Dua Sisi Yang Berbeda

Dua Sisi Yang Berbeda
bab 2


__ADS_3

Pagi itu seperti biasa di kediaman keluarga Ramdan terasa sangat hangat dan damai, mereka adalah keluarga yang damai dan rukun serta saling menyayangi.


"pagi mah, pah, dek" sapa Kirana Zelvani Ramdan anak pertama keluarga Ramdan.


"pagi sayang" sapa kedua orangtuanya.


"emm" balas Vanya singkat.


"yaampun dek, irit banget sih nanti gak ada orang yang mau temenan sama kamu" kata Amel mama twins.


"tau tuh mah, gak dirumah, dikampus sama aja, pelit kata" balas Vani menghela nafas.


"berisik kamu Vani, masih untung dijawab" jawab Vanya yang bicara lumayan panjang.


"sudah-sudah kalian jangan ribut nanti telat ke kampus" kali Amel yang bicara melerai keduanya.


Melihat tingkah kedua anak kembarnya membuat Reyhan papa twins menggeleng kepala.


Lalu mereka makan dengan tenang, setelah selesai makan ketiganya berangkat, Vanya dan Vani mengendarai mobil sendiri sedangkan Reyhan berangkat bersama supir pribadinya.

__ADS_1


"mah, kami berangkat dulu ya. Assalamua'laikum" ketiganya mengucapkan salam, lalu Reyhan mencium kening istrinya.


"wa'laikumsalam" balas Amel.


Mereka akhirnya meninggalkan kediaman Ramdan melakukan kegiatan masing-masing.


"dek, aku perhatiin setelah kamu pulang kemarin sikap kamu beda banget, ada apa?" tanya Vani menatap kesamping kursi kemudi tempat adiknya duduk.


"gpp, Vanya sedang tidur aku baik-baik saja jangan menggangguku" katanya dengan intonasi dingin, Vani merasa adiknya berbeda tersentak kaget meskipun adiknya terkesan cuek tapi bila ditanya olehnya ia tidak akan menjawab seperti itu.


"kamu gak papa kan dek?" sambil menempelkan telapak tangannya didahi Vanya. Namun ditepis olehnya.


"haiss, ampun deh begini amat punya saudara 1 galak bener, untung sayang" balas Vani, tak habis pikir dengan kelakuan saudarinya.


Akhirnya mobil memasuki area kampus.


"Van, bangun udah sampe nih. Tidur mulu" menurut Vani, ada saatnya Vanya sering tidur saat moodnya sedang buruk, hingga beberapa hari ia akan jadi manusia super dingin dan tak bisa di ganggu, tapi saat ada orang tuanya ia akan berbeda sikapnya.


"hemm" berlalu meninggalkan Vani yang terkejut dengan sikapnya.

__ADS_1


"dasar, tuh kaca dingin banget kalo lagi badmood. Siapa sih yang bikin moodnya berantakan, awas aja kalo aku tau orangnya" katanya mengumpati orang yang membuat adiknya badmood.


Sedangkan orang yang diumpati merasa dingin sekujur tubuhnya.


"kok gue ngerasa kaya ada yang mengumpat gue ya" kata gabriel memeluk tubuhnya sendiri.


Sedangkan dikelas, belum ada dosen yang mengajar Vanya melangkah memasuki kelasnya. Ia mengambil jurusan bisnis, karena ia merasa suatu hari nanti pasti bisa membangun usahanya sendiri.


Vanya mengambil bangku paling dekat dengan dosen yang mengajar agar ia bisa fokus ke mata kuliah yang diterangkan oleh dosennya.


Sedangkan Vani, ia mengambil jurusan modeling karena ia ingin menjadi artis papan atas.


Vanya hanya menatap lurus kedepan tanpa peduli jika ia sedang dibicarakan oleh mahasiswa dikelasnya.


"hei, tau gak kemarin aku lihat dia, bicara dengan pangeran kampus kita" kata salah satu siswi menunjuknya dengan dagunya.


"aiss, itu mah udh biasa. Wanita cerdas sepertinya pasti banyak yang memperebutkannya" kata temannya yang lain.


"lagi pula percuma saja Gabriel mengejarnya, dia gak akan diterima soalnya kan dia gak pernah menggubrisnya" katanya lagi.

__ADS_1


Tidak lama dosennya pun datang dan kelas pun dimulai.


__ADS_2