
suasana terasa sepi dirumahnya, Vanya berjalan memasuki rumah.
Langkah kakinya terhenti saat ia menyadari ada seseorang ditaman belakang rumahnya.
Dengan langkah perlahan ia berjalan kearah orang tersebut. Vanya mengerutkan kening saat melihat sosok orang tersebut yang ternyata sang ayah.
Berjalan pelan kearah papanya, Vanya berhenti saat ayahnya berbicara dengan seseorang diponselnya.
"ya, kau atur saja segala kebutuhannya saya yang menanggung semuanya." percakapan berakhir saat itu juga.
Saat akan berbalik ponselnya kembali bergetar, Vanya terus sembunyi dibalik dinding pembatas taman belakang.
"halo, mah.. Gmna keadaan Flo? Apa sudah baikkan?" ayahnya bertanya pada orang ditelepon yang ternyata sang mama.
"biarkan saja bocah itu, nanti juga pulang sendiri. Biasanya juga begitu."
"ya sudah papa tutup dulu teleponnya, mama jaga triplet saja. Biar papa pikirkan alasan kenapa mama gak pulang." ponselnya kembali mati.
Setelah memasukkan ponsel kedalam saku, ayah Vanya berbalik melangkah dengan santai dan masuk kedalam rumah.
Sedangkan Vanya mengerutkan kening, ia mencerna apa yang baru saja didengarnya dari mulut sang ayah.
Siapa triplet? Apa hubungannya dengan orangtuanya? Dan kenapa pula ia merasa ada yang hilang?
Saat pikirannya melayang entah kemana, suara Vani terdengar keras ditelinganya.
"Vanya lo ngapain disitu?"
Mendengar suara kencang putri kembarnya Reyhan berjalan menghampiri keduanya.
"Vanya sejak kamu disana?" tanya papanya gugup.
__ADS_1
"ohh, aku gak lama Vani dateng aku udah sampe duluan" jawaban santai yang keluar dari mulut Vanya membuat orang lain percaya tapi tidak dengan sang papa.
"apa kamu dengar omongan papa ditelepon Vanya?" tegas sang papa, menunggu jawaban yang keluar dari anaknya.
"iya pa, aku dengar. Aku penasaran siapa itu triplet? Kenapa mama menjaganya? Lalu kenapa aku ngerasa sakit?" pertanyaan itu meluncur dari mulut Vanya, membuat sang papa menatap sendu.
"papa gak bisa jelasin sekarang sama kamu, tapi papa harap kamu ingat semuanya." berjalan pelan dan menepuk bahu putrinya, Reyhan berlalu meninggalkan putri kembarnya dengan perasaan kacau.
Vani yang melihat Vanya terdiam, menepuk bahunya untuk menyadarkan dari lamunannya.
"jangan bengong Van, lo harus usaha. Ada yang mengharapkan kehadiran lo." Vani berlalu meninggalkan Vanya dengan segala pikirannya.
"gue harus cari tau kenapa perasaan gue kaya gini. Gue harap bisa terima kenyataan saat tau kebenarannya." berbalik dan meninggalkan taman.
...****************...
"gimana apa yang lo dapetin selama ini?" tanya orang diseberang telpon.
"bagus, pantau terus keadaannya. kalo bisa jangan buat dia mengingat semuanya." dengan seringai orang itu menutup teleponnya.
"bagus, jangan pernah ingat semuanya, Vanya. Lo hanya milik gue. Dan gue gak terima mereka ada." dengan mata berkilat dendam orang itu berjalan dengan langkah santai sambil bersiul kencang.
Auranya terasa menakutkan. Entah apa yang ada dipikirannya, intinya jangan ada yang mendekati dia,karena dia adalah orang berbahaya yang harus dihindari.
...****************...
Keesokan harinya..
Vanya terus berbaring diatas kasurnya, ia merasa tubuhnya demam.
ia merasa sangat haus, tapi karena rasa pusing dia hanya berbaring.
__ADS_1
meraih ponselnya, Vanya mencari kontak kembarannya. Setelah ketemu dia menghubunginya.
"halo Van, gue minta tolong ambilin minum. kepala gue pusing banget." dengan lirih ia berbicara dengan Vani.
"-"
"iya jangan lama, gue haus banget." melemparkan ponsel kesembarang arah, Vanya menutup matanya kembali.
Saat akan terlelap, suara Vani terdengar ditelinganya.
"Van lo jangan tidur. Nih gue udah beli bubur sama bawain obat. cepet minum" Vani membantu kembarannya bangkit dari tidurnya.
Ia juga ikut merasakan sakit jika kembarannya sakit.
"mama belum pulang juga Van?" tanya Vanya pada kembarannya.
"belum, katanya mama gak tau berapa lama nginapnya. Lo sabar aja, ada gue disini." ucap Vani menyemangati kembarannya.
"iya makasih Van, cuma lo yang bisa ngerti perasaan gue." balas Vanya lirih.
"karena kita berbagi tempat dirahim mama, jadi jangan sedih ya! Gue juga ikut sedih."
Vani membantu Vanya makan dan minum obatnya karena kembarannya terlihat sangat pucat. Nanti ia akan mengabari mamanya kalau Vanya sakit.
Ikatan batin antara ibu dan anak sangat kuat, meskipun Vanya tidak mengingat anaknya namun ia juga merasakan sakitnya.
...~**to be contineued~...
Jangan lupa vote, like and share ya bestii..
Thanks you and see you**..
__ADS_1