
Hari ini kegiatan dikampus tidak terlalu padat membuat Vanya memilih pulang dan beristirahat.
Sesampainya diparkiran tanpa sengaja matanya menangkap sosok yang sangat dibenci,sedang tersenyum pada orang yang menyapanya. Membuat Vanya mendengus kesal, lantas mempercepat langkahnya agar tidak bertemu makhluk menyebalkan bernama Gabriel.
"aiss,, bikin mood gue berantakan aja tuh orang" umpatnya pelan.
"eh ada Vanya, kok buru-buru banget. Kangen ya sama gue?" tanya-nya dengan percaya diri.
"minggir, suara lo bikin perut gue mual" balas Vanya dingin.
"jangan gitu Van, jangan terlalu sensi sama gue nanti lama-lama cinta" balas Riel lagi kali ini dengan smirk diwajahnya.
"in your dream" berlalu meninggalkan makhluk kurang kerjaan seperti Riel.
"gue pastiin suatu saat lo bakal berlutut dihadapan gue, Van" gumam laki-laki itu meninggalkan parkiran menuju mobilnya dengan wajah datar, sangat berbeda saat bicara dengan Vanya.
Sedangkan didalam mobil perempuan tadi hanya menghela nafas kasar, mencoba mengingat mengapa dirinya sangat membenci laki-laki itu, jangankan menyebut namanya mendengar namanya saja ia sudah muak.
"kenapa gue sangat membenci laki-laki itu sedangkan kenal aja belum lama dan itu pun sangat jarang bahkan gak pernah nyapa dia?" tanya Vanya dalam hati mencoba mengingat kenapa dia sangat membenci seorang Gabriel.
__ADS_1
"udahlah bikin pusing aja" menghendikkan bahu acuh.
Beberapa saat kemudian Vanya sampai dirumahnya, dan keadaan seperti biasa rumah sangat sepi. Ibunya sangat jarang dirumah entah kemana perempuan yang melahirkannya itu sampai sore hari.
Ia berjalan acuh menuju kamarnya tanpa menghiraukan keadaan disekelilingnya, hingga suara kembarannya menghentikan langkahnya.
"Vanya lo udah pulang?" tanya-nya sambil memakan camilan diatas meja ruang santai.
"em, mama kemana,Van?" tanyanya balik pada kembarannya.
"gak tau sih, tadi katanya mau keluar gak tau kemana. Mungkin mau jenguk boc-" Vani lantai menampar mulutnya karna sudah keceplosan bicara, bisa gawat kalo sampe Vanya tau. Bisa dicincang sama mamanya.
"lagi jenguk siapa, Van? Jangan bikin gue penasaran" balas Vanya tak kalah penasaran.
Vanya kemudian melanjutkan perjalanan yang sempat tertunda dengan pikiran yang berkecamuk.
"gak tau kenapa kaya ada yang mengganjal dihati gue, tapi gak tau apa" gumamnya pelan.
Sesampainya dikamar Vanya lantas merebahkan diri dan tidak lama tertidur lelap.
__ADS_1
Tanpa sadar ia bermimpi aneh lagi seperti biasa saat moodnya sedang buruk karna ulah Riel.
"mami kenapa tinggalin aku sama adik? Mami kan udah janji sama kita gak akan tinggalin kita kaya papi, aku sedih mami gak inget kita" kata anak kecil itu dengan wajah sendunya.
"kalian siapa ? Kenapa panggil aku mami?dan kenapa hati aku sakit lihat kalian sedih?" tanyanya pada bocah kecil dihadannya.
"mami gak perlu ingat siapa kami, yang perlu mami ingat kami sangat menyayangi mami meskipun kita jauh" kata bocah itu dan pergi meninggalkan Vanya.
"hei, tunggu aku. Kalian harus kasih tau kenapa kalian sedih dan panggil aku mami?dan kenapa juga air mata ini gak berhenti mengalir?" berusaha menggapai tangan bocah yang melambai kearahnya membuat air matanya mengalir semakin deras.
"tidak jangan pergi,jangan tinggalin aku" dengan keringat dipelipis dan airmata yang mengalir deras ditambah dengan teriakan yang semakin kencang membuat Vani yang ingin kekamar memhentikan langkahnya dan memasuki kamar Vanya.
"Van bangun, lo kenapa?jangan gini gue takut" menepuk pipi Adik kembarnya berusaha membangunkannya.
"tidak jangan pergii" kedua mata yang terpejam akhirnya terbuka, membuat sang empunya melirik sekitarnya.
"Van kenapa gue ngerasa sedih, dan ngerasa ada yang hilang dari diri gue? Apa yang sebenarnya terjadi" pertanyaan tanpa jeda sukses membuat saudara kembarnya mematung, tidak tau harus menjawab apa.
"lo kenapa diem aja Van?" tanya-nya lagi menelisik wajah kembarannya itu.
__ADS_1
"gpp mungkin lo cape, udah tidur lagi gue temenin disini" membuat Vanya mengangguk dan memeluk Vani erat.
"gue gak mau lo sakit lagi Van, karna gua juga ngerasain itu" gumam Vani dan ikut terlelap bersama adik kembarnya.