
"Aku tentu saja tidak meminta hal yang sulit. Aku hanya ingin kita bisa makan bersama jika masing-masing dari kita mempunyai waktu luang. Kuharap, esok pagi pun kau bisa sarapan bersamaku." Zac tersenyum sambil menjelaskan. Sejujurnya, tak pernah terpikirkan olehnya mengajak seorang wanita untuk makan bersama dengannya, kecuali itu adalah tamu penting. Namun, atas saran Edward, Zac akhirnya sadar, ia harus melakukan hal-hal yang bisa mempererat hubungan nya dengan Rubby. Apalagi keduanya sama-sama belum mempunyai perasaan besar layaknya kekasih pada umumnya.
"Puft.." tanpa sadar, Rubby tertawa kecil. Hal itu tentu membuat Zac yang tadinya bersemangat tiba-tiba terdiam. Apakah ada yang salah dari ucapannya? Apa ia menyinggung Rubby? pikir pria itu dengan wajah bingung. Jika dibilang polos, tentu saja tidak, karena Zac sudah dewasa. Namun, Zac benar-benar terlihat seperti pria lugu jika kebingungan seperti itu.
"Ya ampun, Baginda, saya kira anda ingin meminta permintaan seperti apa sehingga berbicara serius begitu. Sungguh, kalau hanya itu saja, tentu saja saya mengiyakan." ucap Rubby sambil mengusap cairan bening yang keluar dari sudut matanya akibat terlalu tertawa tadi.
Zac menghela nafas kasar, ia merasa lega karena ternyata Rubby mau mengiyakan permintaannya. Disisi lain, ada perasaan senang tersendiri pada dirinya karena wanita itu bisa tertawa lepas di hadapannya, karena biasanya Rubby tidak akan mau bercanda seperti ini sebab ia sangat menghormati status suaminya itu.
"Rubby, kau harus sering menunjukkan sisi mu yang seperti ini," ucap Zac yang membuat Rubby tiba-tiba terdiam karena malu.
"Ah, sikap saya tadi kurang sopan ya? maafkan saya, Baginda, habisnya raut baginda sangat lucu tadi." ucap Rubby jujur.
Zac bergeleng kecil, "Justru sisi mu yang inilah yang membuatku nyaman." ucap pria itu tersenyum. "Jangan terlalu sopan padaku. Bersikaplah seakan-akan aku adalah teman mu.... ya, mungkin? Walau sebenarnya kita sudah mempunyai hubungan suami istri" lanjut Zac penuh penekanan.
"Saya paham, Baginda." Rubby tersenyum, entah mengapa perasaan nya jadi membaik setelah Zac masuk ke kamar dan mengobrol dengannya. Padahal tadi perasaan nya masih buruk karena Marquess Ahen dan pembicaraan tentang beberapa hal yang membuat hatinya tidak tenang. Namun, Rubby memilih untuk melupakan nya dan beristirahat di atas ranjangnya karena hari sudah larut. Apalagi, besok ia sudah berjanji untuk sarapan bersama Zac pagi hari.
****
"Woah, Yang Mulia begitu cantik, pantas saja Baginda sangat menyukai anda!" puji Jeina sambil menyisir rambut Rubby.
"Terima kasih atas pujian mu, Jeina. Tapi jangan berpikir terlalu jauh akan perasaan kami," Rubby tersenyum tipis, namun Jeina hanya terdiam bingung karena tak mengerti ucapan Rubby barusan.
"Yang Mulia, apa anda ingin mencoba mengepang rambut anda? Ini kan pertemuan penting antara anda dan suami anda, Baginda Kaisar. Biasanya, seorang pria akan lebih senang jika pasangan nya berdandan imut," saran Jeina yang langsung ditolak begitu saja oleh Rubby.
__ADS_1
"Tidak, Jeina. Aku tidak ingin berdandan imut, aku kan sudah memasuki usia dewasa sekarang." Rubby tersenyum.
"Padahal saya sangat gemas dengan rambut Yang Mulia yang begitu bagus, jadi saya ingin mendandani nya.." Jeina tertawa kecil, begitu pun Rubby yang ikut tertawa karena ucapan Jeina.
Ruang Makan Istana
"Apa kau sudah menyiapkan nya dengan baik? Seluruh hidangan yang aku minta?" tanya Zac dengan tatapan menikam pada koki istananya.
"Tentu, Baginda. Saya sudah mempersiapkan segalanya dengan baik," ucap koki istana mengangguk.
Aku lupa menanyakan pantangan atau makanan kesukaan Rubby kemarin. Jadi aku menyiapkan makanan yang direkomendasikan oleh para pelayan wanita.
Zac mengernyitkan dahinya, ia merutuki dirinya sendiri karena dianggapnya bodoh. Namun, satu-satunya cara menanyakan selera wanita adalah bertanya pada para wanita lain.
"Salam, Baginda." Rubby yang tiba-tiba saja datang membuat kefokusan Zac buyar. Pria itu lagi-lagi langsung mengulas senyum di bibir nya begitu melihat sang istri baru saja datang dan menyapanya.
"Para pelayan sedang menyiapkan makanannya, lebih baik kita duduk." ajak Zac yang dirinya juga ikut duduk di kursi makan.
Tak lama kemudian, datang beberapa pelayan yang membawakan semacam troli berisikan hidangan-hidangan yang sudah disediakan.
"Kau tidak punya alergi pada daging, kan?" tanya Zac pada Rubby yang baru saja selesai memakai kain di lehernya.
"Tidak" Rubby menjawab singkat, dan Zac menyahut dengan anggukan kepala.
__ADS_1
Rubby dan Zac makan seperti biasanya, tak ada perbincangan diantara mereka, sehingga Zac mulai mengangkat suara setelah ia menyuap suapan terkahir di piringnya.
"Rubby, aku ingin memberi tahu sesuatu padamu." Zac menatap dalam netra Rubby, dan Rubby mengangguk tanda mengiyakan.
"Aku harus pergi beberapa hari ke luar kota untuk mengecek keadaan luar kota karena ini sudah jadwalnya. Apa.. kau tidak apa di istana sendirian?" tanya Zac dengan raut bersalah. Bagaimana bisa seorang pengantin baru malah berpisah begitu cepat? Dalam artian, Zac harus pergi ke luar kota dan meninggalkan Rubby di istana sendirian tanpanya.
Maafkan aku, Rubby. Aku sungguh tidak ingin melakukan ini, tapi sebagai Kaisar aku tidak bisa meninggalkan tugasku. Zac menghela nafas pelan. Tatapannya masih tertuju pada bola mata Rubby.
"Jangan mengkhawatirkan saya, Baginda. Banyak pelayan dan pengawal yang bersikap baik pada saya," Rubby tersenyum tulus. "Lagipula, saya juga nantinya harus beradaptasi sebagai pasangan Baginda ke depannya, bukan?" tambah Rubby yang membuat perasaan lega pada hati Zac.
"Terima kasih." Zac berucap singkat, namun kata itu bermakna dalam baginya.
Selepas sarapan bersama, sesuai ucapan Zac, pria itu harus pergi keluar kota untuk beberapa hari ke depan. Ia sudah siap dengan Edward, pengawalnya yang juga ikut untuk berjaga-jaga.
"Hati-hati di jalan, Baginda" sama seperti biasanya, Rubby masih bersikap sopan dan hormat, ia juga melepas kepergian suaminya itu dengan senyum yang terulas di bibir kecilnya.
"Yang Mulia, tenang saja, Baginda pasti akan pulang dengan cepat karena pasti beliau merindukan anda" Jeina tersenyum tipis, jujur ia sangat sedih melihat Rubby yang harus ditinggal Zac di usia pernikahan yang baru beberapa hari itu.
"Aku mengerti, Jeina. Baginda tidak akan mungkin pergi dengan tujuan yang biasa, jadi aku menghormati keputusannya," Rubby tersenyum.
Wanita itu lantas berbalik badan karena ia juga harus bersiap menjamu wanita-wanita bangsawan di perjamuan teh yang dibuatnya. Itu adalah tugasnya sebagai permaisuri istana, terlebih Rubby juga belum debut karena memang ia bukan berasal dari dunia ini.
"Yang Mulia, anda harus berdandan cantik agar mereka tidak berani macam-macam lagi!" tegas Jeina meyakinkan. Sedari tadi, gadis itu berulang kali merekomendasikan perhiasan-perhiasan mewah pada nyonya nya itu. Bahkan Rubby sampai kebingungan dengan apa yang harus ia pakai, sehingga ia menyerahkan semua urusan perdandanan pada Jeina, dayang yang sudah resmi ia jadikan dayang pribadi beberapa hari lalu.
__ADS_1
"Yang Mulia, anda juga harus bersikap dingin dan jangan memikirkan ocehan dari wanita bangsawan lain. Ditambah, sekarang Nona Slynie ikut datang ke perjamuan ini." ucapan dari belakang membuat Rubby dan Jeina terdiam, mereka menoleh dan ternyata yang baru saja masuk ke kamar Rubby ialah Ethan, pengawal yang ditugaskan Zac untuk menjaga Rubby saat dirinya pergi keluar kota.
"Sir.. Ethan?"