
"Ba-baginda?" Marquess Ahen mendelik, tubuhnya bergetar kala Zac datang dan menghampirinya. Tak ada senyum sedikit pun yang terulas dari wajah Kaisar itu. Ia menatap dengan penuh menikam, seperti singa yang kelaparan.
"Ba.. Baginda, yang.. yang anda lihat tadi salah paham. Dan.. apa.. apa yang anda katakan tadi? Saya.. gelar saya.. resmi dicabut?" Marquess Ahen berucap terbata-bata.
"Pa.. pasti saya salah dengar, bukan? Benar begitu, kan?" tanyanya tak percaya.
"Apa wajah saya mengisyaratkan bahwa saya hanya bercanda? Atau.. telinga anda yang bermasalah?" ujar Zac mengangkat sudut bibirnya.
Glek! Marquess Ahen menelan salivanya dengan susah payah. Ia berusaha tenang dan mengatur napasnya.
"Baginda, dengarkan saya! Wanita itu duluan yang menimpuk saya dengan dessert! Dan.. yang seharusnya anda hadapi sekarang adalah 'Permaisuri tercinta' anda itu!" tegas Marquess Ahen tak mau kalah. Namun, di samping itu Rubby hanya terdiam dan tidak membalas sedikit pun.
"Yang Mulia, apa perlu saya--" Ethan menatap ragu ke arah Rubby, namun Rubby tetap bergeleng.
"Tidak. Biarkan dia berucap semaunya saja." sahut Rubby memotong ucapan Ethan, pria itu juga sama emosinya karena Marquess Ahen telah bertindak tak senonoh pada Rubby.
"Marquess, coba katakan, jika kau disuruh memilih orang yang kau cintai, atau orang yang kau benci, maka siapa yang akan kau pilih?" Zac menatap serius wajah Marquess di hadapannya itu. Dengan ragu, Marquess Ahen mengangkat suaranya.
"Te-tentu saja--" Marquess Ahen menghentikan ucapannya. Apa-apaan Kaisar itu? Dia secara tidak sadar mengatakan bahwa ia membenciku, kan? Marquess Ahen berkerut kening, tak disangka Zac bisa mengutarakan hal seperti itu di hadapan banyak bangsawan.
Ya, siapa lagi yang diibaratkan oleh Zac saat ini? Rubby atau Marquess Ahen, jika disuruh pilih, pasti Zac akan memilih istrinya, bukan?
"Marquess, saya kira anda adalah seorang bangsawan yang bisa diandalkan, nyatanya, anda malah menghina status istri saya di belakang, ya?" seru Zac. Tak ada tampang ramah sekalipun di wajah pria itu.
"Saya... saya--" Marquess Ahen melirik pelan. Ia menundukkan kepalanya dikala semua orang disana menatap tajam ke arahnya.
"Jika dipikir-pikir, seharusnya aku sudah lama mencabut gelarmu karena telah berbuat kotor di lingkungan kekaisaran ini, bukan?" Marquess Ahen kembali mendelik tajam begitu mendengar ucapan Zac barusan.
"Ba..bagaimana.."
__ADS_1
Deg!
"Bagaimana Baginda bisa menuduh saya? Sedangkan anda sendiri bukannya tidak punya bukti untuk mengatakan hal itu?" ucap Ahen mengernyitkan kening. Namun, jauh dalam hatinya, ia sangat cemas akan tindak kotor nya yang mungkin saja bisa terbongkar.
"Bukti?" Zac menyeringai tipis. "Jadi, kau ingin bukti, ya?" tanya Zac dengan nada ancaman.
Pria itu mengangkat tangan dan mengisyaratkan seorang pengawal di belakangnya, yang tak lain adalah tangan kanannya sendiri.
"Silakan dibaca, Baginda." Edwrad menyerahkan secarik kertas bertuliskan informasi - informasi mengenai Marquess Ahen yang selama ini disembunyikan.
"Ke-kertas? Hanya dengan kertas itu Baginda ingin menuduh saya?" Ahen mengigit bibir bawahnya, ternyata ia yang terlalu gelisah sehingga mengira Zac akan mencari bukti lebih mendalam. Begitu pikirnya.
"Hanya.. kertas?" Zac tersenyum tipis dan menatap ke belakang. "Panggil mereka sekarang!" titah pria itu menatap tajam para pengawal disana.
Glek! Ahen menelan saliva nya kasar. Jantung pria itu berdegup kencang tak kala kata-kata Zac yang begitu mengancamnya.
Apa yang ingin Baginda lakukan? Rubby mengerutkan kening.
Tak!
Tak!
Tak!
Hentakan kaki mulai terdengar dari arah luar pintu.
"Sa-salam, Baginda.."
Sapaan dari beberapa wanita yang tiba-tiba saja datang membuat ocehan-ocehan mulai kembali terdengar. Para wanita itu hanya menunduk dan seperti tidak berani menatap ke depan. Kebanyakan dari mereka adalah gadis-gadis desa yang sepertinya tidak hidup di kalangan bangsawan. Jadi, sulit bagi orang-orang yang hadir di pesta istana mengenal mereka setelah melihat beberapa wanita itu yang tiba-tiba saja memasuki pesta ini.
__ADS_1
Mereka bertanya-tanya, siapakah wanita-wanita itu? Dan apa hubungannya dengan semua kejadian ini?
Namun, lebih dari itu, diantara mereka, terlihat seorang wanita paruh baya yang berhasil menarik perhatian Rubby. Gadis itu mengerutkan kening kala melihat wajah yang amat sangat familiar baginya.
"Bibi?" Pertanyaan itu keluar begitu saja dari mulut Rubby. Mengapa wanita yang sudah ia anggap seperti ibunya sendiri, yang tak lain dan tak bukan adalah 'Diana' tengah berdiri diantara para wanita itu? Dan diantara mereka, hanya Diana lah yang mau mendongakkan kepalanya dan menatap lurus ke depan.
Getaran tubuh yang membuat jantung Rubby berdenyut, sudah terlihat bagaimana perasaan wanita-wanita itu, dan jawabannya hanya satu, mereka begitu suram.
Tak ada kebahagiaan di wajah mereka. Bahkan tubuh mereka gemetar ketika berhadapan di hadapan Zac saat ini. Rubby kembali mempertanyakan, siapa para wanita ini dan mengapa mereka begitu ketakutan?
Deg.. Deg... Deg...
Tak hanya Rubby, bahkan lebih dari perasaan Rubby, seorang pria yang masih berdiri tegap di hadapan mereka, yang tengah menjadi perbincangan hangat saat ini juga, jantungnya merasa berdebar hebat begitu melihat para wanita itu. Rasa ketakutan bercampur kecemasan, ia bahkan tak tahu bagaimana harus menyikapinya.
"Catatan mengenai para gadis desa yang dijadikan budak dan dipermainkan secara paksa, kau kira aku tidak tahu hal ini, Marquess?" Zac menatap tajam pria yang kini tertunduk itu. Habis sudah, bagaimana masa depannya nanti? Hanya karena ia memancing amarah dan berbuat hal buruk pada seorang permaisuri rendahan seperti Rubby, masa depannya hancur. Begitu pikirnya.
"Yang Mulia, saya-"
"Hentikan omong kosong mu." Zac berkata tegas. Pria itu berbalik badan dan kembali melirik Marquess Ahen yang kini bertekuk lutut di hadapannya.
"Katakan, apa benar wanita-wanita ini adalah para gadis yang telah kau perbudak selama ini?" pertanyaan yang terlontar dari mulut Zac membuat Marquess Ahen gundah. Pria itu tak bisa berkata-kata. Ia harus jujur di hadapan seorang Kaisar, tapi disisi lain ada banyak mata yang melihat.
Marquess Ahen bergeleng kecil, pria itu masih tak sanggup untuk mengangkat suaranya.
"Berkata jujurlah, Marquess." tegas Zac. Namun, lagi-lagi pria itu masih keras kepala dan bergeleng.
"Katakan." kesabaran Zac sudah diambang, pria itu mengernyitkan kening dan mengepal tangan. "Jangan menguras emosiku, Marquess." Zac meninggikan suaranya, suaranya bahkan memenuhi ruangan saat itu. Keadaan menjadi hening, sepi, sunyi. Tak ada yang berani berbicara saat Zac sudah mengeluarkan amarahnya.
"Ti-tidak. Saya tidak melakukannya." lagi, gelengan kepala kembali ditunjukkan oleh Marquess Ahen, ia menggigit bibir bawahnya disaat kehidupannya sudah diambang Kematian. Antara hidup dan mati, ya, itulah pilihan jika berhadapan dengan Kaisar. Ditambah, ia mempunyai catatan kriminal saat ini.
__ADS_1
Baginda membawa mereka, namun tak ada bukti pasti.. ya, tak ada dan tak akan pernah ada.