
Istana Kekaisaran Goncalves
Melihat begitu antusiasnya Zac memberikan permata itu untuk Rubby, pada akhirnya wanita itu tak bisa menolaknya. Rubby menerima permata yang diberikan Zac dan benar saja, wanita itu tak merasa aneh sesuai perkiraan Zac. Karena, orang yang tidak mempunyai mana sama sekali pasti tidak akan kuat menggenggam permata Rubby yang mempunyai kekuatan sihir cukup besar.
****
Setelah dua Minggu lamanya pernikahan Rubby dan Zac terjalin, kini tiba saatnya Rubby menjadi tokoh utama dalam pesta Kekaisaran yang memang harus dilaksanakan 1 tahun sekali.
"Baginda Kaisar Zac dan Permaisuri Rubby memasuki ruangan." riuh-riuh suara mulai terdengar, mereka sangat menantikan sang tokoh utama dalam pesta kali ini.
"Hormat kami, Yang Mulia.."
Rubby melukis senyum di wajahnya, dandanan yang sederhana, namun terlihat elegan saat dipakainya. Bukan hanya cantik, namun aura Rubby membuat siapapun yang melihatnya menjadi merasa terpesona.
"Yang Mulia, anda sangat beruntung mempunyai seorang istri yang sangat cantik jelita." ucap seorang Duke muda pada Zac, ia tersenyum sambil meminum anggur merah yang memang sudah disediakan.
"Ya." Zac menjawab singkat, ia menyandarkan punggungnya di dinding sambil meminum anggur merah di gelas nya.
Tibalah saatnya dansa pertama dimulai, dansa yang sangat dinantikan oleh setiap partner saat pesta diadakan. Rubby menoleh ke kanan dan ke kiri, ia tidak menangkap wajah Zac sekalipun, sehingga wanita itu mengernyitan keningnya bingung.
"Ini dansa pertama, seharusnya Baginda sudah ada disini." Rubby bergumam pelan. "Apa Baginda mulai merasa tidak nyaman lagi?" seru Rubby memikirkan yang tidak-tidak. Ia memang pernah mendengar bahwa Zac tidak menyukai pesta, jadi ia hanya menghadiri pesta untuk menjadi pasangan Rubby, dan juga karena ia adalah penyelenggara pesta.
Rubby menghela napas kasar. Ia mulai menjauhkan diri dari kerumunan orang yang tengah berdansa dan memilih untuk duduk di sofa dekat tempat desert yang disediakan diatas meja.
"Tunggu, Yang Mulia!" panggilan dari seseorang membuat Rubby menoleh dan berbalik badan. Rupanya, seorang pria dengan tubuh tegapnya berjalan menghampiri Rubby. Ia mengulas senyum di wajahnya. "Kita bertemu lagi, Yang Mulia." ucapnya menyeringai.
__ADS_1
Rubby mengepal tangan dan memundurkan langkahnya, begitu melihat wajah pria di hadapannya, rasanya ia mual dan ingin muntah.
"Yang Mulia, kenapa anda terus mundur? Padahal saya menyapa anda dengan baik." Marquess Ahen, ia adalah pria yang membuat Rubby mual. Pria yang menentangnya menjadi permaisuri, dan begitu melihatnya, perasaan buruk kembali mencuat dalam hati Rubby.
"Bisakah anda menjauh?" Rubby mengernyitkan keningnya, ia tak bisa berbuat apa-apa karena disana banyak bangsawan. Tidak mungkin ia menampar atau melakukan hal aneh lainnya begitu saja bukan?
"Yang Mulia.. ayolah, saya sungguh ingin berbicara dengan anda, jadi berhenti menjauh, ya?" perkataan Marquess Ahen berhasil membuat Rubby menghentikan langkahnya. Ia menghembuskan nafas kasar, menurut Rubby, tidak ada buruknya juga berbicara sebentar, toh, pria itu tidak akan berani macam-macam karena banyak bangsawan yang melihat mereka.
Rubby mengangguk kecil, namun tiba-tiba saat ia menghentikan langkahnya, Marques Ahen mendekatinya dan menarik pinggangnya. Wajahnya kini berdekatan dengan Rubby sehingga siapapun yang melihatnya pasti salah paham.
Ya, sesuai dengan perasaan Rubby, Marquess Ahen lagi-lagi membuat onar dan kali ini, ia ingin membuat rumor aneh dengan menarik Rubby dalam dekapannya, sehingga para bangsawan yang melihatnya pasti berpikir yang tidak-tidak akan hubungan mereka.
Rubby mengigit bibir bawahnya kesal, ia berusaha melepas pelukan pria itu, namun hasilnya nihil. Marquess Ahen dengan agresif kembali mendekatkan Rubby dalam pelukannya. Ia bahkan tak segan-segan mendekatkan wajahnya pada wajah Rubby.
Karena tak ada cara lain, ketika kedua mata Rubby menangkap sebuah desert diatas meja bundar di sebelahnya, ia segera mengambil salah satu darinya dan menimpuk wajah Marquess Ahen dengan desert itu.
"Menjauh dariku sebelum aku melakukan tindak lebih!" tegas Rubby penuh penekanan. Ia tak segan-segan menimpuk wajah Marquess Ahen sehingga wajah pria itu penuh dengan krim kue sekarang.
"Ka.. kau.." Marquess Ahen mengepal tangannya. Bisa-bisanya seorang Marquess sepertinya dicemooh dan dihina seperti itu di hadapan permaisuri yang bahkan bukan berasal dari seorang bangsawan? atas hak apa Rubby menghinanya? begitu pikir Marquess Ahen.
Jika dibilang tidak waras, sebut saja begitu. Karena sejak kecil, Marquess Ahen memang sudah tak waras. Bahkan sampai sekarang, berita mengenai dirinya di masa kecil yang menusuk perut teman sebayanya hanya karena bertindak tidak sopan padanya, masih tersebar luas walau sudah ditiadakan sekalipun.
"Kau.. kau berani menghinaku?! IYA?" Marquess Ahen menatap tajam Rubby. Tangannya meraup dagu Rubby dan mencengkeramnya dengan erat. Rubby meringis kesakitan, namun ia tetap melawan dan memukul perut pria itu dengan tangan yang mengepal.
Kembali, riuh-riuh terdengar dari penjuru istana. Semua orang berbisik-bisik dan bukannya menolong Rubby kala ini.
__ADS_1
Dasar orang-orang bodoh. Rubby mengumpat dalam hatinya. Ia tak bisa berbuat apa-apa karena ia akui, kekuatan pria lebih besar darinya.
"Jika.. jika anda maju beberapa langkah lagi, maka saya tidak akan segan-segan menimpuk anda seperti tadi!" ancam Rubby dengan tatapan tajam.
Namun, biar Rubby berkata penuh ancaman pun, kemarahan Marquess Ahen tak bisa dihindarkan. Ia terus melangkah maju mendekati Rubby. "Coba saja lakukan apapun," ucapnya menyeringai.
Rubby mengigit bibir bawahnya, "Pengawal!" teriakan darinya membuat pengawal yang berada di teras menoleh. Ya, walau Rubby tidak dihargai, tapi setidaknya mereka akan melindungi Rubby kali ini.
Rubby memejamkan matanya sekilas, dilihatnya seorang pengawal di depan tubuhnya. Bukan pengawal istana, melainkan pengawal pribadinya.
Bagai sang pahlawan, tubuh tegapnya berdiri di depan Rubby dan menatap tajam Marquess Ahen. Sir Ethan, sang pelindung Rubby dikala Zac tidak menjaga istrinya itu. Dan itu sudah tugasnya sebagai pengawal pribadi.
Perasaan Rubby sedikit lega melihat kedatangan Ethan. Namun, ia masih menyimpan dendam dengan Marquess Ahen, begitupun Marquess Ahen yang masih terbalut emosi saat ini.
"Dimana harga diri dan kesopanan anda di hadapan permaisuri, Tuan?" tanya Ethan.
"Permaisuri? Kau berkata.. wanita rendahan itu permaisuri?" Marquess Ahen tertawa renyah, baginya perkataan Ethan barusan adalah lelucon anak kecil.
Namun kenyataannya, tindakannya yang memang benar-benar tidak sopan pada seorang wanita berstatus resmi permaisuri itu membuat tak sedikit bangsawan mencemoohnya. Hancur sudah harga dirinya saat ini. Akan tetapi, pria itu bersikap tak acuh dan tetap melanjutkan aksinya.
"Gelar Marquess Ahen, resmi dicabut."
Perkataan dari seorang pria di ambang pintu istana membuat semua orang terdiam.
Hening!
__ADS_1
Tak ada seorangpun yang berani berbicara. Tatapan tajam yang menyorot bola mata Marquess Ahen, membuat Marquess Ahen menelan ludahnya susah payah.
"Ba-Baginda?"