
Marquess Gerlard, maupun Baron Solste menelan ludahnya kasar. Apalagi yang Marques ingin perbuat?
Ya, Marques Ahen adalah bangsawan yang cukup terkenal. Bukan karena kebaikan atau berita positif tentangnya, melainkan berita negatif tentang dirinya yang sering menyuap, meminum minuman terlarang, bahkan bermain wanita. Sebab itulah di usianya yang cukup berumur belum mempunyai istri, ya, tentu saja karena ia memilih melajang dan bermain bersama wanita-wanita bar yang biasa ia temui.
Tidak jarang orang tidak mengetahui tentangnya. Ia mempunyai kekayaan cukup banyak, dan bahkan tidak bisa dibilang kalau hanya sekedar Marques. Tapi, tidak sedikit orang mengetahui bahwa hartanya sering di dapat dengan cara kotor. Yah, tapi mereka tidak bisa asal tuduh karena tidak mempunyai bukti jelas.
"Marquess, apa anda adalah seorang peramal? Dan bagaimana bisa anda tahu apa yang ingin saya sampaikan pada Baginda?" tanya Marques Gerlard tersenyum sinis.
"Yah tapi sepertinya tujuan kita hanya satu untuk kali ini," ucap Marquess Ahen yang lagi-lagi menunjukkan tatapan dan ekspresi tidak mengenakkan.
"Apa maksud mu?" Baron Solste mengangkat suara, ia mengerutkan keningnya kesal karena menganggap Marques Ahen sok tahu tentang masalahnya.
"Hanya satu yang harus kita katakan saat ini." Marquess Ahen menghela napas kasar. "Tentang penolakan permaisuri yang baru saja datang, tidak mempunyai gelar, jabatan, kekuasaan, maupun kekuatan. Tapi dia.. dia ingin memimpin kita? Sungguh tidak masuk akal," ucap Marquess Ahen mengatakan intinya. Marquess Gerlard dan Baron Solste saling memandang, mereka lalu berdeham pelan dan mengangguk.
"Baru kali ini jalan pikiran kita sama, Marques." ucap Baron Solste mengiyakan.
Di samping pembicaraan mereka bertiga, ada mata yang memerhatikan. Seorang wanita, dengan rambut pirang dan iris birunya, Rubby.
"Yang Mulia, mereka.." bisik Jeina khawatir, bagaimana tidak? Rubby melihat langsung penolakan yang diajukan oleh tiga bangsawan itu.
"Itu sebabnya aku menyuruh mu untuk bersembunyi." balas Rubby tak habis pikir
"Tapi Yang Mulia, bukankah dengan kekuasaan anda saat ini, anda bisa dengan mudah menghukum mereka? Biar bagaimanapun kan anda seorang permaisuri sekarang" ucap Jeina.
"Aku tahu, Jeina. Tapi aku tidak ingin bertindak gegabah," jawab Rubby pelan.
Setelah beberapa saat bersembunyi di balik pohon Ayries, tiga bangsawan itu lalu melangkah bersamaan untuk pergi menemui Zac.
"Yang Mulia, terkadang saya khawatir siapa yang akan menjadi nyonya saya nantinya. Tapi untunglah, Baginda bertemu wanita sebaik anda," ucap Jeina terharu. "Maka dari itu, saya tidak akan rela jika para bangsawan itu memberi penolakan terang-terangan terhadap permaisuri yang baru," lanjutnya kesal.
"Jeina, tidak ada yang salah dari mereka." Rubby mengangkat suara, ia tersenyum tipis dan memalingkan wajahnya.
"Kau tahu sendiri, aku bukanlah wanita yang mempunyai gelar tinggi, jadi wajar saja mereka seperti itu." lanjut Rubby setenang mungkin.
"Tapi--"
__ADS_1
"Shtt!" Rubby meletakkan jari telunjuknya di bibir kecil milik Jeina.
"Tentu saja dengan penolakan seperti itu, tidak bisa melepas fakta bahwa mereka membenciku. Begitu pun aku." Rubby tersenyum dingin, tak ada yang bisa menebak jalan pikirannya selain dirinya sendiri.
"Jika Baginda tidak bisa mengatasi mereka, maka biarlah aku yang mengatasi mereka langsung," ucap Rubby tersenyum.
"Apa yang akan anda lakukan?" Jeina mengerutkan keningnya, antara bingung dan penasaran bercampur menjadi satu.
"Aku akan menemuinya, secara langsung." ucap Rubby tegas.
***
Sementara itu, Ruang Pertemuan di dalam Istana.
"Jadi, apa maksud kalian bersamaan datang kemari?" tanya Zac dengan raut tak mengenakkan.
"Yang Mulia, jangan pura-pura tidak tahu. Padahal, anda sudah pasti tahu apa yang akan kita bicarakan pada anda, kan?" ucap Baron Solste membuka inti pembicaraan terlebih dulu
"Seperti biasanya, kami tidak akan mengunjungi anda kalau tidak benar-benar penting. Tapi sayangnya ini jauh lebih penting daripada biasanya. Ini menyangkut perihal seluruh rakyat di negeri ini." tegas Marques Gerlard dengan kening yang mengerut.
Berbeda dengan yang lain, Marques Ahen berusaha menyikapinya dengan setenang mungkin.
Dengan wewenang seorang Kaisar, Zac bisa dengan mudah menutup mulut mereka dengan berbagai cara. Tapi ia tidak ingin bertindak gegabah dan langsung terburu-buru menghukum mereka.
"Kami ingin mengajukan penolakan!" Baron Solste menatap tajam Zac, sementara Marques Gerlard hanya bisa terdiam karena melihat tingkah Baron Solste yang dianggapnya terlalu terburu-buru.
'Apa tidak apa apa jika mengatakannya langsung?' ada rasa ragu di hati Marques Gerlald, ia menghembuskan napas panjang dan mencoba berpikir.
"Penolakan?" Zac mengerut keningnya, ia sebenarnya sudah tahu siapa yang mereka maksud, tapi ia tidak mau mengatakannya lebih dulu. Bertindak sebagai orang bodoh, dan membuat mereka yang akan memakan ucapannya sendiri.
"Kami.. tidak setuju atas permaisuri yang baru saja hadir di Kekaisaran ini." ucap Marquess Gerlard menelan saliva nya kasar.
"Alasan?" Zac bertanya singkat. Tatapannya tidak berubah, selalu dengan wajah datar dan tatapan dingin namun mengintimidasi banyak orang.
Baron Solste dan Marques Gerlard saling memandang, ia lalu melirik Marques Ahen dan berharap pria itu mau mengangkat suara. Namun, nyatanya sedari tadi Marques Ahen hanya terdiam sambil menyandarkan punggungnya di kursi. Hal itu tentu saja membuat Baron Solste dan Marques Gerlard menatap bingung ke arah Marques Ahen. Bukankah tadi dia yang ingin mengajukan untuk penolakan terhadap Permaisuri yang baru?
__ADS_1
"Bagaimana dengan tujuanmu datang kemari, Marques Ahen?" tanya Zac dengan tatapan mengintimidasi.
"Jangan khawatir, Baginda. Saya tidak akan mempermasalahkan soal permaisuri yang baru. Tapi saya ingin membicarakan satu hal untuk anda," Marques Ahen tersenyum menyeringai dan membenarkan posisi duduknya.
"Katakan dengan jelas, aku tidak suka berbicara dengan bertele-tele." ucap Zac dingin.
"Yang Mulia, bagaimana bisa seorang pria yang baru saja menikah masih mempunyai sifat yang sama? Saya khawatir Yang mulia permaisuri akan berpaling jika anda terus-menerus seperti ini," ucap Marquess Ahen yang akhirnya ikut mengeluarkan suara.
Zac mengepal tangannya, ia menatap tajam Marquess Ahen. "Marquess, apa kau tahu siapa yang anda di hadapanmu sekarang?!" ujar Zac penuh penekanan.
"Maafkan saya Baginda. Tapi saya kemari hanya untuk memastikan kondisi anda yang baru menikah, hanya itu saja, tidak lebih." Marquess Ahen tersenyum tipis, ia lalu bangkit lebih dulu dan membungkuk hormat. "Karena saya masih ada keperluan khusus, silakan nikmati waktu kalian, saya pamit." Marquess Ahen tersenyum tipis. Ia lalu dengan hormat meminta izin untuk pergi lebih dulu, dan hal itu kembali membuat kedua bangsawan yang kini masih terduduk di bangkunya merasa bingung.
'Apa dia berusaha mengerjaiku?!' kesal Baron Solste dalam benaknya.
*****
Tak.. Tak.. Tak..
Suara heels yang terdengar dari arah luar, tepat diluar ruangan pertemuan membuat Marques Ahen menghentikan langkahnya.
"Wanita itu.." Marquess Ahen tersenyum tipis, bagaimana bisa rencananya malah berjalan mulus? awalnya ia hanya ingin menyatakan penolakan, namun ia menggagalkan rencananya karena dirasa belum cukup. Tapi sekarang, ia malah melihat seorang 'wanita' berambut pirang itu secara langsung?
Rubby menghentikan langkahnya. Kedua matanya terfokus pada seorang pria yang terus menatapnya, Marques Ahen Houston Von Chedrick.
"Salam, Yang Mulia Permaisuri." ucap Marquess Ahen tersenyum ramah.
"Ya." Rubby menjawab singkat. Ia masih mengenal wajah pria yang tadi mengoloknya saat di taman. Mengatakan bahwa Rubby tak pantas bersanding dengan seorang Kaisar dan menjadi permaisuri.
"Apa ada hal yang ingin Anda sampaikan?" tanya Rubby dengan wajah datar.
"Yang Mulia, saya dengar anda adalah permaisuri yang cantik, dan benar saja kalau paras anda benar-benar seperti Dewi yang turun dari dunia khayangan." ucap Marquess Ahen tersenyum manis. Jemarinya bergerak menyentuh helaian rambut Rubby, ia menciumnya dengan agresif.
Tak!
"Jaga kesopanan anda, Marques!" tegas Rubby tak terima.
__ADS_1
"Bukankah mencium rambut wanita adalah hal yang biasa? Lagipula saya tidak melakukan tindak pelecehan, bukan?" ucap Ahen penuh penekanan. Rubby mengerutkan keningnya, ia sungguh muak dengan perkataan menjijikan yang keluar dari mulut pria itu.
"Apa itu anggapan anda selama ini?" Rubby tersenyum. "Pantas saja anda tidak mempunyai seorang istri. Karena tidak ada seorang wanita yang mau dipermainkan oleh suaminya. Dan jika anda terus melakukan hal ini kepada para wanita diluaran sana, anda akan semakin susah mendapat pasangan," ujar Rubby dengan tatapan tajam. Ia berbalik badan dan memalingkan wajah. "Jeina, ikut aku ke kamar." titah Rubby dengan nada tinggi. Rubby terpaksa melakukannya, karena ia ingin menunjukkan betapa pentingnya jabatan dirinya sehingga tak ada yang bisa melawannya dan mencemooh dirinya yang kini sudah menjadi permaisuri.