
"Wah bagaimana bisa kita seberuntung ini? kita bertemu putri dari negeri Elf!" ucap seorang anak laki-laki bertubuh kecil bak kupu-kupu. Ia mengepakkan sayapnya dan terbang ke arah Rubby.
"Siapa namamu? Apa aku boleh berteman denganmu?" ucapnya antusias. Tak berbeda dengan yang lain, dua temannya juga mendekati Rubby dan tersenyum senang. "Kau sangat cantik!" ucap salah seorang dari mereka.
"Pftt.." Rubby tertawa kecil. "Kenapa peri seperti kalian bisa ada di taman istana? Apa yang kalian lakukan?" ucap Rubby tersenyum hangat.
"Ukh.. Hey, Lucy, Raley, apa dia sungguhan putri Elf? Kenapa telinganya pendek seperti manusia?" ucap salah satu dari ketiga peri yang menghampiri Rubby.
"Ah, benar juga! Apa jangan-jangan dia darah campuran? Biar bagaimanapun elf itu kan telinganya runcing dan panjang!" ucap Raley bingung, peri laki-laki yang masih berusia muda.
"Raley, kenapa kau bicara begitu? kau itu secara tidak sadar telah merendahkannya tahu! Lagipula memang ada ras lain selain peri dan elf yang bisa melihat kita?" ucap Lucy mengingatkan.
Rubby tersenyum tipis. "Aku memang seorang Elf, namun aku terseret ke dunia manusia, dan entah mengapa telinga ku menjadi seperti ini," jelas Rubby jujur.
"Apa? Terseret? Jadi kau kemari bukan karena keinginan mu sendiri?" ucap peri laki-laki bernama Haley.
"Jika dipikir pikir mana mungkin elf bisa dengan mudah ke dunia manusia? Pasti ada alasan untuk bisa kemari dengan mudah, ya kan?" timpal Raley pada saudara kembarnya itu.
"Aku belum bisa memberitahu secara detail mengapa aku bisa ke dunia manusia. Tapi, aku senang bertemu kalian," ucap Rubby tersenyum.
Raley, Haley, dan Lucy mencoba mengelilingi Rubby karena penasaran. Ketiga peri itu terus mengepakkan sayapnya dan mengeluarkan cahaya kecil-kecil seperti kunang-kunang yang berterbangan.
"Astaga, kalian sangat lucu," ucap Rubby tertawa kecil.
"Siapa namamu?" ucap Haley menatap lekat mata Rubby.
"Rubby, panggil saja aku Rubby." ucap Rubby memperkenalkan dirinya. "Siapa nama kalian?" ucap Rubby bertanya balik.
Raley, Haley, dan Lucy saling memandang. Mereka lalu mengangguk kecil dan menjawab bersamaan.
"Raley!"
"Haley!"
"Lucy!"
Rubby mengerutkan kening, "Ah, bisakah kalian sebutkan satu persatu?" tanya Rubby bingung.
__ADS_1
"Tidak!" jawab mereka bersamaan.
Rubby hanya bisa menghela nafas mendengar jawaban ketiga peri itu. "Baiklah. Bagaimana kalau aku memberi kalian nama panggilan?" seru Rubby tersenyum.
"Memangnya, kau mau memanggil kami apa?" tanya Raley penasaran.
"Ketiga peri kecil," ucap Rubby.
"Itu terlalu pasaran!" ucap Haley tak terima.
"Uhm.. tapi menurutku itu panggilan yang cantik!" ucap Lucy tersenyum. "Rubby, jangan dengarkan kata mereka! Mereka bahkan tidak tahu nama panggilan itu apa!" ucap Lucy. Ia sangat menyukai kehadiran Rubby karena baginya Rubby begitu cantik.
"Hey, apa lagi-lagi kau terpikat pada seseorang hanya karena kecantikannya?" tanya Haley sambil menunjuk-nunjuk jari telunjuknya pada Lucy.
"Mana ada! Walau aku memang menyukai Rubby karena cantik, tapi yang paling penting dia bisa melihat bahkan mengobrol dengan kita, kan?!" ucap Lucy tegas.
"Sudahlah Haley, kau tahu sendiri bagaimana sifat adikmu tercinta itu.. dia sangat menyebalkan," seru Raley memutar bola matanya malas.
"Oh, jadi kalian bertiga bersaudara?" tanya Rubby tersenyum. Ketiga peri itu saling memandang, dan lalu menganggukkan kepala mereka.
"Nona Rubby!"
"Ya ampun! Ada manusia datang kemari! Ayo, kita harus cepat bersembunyi!" ucap Lucy menarik kedua lengan saudara laki-lakinya itu.
"Aw! Jangan menari tanganku!" keluh Raley kesal.
Rubby berbalik badan dan mencoba mengalihkan pandangan. "Ya-Yang Mulia? Kenapa anda bisa ada disini?" tanya Rubby bingung, namun tatapannya tidak terfokus pada wajah Zac yang tiba-tiba saja datang menghampiri nya.
"Kenapa kau nekat keluar walau hujan deras seperti ini?! Apa Baroness Diana tidak memberitahu dan memperingatkan mu?" tanya Zac dengan tatapan tajamnya.
Rubby menelan saliva nya kasar, selama ini, Zac selalu menunjukkan sisi baiknya pada Rubby, namun kali ini berbeda.
Tak!
Zac melepas payung yang dipakainya begitu saja. Ia lalu mencengkram erat lengan Rubby sampai wanita itu merintih sakit. "Ba-baginda.. tolong lepaskan tangan anda! ukh.."
"Apa kau terluka? Apa terjadi sesuatu pada mu?"
__ADS_1
Rubby hanya bisa terdiam mendengar pertanyaan Zac. Antara amarah dan rasa khawatir dan ditunjukkan Zac, membuat Rubby kehabisan kata-kata.
"Maafkan saya, saya tidak seharusnya keluar saat hujan deras seperti ini," Rubby menunduk dengan rasa bersalah. Payungnya bahkan terjatuh dari genggaman tangannya.
"Rubby! Jawab aku!" Zac mengangkat dagu Rubby dengan paksa, kedua mata Zac membuat wanita itu merinding ngeri, karena Zac menunjukkan sisinya yang mirip seperti sebuah singa yang mengaum.
"Baginda, maafkan saya.." Rubby mengalihkan pandangannya dari Zac. Ia berusaha meraih payungnya karena air hujan membasahi pakaiannya.
"Ba.. Baginda, disini dingin," Rubby berucap pelan, ia berharap Zac melepas cengkraman nya dengan ia memohon seperti itu.
Deg!
Zac terdiam, pandangannya seketika berubah begitu ia sadar apa yang telah ia lakukan.
"Tidak.. bagaimana bisa aku.." Zac menutup mulutnya tak percaya. Ia berpikir telah melakukan hal jahat pada Rubby.
Apa Rubby akan marah? Apa dia akan pergi meninggalkan istana karena aku memarahinya tadi?
Jantung Zac berdegup tak karuan. Sementara itu, Rubby menghela napas kasar dan mengambil payungnya dan meraih payung Zac yang terlepas dan tersungkur diatas tanah. "Baginda, anda harus memakai payung agar tidak kehujanan." ucap Rubby merasa bersalah. Begitu tangannya mencoba memayungi Zac, pria itu berbalik badan dan melangkah cepat menuju istana.
"Ba-baginda?" Rubby terdiam, rasanya berat sekali untuk melangkah dan mendekati pria itu. Ia takut Zac marah, ia takut Zac merasa kesal karena ia tidak menurut. Apalagi, Diana sama sekali tidak bersalah. Ia sudah mengingatkan Rubby untuk tidak keluar disaat hujan deras seperti ini.
****
"Ya ampun, nona! Kenapa anda keluar dan basah kuyup seperti ini?" tanya Diana khawatir. Wanita berkepala empat itu mengambil handuk dan mengeringkan rambut Rubby yang basah.
"Dimana Baginda?" tanya Rubby mendongakkan kepalanya. Karena posisi nya saat ini sedang duduk, sedangkan Diana berdiri.
Diana terdiam begitu mendengar ucapan Rubby. "Baginda ada di ruangannya seperti biasa. Jadi jangan mengkhawatirkan nya.." Diana tersenyum lembut, ia kembali membantu Rubby untuk mengeringkan tubuhnya yang basah dan menyiapkan sebuah gaun tidur yang akan dipakai Rubby.
"Nah, nona silakan ke ruang ganti dan pakailah gaun ini. Ini akan nyaman jika dipakai untuk tidur karena bahannya yang lembut dan bawahnya yang tidak mengembang." ucap Diana tersenyum.
"Bibi, anda kesini tentunya atas perintah Baginda, bukan? Jadi, bolehkah saya mengetahui kondisi Baginda saat ini?" Rubby menatap erat netra mata Diana. Sementara Diana, ia menelan saliva nya kasar.
"Gantilah pakaian anda dulu, Baginda akan lebih khawatir jika anda jatuh sakit nantinya." ucap Diana menjelaskan.
Karena tak ada pilihan lain, Rubby akhirnya menurut dan mengganti pakaiannya.
__ADS_1
Nona, haruskah saya memberi tahukan hal ini pada anda?