
Mendengarnya saja membuat Marques Ahen jengkel. Ia mengigit bibir bawahnya karena sudah merasa dipermalukan. "Lihat saja kau nanti, Baginda tidak akan mempertahankan mu untuk waktu yang lama," sinisnya bergumam.
Kamar Rubby..
"Yang Mulia, apa anda tahu.. tadi itu sangat keren!" ucap Jeina kagum. Ia melihat sisi berbeda dari Rubby yang biasanya.
"Anda seperti Baginda Kaisar," Jeina tersenyum puas. Sudah lama ia ingin mengeluarkan kata-kata itu para Marques Ahen.
"Itu semua juga berkat informasi yang kau berikan, Jeina." Rubby tersenyum dan mengusap lembut kepala Jeina.
Beberapa waktu lalu..
"Yang Mulia, anda harus berhati-hati pada pria yang berada di tengah-tengah dua bangsawan tadi. Dia sangat licik, dia akan melakukan segala cara demi mendapat hasil yang sempurna." ucap Jeina menjelaskan. "Tak sedikit orang tahu kalau dia melakukan cara kotor demi kepentingannya. Namun sayangnya tidak ada yang bisa mempunyai bukti akan hal itu,"
"Apa ada informasi lain yang kau ketahui?" Rubby mengernyitkan keningnya. Ia merasa harus benar-benar membereskan pria itu kali ini juga.
Jeina mengangguk pelan. "Dia adalah orang yang suka bermain wanita, bahkan di umurnya yang sudah matang, ia belum mempunyai istri karena sifatnya itu," jelas Jeina.
"Baiklah." Rubby mengangguk paham. "Terus ikuti langkahku. Aku akan menemui dia sekarang."
"Apa?" Jeina membulatkan kedua bola matanya.
"Tapi Yang Mulia, dia pasti sedang berbicara dengan Baginda sekarang, dan--"
"Dia adalah orang yang licik, dan tidak mungkin baginya untuk membicarakan itu sekarang." Rubby tersenyum tipis, ia membenarkan gaunnya dan pergi untuk menunggu di dekat ruang pertemuan di istana.
****
Setelah puas bercerita tentang Marques Ahen, seorang pelayan datang dan memberikan secangkir teh hangat untuk Rubby.
"Yang Mulia, silakan diminum tehnya." pelayan itu tersenyum dan membungkuk hormat sebelum ia pergi.
"Jeina, apa kau tidak lelah menemani ku seharian? Jika kau butuh istirahat, katakanlah." ucap Rubby tersenyum. Namun dengan cepat Jeina bergeleng. "Tidak, tidak sama sekali. Bagi saya, menemani Yang Mulia adalah suatu kebahagiaan tersendiri," jawab Jeina menyanggah.
__ADS_1
"Baiklah, terserah apa maumu," Rubby mengangguk kecil. Ia menyeruput tehnya sambil melihat pemandangan lewat jendela. Rubby terdiam, ia menaruh cangkir tehnya di atas meja karena teringat sesuatu.
Aku harus mengatakan ini sebelum terlambat.
"Jeina, aku pikir ada yang harus aku tanyakan. Apa kau tidak keberatan?" tanya Rubby serius, ia menatap lekat netra mata Jeina.
"Hum, tentu.. memangnya ada yang harus membuat saya keberatan?" Jeina tersenyum, baginya Rubby adalah salah satu teman dekatnya, maka dari itu Jeina selalu mempercayai perkataan Rubby.
"Jeina, apa sebelum aku datang ke istana ada hal besar terjadi?" tanya Rubby dengan kening berkerut.
Jeina terdiam dan mencoba berpikir. "Selain perang besar antara 10 kerajaan yang menyerang Kekaisaran Goncalves, sepertinya tidak ada kejadian besar lain," ucap Jeina jujur.
Rubby terdiam, seolah ia mengingat sesuatu yang terlupakan. Wanita itu memijit pelipisnya sendiri. Apa ada sesuatu yang tidak aku ketahui? Rubby membatin, pikirannya tidak fokus.
..."Seharusnya kau bangga karena bisa menjadi penyelamat dunia ini. Dengan begitu, dunia Elf tidak akan dihantui rasa bersalah atas kesalahannya."...
akh.. Rubby memegang kepalanya, kepalanya berdenyut untuk beberapa saat.
"Ya-Yang Mulia?" Jeina mengerutkan keningnya. Kenapa ekspresi Rubby jadi berubah? begitu pikirnya.
"Anda datang beberapa hari setelah kejadian itu usai, dan.. ya, Baginda memang menang saat itu." ucap Jeina tersenyum. "Kalau Baginda kalah, mungkin saat ini Kekaisaran sudah hancur. Tapi berkat Baginda, beliau bisa menyelamatkan seluruh rakyatnya," lanjutnya.
"Be.. begitu, ya?" Rubby kembali terdiam, ia melepas tangannya yang tadinya mencengkram tangan Jeina. Aku.. kenapa aku tidak tahu apa-apa?
Rasanya kepala Rubby akan sakit kalau berusaha mengingat-ingat. Tapi untuk saat ini ia hanya bisa terdiam.
Jangan berpikir yang tidak-tidak, Rubby. Dirimu hanyalah putri lemah yang terbuang. batin Rubby seraya menghembuskan nafasnya.
Tok.. Tok.. Tok..
Ketukan pintu membuat Rubby dan Jeina terdiam, keduanya menoleh ke arah pintu dan saling memandang. "Biar saya yang buka, Yang Mulia." ucap Jeina, ia melangkah cepat untuk keluar dari kamar Rubby.
"Yang Mulia?" Jeina terdiam sejenak, ia lalu membungkuk hormat di hadapan Zac yang baru saja datang.
__ADS_1
"Apa ada Rubby di dalam?" tanya Zac dengan raut wajah datar seperti biasanya.
"I-iya Yang Mulia." Jeina mengangguk kecil. Biarpun sudah lama ia berada di kediaman itu, tapi rasa takutnya selalu muncul begitu berhadapan dengan Zac.
"Rubby.." Zac mendekati Rubby, sejenak ia menoleh ke arah Jeina untuk mengisyaratkan pada pelayan itu agar pergi dari kamar Rubby sekarang juga.
Tentu saja Jeina tak bisa berkutik atas perintah Baginda Kaisar, ia akhirnya menurut dan pergi dari kamar Rubby walau masih banyak hal yang ingin ia bicarakan dengan nona sekaligus permaisuri nya itu.
"Salam, Baginda." Rubby membungkuk hormat, beruntung ia belum mengganti pakaiannya dengan pakaian untuk tidur karena dirasa belum mengantuk.
"Sudah kukatakan agar tidak perlu terlalu formal padaku, Rubby." seru Zac. "Bagaimana pun aku adalah suami mu sekarang" Zac menghela nafas kasar.
"Maafkan saya, Baginda. Tapi saya rasa dengan berbicara seperti ini akan lebih nyaman." Rubby mengernyitkan dahi nya sejenak sebelum ia mengeluarkan jawaban tersebut. Entah mengapa ia masih merasa aneh karena Zac yang telah berstatus suami sah nya.
"Benarkah? Padahal aku lebih suka gaya bicaramu saat pertemuan pertama kita waktu itu." Zac tersenyum tipis. Ia kembali mengangkat suaranya, "Rubby, aku kemari karena khawatir akan kondisimu" Zac terdiam sejenak dan menatap dalam netra mata Rubby. Namun gadis itu tak menggubris sedikit pun, ia masih terdiam di tempat duduknya.
"Rubby.."
Rubby menatap mata Zac. "Saya baik-baik saja, Baginda." wanita itu tersenyum, kekhawatiran Zac sepertinya terlalu berlebihan pada Rubby yang sudah memasuki usia dewasa.
"Jangan mengkhawatirkan diriku saja, Baginda. Khawatir kan lah diri anda, anda pasti telah bekerja keras untuk pernikahan ini. Saya sungguh merasa terharu dan tak tahu harus berterima kasih seperti apa," ucap Rubby penuh ketulusan.
Zac terdiam sejenak, ia mencoba memikirkan sesuatu.
Baginda.. aku tak pernah bisa membaca pikirannya.
Bahkan kali ini Rubby bingung apa yang tengah Zac pikirkan. Ia hanya bisa terdiam menunggu pria itu berbicara lebih dulu.
"Kalau kau memang ingin berterima kasih padaku, maka tolong penuhi salah satu permintaanku." Zac berucap yakin, ia mengangkat sudut bibirnya sedikit.
Permintaan? Rubby mengernyitkan dahinya. Namun saat tersadar wanita itu cepat-cepat menghela nafas dan tersenyum tipis.
"Apapun mau Baginda, saya akan menyanggupinya selagi bisa"
__ADS_1