
Ethan terdiam dan menatap dua wanita yang tengah berada di depan cermin itu. Pria itu berjalan mendekati Rubby dan membungkuk hormat. "Karena Yang Mulia sudah tahu nama saya, maka saya tidak perlu memperkenalkan diri." Ethan menaruh tangannya di depan dada. "Salam, Permaisuri Rubby." ucap Ethan.
Rubby hanya bisa tersenyum tipis, beberapa saat sebelum Zac pergi, ia memang sudah memberi tahu Rubby bahwa akan ada pengawal yang ia tugaskan untuk menjaganya. Tapi Rubby tidak menyangka pengawal itu adalah Ethan.
"Mohon bantuannya, Sir Ethan." ucap Rubby. Disisi lain, Jeina hanya bisa membungkuk tak bersuara di hadapan pria itu. Ia tahu, Sir Ethan adalah salah satu kepercayaan Zac setelah Edward. Maka pangkatnya sudah pasti lebih tinggi darinya. Begitu pikir Jeina.
Rubby menatap Jeina dengan tubuh bergetar di hadapan pria itu. Wajar saja, Ethan adalah jajaran pengawal dengan kekuatan yang lumayan besar di istana. Ia adalah rampasan perang dari negeri sebelah, dan Zac langsung menjadikannya pengawal karena Ethan adalah tahanan yang berhasil membocorkan rahasia kerajaan yang memberontak pada Zac.
Entah apa yang membuat Zac mempercayainya. Tapi aku yakin pilihan seorang Kaisar tidak akan salah. Rubby mengernyitkan keningnya sejenak. "Kau boleh kembali ke tempatmu, aku akan memanggilmu jika memang dibutuhkan." ucap Rubby tenang.
"Baik." Ethan menjawab singkat, dengan postur tubuh tegapnya, ia berbalik badan dan kembali ke ruangannya sendiri.
"Hahhh.." Jeina menghela nafas berat, "Akhirnya dia pergi juga! Sungguh, aku sangat tertekan!" seru Jeina jujur.
Rubby bergeleng kecil, ia lalu melanjutkan merias diri karena sebentar lagi adalah waktu pertemuan dengan para bangsawan.
****
Taman Istana..
Rubby, Jeina, dan juga Ethan yang sudah siap berjaga di belakang Rubby sudah sampai di taman istana. Sudah banyak kursi dan meja yang cukup besar disediakan disana, serta teh hijau yang tentu saja Rubby pilih dari sumber yang bagus, karena ia juga meminta rekomendasi pada Zac sebelum ia mempersiapkan semua ini.
Kedatangan Rubby tak disambut baik oleh wanita-wanita bangsawan yang sudah lebih dulu datang. Mereka bersikap tak acuh dan mengobrol sendiri dengan satu sama lain.
"Apa kalian buta?" Sir Ethan mengernyitkan kening dan menatap para wanita itu. Tatapannya yang begitu mengintimidasi membuat mereka menelan ludah kasar. "Oh, ternyata Permaisuri kita sudah datang, ya?" ucap mereka tanpa rasa hormat sedikitpun.
Jeina mengigit bibir bawahnya, betapa kesalnya ia dengan sikap para bangsawan yang seenaknya pada seorang permaisuri seperti Rubby.
__ADS_1
"Aduh, lihatlah, ternyata Yang Mulia sangat menyukai berada di dekat orang rendahan seperti mereka, ya? Yang satu adalah pelayan rendahan yang tak punya status sama sekali, dan satu lagi.. dia bukannya barang rampasan perang dari negara sebelah ya?" cibiran yang mulai timbul dan ditunjukkan pada Rubby membuat wanita itu tak tahan lagi untuk hanya diam.
"Ethan, Jeina, mundur beberapa langkah dari posisiku." ucap Rubby.
Ethan hanya mengangguk kecil, ia dan Jeina mundur beberapa langkah dari posisi Rubby saat ini.
Rubby berjalan dengan tenang, ia lalu menduduki tempat duduknya dan menghela nafas kasar. "Terima kasih karena nyonya dan nona-nona sudah bersedia datang di jamuan ku ini."
Mereka saling bertatapan, dan tertawa kecil di balik senyuman sinis yang diberikan untuk Rubby.
Namun, tak sadar seorang wanita tiba-tiba mengangkat suara. "Oh, Yang Mulia, lihatlah kalung yang terkait di leher anda! Bukankah itu kalung dari negeri Wolfs? Negeri penghasil tambang berlian dan emas terbesar?"
Rubby menatap kalungnya dan tersenyum tipis. Ia tidak harus kaget dengan ucapan wanita itu karena memang status Zac bukan main-main, ia adalah seorang 'Kaisar'.
"Apa kalung ini begitu menarik bagi kalian?" Rubby tersenyum tipis. Seketika wanita bangsawan menunjukkan pandangannya pada Rubby dengan mata memelas.
"Aku mempunyai banyak berlian seperti ini. Di perjamuan selanjutnya, mungkin aku bisa membagikan beberapa untuk kalian." tawar Rubby yang seketika membuat mereka berbisik-bisik.
"Tidak ada salahnya, kan? lagipula dia itu sudah jadi permaisuri sekarang. Dengan kita mendekatinya mungkin kita bisa mendapat banyak keuntungan seperti ini," bisik bisik yang mulai bergemuruh di telinga Rubby membuat wanita itu kembali tersenyum.
"Oh ya, ngomong-ngomong.. sejak tadi, kalian belum memberi salam padaku, ya?" Rubby berkata lembut seraya menyeruput teh hijau miliknya. Wanita-wanita itu lantas terdiam dan menelan saliva nya kasar.
"Maafkan kami, Yang Mulia." ucap mereka dengan nada pelan.
"Kami tidak akan mengulangi nya. Benar begitu, kan?" ucap salah satu nyonya baroness pada bangsawan lain.
Di samping itu, terlihat seorang gadis yang meremass gaunnya dengan raut wajah kesal. Siapa lagi kalau bukan Nona Slynie, salah satu putri bangsawan yang lumayan terkenal karena ia memang nona cantik pergaulan kelas atas.
__ADS_1
"Ngomong-ngomong, Nona Slynie.. apa perjamuan ku menurut anda kurang sehingga sedari tadi anda hanya diam begitu?" Rubby menampilkan raut bersalah yang tentu saja hanya pura-pura. Sontak gadis itu langsung menatap Rubby dan bergeleng. "Ti-tidak."
Ia adalah gadis psikopat yang ditemui Rubby saat pesta pernikahan, lalu mengapa ia menjadi menciut saat berhadapan kembali dengan Rubby saat ini? Jawabannya adalah karena kejadian kemarin yang hampir melepas status kebangsawanan nya. Ia dimarahi habis-habisan oleh keluarganya atas tindakannya yang memalukan nama baik keluarga. Dan berita itu tersebar dengan waktu cukup lama, sekitar 1 hari lebih, dan menjadi perbincangan hangat para bangsawan.
"Syukurlah, aku kira ada yang kurang suka dengan perjamuan pertamaku." Rubby tersenyum tipis, senyuman itu berhasil membuat mereka semua terdiam dan menikmati teh hijau yang sudah disediakan.
Cukup lama Rubby bertahan di perjamuan itu, ia akhirnya bisa berisitirahat dengan tenang di kamarnya.
"Terima kasih Jeina, Sir Ethan." ucap Rubby. Keduanya sama-sama mengangguk dan kembali ke tempatnya masing-masing.
Hari ini adalah hari yang cukup melelahkan bagi Rubby. Wanita itu melepas perhiasan yang berada di tubuhnya dan berbaring di atas ranjangnya. Tak lupa ia juga meregangkan otot-otot jarinya yang sudah kaku.
"Aku akan kembali beraktivitas besok," ucap Rubby sambil menutup tubuhnya dengan selimut.
***
Tak terasa, hari sudah larut. Selepas berendam di air hangat, Rubby menyemprotkan parfum berwangi mawar itu dan duduk di pinggir ranjangnya untuk menunggu makan malam yang akan disediakan di kamarnya.
"Silakan dinikmati, Yang Mulia." ucap dua pelayan yang datang dan menghidangkan makan malam serta buah-buahan untuk mencuci mulut.
Mereka lalu pergi setelah selesai menghidangkan makanan untuk Rubby. Tenang rasanya menyantap makanan seraya memandang langit lewat jendela yang berada tepat di sebelah ranjang Rubby, apalagi pelayanan para pelayan yang perlahan sudah mulai menghormati dan mau menghargai kehadirannya. Ia sungguh bersyukur karena bisa beradaptasi dengan baik di dunia manusia.
Namun, terkadang Rubby memikirkan hal lain. Bagaimana kondisi di dunia elf? apa ada yang mengkhawatirkan dirinya? Tapi jawabannya jelas tidak, karena Rubby tidak mempunyai siapapun selain sahabatnya yang sudah hilang komunikasi semenjak ia dikurung sendirian tanpa ada seorang pun yang mendekatinya.
"Huft.. aku jelas tak ingin terlalu nyaman di dunia manusia, dan aku sadar diri akan asal usulku. Namun..." setelah dipikir-pikir lagi, tak ada gunanya juga merindukan kenangan masa lalu. Kenangan? Ah, kenangan apa yang harus Rubby ingat semasa ia kecil? Kenangan tentang ia dikurung? Dibuang? Rubby seharusnya sudah tak peduli akan dunia aslinya.
Setelah selesai makan, Rubby beranjak mendekati jendela dan menutup tirai yang terbuka, ia lalu kembali ke tempat tidurnya dan mematikan lentera yang berada di sebelah ranjangnya itu.
__ADS_1
"Selamat tidur, Rubby." ucap Rubby pada dirinya sendiri. Ia terlelap karena terlalu lelah sedari pagi tadi.