
Istana Goncalves, Kamar Zachyre..
"Ba.. bagaimana bisa??" Rubby bergumam pelan, kini tubuhnya tidak bisa bergerak sama sekali karena berada dalam pelukan tangan Zac yang begitu berat, lebih tepatnya, sangat kuat.
"Apa aku bangunkan Baginda saja, ya? Tapi.." Rubby menelan saliva nya kasar. Ah, sial sekali dirinya, padahal ini adalah hari pertama ia resmi tinggal di istana itu. Pikirnya.
Baru saja bangun dari tidurnya, kesialan sudah datang kembali pada Rubby. "Bagaimana caranya aku terlepas dari pelukan ini?" tanya Rubby ragu. Tidak mungkin juga ia membangunkan Zac, karena kelihatannya Zac sangat pulas dengan memejamkan matanya itu.
Rubby memutar tubuh dan kini posisinya menghadap langit-langit atap. Ia memegang dada bidang Zac dan perlahan mencoba keluar dari pelukan pria itu.
"Sedikit lagi.. aku akan terlepas!" ucap Rubby penuh perjuangan. Bukannya Rubby tidak mempunyai kemampuan, tapi tangan Zac memang sangat kuat, pria itu adalah mantan pahlawan perang besar yang terjadi selama setiap dua tahun sekali.
"Pftt.." Zac tertawa kecil, ia ternyata diam-diam memperhatikan Rubby, dan ia sudah bangun dari tidurnya sedari tadi. "Sebegitu susah nya, kah?" ucap Zac pelan. Rubby lantas terkejut, ia pikir Zac masih terlelap dalam tidurnya.
"Kapan anda bangun?" tanya Rubby mengerutkan kening.
"Kira-kira.. sudah saat kau baru bangun tadi." ucap Zac menjelaskan.
"Be..benarkah?" wajah Rubby sedikit memerah. Bagaimana bisa ia menganggap Zac masih tertidur padahal pria itu memperhatikannya sedari tadi?
"Lalu.. kenapa anda tidak melepas pelukan anda?" tanya Rubby sedikit merasa kesal.
"Ya, aku hanya mencoba sedikit menjahilimu," Zac tersenyum tipis dan melepas pelukannya. Setidaknya, Rubby bisa bernapas lega karena sudah tidak berada di dekat Zac. Rasanya jantungnya mau copot saya tadi.
"Saya akan kembali ke kamar saya sekarang. Terima kasih sudah meminjamkan kamar Baginda tadi malam," ucap Rubby membungkuk pelan.
"Tetaplah disini, aku yang akan keluar dan memanggil Baroness Diana. Jika kau keluar dan pergi lebih dulu, para pelayan yang melihatnya pasti akan berpikir negatif dengan kau yang berusaha kabur dariku, atau mungkin.. mereka masih mempunyai pikiran lain..." ucap Zac tak habis pikir. Zac lalu melangkah keluar kamar untuk bersiap di ruang kerjanya. Karena, itu adalah cara terbaik saat ini.
"Ya." hanya satu kata singkat yang bisa dijawab oleh Rubby. Wanita itu lalu bangkit dari tempat tidur setelah kepergian Zac. "Huft.." Rubby menghela napas panjang. Rasanya tidak cukup untuk hanya istirahat satu malam.
Rubby meregangkan otot-otot tangannya. Ia lalu membuka jendela kamar untuk menghirup udara segar. "Kapan Bibi Diana akan datang, ya?" ucap Rubby bergumam.
"Kalau dilihat dari kamar Baginda, terlihat sedikit celah untuk melihat jendela kamarku." ucap Rubby. "Baginda tidak mungkin melihatku sering membuka jendela tengah malam, kan?" batin Rubby yang lagi-lagi menghela napas.
__ADS_1
Krekk..
"Selamat pagi, Nyonya.." ucap Diana begitu masuk ke kamar Zac.
"Bibi!" Rubby tersenyum dan menghampiri Diana.
"Bagaimana kondisi Nyonya? Apa terjadi sesuatu kemarin malam?" tanya Diana khawatir. Namun, dibanding itu, Rubby bukannya fokus menjawab, ia malah fokus dengan sebuah kata dari kalimat yang diucapkan Diana. "Nyonya? kenapa bibi memanggilku Nyonya?" tanya Rubby canggung. Ia memang tidak terbiasa dipanggil dengan sebutan Nyonya.
"Bagaimanapun, anda sudah jadi tuan rumah kedua setelah Baginda. Maka saya harus memanggil anda nyonya. Ah, tidak, maksud saya Yang Mulia Permaisuri! Itu adalah panggilan anda sekarang!" jawab Diana menjelaskan. "Ke depannya, anda akan sering disebut Yang Mulia Permaisuri oleh masyarakat dan para bangsawan. Sama halnya seperti Baginda Kaisar Zachyre," lanjut Diana.
Rubby hanya bisa tersenyum tipis mendengar nya. Ia mungkin tidak terbiasa saat ini, tapi ia harap ke depannya ia akan bisa lebih bersosialisasi oleh masyarakat, terutama para bangsawan.
"Tapi, jika bibi berkenan, saya akan lebih senang jika anda memanggil saya Rubby," ucap Rubby. "Mungkin dengan sebutan permaisuri dari anda, akan membuat saya terbiasa. Tapi, saya justru lebih merasa terbebani jika anda terus menerus memanggil gelar saya." lanjut Rubby menjelaskan.
"Ru.. Rubby?" Diana membuka matanya lebar. "Apa anda sungguh ingin saya memanggil nama anda?" tanya Diana. Ia memang sudah menantikan hari dimana Rubby meminta ia untuk memanggil nama nya. Karena biasanya seseorang akan memanggil namanya langsung jika sudah dekat, maka dari itu, itu artinya Rubby sudah menganggap Diana orang terdekatnya.
"Tentu saja, saya akan jauh lebih senang jika anda mau memanggil nama saya langsung," ucap Rubby tersenyum manis.
******
"Baginda, saya dengar anda tidur berdua dengan non-- Yang Mulia Permaisuri, ya?" tanya Edward dengan senyum menggoda.
"Jangan berpikiran yang tidak-tidak." ucap Zac dengan raut wajah seperti biasanya, datar dan tidak berekspresi.
"Maafkan saya Baginda, tapi apa Baginda tahu.. para pengawal sedang membicarakannya karena Permaisuri keluar beberapa saat setelah anda." ucap Edward menjelaskan dengan detail.
"Kurasa lidah mereka harus cepat dipotong." Zac menyahut pelan, namun tatapannya kini berubah seperti tatapan membunuh.
"A-anu!!" Edward menelan Saliva nya kasar, ah, sepertinya dia lupa apa watak dari Zac, tuannya itu.
"Se.. sebenarnya, saya yang melihatnya langsung! Ya, langsung!" ucap Edward terburu-buru. "Saya melihatnya saat sedang berjalan di sekitar sana," lanjutnya gugup.
"Apa kau yakin?" Zac menoleh, ia menatap tajam pengawalnya itu.
__ADS_1
"Te-tentu saja!" Edward lantas mengangguk cepat, ia tidak mau para pengawal lagi-lagi dihukum karena mulutnya yang gatal dan sering keceplosan.
Astaga, hampir saja aku dibenci para pengawal lain. batin Edward sambil menghembuskan napas.
"Ngomong-ngomong.." Zac terdiam sejenak, ia lalu bangkit dari kursinya dan mendekati Edward. "Edward, sebenarnya ada yang ingin aku bicarakan sejak dua hari lalu, tapi.." belum sempat menyelesaikan ucapannya, tiba tiba terdengar sebuah ketukan dari arah luar.
Tok.. tok... tok..
"Baginda! saya mohon biarkan saya masuk!" ucapan yang terdengar 'cukup' lantang itu membuat Zac akhirnya menghentikan pembicaraannya dengan Edward. "Masuklah!" ucap Zac singkat.
Krekk!!
"Ba-baginda!" pengawal itu memainkan jemarinya, ia tampak takut mengatakan hal yang ingin ia sampaikan itu.
"Ada apa?" Zac mengerutkan kening bingung.
"Entah apa masalah mereka, tapi Marquess Ahen, Marquess Gerlard, dan Baron Solste datang karena ingin membicarakan hal penting mengenai anda." ucap pengawal itu seraya menelan ludah nya dengan susah.
'Lagi-lagi, Marques Ahen?'
...Taman Istana...
"Ternyata sudah banyak perubahan sejak terkahir kali aku kesini," ucap Baron Solste membuka pembicaraan.
"Kurasa semakin banyak tumbuhan tidak penting di taman ini," ucap Marquess Gerlard tertawa meledek.
"Ekhem.." dari belakang, terdengar suara dehaman seorang pria yang usianya sekitar 32 tahun itu.
"Apa kalian saling mengirim surat dan berjanji untuk datang hari ini?" tanya nya.
Marquess Gerlard dan Baron Solste saling menatap, mereka lalu bergeleng bersamaan.
"Bagaimana bisa hubungan kami yang tidak dekat ini ingin berjanji bersama, apalagi saling berkirim surat?" tawa Marques Gerlard yang membuat Baron Solste geram. Namun, apalah daya, Baron Solste mempunyai gelar yang lebih rendah dari Marquess, jadi ia tidak bisa berkutik sama sekali.
__ADS_1
"Baiklah, tolong jangan bertengkar sebelum aku menanyakan pertanyaan intiku," Marques Ahen tersenyum tipis, "Walau bukan karena sebuah janji, tapi tujuan kita mungkin sama. Apa itu benar, Marques dan Baron?" tanya Ahen menyeringai.