
"Nona, Kaisar datang untuk mengunjungi anda." ucap seorang pelayan seraya membungkuk hormat di hadapan Rubby.
"Biarkan dia masuk," ucap Rubby mengangguk.
Krekk..
"Selamat pagi, Nona Rubby," ucap Zac begitu ia sampai di kamar Rubby.
"Silakan duduk Baginda," jawab Rubby terkesan dingin.
"Bagaimana kondisi mu akhir-akhir ini? Maaf, aku jarang menemuimu karena sedikit urusan," ucap Zac menghela nafas.
"Seharusnya saya yang bertanya, Yang Mulia. Bagaimana kondisi Yang Mulia setelah mengakui saya calon istri anda, tanpa persetujuan dari saya?" Rubby tersenyum tipis.
Deg! "Ah.. aku bukannya bermaksud begitu, maafkan aku," ucap Zac lagi-lagi menghela nafas.
"Yang Mulia, tidakkah itu terlalu aneh jika anda terus-menerus meminta maaf pada wanita yang tidak jelas asal usulnya seperti saya? Bahkan, saya tidak mempunyai gelar bangsawan sedikit pun." ucap Rubby menjelaskan.
"Apa kau sedang menekan ku?" Zac bertanya seolah ia mengetahui isi pikiran Rubby.
"Jika Yang Mulia berpikir begitu, maka itu bukan masalahku" Rubby tersenyum dan kembali menyeruput tehnya.
"Hah.. aku tidak menyangka kau adalah wanita yang cerdas," ucap Zac kagum.
"Yang Mulia, tolong jangan basa-basi lagi kali ini, katakan dengan jelas keinginan anda datang kemari. Oh, saya juga harus bertanya alasan anda dengan yakin menginginkan saya sebagai istri anda." ucap Rubby.
"Aku menginginkan mu karena kalung itu." seru Zac.
"Kalung? Ka.. kalung ini?" Rubby terdiam sejenak dan menunjukkan permata dari kalung yang ia gunakan.
"Iya, sepertinya karena kau adalah pemilik kalung itu, aku jadi tidak perlu berpura-pura atau berbohong, kan?" Zac tersenyum dan meletakkan tehnya diatas meja.
Tak!
Apa dia tahu sesuatu? Apa dia tahu tentang ras elf yang selama ini hilang? Rubby mengigit bibir bawahnya, perasaannya kembali tidak enak karena takut Zac mengetahui segalanya.
"Kalung itu adalah peninggalan mendiang ibu dan ayahku."
"Peninggalan?"
"Ya, mereka meninggalkan kalung itu dan berkata aku harus menggunakannya jika dalam masa kritis. Ibuku, permaisuri sebelumnya, ia juga berkata bahwa aku harus menemukan pemilik dari kalung ini, atau tidak seluruh kekuatan dalam tubuhku tidak akan berguna. Jadi--"
"Aku mengerti.." Rubby menunduk dan menatap permata itu.
Apa itu artinya Baginda tidak mengetahui asal usul kalung ini? Tapi, mengapa Kaisar dan Permaisuri terdahulu bisa mempunyai kalung Elf?
"Apa aku harus bertanya padanya?" Rubby bergumam pelan.
"Jika kau merasa terbebani, katakanlah." Zac tersenyum dan menatap lekat netra mata Rubby.
"Maafkan saya Baginda," Rubby bergeleng pelan. "Darimana Yang Mulia Permaisuri mendapatkan kalung ini? Apa.. Baginda tahu sesuatu?" ucap Rubby ragu.
"Aku tidak tahu apapun mengenai kalung itu. Ingatanku mengenainya juga samar-samar karena kedua orang tuaku meninggal sejak aku kecil." jelas Zac jujur.
Apa aku harus mempercayai Kaisar? Rubby mengigit bibir ranumnya. Bagaimana ia harus menjawab hal mengenai Kaisar? Bahkan ia juga tidak mengenal siapa Kaisar.
"Beri saya waktu untuk bisa menerima anda, Yang Mulia," ujar Rubby.
"Aku tidak akan menekan mu, tapi kuharap kau bisa menerima tawaranku." Zac tersenyum dan mengeluarkan sebuah kotak mereka dari kantung bajunya. "Aku sudah menyiapkan ini dalam waktu yang lama," ucap Zac. Ia menyerahkan kotak itu pada Rubby.
__ADS_1
"Cincin?" Rubby mengerut kening. "Apa ini untukku?" tanya Rubby tak percaya.
"Tentu saja. Aku membuatnya dengan pengrajin terkenal dari Kota Loudas, kota penghasil permata dan emas terbanyak di Kekaisaran Goncalves" jelas Zac.
"Aku sungguh berterima kasih atas niat Baginda, namun--"
"Bisakah kau menerimanya kali ini? Lagipula, untuk siapa lagi cincin ini diberikan, Nona Rubby?" ucap Zac menatap dalan Rubby.
Rubby menelan Saliva nya kasar, "Baiklah, saya akan menghargai ketulusan Baginda." ia mengangguk kecil dan menerima cincin itu.
"Pakailah cincin itu jika kau menerima tawaran sebagai istriku, ingat itu!"
Karena tidak punya waktu banyak, Zac berpamitan pada Rubby untuk pergi dari kamarnya. Ia lalu kembali ke ruangan kerja untuk melanjutkan tugasnya.
"Huft.. haruskan aku menerima tawaran Kaisar?" gumam Rubby dilema.
Rubby menunduk dan menatap permata dari kalung yang terkait di lehernya. "Jika aku kembali ke duniaku sekarang sebagai Putri Elf. Masihkah ada yang mempercayai ku? Apa ayah mau menerima ku lagi?" kedua mata Rubby berkaca-kaca, ia tidak ingin menangis, tapi ia juga tidak mau hidup dalam kalangan dari ras yang jauh berbeda darinya.
Mulai dari bentuk tubuh, cara berkomunikasi, dan menyesuaikan diri dengan lingkungan. Semua itu bisa menunjukkan betapa berbedanya ras manusia dengan ras elf. Elf, mungkin sekarang tidak ada lagi yang mempercayai keberadaan makhluk itu. Mereka menganggap Elf sebagai 'makhluk mitologi' yang tidak mungkin ada di dunia ini. Tentu saja itu karena ras elf memutuskan untuk berpisah dari dunia manusia karena keberadaannya yang terancam. Apalagi akibat ulah manusia yang memburu kaum elf.
"Setelah dipikir pikir, bentuk tubuhku berubah sendiri setelah berada di dunia manusia." gumam Rubby.
"Jika aku memang ingin kembali ke duniaku pun, tidak mungkin ada yang mau membantuku kesana. Terlebih, aku di tawarkan untuk menikah dengan pemimpin dari dunia manusia." Rubby memijit pelipisnya sendiri. Sungguh, ia sangat bingung apa yang harus ia lakukan, bahkan ia jawab mengenai tawaran Zac.
"Aku harus memikirkannya matang-matang sebelum bertindak." ucap Rubby menghela napas.
☘️☘️☘️☘️
"Dimana pelayan yang kemarin, bibi?" tanya Rubby menoleh pada Diana.
"Mungkin Baginda menghukumnya karena sudah berbuat lancang pada Nona," ucap Diana menjelaskan.
"Bibi, apa di kekaisaran ini banyak larangan yang aneh?" tanya Rubby penasaran.
"Aneh, ya?" Diana terdiam sejenak dan berpikir. "Saya pikir semua larangan yang ditetapkan bukan larangan aneh, melainkan suatu kewajiban" ucap Diana menghela nafas kasar. "Biarpun saya sudah berada di istana ini sejak 15 tahun lalu, namun sepertinya dengan menyerahkan tahta pada Baginda adalah keputusan yang tepat." lanjutnya menjelaskan.
"Anu.. bagaimana dengan pemimpin sebelumnya? Apa mereka bertindak keras para rakyat?" tanya Rubby.
"Tidak." Diana bergeleng cepat.
Rubby terdiam dan menelan Saliva nya kasar. Melihat respon Diana, sepertinya ia belum mau memberi tahu keseluruhan tentang Kekaisaran ini.
"Apa Baginda berkata sesuatu yang tidak nyaman pada Nona?" tanya Diana khawatir.
"Tidak. Tapi Baginda menawarkan untuk menjadikan aku istrinya, seperti yang Bibi katakan saat itu." jelas Rubby.
"Nona, apapun keputusan anda nantinya. Saya yakin, Baginda tidak akan melakukan hal aneh yang merugikan anda. Tapi saya harap, anda mau menerimanya sebagai permaisuri di kekaisaran ini," ucap Diana.
"Bibi, apa ada sesuatu yang dirahasiakan?" Rubby memiringkan kepalanya sedikit dan menatap Diana. "Aku tahu Baginda mempunyai alasan jelas untuk menikahi ku, apalagi semua itu atas perintah Kaisar dan Permaisuri terdahulu. Namun.."
"Nona, anda harus menerimanya, apapun yang terjadi." Diana tersenyum tipis dan menatap lekat mata Rubby.
"Baginda.. beliau sudah lama menunggu anda, untuk dijadikan istrinya. Tolong jangan kecewakan beliau, Nona." ucap Diana dengan tatapan sendu.
Suasana mendadak menjadi hening. Antara Rubby yang dilema akan keputusannya, dan Diana yang menginginkan pernikahan antara Zac dan Rubby.
Tes.. tes..
"Ah, hujan, ya?" Rubby menatap ke arah langit, rintik hujan mulai membasahi tubuhnya.
__ADS_1
"Nona, ayo masuk sebelum hujannya tambah besar!" ucap Diana cemas.
"Bibi, bisakah aku berdiam diri disini sebentar?" ucap Rubby serak.
"Nona, anda bisa sakit kalau--"
"Aku membawa payung," ucap Rubby.
"Bibi, bibi masuk ke dalam duluan saja. Aku akan menyusul di belakang bibi," lanjut Rubby.
"Jika.. anda sakit, bisa saja saya yang dimarahi oleh Baginda! Nona.. anda tidak boleh kehujanan, nanti bisa demam seperti saat itu!" seru Diana.
Rubby menghela nafas panjang. Ia lalu mengangguk dan mengikuti langkah Diana untuk masuk ke dalam istana.
*****
Kamar Rubby..
"Nona, kenapa anda membuka tirai nya?! Nanti bisa saja petir menyambar masuk ke dalam!" ucap Diana setengah mengomel.
"Iya bibi, aku akan menutupnya." Rubby mengangguk dan segera menutup tirai jendela yang terbuka.
"Minumlah teh hangat ini. Bibi sengaja memasukkan cengkeh manis ke dalamnya agar tubuhmu merasa hangat," ucap Diana tersenyum.
"Aku selalu merepotkan bibi semenjak datang kemari. Maafkan aku, bibi." Rubby tersenyum dan menengguk tehnya.
"Nona, apakah nona tahu, Baginda dulu sering merengek jika bibi meninggalkannya disaat hujan." Diana tersenyum tipis, mengingat masa lalu yang tak mungkin terulang kembali.
****
"Bibi! Jangan tinggalkan Zac! Zac takut!" ucap Zac merengek, saat itu usianya masih menginjak lima tahun.
"Tidak, bibi tidak akan meninggalkan Zac, oke? Jadi jangan menangis!" Diana tersenyum dan mengusap lembut kepala Zac.
Kasihan sekali Pangeran Zac, bahkan sejak bayi, kedua orang tuanya tidak bisa merawatnya dengan baik karena mempunyai banyak urusan sebagai pemimpin negeri.
"Bibi, kenapa ibu belum juga pulang? Apa ibu baik-baik saja?" Zac memanyunkan bibirnya sambil memeluk guling kesayangannya.
"Yang Mulia Permaisuri akan pulang setelah hujan usai. Jadi sekarang Pangeran tidurlah agar bisa mempunyai tenaga untuk bertemu ibu," Diana tersenyum sambil menyelimuti Zac, dan hanya anggukan kepala serta senyum cerah yang ditunjukkan anak laki-laki itu.
Zac sebenarnya adalah anak yang manja karena merupakan anak satu-satunya dari hasil pernikahan Kaisar dan Permaisuri, namun ia dipaksa untuk menjadi dewasa karena akan menjadi penerus satu-satunya di masa depan kelak.
"Mimpi lah yang indah, Pangeran." Diana mencium lembut kening Zac. Ia lalu meninggalkan anak itu ketika ia sudah terlelap.
"Bi.. bibi! Jangan tinggalkan Zac! Hiks.. hiks..!" baru beberapa menit Diana meninggalkannya, Zac menggedor-gedor pintu kamarnya dan berharap dibukakan. Tentu saja anak kecil sepertinya tidak mungkin bisa meraih gagang pintu yang tinggi.
"Jangan tinggalkan Zac, hiks.. Zac takut!" rengek Zac bak anak kecil seusianya.
Karena mendengar tangisan Zac, para pelayan datang dan memanggil Diana untuk mendatangi kamar Zac. Begitu sampai, Zac pasti akan langsung memeluk tubuh Diana hingga bahu wanita itu akan basah akibat tangisan Zac.
Waktu berlalu, saat Zac menginjak usia 13 tahun, kedua orang tuanya meninggal dan dibawa ke istana Kekaisaran untuk dimakamkan, tepat saat hujan tiba.
"Pangeran, anda harus masuk ke dalam. Pakaian anda sudah basah kuyup terkena hujan," ucap salah seorang pengawal pada Zac.
"Pangeran, ayo masuk, nanti anda bisa masuk angin!" ucap Diana membujuk.
"Zac benci hujan," Zac menunduk, anak seusianya seharusnya sudah bisa hidup mandiri, Zac juga tidak akan merengek seperti anak pada umumnya kalau menginginkan sesuatu yang ingin dimiliki. Zac adalah putra mahkota, semua keinginannya adalah hal mutlak yang harus dituruti. Namun dibanding itu semua, dia belum mendapatkan keinginannya. Ia tidak butuh apapun, mainan, perhiasan, harta, atau barang berharga lainnya.
Keinginan Zac hanya satu, ia menginginkan kasih sayang yang tulus dari kedua orang tuanya. Bahkan hingga ajal menjemput mereka.
__ADS_1