Elf Princess

Elf Princess
Episode 31. Kau adalah pembunuh


__ADS_3

"Kau.." Zac kehabisan kesabarannya, pria itu mengepal tangannya erat. "Bagaimana bisa aku memelihara bangsawan tidak tahu diri seperti mu di kekuasaan ku?" Zac mengigit bibir bawahnya sendiri.


"Saya.. saya sungguh.. tidak melakukannya." gelengan kepala yang ditunjukkan oleh Marquess Ahen lama-lama membuat Zac muak. Rasanya ingin sekali ia memenggal leher pria itu sekarang juga.


"Marquess.." Rubby tiba-tiba saja menghampiri Zac, ia menatap tajam pria yang masih bertekuk lutut itu.


"Jika bukti bukti ini tidak cukup untuk membuat mu jujur, maka biarkan para saksi disini yang jujur." Rubby tersenyum tipis. Ia masih mengingat ucapan Jeina jika bukan rahasia lagi kalau Marques Ahen memang sering berbuat kotor, dan beberapa orang sudah mengetahui namun tak berani membongkar nya. Dan kini, Kaisar sudah menanganinya sendiri, jadi tidak akan ada bangsawan yang masih takut membongkar kebusukan pria itu.


Rubby berbalik badan dan menatap para bangsawan. Mereka saling berbisik dan melirik ke arah Rubby beberapa saat.


"Haruskah kuberikan imbalan bagi siapapun yang mau menjadi saksi perbuatan kotor Marques?" Rubby menatap tajam para bangsawan disana. Perlahan, beberapa orang mulai melangkahkan kakinya dan pergi menghadap Zac.


"Benar, Yang Mulia. Saya sudah sering melihat Marques Ahen bermain wanita dari desa, dan sepertinya dia juga memperbudak para wanita itu."


"Saya yakin dengan pasti melihatnya, Baginda."


"Baginda Kaisar, Baginda Permaisuri, saya bisa menceritakan dengan jelas apa yang saya lihat kala itu."


Beberapa bangsawan mulai berdatangan dan membongkar kebusukan Marques Ahen. Sementara pria itu masih keras kepala dan berkata bahwa semua yang dikatakan mereka hanya kebohongan semata.


Aku sudah bertindak sejauh ini, seharusnya tidak apa, kan? batin Marquess Ahen dengan tubuh yang sedikit bergetar.


Riuh-riuh kembali terdengar. Mendadak suasana menjadi ramai dan berisik. Kerumunan orang juga mulai berdesak-desakan akibat Rubby yang mengatakan akan memberikan imbalan bagi siapapun yang mau menjadi saksi.


Di samping itu, terlihat seorang pria yang masih berdiri tegap. Ia mengernyitkan mata dan memejamkan matanya sekilas. Rubby menatapnya, dan menghembuskan nafas kasar. Ia memundurkan langkahnya dan mensejajarkan tubuhnya di samping pria itu. "Anda tidak apa-apa?" tanya Rubby sedikit khawatir.


Kesadaran pria itu sedikit membaik setelah Rubby datang dan menghampirinya. Ia tersadar dan kembali fokus, "Ya, aku baik-baik saja." Zac mengangguk, pria itu memang tidak suka keributan seperti sekarang, yang membuatnya tidak fokus dan tidak nyaman.


"Berhenti! Kembali ke tempat kalian masing-masing!" tegas Rubby pada kerumunan orang itu.


Benar saja, suasana menjadi hening kembali. Zac menghembuskan napas kasar dan kembali menatap Marquess Ahen. "Masih ada satu bukti yang harus kutunjukkan."


Zac melirik sekilas ke belakang, suara hentakan kaki berhasil menarik perhatian semua orang. Kini, wanita yang sudah berumur, namun masih nyaman dipandang mata itu datang dan menghampiri Zac. Ia membungkuk hormat pada Zac, juga Rubby yang merupakan permaisuri.


"Salam saya, Baginda." wanita yang tak lain adalah Diana, ibu pengasuh Zac sendiri menghadap pria itu. Ia membungkukkan sedikit badannya dan kembali menatap sendu Zac.


"Terima kasih sudah mau mendengar ucapan saya, Baginda." Diana tersenyum, sudah lama sekali ia tidak berbicara tenang di hadapan putra asuhnya itu. Seorang pria yang sudah ia anggap seperti putra kandungnya sendiri, kini telah dewasa, dan kini ia telah membela keadilan sebagai seorang 'Kaisar'.


Apa? Wanita tua itu.. bagaimana bisa dia.. Marquess Ahen mengigit bibir bawahnya, jantungnya semakin berdegup kencang saat Diana datang dan menjadi saksi utama kali ini.


"Aku sudah tua, dan mungkin saja waktuku tidak banyak. Namun aku bersyukur karena bisa mengemukakan ini di hadapan banyak orang." Diana mulai mengangkat suara, suara yang terdengar serak namun masih jelas untuk dipahami.


"Beberapa Minggu lalu, tepatnya saat dimana peperangan terjadi di Kekaisaran ini, saya adalah saksi mata tentang segala hal kotor yang dilakukan oleh pria di hadapan saya sekarang, Marquess Ahen Von Zolvach."


Deg.. deg.. deg.. Tak bisa dipungkiri, bahwa kecemasan Marquess Ahen semakin bertambah. Pria itu mengernyitkan kening dan mengepal tangannya.


"Hentikan!" ia berteriak cukup keras, sehingga semua mata kini kembali tertuju padanya. "Saya.. saya memang pernah memperbudak para wanita di desa yang jauh dari kalangan bangsawan, tapi.. tapi itu dulu! Dan saya.. saya juga akan meminta maaf dan memberikan biaya untuk mereka dan.. dan saya janji tidak akan mengulanginya lagi!" Marquess Ahen akhirnya menjelaskan segalanya. Ia berkata separuh jujur bahwa ia memang memperbudak para wanita itu. Bagi Marquess Ahen, menyatakan hal ini lebih baik daripada hal buruk yang akan lebih besar dan datang nantinya mengancam masa depannya.


PLAK!


Satu tamparan keras tiba-tiba saja memenuhi suara di ruangan itu. Para bangsawan lantas terdiam dan menatap sang pelaku penamparan itu.


"Dasar bia*ab!" teriakan dari seorang wanita yang tak lain adalah Rubby, menggema di seluruh ruangan. Wanita itu tak bisa lagi menahan amarahnya tak kala mendengar pernyataan dari Marquess Ahen yang berhasil menusuk perasannya.

__ADS_1


"Apa begitu caramu memperlakukan para wanita?" Rubby mengigit bibir bawahnya. Sementara Zac, ia membiarkan istrinya itu melepaskan amarahnya saat ini juga. Karena wajar bagi Rubby untuk marah, bahkan satu tamparan Rubby tak cukup untuk balasan kejahatan Marquess Ahen.


"A-apa maksudmu--"


"BAJ*NGAN!" Rubby lagi-lagi berteriak keras. Bola mata yang berwarna biru itu menatap tajam Marquess Ahen, dan pria itu tak bisa berbuat apa-apa.


"Yang Mulia, apa.. saya boleh menamparnya?" dari belakang, Diana datang dengan mata memerah. Nampaknya bukan hanya Rubby saja yang terbalut emosi saat ini. Tapi juga puluhan, bahkan ratusan wanita yang berjajar disini. Dan Rubby sudah mewakilinya lebih dulu.


PLAK!


"Kau... kau yang sudah membunuh putriku, KAN?" Diana menggoyangkan bahu Marquess Ahen. Mata pria itu lantas terbuka lebar. "Tidak.. aku.." ia melirik ke arah para bangsawan, begitu banyak bisikan yang mengarah padanya.


"Apa? Membunuh? Seorang Marquess membunuh seseorang?"


"Pu.. Putriku..! Putriku mati karenamu!" cairan bening keluar dari pangkal mata Diana. Wanita yang biasanya menguatkan orang lain, akhirnya akan lemah juga di hadapan seorang pria yang telah membunuh putrinya.


Ya.. kau adalah seorang pembunuh.


Flashback, beberapa tahun silam


"Kita resmi bercerai. Maka pergilah dari kehidupan mu, dan jalanilah hidupmu bersama putrimu itu." ucap seorang pria berstatus Baron, ia juga adalah pria yang baru saja berstatus mantan suami dari Diana. Lebih tepatnya, ia masih suami sah Diana dalam hukum, namun pria itu sudah tidak mau lagi menganggap Diana sebagai istrinya.


"Bercerai?" derai air mata keluar dari pangkal mata wanita itu. Bagaimana bisa suaminya mengatakan hal itu dengan mudah? Bercerai? bahkan ia belum meminta persetujuan dari Diana, tapi mengapa pria itu seakan-akan menganggap Diana adalah mantan istrinya sekarang?


"Viona adalah putrimu, putri kita. Kau seharusnya tidak membuangnya juga." ucap Diana tersenyum pahit.


"Apa? Kau berkata seolah-olah kau tidak menyayanginya sekarang, Diana." pria itu tertawa kecil dan memandang hina Diana.


"Kau sendiri yang menyetujui pernikahan ini, lalu mengapa kau juga yang mengakhiri nya?" Diana tersenyum, lagi-lagi ia mengeluarkan air mata yang sudah tidak bisa ia tahan lagi.


"Menyetujuinya? Aku?" Baron Jones menunjuk dirinya sendiri, ia kembali tertawa renyah dan memandang hina Diana. "Kau seharusnya sadar diri, wanita rendahan! Ah, tidak, lebih tepatnya kau harusnya berterima kasih padaku, karena keluargamu terbebas hutang akibat aku mau menerima mu sebagai istri. Bukan begitu, Diana?" Baron Jones tersenyum tipis. Ia menangkup dagu Diana dengan satu telapak tangannya. "Pergilah dari sini, maka aku mungkin bisa memberikan kehidupan bebas untuk mu." ucap pria itu.


"ugh.." Diana meringis pelan, namun baginya, kesakitan yang dirasa akibat tangan Baron Jones yang menangkup wajahnya dengan keras lebih ringan dibanding kesakitan akibat perceraian satu pihak yang tiba-tiba saja diajukan oleh suaminya tanpa perceraian hukum itu.


"Tidak, aku tidak akan pergi dari sini! Setidaknya, setelah putriku beranjak dewasa, aku akan pergi." ucap Diana berusaha memfokuskan pandangannya.


"Apa?" Baron Jones berdecih. "Ha.. ha.. ha.. kau ingin membuat lelucon, hah?!" pria itu menyunggingkan senyumnya, namun senyuman itu sama sekali tak mengibaratkan ketulusan. "Jangan pernah menganggap kalau aku mau menampung beban sepertimu dan juga putrimu. Jadi, pergilah!" sarkas Jones dengan nada merendahkan Diana.


Diana bergeleng pelan, wanita itu masih keras kepala untuk tetap singgah di rumah bagai neraka itu.


Cinta buta? Tentu tidak. Ia memang mempunyai rasa pada suaminya, tapi tidak mungkin ia ingin bertahan hanya karena hal bodoh seperti itu.


Tujuan Diana hanya satu, ia ingin memberikan kehidupan layak untuk putrinya. Jika putranya bisa mendapat hak yang layak hanya karena ia adalah seorang pria yang nantinya adalah pewaris utama, lalu mengapa putrinya tidak? Padahal Viona adalah putri kandung hasil pernikahan Baron Jones dan Diana juga, sama seperti anak pertamanya yang berjenis kelamin laki-laki.


"Tidak.. aku.. aku tidak bisa meninggalkan kediaman ini sebelum putri kita, Viona, beranjak dewasa.." Diana melirih pelan. Ia kembali menangis, meneteskan air matanya. Ia sungguh lemah jika berhubungan dengan anaknya.


Lahir dari rahim yang sama, haruskah Viona mendapat beban berat hanya karena ia seorang wanita?


Baron Jones tersenyum tipis, ditatapnya seorang balita yang tentu saja adalah putrinya, Viona. Sebuah rencana buruk terlintas di pikirannya. Pria itu kembali menatap Diana dengan intens sehingga Diana menelan salivanya kasar.


"Aku akan menerima dan merawatnya. Asalkan kau tetap pergi dari sini." ucap Baron Jones menyunggingkan senyum di wajahnya. Sama seperti tadi, senyumannya tak mengisyaratkan ketulusan sedikit pun.


Diana terdiam seribu bahasa, antara ia dan putrinya, mana yang harus dia pilih?

__ADS_1


Tapi, fakta meyakinkan segalanya. Viona sudah balita, ia tidak lagi membutuhkan banyak asi dari ibunya, Diana. Dan satu-satunya cara agar Viona bisa hidup dengan layak adalah menetap di kediaman bagai neraka ini.


Mungkin, Viona bisa hidup bahagia. Karena sejahat-jahatnya Baron, ia tidak mungkin menyakiti darah dagingnya sendiri.


Begitu pikir Diana sebelum semuanya terjadi.


Namun pada kenyataannya..


Bertahun-tahun kemudian, setelah perpisahan Diana dan suaminya


"Vi.. Viona? Kau.. putriku?" Diana mengeluarkan cairan beningnya dari sudut mata. Kembali, saat seorang gadis datang dengan jalan lunglai menghadap dirinya.


Di ruangan yang sempit dan begitu gelap, wajah gadis itu tidak begitu terlihat. Namun, suatu keyakinan yang paling Diana ingat, bahwa putrinya mempunyai tanda kelahiran di lehernya, dan itu meyakinkannya bahwa Viona adalah gadis yang tengah berjalan lunglai di hadapannya saat ini.


Ah, tunggu! Mengapa Diana dan putrinya berada di ruangan gelap ini? Seharusnya, Diana ada di istana Kekaisaran bukan? Ia adalah ibu pengasuh Zac sejak ia dibuang oleh suaminya, dan sudah menetap di istana. Namun mengapa? Mengapa ia berada di tempat itu?


Krekk..


"Wah, perpisahan yang memakan waktu cukup lama ternyata masih membuat seorang ibu mengingat putrinya, ya?" senyuman manis dari seorang pria yang tiba-tiba saja memberi penerangan di ruangan sempit nan gelap itu datang, ia membawa lentera di tangannya, juga sebuah kotak yang entah apa isinya.


"Marquess.. Ahen? Bagaimana bisa anda--" Diana terdiam. Jika dipikir-pikir, alasan ia yang tiba-tiba berada di tempat gelap ini mungkin adalah karena ulah seseorang. Tapi siapa?? Mungkin kah...


Diana mengigit bibir bawahnya. Langkahnya perlahan mundur begitu pria yang tak lain adalah Marquess Ahen berjalan mendekatinya.


"Sepertinya kau salah paham. Aku bukan mau mendekatimu," Marquess Ahen tersenyum tipis. Tangannya memeluk tubuh gadis yang masih berjalan lunglai dengan tatapan kosong. Langkahnya terhenti begitu Marquess Ahen menarik pinggangnya dan memeluk tubuh gadis itu. "Ah, aku ingin bermain malam ini." ucap Marquess Ahen cukup lantang, dan itu sudah cukup untuk membuat Diana mengerti maksud dari pria itu.


"Jangan macam-macam pada putriku!" tegas Diana mengancam.


"Putrimu?" Marquess Ahen terkekeh pelan. Pria itu tiba-tiba saja mencium rambut Viona dan kembali menatap Diana. Ia membisikkan sesuatu di telinga Viona namun jelas terdengar dari telinga Diana karena ruangan itu memang benar-benar sempit.


"Apa kau mengenalnya?" tanya Marquess Ahen, dan lantas disahut dengan gelengan kepala oleh Viona.


"Bagus." Marquess Ahen tersenyum menyeringai. Di samping itu, Diana hanya terdiam menatap sendu putrinya. Ia tidak menyalahkan Viona sedikit pun. Karena perpisahan mereka memakan jangka waktu yang sangat panjang. Wajar bagi Viona untuk tidak mengenal seorang ibu yang telah berjuang mengandung dan melahirkannya itu.


"Viona, aku adalah ibumu. Seorang wanita yang sudah mengandung, bahkan melahirkan mu ke dunia." dengan serak, Diana berusaha menahan air matanya. Sulit baginya untuk meyakinkan sang putri bahwa ia adalah ibunya. Karena Diana tidak meninggalkan foto maupun barang lain sebagai tanda bahwa ia adalah ibu kandungnya.


"Kau... ibuku?" Viona mulai mengangkat suara, hal itu berhasil mengundang senyuman yang membuat Diana semakin cantik. Wanita itu tersenyum bahagia tak kala mendengar suara putrinya.


"Ya sayang, aku adalah ibumu..! Ibu kandungmu!" Diana tersenyum parau, tangisannya tak bisa ia tahan lagi. Wanita itu berjalan ke depan dan langsung memeluk tubuh Viona.


Srett!


"Menjauh dari tubuhku!" Viona berkata cukup tegas, gadis itu menatap tajam Diana dengan perasaan yang jauh berbeda dari Diana.


"Mengapa.."


Diana terdiam, apa lagi masalahnya? Apa dia berbuat kesalahan sehingga Viona dengan tega mendorong tubuhnya? Atau.. Viona tak percaya bahwa Diana adalah ibu kandungnya?


"Aku membenci ibu kandungku. Aku membenci wanita yang telah melahirkan ku ke dunia." Viona mengigit bibir bawahnya. Air mata mulai keluar dari pangkal matanya, yang membuat hati Diana mendadak tersayat begitu melihat Isak tangis Viona. Tidak, bukan hanya itu. Bagaimana bisa Viona berkata hal itu? Bagaimana bisa ia tidak menghargai perjuangan seorang ibu yang bahkan rela mati demi melahirkan putrinya?


Sakit rasanya mendengar fakta bahwa putri dari rahimnya sendiri membencinya. Apa terjadi sesuatu yang telah membuat Viona membenci ibu kandungnya?


"Kau seharusnya tidak berkata jujur bahwa kau adalah ibunya, dasar bodoh!" hinaan yang keluar dari mulut Marquess Ahen membuat Diana mengigit bibir bawahnya. Namun, dilain sisi wanita itu terdiam mematung tak kala melihat putrinya yang masih menatap tajam wajahnya. Wajah yang tak mengartikan kebahagiaan sedikit pun, melainkan sebuah 'kebencian'

__ADS_1


__ADS_2