Elf Princess

Elf Princess
Episode 10. Masa lalu kelam Zac


__ADS_3

Berita mengenai kedua orang tuanya yang telah kembali dari perjalanan panjang, membuat Zac kembali mengulas senyum di wajahnya. Anak berusia 13 tahun itu dengan antusias berlari ke arah pintu gerbang istana menunggu kehadiran kedua orang tuanya.


Deg!


"Ibu.. Ayah?" Zac terdiam dan menatap kosong ke arah depan, melihat para pengawal dan para pelayan berbondong-bondong yang seperti nya mengurus jenazah dua pasangan yang berlumuran darah.


"Pangeran!" Dari belakang, terdengar teriakan serak dari seorang wanita yang tak lain adalah Diana. Ia menutup mata Zac agar tidak melihat tubuh kedua orang tuanya yang berlumuran darah. Ya, dua jenazah itu adalah Kaisar dan Permaisuri, kedua orang tua Zac.


"Bibi, jangan tutup mataku! Aku ingin menunggu ayah dan ibu!" ucap Zac serak. Entah karena ia tidak tahu, atau pura-pura tak percaya. Diana yang tak kuasa menahan tangis akhirnya menangis sambil menutup mata Zac.


"Bibi, aku ingin memeluk ibu! Dimana ibu?! Bibi, lepaskan tanganmu dari mataku!" ucap Zac berusaha untuk melepas tangan Diana.


"Tidak, seharusnya Pangeran tidak keluar saat ini.." ucap Diana parau.


Karena tidak sabar, Zac melepas pelukan Diana dan berlari ke arah para pengawal yang tengah sibuk kesana kemari saat hujan membasahi kekaisaran saat itu.


"Sir Charles, apa kau melihat ayah dan ibuku? Dimana mereka?" ucap Zac dengan denyut jantung tak beraturan.


"Apa pangeran belum tahu? Kaisar dan Permaisuri, mereka telah meninggal dan sekarang para pengawal sedang mengurus mayatnya. Jadi, tolong minggir dan jangan ganggu kami!" ucap Sir Charles, salah satu pengawal kepercayaan ayah Zac.


Deg!


"Tidak! Kenapa kau menyebut ayah dan ibuku meninggal? Kau bisa dibunuh karena berkata semena-mena!" ucap Zac tak kuasa menahan amarah.


"Pangeran, cobalah diam dan mengerti. Mana mungkin kami berbohong pada anda," ucap salah satu teman Charles yang juga berdiri disana. "Charles, ayo, kita harus membantu memakamkan Kaisar dan Permaisuri sebelum hujan semakin deras!" ucapnya melanjutkan.


Diantara kerumunan orang, Zac terdiam dan berdiri tegap tak bisa berkata-kata. Mungkin, siapapun yang melihatnya akan merasa aneh. Bagaimana bisa seorang anak tidak menangis saat kematian kedua orang tuanya?


Tidak, itu tidak benar sama sekali. Kesedihan yang sesungguhnya, adalah ketika orang itu hanya bisa terdiam mematung, antara rasa percaya atau tidak. Rasa sakit di dadanya, bahkan menekan air mata yang seharusnya keluar dari kedua matanya.


Diantara hujan yang membasahi kekaisaran, anak itu hanya bisa terdiam dengan pakaian yang basah. Menatap kosong ke arah depan, berharap ini hanya mimpi semata. Hujan deras yang membasahi Istananya saat itu seakan-akan mewakili perasaan nya saat ini.


Seorang wanita, lebih tepatnya Diana, ibu pengasuh Zac sejak usianya menginjak 4 tahun, ia berlari kencang meraih tubuh anak itu. Anak yang haus akan kasih sayang, kini harus menghadapi fakta bahwa kedua orang tuanya telah meninggalkan dirinya selama-lamanya. Keinginan, sekaligus harapan terbesarnya telah musnah, apalagi yang harus ia percaya? Siapa lagi yang harus ia harapkan?

__ADS_1


Diana tersenyum pahit dan memeluk Zac. Ia terus berkata dengan suara serak, "Masih ada bibi disini, masih ada bibi!" ucap Diana tak kuasa menahan air mata.


Harta, keinginan, semuanya telah ia dapatkan. Namun, harapan satu-satunya yang paling ia inginkan, justru tidak dapat ia raih. Seperti sebuah bintang yang terlihat kecil, namun tidak akan bisa diraih oleh jangkauan manusia.


Zac tertawa kecil, "Kenapa tidak ada yang berkata ini lucu? Ini sangat lucu, bibi! Kenapa bibi tidak tertawa?" ucap Zac mencoba menahan tangis.


Semua orang mungkin menganggap Zac adalah sebuah kutukan. Ia terlahir membawa kesialan karena mendapat kutukan sejak dilahirkan. Tidak ada yang peduli akan seorang anak 'kutukan' yang saat itu sedang bersedih atas kepergian kedua orang tuanya.


Bahkan saat menjadi Kaisar di usia muda, Zac selalu menatap dingin semua orang. Tidak ada yang mengetahui tentang isi hati dirinya, bahkan Diana sekalipun.


Terkadang, Diana ingin sekali memeluk Zac dan bertanya akan perasaan pria itu. Namun, Diana tahu, kenyataan telah membuat Zac menjadi pribadi yang berbeda. Ia bukanlah seorang anak laki-laki manis dan manja yang dikenalnya. Zac, bagi Diana ia salah harta yang paling berharga dalam hidupnya. Melihat air mata yang keluar dari kedua mata pria itu, tidak bisa menutup fakta bahwa Diana telah merasa sakit hati dalam benaknya yang terdalam.


*****


"Ah.. tanpa sadar aku jadi menangis di hadapan Nona, ya?" Diana tersenyum parau mengingat kejadian naas di masa lalu yang telah berhasil merebut kebahagiaan Zac.


"Bibi, apakah aku adalah wanita jahat jika aku menolak Baginda untuk menikah dengannya?" Rubby tersenyum tipis, sangat tipis.


"Tidak, tidak sama sekali, Nona. Tapi, saya akan kecewa jika nona harus menolak pernikahan itu." ucap Diana tersenyum. Wanita mana yang mau putranya ditolak oleh seorang wanita yang telah ia nanti-nantikan selama ini? Ya, Diana selalu menganggap Zac adalah putranya, lebih dari putra kandungnya yang tega menelantarkan dirinya selama ini.


"Aku belum merasa mengantuk, bibi. Jika bibi sudah lelah, maka kembalilah dan istirahat. Aku akan tidur saat sudah mengantuk nanti!" ucap Rubby tersenyum.


"Jika ada masalah, panggil bibi, ya?" Diana tersenyum dan menggenggam erat tangan Rubby, sementara Rubby hanya mengangguk menyahuti ucapan yang dilontarkan dari mulut Diana.


*****


"Yang Mulia, akhir-akhit ini keadaan kritis yang didapat oleh Kekaisaran perlahan membaik. Saya pikir dalam tiga hari ke depan Kekaisaran akan memulih seperti sebelum masa peperangan." ucap Edward seraya memberikan berkas terkahir yang harus di tanda tangani Zac hari ini.


"Kau bisa kembali ke ruanganmu dan istirahat." ucap Zac.


Edward mengangguk pelan, "Apa Yang Mulia lagi-lagi tidak mengunjungi Nona hari ini?" tanya Edward dengan rasa penasarannya.


"Tidak, aku mengunjunginya pagi tadi." jawab Zac menjelaskan.

__ADS_1


"Anda harus sering-sedjng mengunjungi Nona Rubby," nasehat Edward sebelum akhirnya ia pergi dari ruang kerja Zac.


"Diluar hujan, ya?" Zac bangkit dari duduknya dan menatap jendela. Satu tangannya terkepal sementara tangan yang lain menyentuh kaca jendela.


Deg!


"Itu.." Zac terdiam begitu melihat seorang wanita yang terduduk di kursi taman dengan sebuah payungnya. "Aku merasa familiar dengan wanita itu.." Zac terdiam sejenak, "Tidak mungkin kan, Rubby keluar saat hujan seperti ini?"


***


Sementara itu, diluar saat hujan deras membasahi taman istana.


"Maafkan aku, Bibi. Tapi entah mengapa aku mendapat panggilan untuk keluar saat hujan deras seperti ini," Rubby bergumam pelan seraya bangkit dari kursinya dan mengusap lembut bunga yang kemarin mengeluarkan nada saat Rubby datang.


"Aku bisa merasakan harmonisasi itu karena aku adalah seorang Elf. Bagi manusia, mungkin mereka tidak akan bisa mendengarnya," Rubby menghela nafas panjang.


"Apa aku adalah satu-satunya Elf yang ada disini, ya?" Rubby terdiam dan mencoba berpikir. Biar bagaimanapun, habitat nya adalah di Hutan elf, tempat dimana para elf berada.


"Kau akan kembali ke dunia elf, jika kau bersedia menikah dengan Zachyre, Kaisar Negeri ini"


"Suara.. itu?"


Deg! Deg! Deg! Jantung Rubby berdebar tak beraturan. Ia berlari menuju sebuah pohon rindang yang mengeluarkan cahaya.


"Apa kau yang mengatakannya? apa kau berkata padaku?" Rubby menatap tajam pohon itu.


"Kau bisa mendengar suaraku?"


"A-aku adalah seorang Elf!" Rubby menyentuh batang pohon itu, pohon yang terlihat tua namun masih kokoh jika dilihat baik-baik.


"Yang Mulia Putri? Apakah itu kau?"


"Wah, kenapa disini bisa ada Putri Elf?"

__ADS_1


Bisik bisik terdengar suara anak kecil yang berasal dari dalam pohon. Rubby mengerutkan kening dan berucap pelan. "Kalian.. kenapa kalian bisa ada disini?" ucapnya bingung


__ADS_2