Elf Princess

Elf Princess
Episode 25. Kepulangan


__ADS_3

Beberapa hari kemudian


"Kapan jadwal pulangku?" tanya Zac pada Edward seraya merapikan pakaiannya.


"Mungkin nanti siang, Baginda." jawab Edward yang juga sibuk, ia merapikan berkas-berkas di ruangan Zac saat itu.


"Aku.. ingin pergi sebentar," Zac terdiam dan teringat sesuatu. Setelah mendengar cerita Edwrad, ia rasa ia harus lebih perhatian pada Rubby agar hubungannya berjalan baik.


"Apa anda benar-benar ingin membeli hadiah untuk Permaisuri?" tanya Edwrad mengernyitkan keningnya.


"Ya, kurasa aku harus mencarikannya sendiri" Zac tersenyum tipis.


"Apa?" Edwrad lagi-lagi mengernyitkan kening. Pria seperti Zac, ingin membelikan barang wanita???


Astaga, semoga Baginda tidak membeli yang aneh-aneh untuk Nyonya Rubby. batin Edwrad cemas.


Sementara itu, disisi lain tepat dimana Rubby berada, Istana Goncalves ( Taman )


"Berapa lama Baginda akan sampai?" tanya Rubby pada Jeina dengan posisinya yang tengah duduk di kursi taman seraya membaca buku novel yang baru saja ia beli beberapa hari lalu.


"Uhm.. mungkin nanti malam? Yah, soalnya kan Baginda menempuh perjalanan yang cukup jauh! Kabarnya juga Baginda akan mulai menaiki kereta kuda siang hari." jawab Jeina mengira-ngira.


"Kira-kira, jam berapa ia akan pulang?" Rubby kembali bertanya.


"Saya tidak bisa memastikan, tapi.. Baginda pasti sudah pulang sekitar beberapa menit sebelum makan malam." jawab Jeina tersenyum. "Apa ada sesuatu yang ingin Anda sampaikan pada beliau?" Jeina bertanya.

__ADS_1


Rubby hanya menggelengkan kepalanya kecil. Ia lalu menghembuskan nafas kasar dan menjawab. "Aku hanya teringat akan janji ku untuk makan bersama Baginda. Sejak hari dimana Baginda mengajakku makan bersama, rasanya hanya satu kali kami melakukan nya." ucap Rubby.


"Tapi, jika memang Baginda pulang malam, kurasa kita tidak bisa makan bersama malam ini juga, karena beliau pasti kelelahan" lanjut Rubby dan kembali memfokuskan pandangannya pada sebuah novel berjudul. "See! My bunny turned real!" novel yang tengah populer akhir-akhir ini di kalangan bangsawan. Dan tentu saja penerbitnya adalah author ternama yang tak lain adalah Madam Leona, Istri dari Marquess Voter.


Sebetulnya, Rubby tidak ada niat untuk membelinya. Lagipula ia juga jarang membaca novel-novel seperti itu. Apalagi bertema romantis-remaja.


Tapi rasanya tidak enak karena Madam Leona memaksanya untuk membaca novel karangannya. Ia bahkan sampai berkata bahwa jika memang Rubby tidak mau membelinya, Madam Leona akan memberikannya secara gratis. Ia bahkan berkata bahwa Rubby tidak boleh terlalu fokus pada pekerjaannya sebagai permaisuri, dan novel adalah salah satu cara untuk mengisi waktu luang dan menjernihkan pikiran.


Karena tak 'etis' jika wanita kaya berstatus tinggi sebagai Permaisuri itu mendapat barang gratis atas permohonan, akhirnya Rubby terpaksa membeli dan membacanya. Dan.. mungkin tidak ada buruknya juga membaca novel remaja, toh, ia juga mempunyai waktu luang akhir-akhir ini. Karena semenjak Zac pergi keluar kota, para bangsawan juga tidak ada yang berdatangan ke istana. Jadi, Rubby mengisi waktu luangnya dengan mengobrol dengan Jeina, tiga peri, ataupun membaca novel.


Setelah selesai membaca beberapa halaman, Rubby meregangkan jari jemarinya. Ia bangkit dari duduknya dan menatap Jeina yang sudah terlelap dalam tidurnya diatas kursi taman.


"Apa aku bangunkan saja, ya?" Rubby bergumam pelan.


Namun, Rubby merasa tak tega karena Jeina sudah sibuk sekali semenjak menjadi dayang pribadi Rubby. Jika Rubby membangunkannya sekarang, Jeina pasti menolak untuk melanjutkan istirahat nya karena merasa malu, dan ia akan sibuk melayani Rubby seperti hari-hari biasanya.


Ditengah kebingungan Rubby, muncul sesosok pria dengan tubuh tegap berjalan di sekitar taman. Rubby tersenyum tipis dan sebuah ide muncul dalam pikirannya. Ia mengangkat tangan dan berucap sedikit kencang. "Sir.. Ethan!"


Pasar Gelap


Berbeda dengan Rubby yang berada di istana. Suaminya, Zac, kini tengah berkeliaran di pasar gelap. Aneh bukan? Seharusnya, sekarang ia ada di toko perhiasan atau butik, karena ia berkata akan membelikan hadiah untuk Rubby. Namun, mengapa Zac malah berada di pasar kumuh dan gelap seperti ini?


Pasar Gelap, Pasar yang tidak bisa diakses oleh orang biasa. Tetapi Zac, ia mendapatkan akses nya dari seorang paman yang pernah ia temui sewaktu remaja. Ceritanya cukup panjang, dan bisa dibilang Zac mempunyai hubungan baik dengan Paman tersebut.


Zac tersenyum tipis, "Banyak sekali perdagangan bebas disini. Sebagai seorang Kaisar, bisa-bisa nya aku tidak menyadarinya."

__ADS_1


Jika bertanya mengapa Zac tidak menghentikan mereka, jawabannya tentu saja tidak bisa. Sebesar apapun wewenang Zac, namun pasar gelap bukanlah pasar biasa. Bahkan mungkin ada penyihir hitam yang tersembunyi di dalamnya, dan itu sangat berbahaya karena Zac datang sendiri. Bukan karena tidak mempunyai kekuatan, tapi jelas ia bukanlah seorang penyihir.


"Tuan, bisakah anda katakan apa yang anda butuhkan? Lihat, saya mempunyai barang bagus." ucap seorang wanita dengan pakaian yang cukup terbuka di salah satu toko disana.


"Tidak, maaf." Zac bergeleng dan melajukan la langkahnya.


Dimana benda itu? Zac terdiam sejenak, kedua matanya menangkap sebuah benda berkilau di tengah pertokoan itu. "Rubby."


****


"Astaga, Yang Mulia!!! Bagaimana bisa anda menyuruh Sir Ethan menggendong saya ke kamar?" tanya Jeina malu. Bukan hanya malu, lebih tepatnya ia merinding jika membayangkannya. Bisa-bisanya ia pulas dan tidak sadar bahwa tubuh nya terangkat saat tertidur tadi.


"Yang Mulia kan bisa saja membangunkan saya." Jeina memanyunkan bibirnya.


"Aku tidak tega melihatmu yang kelelahan setiap hari. Lagipula, aku mempekerjakan pelayan yang bisa diandalkan. Jika kau tidak memerhatikan kondisi tubuhmu, maka bagaimana bisa kau melayaniku dengan baik?" sahut Rubby sambil menyisir rambutnya sendiri di depan cermin.


Hari sudah mulai malam, dan sebentar lagi Zac mungkin saja akan pulang. Rubby bukannya ingin mengajak pria itu makan malam bersama, tapi setidaknya ia bisa menyambut kehadiran Zac walau tidak seberapa.


"Huft.." Rubby menghela nafas kasar. Peraturan-peraturan di Istana membuatnya pusing untuk beberapa hal.


"Apa aku harus menunggu lama sampai Baginda datang?" tanya Rubby sambil memerhatikan kondisi diluar gerbang istana lewat jendela. Kelap-kelip bintang dan obor serta lentera yang terpasang menyinari Istana terlihat jelas di mata Rubby.


KREKKK...


"Yang Mulia Baginda Kaisar telah tiba! Beliau telah pulang kembali ke istana Kekaisaran!"

__ADS_1


Kedua bola mata Rubby terbuka lebar, gadis itu terdiam untuk sejenak dan segera bangkit dari duduknya.


"Apa aku perlu mendatanginya?" Rubby bergumam pelan.


__ADS_2