
"Di dalam tanah yang menjaga pohon Ayries, disitulah pintu masuk menuju ke hutan peri, namun yang bisa mengakses nya hanya kita bertiga yang berdarah peri langsung." ucap Lucy menjelaskan.
"Biasanya kami akan keluar dari zona peri karena merasa bosan, tapi waktu itu pernah kami tidak bisa masuk dan pulang larut, alhasil saat pulang kami dimarahi oleh ayah dan ibu," seru Raley dengan raut wajah kesal.
"Oh, waktu itu, ya? Benar! Ibu dan ayah selalu saja marah-marah jika kami pergi keluar Ayries," sahut Haley mengangguk.
"Huh, aku benci ayah dan ibu! Mereka sangat galak!" timpal Lucy dan disahut anggukan bersamaan oleh Raley dan Haley.
"Mereka pasti marah karena mencemaskan kalian, jadi kalian tidak boleh membenci mereka." ucap Rubby menasehati.
"Lalu bagaimana dengan Rubby? Apa di dunia elf itu sangat indah?" tanya Lucy penasaran.
"Ceritakanlah!" ucap Raley dan Haley yang tak kalah penasaran dengan Lucy.
Rubby tersenyum kikuk. Bagaimana ia harus menyikapinya dan menceritakan tentang dunia elf? Sedangkan dia adalah seorang putri kerajaan yang dibuang.
"Aku tidak mempunyai banyak cerita di dunia itu." Rubby bergeleng pelan.
"Benarkah? Kau tidak berusaha menyembunyikan nya pada kami, kan?" tanya Raley dengan tatapan mata menyelidik.
"Mana mungkin aku menyembunyikan hal tidak penting seperti itu pada kalian. Lagipula, aku tidak punya keluarga disana." ucap Rubby tersenyum.
Maafkan aku, tiga peri kecil.. tapi aku tidak mungkin mengatakan kalau aku adalah putri kerajaan yang terbuang.
"Jadi kau bukan putri kerajaan?" tanya Lucy mengerutkan kening. Rubby hanya mengangguk kecil menyahut ucapan Lucy.
"Padahal awalnya kukira kau adalah putri kerajaan! Rambutmu pirang, biasanya warna rambut seperti itu hanya dimiliki oleh keluarga kerajaan, kan?" timpal Raley sambil menghembuskan napas.
"Lagipula mana ada Putri kerajaan yang bisa bebas pergi ke dunia manusia? Kau bercanda ya, Raley, Lucy?!" seru Haley tertawa.
Rubby terdiam, ia sebenarnya sudah tidak peduli apakah ia masih dianggap keluarga atau tidak. Tapi hatinya masih terlalu sakit mengetahui kenyataan bahwa ia tidak akan pernah mendapat kasih sayang dari keluarganya.
"Rubby! Kau harus sering-sering datang kesini, ya?" Haley tersenyum dan terbang mengelilingi Rubby.
"Aku akan kemari kalau ada waktu luang," jawab Rubby tersenyum.
__ADS_1
Mereka pun berpisah karena sepertinya Raley, Haley, dan Lucy harus kembali ke hutan peri agar tidak dimarahi oleh ibu dan ayahnya.
"Nona Rubby, anda disini rupanya?" suara dari seorang pria membuat Rubby menoleh.
"Dia kan.." Rubby terdiam dan menatap pria yang menghampiri nya.
"Saya adalah Edward, pengawal pribadi Baginda Kaisar. Anda bisa memanggil saya Sir Edwrad," ucap Edward tersenyum.
"Baiklah, Sir Edward." ucap Rubby tersenyum kaku.
"Nona, saya mendengar dari Baginda kalau kalian akan segera menikah." ucap Edward. "Saya turut senang karena akhirnya kekaisaran ini mempunyai seorang permaisuri." lanjutnya.
"Iya," jawab Rubby singkat. Karena merasa asing, Rubby melangkah untuk pergi dari sana, namun dengan cepat Edward merentangkan tangan kanannya dan menghalangi jalan Rubby.
"Nona, ada yang mau saya tanyakan. Apa anda bersedia menahan langkah anda sebentar?" tanya Edward tersenyum.
Rubby menelan saliva nya kasar, ia lalu menghela napas dan mundur beberapa langkah dan bertatapan dengan Edwrad. "Apa ada yang mau Sir Edward sampaikan kepada ku? Sepertinya itu sangat penting, ya?" tanya Rubby.
Dia adalah pengawal pribadi Kaisar, tapi sifatnya bahkan lebih buruk dari Kaisar! umpat Rubby dalam hatinya.
"Saya hanya ingin memastikan bahwa Nona adalah pilihan Baginda yang terbaik, jadi--"
"Aku adalah calon istri Baginda, dan Baginda yang memilihku untuk nya. Apa Sir sudah meminta izin pada Baginda untuk memastikan apakah aku layak atau tidak sebagai istrinya?" tanya Rubby dengan tatapan menikam.
"Oh, Ya ampun.." Edwrad menutup mulutnya. "Saya rasa anda memang cocok dengan temperamen seperti itu. Pertahankan lah, Calon Yang Mulia Permaisuri," ucap Edward, ia membungkuk hormat dan berlalu pergi dari sana.
"Kukira dia adalah pengawal yang sopan, tapi aku tidak menyangka dia bertindak berbeda di hadapanku dan di hadapan Baginda," Rubby memijit pelipisnya, karena tidak mau ambil pusing, ia memutuskan untuk kembali ke kamarnya dan beristirahat.
****
"Astaga, Nona! Nona darimana saja tadi?" ucap Diana cemas.
"Apa terjadi sesuatu, Bibi?" tanya Rubby bingung.
"Tidak terjadi apa-apa, tapi sebentar lagi Madam Violette akan datang, jadi sebaiknya anda bersiap!" jelas Diana sambil memilih gaun yang cocok untuk Rubby.
__ADS_1
"Madam.. Violette?" Rubby mengerutkan keningnya bingung.
"Iya, nona. Walau Baginda tidak mau membebani Nona dalam hal etiket maupun tentang bangsawan, tapi Nona harus mengikuti nya karena bisa saja nanti akan ada gosip tidak baik untuk nona!" seru Diana sambil menyiapkan segala hal yang dibutuhkan Rubby. Ia juga membantu Rubby untuk menyisir rambutnya.
"Madam Violette adalah wanita yang sangat terkenal di pergaulan kelas atas. Biar begitu, dia orang yang baik dan sangat tepat untuk menjadi pengajar etiket anda!" ucap Diana melanjutkan.
"Aku mengerti," Rubby mengangguk paham, dan benar saja, setelah selesai bersiap, Madam Violette sudah datang menghampiri Rubby.
"Salam, Nona Rubby.." ucap Madam Violette sedikit membungkuk. Ia menatap tajam Rubby sehingga membuat Rubby sedikit kurang nyaman.
"Nona, berlatihlah dengan Madam Violette. Jika sudah selesai, saya akan kembali menemui anda," ucap Diana tersenyum, dan Rubby mengangguk kecil.
"Salam, Madam.." ucap Rubby membungkuk hormat. Ia sebenarnya sudah tahu dan tentu saja bisa mempelajari etiket bangsawan. Karena dulunya ia adalah seorang putri. Namun Rubby menyetujui untuk mendapat pengajaran karena bisa saja ada hal yang berbeda antara manusia dan elf.
"Nona, saya adalah Madame Violette yang akan mengajar etiket untuk anda ke depannya. Saya harap anda bisa mempelajari nya dengan baik dan tidak membuang waktu saya dengan sia sia." ucap Madam Violette dengan tatapan tajam dan mengintimidasi.
"Tentu saja, saya tidak mungkin membuang waktu seorang madam yang sangat baik dalam mengajar seperti anda, kan?" Rubby tersenyum dan mencoba untuk menyesuaikan cara bicaranya. Apalagi melihat tatapan Madam Violette, sudah jelas ia tidak menyukai Rubby.
"Bagaimana pun, anda kan akan menjadi permaisuri sebentar lagi. Seorang permaisuri harus belajar etiket bangsawan dengan benar, bukan hanya bersenang-senang dengan uang suaminya, bukan?" sindir Madan Violette.
Kalau dia bukan guru pengajar ku, bisa saja aku sudah menghajar dan mengomeli nya karena tidak sopan! batin Rubby menahan amarah.
"Baiklah, pertama-tama saya akan mengajarkan anda postur berdiri seperti para bangsawan pada umumnya." seru Madam Violette dengan tatapan tajam yang tak pernah berubah sejak ia datang tadi.
Rubby mengangguk tanda mengiyakan.
"Jika pria berdiri dengan kaki selebar bahu, maka wanita berdiri dengan satu kaki sedikit di depan yang lain." ucap Madam Violette menjelaskan. Ia juga memperagakannya di depan Rubby.
"Tulang belakang anda harus keadaan lurus dan dagu sedikit terangkat. Pastikan kedua kaki menempel di lantai dan lutut ditekuk sedikit. Bahu harus ditarik ke belakang, dan tulang rusuk menjadi pusatnya." lanjutnya menjelaskan panjang lebar.
"Sekarang, coba lakukanlah apa yang saya ajarkan tadi." ujar Madam Violette dengan nada acuh tak acuh.
Tak perlu waktu lama untuk Rubby mengerti, karena seperti yang dikatakan tadi, ia adalah seorang putri, dan tentu saja hal itu sudah ia pelajari sejak kecil.
Deg! Dia mencontohkan nya dengan sangat baik. Madan Violette membuka matanya lebar, ia bahkan sampai membenarkan kacamata yang dikenakannya karena merasa tak percaya.
__ADS_1
"Apakah ada yang harus dikomentari dengan postur saya kali ini, Madam?" tanya Rubby tersenyum.