Elf Princess

Elf Princess
Episode 34. Persidangan


__ADS_3

Hari persidangan


Tak perlu menunggu lama, benar saja, Zac menerima permintaan Rubby begitu cepat. Ia mengurus segalanya hanya dalam waktu satu malam, dan sekarang, tibalah saatnya persidangan atas kasus Marquess Ahen.


"Rubby, kemarilah." Zac tersenyum begitu Rubby datang dan menduduki singgasana nya.


"Terima kasih," ucap Rubby memejamkan matanya sekilas.


"Untuk apa?" Zac mengernyitkan keningnya.


"Pasti sulit mempersiapkannya, tapi anda bisa mempersiapkan ini semua hanya dengan satu malam." jawab Rubby tersenyum tipis. Awalnya, Rubby mengira Zac pasti akan memundurkan harinya karena satu malam adalah waktu yang terlalu cepat, dan ia juga sempat merasa bersalah karena terlalu cepat memutuskan. Tapi nyatanya Zac bisa mempersiapkannya dengan baik hanya dalam waktu yang bisa dibilang sangat singkat.


Jauh dari itu, kini, mata Rubby menangkap sosok pria dengan kondisi kedua tangan terikat oleh tali dan wajah yang penuh debu dan luka. Rubby mencoba berpikir sejenak.


Apa malam tadi pria pendosa itu disiksa? batin Rubby.


Rubby tersenyum dingin, ia tak tahan untuk menahan kesenangan nya melihat seorang pria yang tadinya sangat angkuh padanya malah terduduk lemah di depan hakim dan dirinya.


Zac menatap wajah Rubby, pria itu tersenyum tipis dan kembali menatap sang tokoh utama kali ini, Marquess Ahen.


Dan, tentu saja jangan pertanyakan siapa yang telah membuat pria itu babak belur hari ini.


****


Bughh..


"Seharusnya, kau sudah tahu bukan, alasan atas kedatanganku kemari?" suara berat dari seorang pria yang tak asing, menggema di tempat itu.


Zac, pria itu menatap tajam seorang pria yang bertekuk lutut di hadapannya, dan tentu saja pria itu adalah Marquess Ahen.


Kini keduanya sama-sama berada di penjara bawah tanah, dan semua itu terjadi akibat kejadian yang menimpa Marquess Ahen saat di pesta malam ini.


Deg!


Jantung Marquess Ahen rasanya berhenti sejenak, pria itu bahkan menahan nafas dan tidak berani untuk menatap Zac yang tengah mengintrogasi dirinya.

__ADS_1


Zac melangkah kasar, keringat mulai bercucuran di wajah Marquess Ahen. Siapa yang tidak takut jika harus berhadapan dengan seorang pria gagah dengan pedang di pinggangnya? Sedangkan, kini Marquess Ahen hanya bertekuk lutut dengan tangan kosong berharap diampuni.


"Ha.. untuk apa aku memanggil gelar yang terhormat seperti itu? Bukankah.. gelar itu otomatis akan hilang karena sebentar lagi kau tiada?" Zac tersenyum sinis.


Pria itu kembali mengangkat suara begitu dirinya telah tepat berada di depan Marquess Ahen.


"Kau pikir, aku tidak tahu apa perbuatan diluar batas yang telah kau perbuat dengan istriku selama ini?!" Zac berkata penuh penekanan. Pria itu menatap Marquess Ahen dengan tatapan membunuh, dan aura gelap tertancap dalam dirinya.


"Sa.. saya bisa menjelaskannya, Baginda. Saya mohon--" tiba-tiba saja Marquess Ahen menghentikan ucapannya begitu Zac meraih kerah bajunya dan menarik dirinya mendekat pada tubuh Kaisar itu.


"Kesombongan dan ketidak sopanan yang selalu kau tunjukkan pada istriku, KAU PIKIR AKU TIDAK TAHU?" nada suara Zac meninggi, dan itu sudah cukup menunjukkan betapa marahnya ia pada pria di hadapannya itu.


"Sa.. saya tidak mengerti apa yang wanita itu katakan pada anda, Baginda. Tapi, saya bersikap seperti itu karena saya ada di pihak anda!" elak Marquess Ahen. Ia memang pandai membuat kebohongan, tapi itu tidak berlaku di hadapan Zac.


"Ha.. masih ingin bohong rupanya?" Zac menghela napas kasar.


Bughhh..


Kembali, hantaman keras lagi-lagi menimpa wajah Marquess Ahen sehingga wajah pria itu babak belur dan penuh luka.


Bughh..


Bughh..


Tubuh Marquess Ahen terhempas ke atas tanah, dan tatapan tajam kembali ditunjukkan oleh sosok pria yang tak lain adalah Zac.


"Kau harus tahu batas." Zac berkata lantang. Pria itu akhirnya menunjukkan sedikit senyuman. Lebih tepatnya, senyuman yang mengibaratkan seseorang yang ingin memangsa.


"Besok, aku akan membawa mu ke persidangan. Dan ingatlah, jangan sekali-kali untuk berbuat hal aneh pada istriku! Atau kalau tidak, maka aku sendiri yang akan membereskan mu....,"


"Saat itu juga!" tegas Zac sebelum akhirnya pria itu benar-benar menghilang dari penjara bawah tanah yang sangat sempit dan gelap itu.


****


Back To Real Life.. Persidangan.

__ADS_1


"Seperti yang sudah kalian ketahui, bahwa tindak Marquess Ahen sangat jauh dari kata layak. Ia yang mempunyai gelar tinggi seharusnya tidak melakukan hal kotor tanpa sepengetahuan Kaisar." ucap sang hakim mulai mengangkat suara, sementara itu, Marquess Ahen hanya terdiam dengan wajah yang sayu dan sangat lemah.


"Karena persidangan ini diadakan atas perintah Baginda Kaisar, maka sudah dipastikan terdakwa akan mendapat hukumannya sesuai dengan bukti-bukti dan penjelasan yang sudah diberikan."


"Namun sebelum itu, saya akan memperbolehkan terdakwa menyampaikan satu hal kepada publik. Dan semua yang dikatakan harus benar adanya tanpa kebohongan sedikit pun." ujar Hakim menjelaskan.


"Paling pria itu akan berkata bohong lagi, kan? Dia kan orang yang munafik"


"Apa harus Baginda memberinya kelonggaran begitu? Ah, tidak seru!"


Kembali, ocehan-ocehan dari rakyat yang juga hadir disana mulai terdengar. Banyak dari mereka yang tak setuju atas kelonggaran dari Hakim. Tapi mau bagaimana lagi, setiap terdakwa juga pasti akan diberikan hal yang sama, bukan?


"Silakan," Hakim menatap lekat wajah Marquess Ahen. Pria itu tampak lemah tak berdaya, namun sepertinya ia akan mengatakan sesuatu kali ini.


"Sebelum saya dihukum mati, saya.. ingin meminta satu hal pada Baginda." ucap Marquess Ahen dengan lemah.


"Katakan." Zac berkata singkat, pria itu tak menunjukkan senyuman sedikitpun, yang ada ia malah menunjukkan tampang dingin dan serius saat ini.


"Saya.. saya ingin Baron Jones juga dihukum mati, bersamaan dengan hukuman saya."


Pernyataan yang dilontarkan oleh Marquess Ahen membuat suasana mendadak hening, ditambah, nama yang terasa familiar itu sangat tak asing bagi mereka, terutama Diana, wanita yang berdiri mematung di tempat duduk barisan paling pojok.


Baron.. Jones? Diana mengigit bibir bawahnya. Apa katanya? Baron Jones? Apa yang dimaksud adalah mantan suaminya itu? Diana berpikir kacau


"Apa alasanmu mengatakan hal itu?" Zac bertanya penuh penekanan.


"Dia.. dia juga pernah memperbudak wanita. Ia membeli wanita yang saya bawa dari desa yang jauh dari kekaisaran, dan.." Marquess Ahen menelan Saliva nya kasar. Ia melihat Baron Jones yang juga hadir di persidangan nya sekarang.


"Apakah yang dikatakan oleh Marquess Ahen adalah sebuah kenyataan, Baron?" Zac beralih menatap Baron Jones, ia memang sudah tahu bahwa Baron Jones juga datang.


Mendadak, wajah Baron Jones memerah. Tubuh pria itu bergetar. "Saya.. mana mungkin saya melakukannya! Baginda, jangan percayakan pendosa sepertinya!" elak Baron Jones.


Sementara itu, ada mata yang melihat lekat wajah pria itu. Diana, wanita yang masih berdiri mematung dengan pandangan yang tak bisa teralihkan oleh Baron Jones, mantan suaminya itu.


Sudah.. bertahun tahun lamanya, dan pertemuan kita.. Diana terdiam, benarkah apa yang dikatakan oleh Marquess Ahen bahwa mantan suaminya itu ikut terlibat? wanita itu bertanya-tanya dalam benak hatinya.

__ADS_1


__ADS_2