naik ke lantai atas.


Daniel menghentikan langkahnya ketika melihat perempuan itu duduk di salah satu kursi. Aneska yang berjalan di belakang Daniel pun ikut berhenti.


"Ada apa, Dan?" tanya Aneska.


"Cewek itu ada di situ," jawab Daniel sambil menunjuk perempuan itu.


Aneska pun mengikuti arah tangan Daniel. Dan dia melihat perempuan yang kemarin bersama kakaknya itu. Untung saja perempuan itu sedang duduk sendiri.


"Gimana? Kita langsung datengi apa biarin aja?" tanya Daniel.


Aneska terdiam sejenak, dia sedang memikirkan keputusan yang tepat. Tiba-tiba saja Aneska kepikiran dengan Karin, dia tidak mau Karin merasakan rasa sakit itu semakin lama. Akhirnya Aneska pun mengangguk.


"Ya udah, lo nanyanya santai aja, ya? Jangan terlalu nge-gas," pesan Daniel.


Aneska mengangguk. Kemudian Daniel mengambil langkah untuk menghampiri perempuan itu.


Saat Aneska dan Daniel sudah berada di depan perempuan itu. Perempuan itu terlihat kaget dengan kedatangan dua orang yang tidak dia kenal itu.


"Kak, gue mau lo jujur ke kita," ucap Aneska to-the-point sambil duduk di hadapan perempuan itu, sementara Daniel duduk di samping Aneska.


"Lah? Lo berdua kenapa? Kok sok kenal banget gitu, sih?" tanya perempuan itu. Dia terlihat tidak suka dengan kehadiran Aneska dan Daniel.


"Maaf, Kak, sebelumnya, nama gue Daniel, dan dia Aneska," ucap Daniel memperkenalkan dirinya dan Aneska kepada perempuan itu.


"Terus? Apa hubungan lo berdua sama gue?" tanya perempuan itu dengan nada orang yang tidak peduli.


"Kita berdua emang nggak ada hubungan sama Kakak. Tapi Kakak tau nggak, kalau Kakak ada hubungan sama Abang gue?" tanya Aneska dengan nada sinis. Aneska tidak bisa menahan rasa tidak sukanya itu kepada perempuan yang ada di depannya saat ini.


"Maksud lo? Lo adeknya Kenzie?" tanya perempuan itu.


Aneska mengangguk. "Kakak tau, nggak? Kakak itu udah buat Bang Kenzie berubah, Kak. Bang Kenzie jadi sering pulang malam, bahkan nggak pulang sama sekali. Bang Kenzie jadi sering ngelawan Mama sama Papa. Kalau Kakak mau dekat sama Bang Kenzie, seharusnya Kakak nggak ngelakuin hal itu ke Bang Kenzie."


Perempuan itu terdiam. Dia berusaha mencari sesuatu yang dapat membela dirinya sendiri. "Emang lo kira gue yang ngegoda dia? Yang ada malah dia yang datengi gue, dia bilang kalau dia kesepian, dia butuh kasih sayang. Ya udah, emang salah kalau gue kasih ke dia?"


Kali ini Aneska terdiam. Dia sama sekali tidak menyangka kalau kakaknya akan berkata hal itu kepada perempuan itu. Padahal menurut Aneska, Kenzie sama sekali tidak kekurangan kasih sayang, Kenzie mendapat kasih sayang dari banyak orang.


"Jangan bohong, Kak, nggak mungkin Bang Kenzie ngomong gitu ke Kakak. Bang Kenzie itu punya pacar yang sayang banget sama dia," ucap Aneska.


Satu fakta yang perempuan itu tidak tahu adalah kalau Kenzie mempunyai pacar. Maka dari itu dia kaget mendengar ucapan Aneska barusan.


"Punya pacar, lo serius? Lah, terus kenapa dia bilang gitu ke gue?" tanya perempuan itu.


"Lo beneran nggak tau, Kak?" tanya Aneska balik.


Perempuan itu menggeleng.

__ADS_1


"Nes, Kak, biar kalian nggak ribut, gue boleh ngomong?" tanya Daniel. Daniel sedari tadi diam karena dia sedang mencari cara agar Aneska dan perempuan itu tidak ribut di kafe ini.


Aneska dan perempuan itu mengangguk.


"Sebelumnya, gue boleh tau nama Kakak?" tanya Daniel.


"Oh, ya, maaf, nama gue Alissa," jawab perempuan itu dan kini namanya telah diketahui, Alissa.


"Oke, Kak Alissa, jadi gue sebelumnya benar-benar nggak suka kalau kalian berdua ribut di sini. Nah, dari tadi gue diem karena gue lagi memikirkan sesuatu yang bakal gue kasih tau sekarang. Gue memang nggak ada hubungan sama masalah Kakak sama Aneska, tapi biarin gue kasih pendapat gue. Kak Alissa kan dekat sama Bang Kenzie dan tanpa Kakak kasih tau ke kita, Kakak sering ke club sama Bang Kenzie kan?" tanya Daniel.


Alissa mengangguk. Kali ini dia merasa kalau dirinya tidak perlu terbawa emosi seperti tadi, karena itu hanya membuat dirinya malu di depan kedua orang yang umurnya masih di bawah dirinya.


"Oke, jadi sebenarnya Kakak udah buat Bang Kenzie itu berubah, Kak. Kakak jelas bakal bela diri Kakak sendiri di sini, tapi sayang, Kakak nggak bisa lakuin itu. Nah, jadi di sini untuk sementara yang salah adalah Bang Kenzie dan Kakak, tapi kesalahan kalian berdua itu setengah.


"Biar lebih jelas gini, deh, Kak. 'Kan, Bang Kenzie nggak kasih tau Kakak kalau dia punya pacar, dan dia ngaku-ngaku kalau dia butuh kasih sayang, itu salahnya. Sementara salah kakak, Kakak ngajak Bang Kenzie ke tempat yang nggak bagus itu, itu salah Kakak. Dan Bang Kenzie nggak akan ngelakuin itu kalau dia nggak ngomong sama Kakak kayak gitu, dan Kakak juga nggak bakal kayak gitu kalau Bang Kenzie jujur. Kalian berdua ngerti?" tanya Daniel.


Aneska dan Alissa sama-sama menganggukkan kepalanya. Rasa bingung sekarang sedang menerpa Alissa, dia tidak tahu harus berbuat. Untung saja dia belum sempat jatuh hati dengan Kenzie.


"Terus gue harus gimana?" tanya Alissa.


"Coba Kakak jujur deh sama kita. Kakak ada rasa nggak sama Bang Kenzie?" tanya Aneska.


Alissa menggeleng. "Gue nggak ada rasa sama dia."


"Serius?" tanya Aneska sekali lagi.


Alissa mengangguk.


"Bentar, deh, Kak, kalau lo gak ada perasaan ke Bang Kenzie, kenapa lo ladenin dia?" tanya Daniel.


"Maksud Kakak? Kakak mau kita bantu buat nyelesain ini semua?" tanya Aneska.


Alissa mengangguk.


"Gimana kalau Kakak ketemuan sama Kak Karin dan Bang Kenzie?" usul Aneska.


Alissa terdiam. Sebenarnya dia malu, dia malu jika bertemu dengan Karin. Karena dirinya sudah membuat Kenzie berubah. "Gue mau, sih, tapi, gue malu."


"Kakak nggak usah malu ataupun takut sama Kak Karin. Kak Karin itu baik, dia bisa ngertiin Kakak kok," ucap Aneska.


"Gini, deh, Kak, biar Kakak nggak malu sendiri, mending nanti kalian bertemu bertiga, jadwalnya biar gue sama Aneska yang ngatur," usul Daniel.


Alissa mengangguk, usul dari Daniel memang bagus.


"Oh ya, Kak, lo punya adik yang sekolah di SMA Raflesia gak?" tanya Aneska.


Alissa mengangguk. "Punya, dia seumuran sama kalian, deh, kayaknya. Nama adik gue, Grisel, kalian kenal, nggak?"


Aneska benar-benar kaget mendengar pertanyaan Alissa, pantas saja dirinya menganggap Alissa mirip dengan seseorang. Ternyata Alissa adalah kakak dari Grisel. Aneska juga benar-benar tidak menyangka kalau kakak Grisel lah yang sudah membuat kakaknya berubah. Tapi, untuk soal itu, Aneska bertekad untuk tidak mengaitkannya lagi karena Aneska yakin masalah ini akan selesai dalam beberapa waktu yang akan datang.


"Beneran? Grisel itu teman sekelas aku, Kak, dan kami itu dekat banget," jawab Aneska.


"Eh, iya? Grisel nggak ada cerita-cerita ke gue tentang kehidupan sekolahnya. Tapi pernah, sih, sekali, gue lihat Grisel bawa teman ke rumah dan kalau nggak salah namanya Amel atau siapa, gue lupa," ucap Alissa.


Aneska yakin Amel yang dimaksud oleh Alissa adalah Abel. "Abel kali, Kak? Soalnya Grisel dekatnya sama gue, Abel, sama satu lagi Ella."


"Oh, Abel, ya? Maaf, gue nggak inget," ucap Alissa.

__ADS_1


"Iya, Kak, btw lo jangan cerita ke Grisel ataupun Bang Kenzie dulu, ya? Pokoknya nanti gue bakalan kasih tau waktu yang tepat," pesan Aneska.


Alissa mengangguk. Tiba-tiba Alissa teringat akan satu hal, dia ke kafe ini karena ingin bertemu dengan Kenzie. "Oh iya, gue baru inget. Gue ke kafe ini mau ketemu sama Kenzie, mending lo berdua balik deh, nanti ketauan sama Kenzie."


Rasa panik tiba-tiba saja menghampiri Aneska dan Daniel, tapi untungnya mereka berdua bisa mengendalikan rasa panik itu.


"Ya udah, gue sama Daniel balik, ya, Kak?" pamit Aneska sembari beranjak dari tempat duduknya. Dan diikuti oleh Daniel.


Alissa mengangguk. "Hati-hati, ya, kalian berdua."


Aneska dan Daniel hanya mengangguk lalu mereka berdua kembali ke parkiran.


"Gila, gue nggak nyangka banget sama semua yang gue dengar tadi," ucap Aneska saat mereka berdua sudah sampai di parkiran.


"Gue juga nggak nyangka. Ya, walaupun gue cuma tau sedikit, tapi menurut gue ini keren," sambung Daniel


"Keren apanya coba? Aneh lo," tanya Aneska.


"Aneska? Daniel?" ucap seseorang dari samping Aneska.


Aneska dan Daniel jelas kaget ketika melihat orang yang menyapa mereka. Orang itu adalah Kenzie.


"Bang Kenzie? Abang mau ngapain ke sini?" tanya Aneska. Aneska jelas harus berpura-pura tidak tahu di hadapan Kenzie agar semuanya bisa jalan dengan lancar.


"Abang mau ketemu sama teman Abang, kalian?" tanya Kenzie balik.


"Kita juga habis ketemuan, sama teman SMP, Bang, biasalah masih baru pisah," jawab Daniel berbohong.


"Oh, ya udah, Abang masuk dulu, ya?" pamit Kenzie lalu berjalan menjauhi Aneska dan Daniel.


"Oh, ya, Dan, gue mau berterima kasih banget sama lo, karena lo udah mau bantu gue," ucap Aneska.


Daniel tersenyum. "Biasa aja kali, Nes, dulu lo, 'kan, sering bantuin gue."


"Lo mah, gue bilang makasih juga. Oh, ya, untuk selanjutnya gue aja yang handle, ya? Biar lo nggak repot," ucap Aneska.


"Nggak apa-apa, Nes, gue masih pengin bantuin lo," ucap Daniel.


"Kenapa? Karena ini keren gitu?" tanya Aneska.


"Ya iyalah, kalau ini nggak keren, mana mau gue bantuin lo," jawab Daniel.


"Oh, gitu, ya? Berarti lo subjektif gitu?" tanya Aneska sedikit menyindir Daniel.


"Apaan, sih, lo? Mau keren atau nggak keren juga gue bakal bantuin lo, lo 'kan teman gue," ucap Daniel.


"Teman?" tanya Aneska.


"Iyalah, lo mau apa? Pacar?" tanya Daniel balik. "Rugi gue kalau punya pacar kayak lo."


"Eh *****," umpat Aneska.


Melihat reaksi Aneska sontak membuat Daniel tertawa lepas. Menurut Daniel reaksi Aneska yang barusan itu lucu.


Dan tanpa mereka sadari, seseorang sedari tadi melihat kebersamaan mereka dengan rasa sakit dan juga rasa bersalah.


***

__ADS_1


__ADS_2