
Waktu terus berlalu hingga tak terasa kandungan Riri sudah mencapai masa persalinan, namun sayang keadaannya belum bisa dikatakan baik-baik saja.
Walaupun begitu Riri tetap tenang dan tak pernah merasa terganggu dengan masa kehamilannya. Mungkin naluri seorang ibu yang harus melindungi anaknya, ia pun sama terus menjaga kandungannya.
Pernah suatu kali dokter Rendi tak sengaja melihat Riri yang sedang mengelus perut buncitnya dan mengajak bicara anaknya, dan kalian tau janin dikandungannya ternyata kembar.
Riri sebenarnya sangat menyayangi janin yang dikandungnya dan sebenarnya ia tidak ingin keadaannya seperti ini namun apa bisa dikata. Takdir berkata lain, ia harus mengandung diusia yang masih sangt muda dan yang lebih menyedihkannya lagi ia hamil tanpa seorang suami. Lengkap sudah penderitaannya.
Flashback
Saat itu dokter Rendi akan memeriksa keadaan pasiennya, saat sedang melewati kamar wanita yang selama ini diperhatikannya sedang mengelus perutnya dan berbicara pada anaknya, akhirnya menghentikan langkahnya dan mencuri dengar apa yang dibicarakan pasien cantiknya.
__ADS_1
"sayang kalo kamu nanti udah lahir, temani mami disni ya. Jadi penguat mami agar mami bisa kembali seperti dlu. Walaupun kalian hadir karna perbuatan papi kalian tapi mami tidak akan menyakiti kalian kesyangan mami. Mami gak sabar pengn ketemu anak-anak mami" sambil mengelus perutnya yang buncit dan seakan anak kembarnya tau kalau diajak bicara sang ibu mereka memberikan respon dengan tendangan di dalam perutnya. "awww"" ringisnya pelan. Dengan tersenyum ia tau anaknya sedang mendengarnya bicara. Setidaknya anak-anaknya yang memberi kekuatan padanya saat keadaanya terpuruk seperti sekarang ini.
Dari balik pintu dokter Rendi tersenyum kecil melihat interaksi Riri dan anak yang dikandungnya. Setidaknya ia melihat ketulusan di mata Riri tnpa takut perempuan itu akan menyakiti anaknya.
Flashback off
Selama masa kehamilan Riri tidak pernah mengalami masa-masa sulit jadi ia tak perlu bersusah payah menghadapinya. Bahkan mengidam pun tidak, itu keuntungan terbesarnya.
"bagaimana keadaan nona Riri?" tanya dokter Rendi yang sudah mengetahui identitas wanita itu.
"baik dok" dengan wajah datarnya saat melihat dokter tampan itu.
__ADS_1
Dokter Rendi lantas tersenyum cerah saat melihat perempuan malang yang diam-diam sudah mengisi hatinya selama beberapa bulan ini.
"sebentar lagi nona akan melahirkan apakah nona tidk ingin memberi tahu keluarga nona Riri" dengan nada seramah mungkin agar tidak menyinggung perasaan Riri.
Mendengar nama keluarga disebut membuat Riri mau tak mau mengingatnya kembali, sambil menghela nafas akhirnya ia menjawab pertanyaan dokter Rendi.
"aku tidak butuh keluargaku, selama aku disni apa pernah mereka menjengukku bahkan laki-laki ******** itu tidk mencariku barang sedikitpun. Cukup aku dan anakku saja, aku sudah bahagia tanpa siapa pun." balasnya dengan nafas yang naik turun dan tangan mengepal menandakan ia sangat marah.
Mendapat respon yang diluar dugaan akhirnya dokter Rendi menghentikan obrolan pribadi itu takut akan berdampak buruk bagi ibu dan bayi yang dikandung Riri.
"yasudah kalau begitu saya permisi dlu nona, kalo ada apa-apa segera hubungi petugas atau bisa menghubungi saya" akhirnya dokter Rendi berlalu meninggalkan Riri yang masih betah pada posisinya menghadap pintu keluar.
__ADS_1
"andai saja Riel tidak memperlakukanku seperti itu, mungkin aku bisa dengan ikhlas memaafkannya tapi mengingat kejadian malam itu, aku sangat takut padanya. Riel bagaikan orng yang berbeda saat dengan kejamnya melakukan perbuatan bejat itu padaku. Semoga mami bisa bertahan ya nak, mami akan rawat kalian sebaik mungkn dan doakan mami bisa secepatnya keluar dari tempat ini" dengan nada lirih mengelus perut buncitnya itu.
To be continued …