
Kamu adalah alasan aku berubah. Aku sangat menyayangi adikku tapi kamu malah membuatku membencinya. Kenapa kamu membuatku berubah? Apa sebenarnya masalahnya?
---Kirana Zelvanya Ramadan---
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Riri sudah sampai dirumahnya
Setelah sampai dikamarnya ia segera membaringkan diri dikasurnya. Baginya kamarnya adalah tempat ternyaman didunia.
Saat akan memejamkan matanya Nana mengetuk pintu kamarnya.
Tokk tokk tokk
"De, kamu mau tidur ya? Aku mau curhat nih sama kamu" tanyanya sambil mengetuk pintu.
"masuk aja ka, gak dikunci ko kamarnya" balas Riri dari dalam kamarnya.
Setelah itu terdengar pintu terbuka
Ceklek
"dek, menurutmu Riel orangnya gimana ya?" tanya Nana dengan wajah merah merona.
"aku gak tau ka, kita aja baru ketemu jadi gmna aku tau dia orang yang seperti apa" jawab Riri memutar bola matanya.
"ya, aku penasaran aja dia orang ya seperti apa, siapa tau kamu kenal dia gitu" kata Riri tersenyum malu.
"lah kan dari dulu aku selalu bareng kaka, jadi mana mungkin aku tau siapa dia. Kenal aja baru tadi di kantin" balas Riri pada Nana.
"ohhh iya,ya aku lupa hehheehe" jawab Nana cengengesan .
"yaudahlah aku mau tidur, kalo kaka mau keluar tutup pintunya ya" kata Riri sambil bersembunyi dibalik selimut.
"aisshhh, kamu ini dekk kakanya mau curhat malah kaya gitu" balas Nana kesal karena adik kesayangannya tidak menghiraukannya.
Riri pun terlelap dalam tidurnya. Dalam tidur ia bermimpi buruk. Ia bermimpi dia bertemu dengan seseorang entah siapa itu karena tidak terlihat jelas. Dan berkata "kamu tunggu saja, semuanya akan meninggalkanmu bahkan semua keluargamu akan membencimu" kata seseorang dalam mimpi itu.
Riri kini terbangun karena mimpi buruk itu, kini ia merasakan firasat buruk bahwa sesuatu akan terjadi padanya. Namun segera ia menepis bayangan itu. Tohh ia berfikir semua keluarganya sangat menyayanginya.
Hari ini Riri berangkat kesekolah, ia tidak merasakan firasat buruk apa yang akan terjadi hari ini, akan merubah semuanya.
Riri sudah duduk di mejanya, sebenarnya dari tadi Riri sudah melihat teman-temannya memperhatikan dirinya tapi segera ia mengabaikannya. Saat ia duduk dikursinya, ia melihat Alvian mendatanginya dan berkata "lebih baik lo jauhin gua, gua gak sudi deket-deket sama cewe murahn kaya lo".
__ADS_1
Sontak perkataan Alvian membuatnya kaget dan menatap tidak percaya kearahnya. "maksud lo apa ngomong gitu ke gua? Emang gua ada masalah apa sama lo?" jawab Riri emosi.
"gak usah pura-pura lo gua liat lo ke hotel xx sama cowo, lu dibooking kan? Udah jujur aja deh" kata Alvian dengan seringaian yang membuat Riri makin emosi.
"kalo gak tau apa-apa gak usah fitnah gua begitu brengsek, jangan sampe bikin gua benci sama lo bajingan" kini Riri mengeluarkn kata umpatan sambil mengepalkan tangannya.
"biasa aja kali gak usah pake urat, perasaan gua santai deh kenapa lo marah banget" kata Alvian dan seketika ia pergi meninggalkan Riri.
Riri tidak percaya kalau orang yang disayanginya mengatakan hal seperti itu, jelas-jelas kemarin ia dirumh dan tidur dikamarnya. Atas dasar apa Alvian memfitnhnya begitu. "dasar brengsek bisa-bisany dia bicar seperti itu, jelas-jelas aku dikamar dan tidur. Apa buktinya kalo aku pergi ke hotel sama cowo. Aisss dasar bajingan tengikk" umpat Riri saking geramnya.
Selama pelajaran berlangsung tidak ada satu materi pelajaran pun yang ia perhatikan. Riri hanya fokus pada pikirannya sendiri.
Setelah jam pelajaran usai kini ia telah sampai dikelas Nana, pandangan mata kakaknya itu seolah ia sedang menatap orang yang sangat ia benci.
"ngapain kamu kesini,, kamu pulang aja duluan aku gak mau bareng sama kamu. Aku gak sudi satu mobil sama orang kaya kamu. Pantas saja kemarin kmu usir aku ternyata kamu pergi ke hotel sama cwo. Pintar banget kamu ya Ri" celetuk Nana pedas.
"kakak kan tu kemarin aku dikamar kenapa kakak juga gak percaya sama aku" balas Riri kecewa.
Sebenarnya hubungan saudara kembar itu sangat erat apapun yang dirasakan Riri, Nana juga merasakannya begitupun sebaliknya.
Sebenarnya Nana tidak percaya dengan cerita orang-orang namun banyak yang berkata bahwa Riri itu diluar sangat liar. Padahal itu hanya karangan mereka saja yang membenci Riri, akhirnya Nana percaya.
Kini Riri sendirian tidak ada yang percaya dengannya, hrapan satu-satunya disekolah itu adalah kakanya tapi ia juga percaya dengan gosip itu. Sekarang adalah orangtuanya, semoga saja saat tiba dirumah ka Nana tidak cerita apapun kepada kedua orangtuanya.
Plakk
Suara tamparan terdengar keras diruangan itu. Baru saja Riri sampai didepan pintu hendak menuju kamarnya, papanya sudah menamparnya keras dan meninggalkan bekas dipipi mulusnya.
"anak gak kurang ajar, kami udh percaya kamu sekolahin kamu, minta ini itu kami turutin tapi sekarang kamu membalasnya dengan ini" kata papa Riri geram.
Riri yang terkejut dengan tamparan papanya hanya diam tidak percaya, seumur hidup baru kali ini dirinya ditampar. Saat tersadar Riri pun menjawab.
"kenapa papa tampar aku, aku gak ngelakuin apapun. Jangankan keluar kemarn malam saja aku tidur sikamar ka Nana juga tau. Kenapa gak ada yang percaya sama aku. Selama ini aku hidup sama kalian dan kalian jelas tau sifatku kenapa kalian malah percaya sama orang lain daripada keluarga sendiri?" jawab Riri tak terasa air mata mengalir dari matanya.
"udah gak usah banyak bicara kamu, sudah jelas-jelas salah malah membantah mau jadi apa kamu, hahhh? Mau jadi jalang kamu?" celetuk mama penuh amarah.
Selama ini dirinya tidak pernah melihat mamanya berkata kasar dan marah sekarang mamanya marah dan penyebabnya adalah Riri karena sebuah kesalah pahaman.
"aku gak tau harus bilang apa kalo kalian percaya dengn omongan mereka silahkan saja, tapi aku ingatkan kalian jangan pernh menyesal saat tau kebenarannya" gumam Riri dan berlari menuju kamarnya.
Didalam kamarnya Riri menangis histeris ia tidak tahu kenapa ada orang yang menyebarkan fitnh seperti itu. Selama ini ia sudah cukup menderita dengan lingkungan sekolahnya. Kini penderitaannya semakin bertambah sebab orangtua dan kaka kembarnya tidak mempercayai dirinya.
Disaat tangisannya Riri merasa kepalanya sangat sakit, saking tidak kuatnya ia sampai tidak sadarkan diri. Saat Riri terbangun manik matanya berubah tajam dan penuh amarah.
__ADS_1
Kini tubuhnya telah diambil alih oleh Rangga, ancamannya tidak main-main kini ia sangat marah, ia akan membalaskan dendam Riri pada orang yang sudah menykitinya. Ia akan mengambil alih tubuh Riri dan tidak akan pernah memaafkan orang-orang itu.
Keesokan harinya
Riri (Rangga) duduk dimeja makannya. Ia tidak terlihat seperti biasanya, kini tatapannya menjadi dingin dan kejam, Nana tahu kalo itu bukan Riri melainkan Rangga sisi lain dari diri Riri.
Saat akan mengambil makanannya papanya berkata "jangan membuat masalah atau kami akan mengusirmu dari sini" kata-kata itu sontak mengalihkan pandangan Riri (Rangga) pada papany.
"gak usah khawatir aku gak akan berbuat macam-macam, tapi kalo ada orang yang berani mengusikku aku gak akan segan-segan membunuhnya" ucap Riri (Rangga) dengan tatapan membunuhnya.
Semua terdiam terlebih lagi Nana yang melihat tatapan mata Rangga menjadi gemetar ketakutan.
"ohh iya kaka ku sayang, kita berangkat sama-sama ya" gumam Rangga dengan seringai dibibirnya.
"iii...iyaa" jawab Nana gemetar
Mereka pun selesai sarapan.
Kini Riri dan Nana sudah duduk dimobilnya, dalam perjalanan Riri berkata..
"aku kan sudah pernah bilang sama kamu, kalo ada orang yang sakitin dia aku akan ambil alih tubuhnya. Tapi kamu malah gak percaya sama adikmu.. Ingat Na, penyesalan itu ada di akhir, aku takut kamu menyesal kalau saja kamu tau kedengarannya. Camkan baik-baik" gumam Rangga kini ia menyenderkan kepalanya dikursi penumpang..
Kini Riri sudah sampai dikelasnya, ia duduk dan terdiam untuk melihat sekeliling kelas.
Rangga tidak percaya bahwa orang yang disayangi Riri tidak percaya padanya. Dan ia menganggap bahwa Riri adalah gadis yang kotor sungguh menyebalkan, fikir Rangga.
Saat melihat-lihat keseluruh ruangan tatapannya tertuju pada Alvian sosok yang membuat Riri menderita. Ia tidak akan rela bila Riri akan memaafkannya. Sebaliknya Rangga malah ingin membuat Alvian menyesal karena sudah menyakiti Riri.
Alvian yang merasa diperhatikan pun menoleh, ia menoleh kearah Riru. Kini gadis itu menatapnya dengan tatapan sulit diartikan. Ada aura mencekam dalam dirinya seolah-olah itu bukan Riri yang ia kenal selama ini. Tapi segera ia menepisnya.
"gua gak peduli lagi apa yang dia lakuin, gua benci sama orang pembohong, gua gak akan menyesal" gumam Alvian dalam hati.
Ketika ia hendak berjalan keluar kelas tiba-tiba dirinya dihdang oleh Riri (Rangga) yang membuat dirinya terkejut setelah mendengar ucapan Riri (Rangga)
"hehh, cwo berengsek liat aja lo bakal nyesel udah nyakitin gua, lu akan ngerasain penderitaan yang sama kaya gua. Sekrang lu boleh acuh tapi liat suatu saat nanti lu bakal moho-mohon sama gua. Dan gua gak bakal maafin lu, bajingan" gumam Rangga dengan penuh amarah.
"heeehhhh, liat aja nanti" kata Alvian dengan seringai penuh kemenangan.
"Liat aja lu, suatu saat nanti saat kebenarannya dan penyebabnya terungkap lu bakal nyesel untuk kesekian kalinya, karena udah sia-siain ketulusan orang yang sayang sama lu" gumam Rangga dengan seringai yang tidak dapat dijelaskan.
Bersambung
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
__ADS_1