
Pagi hari yang biasanya cerah kini terasa mendung, seperti suasana hati seorang Vanya yang biasanya dingin kini bertambah dingin.
Mimpi semalam membuat suasana hatinya memburuk, entah kenapa ia merasa sangat sedih memikirkannya.
"Van, udah jangan sedih. Lo mimpi apa cerita sama gue" dengan tenang Vani menghibur saudara kembarnya.
" entah kenapa gue kepikiran anak kecil yang ada dimimpi semalem Van. Wajahnya tuh kaya gak asing gitu."
"dan gue ngerasa sakit saat liat anak itu nangis, kaya hati ini juga ikut nangis." kini dengan airmata mengalir dikedua matanya.
"udah Van jangan nangis gue juga ikut ngerasain perasaan lo, sebagai kakak lo gue gak tau harus gimana?" Vani ikut merasakan rasa sakit yang dialami saudara kembarnya.
"apa gue tanya mama ya Van, siapa tau aja mama tau sesuatu yang terjadi sama gue."
"iya, coba aja tanya. Tapi kayanya mama gak pulang deh, soalnya gue gak liat mobil mama dari semalem. Kalo gitu lo tanya mama dimana, gue mau siap-siap ada kelas pagi" kata Vani sambil berlalu meninggalkan kamar kembarannya.
Sedangkan Vanya dengan cepat menghubungi sang mama, setelah beberapa saat suara diseberang telpon memasuki telinganya.
"halo mam"
"-"
"mama dimana? Ada sesuatu yang mau aku tanya sama mama, mama bisa pulang gak" tanya Vanya lembut.
"-"
"oh yaudah, kalo gitu aku tunggu nanti malem aja. Hari ini aku ada kelasa pagi bareng Vani, aku tunggu ya mam. Mama hati-hati dijalan" sambungan telepon terputus Vanya lalu bergegas memasuki kamar mandi dan bersiap untuk ke kampus.
__ADS_1
Sedangkan dilantai bawah Vani sudah selesai bersiap dan menunggu Vanya untuk sarapan, dimeja makan sudah ada papanya sedang memegang sebuah koran yang sedang dibacanya.
"pagi pah" sapa Vani sambil tersenyum.
"pagi sayang, mama menginap dirumah sikembar katanya Flo sedang demam. Papa gak tega dengan sikembar sejak kecil harus berpisah dengan ibunya, semoga ada keajaiban Vanya ingat si kembar." Reyhan sedih dengan keadaan putri bungsunya, disaat anak lain merasakan masa remaja dengan bersenang-senang Vanya hanya bisa berdiam diri karena kejadian yang dialaminya.
" iya pah, aku juga sedih dengan keadaan adik yang seperti kehilangan hal berharga tapi gak bisa ingat. Andai aja didunia ini membunuh gak dilarang akan kuhabisi laki-laki brengsek itu, aku juga ngerasain sakitnya jadi Vanya pah karena kita kembar." balas Vani dengan lirih diakhir kalimat.
"sudah jangan sedih, jangan sampai adikmu merasa ada yang gak beres denganmu, coba kamu panggil Vanya, Vanya dari tadi gak turun-turun." Reyhan mengalihkan topik pembicaraan takut sang putri bungsu mendengar percakapan mereka.
"iya pah, aku keatas dulu panggil Vanya." Vani berlalu meninggalkan ruang makan.
Tanpa disadari seseorang berembunyi dibalik dinding mendengar pembicaraan keduanya. sebuah seringai muncul disudut bibirnya.
"gak akan aku biarin kamu ingat semuanya. Hanya aku yang boleh kamu ingat. Selamanya kamu milikku Vanya" ia berlalu meninggalkan ruangan itu tanpa diketahui siapapun.
Tok tok tok
"Van, lo gapapa kan?dari tadi gak turun-turun"
namun tidak lama pintu terbuka dari dalam menampilan sosok Vanya yang terlihat sederhana namun sangat cantik.
" iya gue gapapa Van, gak usah khawatir sama gue." dengan nada yang mulai terdengar dingin.
"mulai deh kumat kulkasnya, udah ah ayo turun nanti kita telat" menarik sang adik meninggalkan kamarnya.
"hm" mendengar itu Vani hanya menggelengkan kepalanya. Sudah balik kehabitatnya si Vanya, pikirnya.
__ADS_1
Setelah sampai dilantai bawah mereka pun sarapan bersama, tidak berapa lama semuanya menyelesaikan sarapannya.
"pah kita pamit ya, papah hati-hati dijalan" mencium tangan sang ayah dengan bergantian keduanya pun bergegas meninggalkan rumahnya.
Ketika dijalan keduanya hanya berdiam dengan pikiran masing-masing. Sampai beberapa saat keduanya telah sampai diparkiran kampus.
keduanya turun dari mobil meninggalkan tempat parkir.
"pagi Vanya" dengan mata berbinar laki-laki bernama Gabriel tersenyum cerah pada Vanya.
"cih" dibalas dengan decihan sinis dari perempuan itu.
"minggir"
"gak akan" balas Gabriel.
"gue gak tau lo punya muka setebal itu, gue ingetin ya Riel jangan pernah muncul dihadapan gue. Karena ngeliat muka lo adalah hal terburuk dalam hidup gue."
"terserah, intinya aku gak akan nyerah sama kamu. Kamu milikku Vanya." dengan nada datar Gabriel meninggalkan Vanya sendiri.
"gila" ia pun berjalan memasuki kelasnya.
"jangan lupa tugas hari ini akan jadi materi kalian saat skripsi nanti, adapun mengenai temanya kalian banyak cari referensi dari mana saja. Kalau gitu kelas berakhir hari ini, selamat siang." ucap sang dosen meninggalkan ruang kelas.
"udah pulang Van, kelas gue dosennya ada urusan jadi pulang cepet. Lo mau langsung balik?" tanya Vanya pada kembarannya dipesan singkat.
" gue masih dikelas Van, gak tau balik jam berapa? Lo duluan aja, mobil gue yang bawa ya takut sampe malem." tidak lama menunggu Vani membalas pesannya.
__ADS_1
"yaudah gue naik taksi aja, kalo gitu lo pulangnya hati-hati" sambil berlalu meninggalkan area kampusnya.