Dua Sisi Yang Berbeda

Dua Sisi Yang Berbeda
khawatir


__ADS_3

Setelah Nana mengingat kejadian waktu itu, tubuhnya terasa lemas jantungnya terpacu sangat cepat. Ia khawatir, takut dan panik tercampur menjadi. Apa yang sebenarnya terjadi, ia tak memikirkannya, yang ada dipikirannya kini adalah adik kembarnya.


Dengan langkah tergesa ia berjalan menaiki anak tangga menuju kamar Riri di susul mamanya yang berada di belakangnya.


Saat sampai didepan pintu kamar Riri ia mengetuk pintu kamar itu.


"dek, buka pintunya ini kaka. Apa yang terjadi sama kamu? cerita sama kaka ya, jangan dipendam sendiri" masih dengan nada khawatir ia terus mengetuk pintu kamar adiknya. Namun tak ada jawaban dari dalam.


Jantung keduanya berdetak semkin cepat. Takut, iya mereka merasa takut, takut Riri berbuat nekat lagi.


"dek, please buka pintunya" tetap tak ada jawaban. Akhirnya dengan cepat ia turun kebwah untuk mengambil kunci cadangan kamar adiknya.


Dengan tergesa-gesa ia menuruni anak tangga karena tak melihat kebawah, ia terjatuh saat melangkahkan kaki di tangga yang salah untungnya tak terlalu tinggi.


Bruukkk


"awww" pekiknya menahan nyeri di kakinya.

__ADS_1


Tanpa disadarinya papa nya datang dari arah depan pintu masuknya.


"ya ampun Nana, kenapa kamu ceroboh sekali dan kenapa kamu kelihatan terburu-buru?" papanya mencoba membangunkan Nana yang terjatuh tadi.


"awww, pah kaki aku sakit pah. Pah tolong cariin kunci cadangan di kamar Riri pah, aku takut terjadi apa-apa karna aku udah ngetuk kamarnya dari tadi gak ada jawaban" jawabnya sambil meringis kecil menahan sakit di kakinya.


"ya Allah, iya bentar papa cari dulu" dengan panik ia mencari kunci cadangannya.


"ketemu,, kamu tunggu di sini dulu Na, biar papa yang naik keatas" sambil berlari menaiki anak tangga menuju kamar putri bungsunya.


Nana hanya mengangguk pasrah karna rasa sakit di pergelangan kakinya, sepertinya ia terkilir saat terjatuh tadi.


Cekklekk


Pintu kamar pun akhirnya terbuka, saat akan melangkahkan kaki ke dalam ia dan istrinya terkejut saat mendapati keadaan putri bungsunya sangat berantakan, tatapan kosongnya menatap lurus kearah tembok. Riri memeluk lututnya dengan tangannya, tak ada lagi air mata yang keluar, ada guratan kesedihan di wajahnya.


"nakk,, ada apa ?siapa yang sakitin kamu?bilang sama papah" tanya Bagus dengan raut wajah khawatir. Namun yang ditanya tak menjwab pertanyaannya.

__ADS_1


"kalo ada masalah bilang sayang, jangan dipendam sendiri" ucapnya sambil mengelus rambut Riri.


Riri yang merasa terkejut pun reflek menghempas tangan papanya dengan kasar ia sangat trauma dengan kejadian itu.


"pergi dari sini jangan ganggu aku, please pergi..! Aku mohon sama kamu" sambil menangkupkan kedua tangannya Riri memohon agar orang itu pergi,, ia tak tau jika yang ada di hadapannya adalah papanya.


Bagus yang melihat tingkah Riri merasa curiga sebenarny ada apa dengan anaknya.


"tenang nakk, ini papah sayang" katanya mencoba mendekat pada Riri untuk memeluknya.


Riri semakin berontak, ia takut, sangat takut. Tak pernah terbayangkn jika dihadapannya adalah papa kandungnya. Riri berlari keluar kamar dan menuruni tangga rumhnya. Dan berhasil melarikan diri.


"dekk, kamu mau kemana ?jangan pergi, ini kaka" teriak Nana dari dalam rumah. Ia tak sanggup mengejr adiknya karna kakinya sangat sakit.


Kemudian kedua orangtuanya datang dari kamar Riri bermksud mengejar anaknya, namun gagal. Riri sangat cepat perginya.


"ya Allah pah, Riri mau kemana?mamah takut ada apa-apa sama Riri" dengan isak tangis mamanya menanyakan kemana Riri pergi.

__ADS_1


Keluarganya kini bingung harus mencari kemana Riri pergi.


To be continued


__ADS_2