Elf Princess

Elf Princess
Episode 23. Cerita Cinta Edward


__ADS_3


...*******...


"Yang Mulia, saya sudah selesai mencatat hal hal mengenai pengecekan bulan ini. Semua terlihat baik. Kemungkinan besok kita sudah bisa pulang ke istana" ucap Edward yang tiba-tiba saja datang dari arah belakang Zac. Sementara Zac, pria itu hanya melirik sekilas dan menatap langit lewat jendela kamarnya yang terbuka.


"Yang Mulia?" Edwrad mengerutkan kening. Tidak biasanya tuannya itu tidak fokus saat diajak berbicara.


"Jarang sekali anda melamun" Edward mendekati Zac dan menepuk bahunya.


"Ya" Zac menjawab singkat, entah apa yang membuat pikirannya tidak tenang.


"Apa anda memikirkan istri anda?" tanya Edward tersenyum menggoda Zac.


"Tidak." Zac bergeleng kecil. "Lalu, apa yang membuat anda melamun?" tanya Edward yang lagi-lagi mengernyitkan keningnya.


"Aku.. tidak tahu," Zac hanya menjawab pelan, ia kembali mendongakkan kepalanya dan menatap langit.


"Yang Mulia, jujurlah pada diri anda." Edwrad ikut menatap langit, ia sekarang berada di samping Zac.


"Apa maksudmu?" sontak Zac mengernyitkan dahinya dan menatap Edward dengan serius. "Saya kira, hubungan Anda dan Nona.. ah, maksudku Nyonya Rubby itu semakin membaik. Dan saya merasa anda sekarang sudah mempunyai rasa sedikit demi sedikit dengan Nyonya!" jelas Edward tersenyum kikuk karena tatapan tajam yang ditampilkan oleh Zac.


"Bukankah itu bagus?" jawab Zac dengan raut wajah yang masih sama, datar dan terkesan tak acuh.

__ADS_1


"Ukh.." Edward menghela nafas kasar. "Itu bukan jawaban yang saya mau, Baginda." ucap Edwrad tak habis pikir. Ia juga memijat pelipisnya sendiri.


"Baginda, pada awalnya anda bertemu dengan Nyonya, anda tidak mempunyai perasaan sedikitpun, bukan? Dan sekarang, anda mulai memberikan perasaan cinta pada Nyonya," Edwrad tersenyum tipis sambil menjelaskan.


"Perasaan-- cinta?" Zac mengerutkan kening. "Aku tidak mengerti." Jika dibilang bodoh.. Ya, mungkin ia bisa diibaratkan bodoh dalam hal cinta. Terlepas hidupnya sejak kecil yang tidak pernah mendapat cinta yang seharusnya ia dapatkan.


"Yang Mulia, bolehkah saya bercerita suatu hal?" Edward menatap Zac, namun pria itu tak menyahut.


"Baiklah, kalau begitu saya akan menceritakannya." seru Edward tersenyum tipis.


Edward menarik napas dalam-dalam, dan mengeluarkan nya. "Yang Mulia, asal anda tahu, dulu saya dan istri saya tidak saling mencintai sama sekali." ucap Edwrad mengangkat suara.


"Apa?" Zac mengernyitkan keningnya bingung. Tampaknya Zac mulai tertarik dengan awal pembicaraan Edward. Karena, yang pria itu tahu selama ini adalah sang pengawal selalu mengagungkan istrinya bak Dewi dari khayangan.


Edward tersenyum, "Ternyata Baginda masih ingat, saya kira anda sudah lupa!" Edward terkekeh kecil sambil mengingat masa lalu.


"Baginda, waktu itu saya menemukan istri saya saat lomba berburu. Dia sepertinya adalah wanita bangsawan yang tak sengaja tersesat, dan sayalah yang membawanya pulang. Namun saya membawanya bukan ke tempat asalnya, melainkan ke kediaman saya sendiri." ucap Edward mulai melanjutkan ceritanya.


"Saya tidak mempunyai perasaan apapun padanya, namun yang saya tahu ia adalah putri dari bangsawan yang tidak pernah dicintai oleh keluarganya. Ia juga mulai bercerita bahwa ia tidak pernah dianggap oleh ayahnya, jadi ia berkata jangan terlalu dekat dengannya, karena bisa saja koneksi ku yang juga seorang bangsawan terputus karena berdekatan dengan putri tak dianggap." Edward tersenyum pahit.


"Lalu, apa hubungannya cinta dengan istrimu itu?" Zac mulai bertanya. Hal itu tentu membuat Edward semakin terkekeh karena ini baru pertama kalinya ia merasa Zac tertarik akan ceritanya.


"Dulu, saya sangat bodoh akan cinta, sama seperti Baginda. Saya tidak mengindahkan ucapan istri saya yang saat itu masih menjadi gadis belia. Tapi biar beliau selalu bilang jangan mendekatinya, tapi ia menganggap saya teman mengobrol nya. Dan karena kasihan, saya akan selalu ada di sampingnya, menjadi rumah untuk tempatnya mengobrol, baik suka, maupun duka." Edward tersenyum, ia akan selalu sedih jika mengingat cerita sang istri yang tak pernah mendapat kasih sayang itu.

__ADS_1


Flashback ( Edward & Jiseyla )


"Tuan, akhir-akhir ini aku selalu memanggilmu kemari hanya untuk mengobrol tidak penting. Aku.. benar-benar minta maaf sudah merepotkan mu beberapa hari terakhir," Jiseyla menunduk setelah melihat Edward yang baru datang ke kamarnya sambil membawa semangkuk sup dan obat cair.


"Saya senang jika bisa membantu orang lain, dan itu adalah tugas saya sebagai seorang ksatria, Lady." ucap Edwrad dengan raut datar seperti biasanya. Namun, jauh dari ekspresi nya yang terkesan cuek, pria itu sangat hangat dan perhatian dalam hatinya.


Jiseyla Leonora Von Juvellas, ia adalah putri bangsawan yang diselamatkan oleh Edward saat lomba berburu beberapa Minggu lalu. Karena kasihan, pria itu akhirnya membolehkan Jiseyla untuk menetap di kediamannya.


"Lady, pagi tadi saya mendapat surat kiriman dari Baron Juvellas, ia berkata ingin menyampaikannya pada anda.. anu, apa anda mau membacanya?" jelas sekaligus tanya Edwrad pada wanita yang masih terduduk diatas ranjangnya itu. "Tidak." Jiseyla menjawab tegas dan singkat, dan Edward tidak akan bertanya lagi jika Jiseyla sudah menolaknya.


"Baiklah," Edward tersenyum tipis, pria itu lantas menghampiri Jiseyla dan menyeduh obat cair yang dicampurkan teh hangat seperti biasanya.


Jiseyla tersenyum tipis, "Di umurmu yang sudah matang, serta kebaikan hatimu, mungkin orang-orang diluaran sana tidak akan percaya bahwa kau belum menikah." Jiseyla tertawa kecil sambil menatap ketampanan Edwrad saat itu, ia sungguh bersyukur mempunyai teman sebaik Edward yang selalu ada disisinya dikala suka maupun duka.


"Ya," Edward mengangguk kecil, kesannya memang mirip dengan Zac ketika belum menikah dengan Jiseyla saat itu.


Jiseyla kembali tersenyum, ia mencondongkan sedikit tubuhnya untuk mengambil mangkuk dan sendok yang ada diatas meja selagi Edward menyeduh obat.


Edward mengernyitkan kening, ia lalu menahan pergelangan Jiseyla yang dibalut perban itu.


"Apa yang ingin anda lakukan?" tanya Edward menatap Jiseyla dalam.


"Y-ya? Tentu saja aku ingin makan," jawab Jiseyla bingung karena tiba-tiba Edward menahan tangannya.

__ADS_1


"Biar.. aku saja yang menyuapimu"


__ADS_2