Elf Princess

Elf Princess
Episode 12. Depression


__ADS_3

"APA?!" Rubby berteriak cukup keras. Ia bahkan menutup mulutnya sendiri setelah tak sadar berteriak seperti itu di hadapan Diana. "Maaf, aku.. tidak sengaja." ucap Rubby menunduk malu.


Diana tersenyum lembut dan mendekati wanita itu. "Nona, jangan merasa khawatir pada Baginda. Dia pasti akan baik-baik saja, karena ia adalah pria yang kuat." ucap Diana sambil mengelus puncak kepala Rubby.


"Tapi, itu adalah kesalahanku, Bibi." lagi-lagi Rubby menunduk, ia menyesal karena tidak menuruti perintah Diana. Namun, disisi lain ia juga merasa senang karena bisa bertemu tiga peri kecil yang masih satu ras yang mirip, namun berbeda nama.


Aku harus bagaimana? Rubby menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Ia tak kuasa menahan tangis mendengar ucapan Diana mengenai kondisi Zac.


Beberapa waktu lalu..


"Jadi, bibi, bisakah bibi jelaskan apa ada masalah yang terjadi pada Yang Mulia Kaisar? Karena saat dia menemui ku tadi.."


"Kaisar mencoba bunuh diri," ucap Diana memotong ucapan Rubby.


"Bun.. bunuh diri?" Rubby membuka matanya lebar. Tidak mungkin kan seorang Kaisar mencoba membunuh dirinya sendiri.


"Tenang saja Nona, Baginda hanya ingin melukai dirinya sendiri, dan itu sudah biasa ia lakukan kalau timbul depresi secara tiba-tiba. Beruntung Sir Edward datang dan menemui Baginda." ucap Diana menghela nafas.


"Kenapa sampai seperti itu? Apa hujan begitu jahat baginya?" tanya Rubby menunduk.


"Nona, nona tidak tahu banyak tentang Baginda. Tidak hanya karena kedua orang tuanya, Baginda membenci hujan bukan tanpa satu alasan itu saja. Tapi, Baginda melakukannya karena dia tidak mau orang yang ia jaga atau sayangi terluka," ucap Diana. "Jadi, Nona jangan mencemaskan Baginda, apalagi merasa bersalah dan--"


"Apa Baginda bisa ditemui sekarang?" Rubby tersenyum tipis dan menatap sendu Diana.


"Tidak. Kondisi Baginda terlalu lemah saat ini, tubuhnya panas dan akhirnya dengan terpaksa dokter harus membiusnya. Untuk itu, Baginda harus merasa tenang dan membutuhkan suasana hening agar bisa pulih." ucap Diana, ia tersenyum pahit begitu mendengar kabar Zac kembali berulah dan mencoba melukai dirinya sendiri.


Setelah mendengar ucapan Diana, Rubby berteriak dan akhirnya Diana menangkan Rubby agar tidak terlalu cemas akan kondisi Zac.

__ADS_1


Rubby tersenyum kecil dengan bibir ranumnya, ia lalu menggenggam erat tangan Diana dan berkata parau. "Bibi, jika nanti Baginda bangun, tolong sampaikan permintaan maafku padanya. Aku.. terlalu takut untuk bertemu dengannya saat ini."


"Apa Baginda mengatakan sesuatu yang membuat Nona merasa tidak nyaman?" tanya Diana mengerut kening.


"Tidak. Baginda tidak mungkin berkata buruk padaku, bibi. Baginda adalah pria yang sangat baik," ucap Rubby menggeleng.


"Mungkin anda memang tidak bisa mengatakannya untuk saat ini, Nona. Tapi, saya akan menyampaikan permintaan maaf anda, dan Baginda pasti akan mengiyakan karena beliau tidak mungkin membenci anda," ucap Diana tersenyum.


Hari mulai malam, Diana dan pelayan lain menyiapkan makanan untuk makan malam Rubby. Mulai dari sepotong daging sapi, sup ayam, dan makanan penutup dan cuci mulut seperti buah buahan.


"Nona, aku harus pergi menjenguk Baginda sebentar. Nona makanlah dengan baik, ya!" ucap Diana tersenyum, dan hanya anggukan kepala yang dibalas oleh Rubby karena wanita itu masih tak fokus saat ini.


"Nona, apa ada hal yang merasa anda terganggu? Katakanlah, siapa tahu saya bisa membantu anda!" ucap salah seorang pelayan muda yang mungkin masih berumur belasan tahun.


"Terima kasih atas tawaranmu, tapi aku baik-baik saja." Rubby bergeleng dan menolak tawaran pelayan itu.


"Nona, saya mempunyai sebuah keahlian tersembunyi! Tapi nona jangan beri tahu siapa-siapa ya?" ucap Jeina mencairkan suasana.


Tidak ada jawaban dari mulut Rubby, wanita itu masih terdiam dalam lamunannya.


"Nona! Padahal saya hanya mengatakan ini pada anda, tapi anda tidak mau mendengar saya!" Jeina memanyunkan bibirnya. "Sebenarnya sejak awal saya sudah menyukai kedatangan nona! Pasti akan sangat seru jika mempunyai teman seperti anda!" ucap Jeina menghela nafas.


"Astaga! Apa saya sudah bersikap lancang? Saya benar-benar minta maaf, Nona." Jeina kembali memanyunkan bibirnya, kali ini bukan karena ia sedih Rubby tidak membalas perkataannya. Tapi ia merasa bersalah karena sudah bersikap seperti teman pada Rubby yang bahkan tidak dekat dengannya.


"Apa keahlian mu?" Rubby tiba-tiba saja mengangkat suara dan menatap Jeina. Begitu mendengarnya, Jeina mengulas senyum cerah di wajahnya. "Apa nona benar-benar penasaran?!" tanya Jeina antusias, dan Rubby menjawabnya dengan anggukan.


"Nona, dari dulu saya itu sangat ahli dalam hal percintaan! Tapi sayangnya tidak ada yang mau mendengarkan saran saya mengenai percintaan hanya karena saya belum pernah mempunyai kekasih! Ah.. jika dipikir pikir itu sangat menyebalkan!" ucap Jeina seraya menyilang kan kedua tangannya di depan dada.

__ADS_1


"Pftt.." Rubby tertawa kecil dan menutup mulutnya. Begitu mendengar ucapan Jeina, rasanya hatinya sedikit lega dan terhibur karena rasa sedih tadi.


"Wah.. nona tertawa? Nona tertawa karena perkataanku?! Apa aku berhasil menghibur nona?" Jeina tersenyum senang. Sebetulnya, ia turut sedih begitu Rubby hanya terdiam karena rasa bersalah terhadap Zac. Jadi ia memutuskan untuk berbicara apapun yang dapat menghibur dan mencairkan suasana.


"Jadi, apa manfaat mu mengenai hubungan percintaan?" ucap Rubby yang masih tertawa kecil.


"Tentu saja saya sangat bermanfaat, nona! Coba nona jelaskan tentang pria yang anda sukai! Tidak, coba jelaskan masalah anda dengan seseorang! Saya pasti bisa menyelesaikan nya dengan baik!" ucap Jeina tersenyum.


Apa pelayan ini mengarahkan ku pada Kaisar? Tapi, sepertinya dia pelayan yang baik.


"Aku tidak mempunyai pria yang aku sukai." Rubby bergeleng pelan dan menghela nafas.


"Begitukah?" Jeina mengerutkan kening dan mencoba berpikir. "Kalau bukan yang anda suka, apa saja boleh, kok! semisal, masalah hati anda yang tidak nyaman akhir-akhir ini, atau apapun itu! Ayo nona.. saya akan menjadi tempat curhat terbaik!" ucap Jeina tersenyum.


"Pertama-tama, katakanlah siapa namamu, hmm?" tanya Rubby tersenyum.


"Jeina, nona. Itu adalah nama yang paling aku suka karena kakak laki-laki ku sendiri yang memberikannya!" ucap Jeina menjawab.


"Benarkah?" Rubby kembali tersenyum dan menatap kedua mata Jeina.


"Hum.. aku tidak mempunyai banyak teman, jadi aku tidak tahu apa yang harus kukatakan padamu." ucap Rubby bergeleng.


"Bagaimana dengan Baginda? Saya mendengar dari Bibi Diana kalau anda telah bersedih hati karena Baginda, kan? Saya... bukannya saya lancang, Nona. Tapi saya adalah tempat terbaik untuk anda bisa mencurahkan segalanya saat ini!" ucap Jeina dengan raut wajah sedih.


"Baginda, ya?" Rubby bergumam pelan. Benar, ia memang merasa tak enak hati pada Zac. Tapi bukan berarti dia menyukai nya, kan? Begitulah isi pikiran Rubby saat ini.


"Aku takut Baginda membenciku karena kejadian yang telah menimpa kami saat itu. Jadi, aku tidak bisa memberanikan diri untuk pergi ke ruangannya dan meminta maaf" ucap Rubby menundukkan kepalanya.

__ADS_1


__ADS_2