
"Akhir-akhir ini tugasmu jadi lebih ringan ya, Edward?" ucap Zac menatap Edward yang tengah bersandar di dekat kursi Zac.
"Sepertinya begitu, Baginda. Tapi saya masih lelah dan punggung saya hampir remuk." ucap Edwrad sambil meregangkan otot-ototnya.
"Ya, aku berterima kasih atas bantuanmu." Zac mengangguk dan meneruskan pekerjaannya.
"Yang Mulia, mengenai wanita yang anda cari, saya menemukan beberapa wanita berambut pirang, tapi untuk wanita bermata biru.." Edward terdiam dan mencoba berpikir. "Saya tidak terlalu yakin akan hal itu, Yang Mulia."
"Edward, apa nanti siang akan ada jadwal pertemuan penting?" Zac menatap Edwrad dengan tajam dan bertanya.
"Hem.. sepertinya tidak, Baginda." jawab Edwrad.
"Baguslah," Zac mengangguk paham. "Kalau begitu, kumpulkan semua wanita berambut pirang itu, aku akan memeriksanya setelah jam makan siang."
"Baiklah," Edward mengangguk dan berdiri dari duduknya. "Saya akan meminta Kepala Pelayan dan pengawal lain untuk menyiapkan daftar nama wanita-wanita itu." ucap Edward menjelaskan, dan disahut dengan anggukan kepala oleh Zac.
***
Siang hari..
"Diantara mereka, tidak ada wanita bermata biru seperti yang kucari, terlebih, kalung ini tidak berefek sama sekali." Zac mengerutkan kening karena ternyata sia-sia saja ia bertemu para wanita itu.
"Apa sungguh diantara mereka tidak ada wanita yang Baginda cari?" tanya Edward mengerutkan kening.
"Tidak, aku tidak menemukannya diantara wanita wanita ini." jawab Zac menggeleng.
"Ya-Yang Mulia! Dokter Lily datang, dia.. dia membawa seorang wanita muda dengan kriteria yang hampir mirip dengan wanita yang Baginda cari!" Diana berlari ke arah Zac dan membawanya pada Dokter Lily.
"Dokter Lily? Bagaimana bisa dia--"
Deg!
Kalungnya..
"Bawa aku kesana, Baroness!" tegas Zac memerintah. Diana mengangguk dan mempertemukan Dokter Lily dengan Zac, beserta wanita itu.
"Salam kepada Matahari Kekaisaran, Baginda Zachyre.." Dokter Lily dan wanita itu membungkuk hormat di hadapan Zachyre.
"Siapa namamu?" satu pertanyaan terlontar dari mulut Zac. Ia mengangkat dagu wanita yang tidak lain adalah 'Rubby', wanita berparas cantik dengan rambut pirang dan bola mata berwarna biru yang dimilikinya.
Beberapa waktu lalu
__ADS_1
"Pasti Nona akan senang jika bertemu Baginda. Mungkin, awalnya Nona akan merasa Baginda menakutkan, tapi jauh dari itu, Baginda adalah pria yang sangat baik." ucap Dokter Lily.
"Benarkah? Menakutkan? apa tampangnya menyeramkan?" Rubby tertawa kecil begitu mendengar penjelasan Dokter Lily. "Wah, aku jadi penasaran karena Dokter Lily begitu antusias." lanjutnya tersenyum.
"Kalau begitu, apa Nona mau ikut dengan saya ke istana? Di sana ada Baginda, dan Baginda pasti akan sangat senang bertemu dengan Nona Rubby yang sangat cantik." ucap Dokter Lily sambil mengusap-usap tangan Rubby yang baru dibalut perban.
"Entahlah, aku tidak yakin." Rubby tersenyum parau, ia adalah orang baru di dunia manusia ini. Lalu, kehadirannya disini bukanlah keinginannya. Bagaimana Rubby harus menyikapinya? Ia bahkan masih tidak terbiasa akan cara bicara dan gaya manusia pada umumnya.
"Nah, sekarang Nona Rubby tidurlah, nanti siang ikut denganku ke istana Kekaisaran, ya?" ucap Dokter Lily ramah.
"Apa? Tapi aku--"
"Shuttt!" Dokter Lily menaruh jari telunjuknya di bibir mungil Rubby, ia lalu tersenyum hangat dan berkata lembut. "Ini akan jadi hari yang membahagiakan. Tidurlah yang nyenyak ya?" Dokter Lily melangkah mendekati pintu kamar Rubby, ia lalu pergi keluar dari kamar itu.
"Apa.. yang harus kulakukan?" Rubby memegang kedua pipinya dengan telapak tangan. Sungguh, ia memang benar-benar dilema saat ini.
Aku.. seharusnya aku tidak ada disini, seharusnya aku kembali ke dunia tempat asalku.
****
Ruang Kerja Zachyre.
"Sa-salam Baginda.." Rubby berusaha tersenyum di hadapan Zac. Ia bahkan menahan lututnya yang menekuk sedari tadi.
'"Kau masih belum menjawab pertanyaanku, jadi, siapa namamu?" Zac merubah sorot matanya menjadi tatapan hangat.
"Ya? Namaku?" Rubby tersenyum kikuk, "Nama saya Rubby, Baginda." ucap Rubby ragu.
"Permaisuri Rubby, itu akan menjadi panggilan yang bagus," gumam Zac tersenyum dan menatap Dokter Lily. "Terima kasih atas bantuanmu, Lily. Namun, sepertinya kau mendengar cukup banyak perkataan para pelayan, ya?"
Deg!
"Ah, saya.."
"Edward akan mengurus pemberian kalungnya, biarkan aku berdua dengan gadis ini sebentar." ucap Zac.
"Saya mengerti, Yang Mulia." Dokter Lily mengangguk paham, ia lalu beranjak keluar dari ruangan itu.
"Baiklah Rubby, katakan.. apa kau mengetahui tentang kalung ini?" Zac melepas sebuah kalung yang terikat di lehernya, ia lalu memperlihatkan kalung itu pada Rubby.
Kalung.. kalung itu adalah..
__ADS_1
"Darimana anda mendapatkannya?" Rubby mengerutkan keningnya.
Tidak mungkin manusia sepertinya bisa mendapatkan kalung Elf dengan mudah. Apa jangan-jangan..
"Apa ini punyamu?" Zac tersenyum tipis. "Tenanglah, aku akan kembalikan ini untukmu. Aku memakainya untuk sementara waktu karena mendapat kepercayaan dari mendiang orang tuaku."
"Mau aku pakaikan?" Zac mendekatkan kalung itu pada Rubby. Ia dengan hati-hati mengaitkan kalung itu di leher Rubby.
Ah, benar seperti ini, kan? Sebenarnya aku agak canggung. Zac menertawai dirinya sendiri dalam hati. Mungkin inilah sebabnya ia belum menikah sampai usianya menginjak 26 tahun. Padahal, pada aturan di Kekaisaran Goncalves, sang pria sudah harus menikah saat umurnya menginjak 20 tahun. Bahkan, banyak dari orang tua yang menjodohkan putra putrinya sedari kecil hanya untuk politik.
Sring..
Cahaya? Zac membuka matanya lebar. Benar, Rubby adalah pemilik kalung itu. Cahaya itu tentu saja telah menjawab kalau Rubby adalah pemiliknya.
Dasar bodoh, bisa-bisanya aku tidak menyadari kalau ada rakyatku yang merupakan calon istriku sendiri.
"Berapa umurmu?" Zac menatap lekat netra mata Rubby, namun wanita itu hanya terdiam.
Ah, umurku? Aku tidak pernah merayakan ulang tahun sejak kecil. Jadi, aku tidak terlalu ingat.
"Eum.. mungkin sekitar 20 tahun? atau.." Rubby memejamkan matanya dan mencoba berpikir.
"Baiklah, sekarang kau istirahat saja, besok aku akan menemui mu lagi," Zac tersenyum hangat dan mencoba menyesuaikan diri. Ia tahu, citranya memang buruk kalau bertemu dengan orang yang pertama kali ia lihat. Tapi Rubby berbeda, karena Rubby adalah seorang wanita yang sudah dipilih oleh mendiang Kaisar dan Permaisuri, ayah dan ibu Zac.
"Senang bertemu dengan anda, Baginda. Saya akan kembali ke tempat tinggal saya" Rubby tersenyum dan membungkuk hormat.
"Tidak, kau akan tinggal disini." ucap Zac menjelaskan. "Aku sudah menyiapkan kamar untukmu, kau akan tinggal disana ke depannya."
"Apa? Saya.. akan tinggal di istana ini?" kedua bola mata Rubby terbuka lebar begitu mendengar ucapan Zac. Namun, Zac hanya mengangguk mendengar ucapannya.
Bagaimana ini? Apa aku harus menurutinya?
Rubby berusaha tersenyum untuk menahan rasa gelisahnya. Tapi, jika harus kembali.. aku juga tidak punya tempat tinggal.
Deg.. deg..
Kedua bola mata Rubby menatap lekat netra mata Zac. "Atas kebaikan hati Baginda, saya benar-benar berterima kasih, saya pasti akan menyukai kamarnya,"
"Pergilah untuk istirahat, aku sudah menyuruh Diana untuk mengantarkan mu kesana, Diana adalah ibu pengasuhku dulu, ia pasti senang karena kau datang kemari." jelas Zac sebelum akhirnya Rubby meninggalkan tempat itu.
"Saya mengerti, Baginda."
__ADS_1
Rubby, ya?