
Saat rasa lelah menghampiri diriku, ingin rasanya aku pergi menjauh. Ingin rasanya meninggalkan kesakitan, kegundahan dan kegelisahan yang ada dihatiku. Semua itu tak luput dari pemikiran ku yang terkadang dangkal. Sampai saat bayangan itu menghalangiku. Wajah damai dan bahagianya saat aku bersamanya. Wajah yang selalu menghangatkan hatiku, tatapan matanya, raut bahagianya dan ucapan tulusnya. Kini berganti dengan raut kebencian. Entah apa yang merasukinya hingga tak ada lagi cinta dihatinya.
Maafkan aku tak sanggup lagi bertahan. Terima kasih sudah menerima segala kekuranganku.
"Karina Zulvanya Ramadan"
---------------------------------------------------------------------------------
Setelah ujian selesai, kini hari-hari bebas dirasakan Riri dan Nana. Namun sayangnya ada yang berbeda dengan sikap Riel pada Riri. Sikap kekasihnya itu menjadi lebih dingin dan acuh padanya.
"Riel, lagi apa ?kenapa belakangan ini sikap kamu beda sama aku ?apa aku ada salah sama kamu?" sebuah pesan dikirimkannya, karna belakangan ini Riel tak pernah ada kabar.
Riri berpikir keras dengan sikap pacarnya yang kini terlihat berbeda dengannya. Pesannya tak dibalas,dibaca pun tidak, saat Riri menelponnya pun tak pernah diangkat.
Pernah Riri berkunjung kerumah Riel sekali, tapi laki-laki itu mengabaikannya sedangkan maminya bersikap acuh pada Riri. Sebenarnya ada apa dengan kekasih dan calon mertuanya itu.
Flashback
"assalamualaikum mih, apa Riel ada dirumah ?aku udah hubungin Riel berpa kali tapi gak ada respon?" sembari mencium punggung tangan calon mertuanya.
"walaikum salam, Riel lagi keluar Ri, mami gak tau dia kemna udah beberapa hari ini Riel jarang dirumah" dengan nada biasa saja namun terkesan acuh.
" ohh.. Yaudh mih, kalo gitu Riri pamit nanti kalo ada Riel sampaikan salamku dengan Riel" dengan tentunduk lesu Riri melangkahkan kaki dari rumah Riel.
Flashback off
__ADS_1
" ka kenapa ya Riel belakangan ini kaya menjauh dari aku?" sambil menopang dagu dengan kedua tangannya diatas meja dikamarnya
Nana mengernyitkan keningnya menatap Riri curiga, setaunya hubungan kembarannya dan pacarnya baik-baik saja. Lalu sekarang kenapa Riri bertanya padanya? Padahal dia juga tak tau apa yang terjadi dengan hubungan adik kembarnya itu.
" bukannya hubunganmu dengan Riel baik-baik aja de ?selama ini aku liat kalian berdua kompak banget malah, kenapa sekarang nanya sama aku tentang sikap Riel?" dengan wajah penasaran menatap mata Riri intens
" aku juga gak tau ka, akhir-akhir ini Riel kaya mengabaikan aku. Aku kirim pesan gak dibalas dan aku telpon gak pernah diangkat" jawabnya dengan wajah lesu
"positive thingking aja de, siapa tau Riel sakit atau gimana gitu. Kamu udah samperin kerumah maminya?" pertanyaan Nana malah membuat Riri semakin sendu, pasalnya sikap maminya Riel terkesan acuh dan mengabaikan Riri saat datang kerumahnya waktu itu.
"udah ka tapi sikap maminya Riel malah buat aku berpikir sebenarnya maminya itu setuju atau gak dengan hubungan aku dan anaknya" dengan raut wajahnya yang sedih membuat Nana berhenti bertanya lagi tentang Riel dan maminya itu.
Nana memeluk Riri membiarkan adik kesayangannya mencurahkan semua rasa sakitnya karna diabaikan oleh calon suami dan mertuanya itu. Nana sempat berpikir Riel dan maminya mempunyai maksud tertentu mendekati adiknya.
"udah de jangan nangis lagi nanti kaka bantu kamu buat ketemu sama Riel, dan menanyakan sikapnya selama ini sama kamu. Kamu tenang ya nanti Rangga ambil alih tubuh kamu" sembari mengelus punggung Riri mencoba menenangkan adiknya agar tidak dikuasai oleh Rangga, sisi lain dari Riri.
Riripun merasa tenang dan menepis air mata yang sedari tadi keluar dengn derasnya tanpa tau malu karna laki-laki macam Riel. Karna tak mau tubuhnya dikuasai oleh Rangga, Riripun mengatur napasnya agar ia kembali tenang.
" ka kita hangout yuu,, aku bosan dirumah terus" menatap kembarannya dengan wajah dibuat seimut mungkin.
"hufftt, kamu ini kalo ada maunya aja langsung pasang wajah kaya gitu, coba kalo lagi gak butuh jangankan pasang wajah andalanmu yang ada kamu malah cuekin kaka, dasar kamu ya Ri" dengan berat hati Nana mengangguk setuju ajakan adik kembarnya, karna ia tak mau Riri terus sedih yang berakibat dirinya di kuasai oleh sisi lain Riri.
Nana pun kembali ke kamarnya dan bersiap untuk pergi dengan Riri.
-----------------------------------------------------------------------------
__ADS_1
Setengah jam kemuadian keduanya keluar dari kamar masing-masing.
"udah siap de, ayo berangkat!" kata Nana diangguk-i oleh Riri, keduanya pun melangkahkan kaki menuju lantai satu rumahnya.
Saat tiba dibawah keduanya melihat mamanya sedang menonton tv dengan seius. Mereka berdua tersenyum seringai ingin mengerjai mama tercintanya.
Satu
Dua
Dooooorrr
Mama Mira terpekik kaget karna ulah dua anak kembarnya yang jahil itu.
"astaghfirulloh kalian ini bikin mama kaget aja kalo mama jantungan gimana kalian ini ya" tanpa jeda terus mengomeli kedua putri kembarnya itu.
"hehehe,, abis mama serius bngt nontonnya sampe kita turun aja mama gak denger, mah aku sama ka Nana mau jalan-jalan dulu, aku bosen dirumah" sambil nyengir kuda membuat mama nya menggelengkan kepala pada putri bungsunya itu.
"yaudah, kalian hati-hati di jalan jangan ngebut bawa mobilnya" nasihat Mira pada kedua putrinya.
"yaudah mah kita berdua pergi dulu ya, assalamualaikum" setelah mencium punggung tangan mamanya keduanya pun berjalan menuju mobilnya.
To be continued
Hai guys aku balik lagi nih setelah lama gak nulis jadi kangen nulis lagi hehehhe, maafkeun author yang gak konsisten ini hihihi
__ADS_1