Dua Sisi Yang Berbeda

Dua Sisi Yang Berbeda
bab 6


__ADS_3

Dengan langkah santai Vanya berjalan kaki sendirian, ia tidak memesan taksi karena berubah pikiran. Saat akan memesan tiba-tiba suara dalam pikirannya mengatakan ingin santai sejenak. Vanya tau Revan hanyalah salah satu dari kepribadian dalam dirinya, tapi dia berusaha mengabaikan eksistensi kemunculan Revan.


"Van, lo harus tau batasan. Mau lo berusaha lindungi gue, tetap aja lo cuma numpang ditubuh gue. Jadi ingat batasan." dengan nada acuh tak acuh Vanya mengabaikan suara Revan.


Ia terus berjalan seorang diri, hingga langkah kakinya berhenti melihat seorang anak laki-laki sedang duduk sendiri disebuah bangku taman. Tanpa sadar Vanya berjalan menghampiri anak itu.


"hai, kenapa sendirian disni. Dimana orangtua mu?" tanya dengan nada lembut.


Meskipun diluar Vanya terkenal dengan sifat dinginnya, namun ia sangat menyukai anak-anak.


"-" tanpa menoleh anak itu mengabaikan pertanyaan Vanya. Sedangkan yang bertanya hanya menatap anak itu lembut.


Mendudukkan diri disebelah kursi kosong, ia menatap anak itu intens. Perasaan itu lagi muncul saat dirinya menatap wajah familiar pada anak laki-laki disebelahnya.


setelah cukup lama hening tiba-tiba suara datar keluar dari mulut anak laki-laki itu.


"jangan menatap ku seperti itu".


mendengar itu Vanya hanya terkekeh kecil, ia mengelus kepala anak itu dengan gemas.


"kenapa kamu bicara seperti itu? Anak seusia mu harusnya bertingkah imut.."


anak kecil itu menepis tangan Vanya dan menatapnya marah.


"jangan menyentuhku, kamu hanya orang asing. Didunia ini hanya keluarga ku yang boleh menyentuhku".


Deg..


Perkataan anak laki-laki itu membuat jantung Vanya mencelos, kenapa ia merasa sakit? Siapa sebenarnya anak ini? lagi pula kenapa rasanya ia merasa dekat dengannya?


Berusaha mengabaikan perasaannya Vanya lantas bangkit meninggalkan anak itu. Sebelum pergi ia tersenyum tipis dan menepuk bahu anak kecil tadi.


"jangan terlalu memaksakan diri untuk menjadi berpikir dewasa, walau bagaimana pun kamu berhak bahagia."

__ADS_1


"mami tidak tau apa yang aku alami, apa yang harus aku lakukan agar mami ingat kami?"


gumaman kecil keluar dari mulut anak kecil itu, ia menatap kosong tempat Vanya berjalan hingga bayangan itu tidak terlihat lagi.


...****************...


Vanya melanjutkan perjalanannya yang tadi sempat tertunda. Menurutnya dengan berjalan kaki ia bisa merasa santai dan juga bebas.


Kalau saja suara menyebalkan orang yang sangat dibencinya tidak terdengar.


"naik" dengan datar laki-laki itu berhenti disebelahnya, menyuruh Vanya menaiki mobil yang dikendarainya.


"cih" Vanya mendengus, mengabaikan laki-laki itu.


"naik Zevanya Kirana Ramdan" suara dingin itu membuat Vanya menoleh dan menatap Gabriel yang memerintahnya.


"ada hak apa lo nyuruh-nyuruh gue? Dan sejak kapan kita sedekat itu sampe lo mau nganterin gue?"


Ia tidak pernah menyangka akan bertemu dengan laki-laki yang membuat hari-harinya yang damai menjadi berantakan.


Tanpa membuang waktu lama Vanya berbalik dan berlari dengan cepat menghindari Gabriel. Tidak sudi ia satu mobil dengan laki-laki itu.


Gabriel yang melihat itu berbalik menatap punggung Vanya yang semakin menghilang.


"keras kepala." terdengar dengusan kasar keluar dari mulutnya. ia lalu melanjalankan mobilnya menuju rumahnya.


Sedangkan Vanya hanya terus berlari saat kakinya sudah tidak sanggup melanjutkan larinya, Vanya berhenti dengan tangan bertopang dilututnya.


"huh gila, mimpi apa gue ketemu tuh cowo! Sial banget hari ini." setelah cukup kuat untuk berjalan ia melanjutkan langkahnya.


"hai.." sapa laki-laki dihadapannya.


mendengar suara yang ia kenali Vanya mendongakkan kepala, melihat siapa yang ada dihadapannya.

__ADS_1


"hai Vian" ia membalas orang yang menyapanya.


Alvian Pratama Hutama teman sekampus sekaligus cinta pertamanya. Tapi karena sebuah kejadian membuatnya harus berpisah 4 tahun lalu, dan baru dipertemukan kembali sekarang.


"kenapa lari-lari,hm?" suara lembut yang membuat Vanya tanpa sadar tersenyum lebar.


"gapapa, gak penting juga. Kamu mau pulang?" tanyanya lembut.


"iya, mau bareng? Hari ini aku lagi gak pengen naik mobil jadi jalan kaki, kebetulan ketemu kamu." Alvian menatap teduh perempuan dihandapannya.


"ayo! Aku juga lagi pengen jalan kaki.."


Keduanya berjalan beriringan dengan santai, Vanya menatap Alvian yang berada disampingnya. Ia merasa hangat dihatinya.


"kamu gak bareng Vani? Biasanya kalian berdua lengket banget kaya perangko" dengan senyum jenaka Alvian membuka obrolan, sungguh ia merasa canggung pada perempuan yang berstatus mantannya itu.


"oh Vani masih ada kelas, karena takut pulang malem jadi dia yang bawa mobil. Jadi aku jalan kaki sendiri" jawabnya santai.


"oh gitu, aku udah lama gak liat kamu. Setelah beberapa tahun kamu jadi terlihat dewasa tapi tetap cantik,, aku suka!" dengan nada pelan diakhir kalimat membuat Vanya yang disebelahnya tersenyum tipis.


" makasih, tapi aku memang cantik. seseorang aja yang gak sadar itu.." dengan nada menyindir ia mengakhiri percakapannya.


Alvian yang mendengarnya tersenyum masam, ia berusaha mengalihkan topik pembicaraan mereka.


"ah aku ingat ada hal yang harus dibeli ditoko kue, kamu mau ikut?" Alvian mengajak Vanya untuk mampir ketoko kue, padahal ia hanya berbasa-basi saja.


"gak dulu deh aku mau langsung pulang aja" tolak Vanya halus.


"yaudah kalo gitu aku duluan" melambaikan tangan Alvian menyebrang jalan kearah toko kue.


"cih, pembohong! Mana ada toko kue disitu." Vanya hanya mendengus ringan lalu melanjutkan perjalanannya.


-to be continued-

__ADS_1


__ADS_2