Elf Princess

Elf Princess
Episode 14. Persiapan pernikahan


__ADS_3

"Salam, Baginda." ucap Diana begitu ia sampai di ruangan Zac.


"Baroness, apa kau tahu selera gaun untuk wanita?" tanya Zac.


"Gaun? Apa anda berencana membelikannya untuk Nona?" tanya Diana balik.


"Iya, aku ingin kau merekomendasikan desainer terbaik untuk pernikahan ku dengan Rubby." jawab Zac tersenyum.


"Per--nikahan?" Diana membuka matanya lebar, antara percaya atau tidak, ia menatap bingung Zac.


"Iya, Rubby sudah menerima tawarannya. Aku ingin pernikahan langsung dilaksanakan." ucap Zac tersenyum.


Sudah berhari-hari Zac menginginkan pernikahan ini, namun karena kondisi kritis dalam kekaisaran tentu saja Zac tidak mau membuat rumor jahat untuk Rubby karena mengadakan pesta saat masa kritis kekaisaran. Waktu ini juga adalah waktu yang tepat, karena Rubby juga sudah mau menerimanya.


"Iya, aku meminta bantuanmu untuk bertanya selera Rubby dan mengenalkannya pada Desainer ternama." ucap Zac serius.


****


"Woah, apa nona sungguhan akan menikah dengan Baginda?" tanya Jeina antusias.


"Iya," Rubby mengangguk pelan.


"Ya ampun ya ampun! Ini adalah berita besar! Aku sudah menunggunya sejak lama!" ucap Jeina bersemangat.


"Terima kasih atas saranmu kemarin, Jeina." Rubby tersenyum tipis. Bagaimana pun Jeina lah yang menumbuhkan semangat untuk Rubby yang sedang putus asa kemarin.


"Nona, saya penasaran bagaimana anda saat pesta nanti! Pasti anda akan sangat cantik dengan gaun yang anda pakai!" ucap Jeina tidak sabar.


Rubby tersenyum tipis melihat kelakuan Jeina. Ya walau di hatinya tidak ada perasaan spesial bagi Zac, tapi ia senang karena orang-orang di istana memperlakukan nya dengan baik.


🍂🍂🍂


"Hum, tubuh Nona sangat bagus, ia mempunyai pinggang yang ramping dan bentuk tubuh seperti jam pasir dengan tubuh yang lumayan kecil tapi sangat ideal." ucap Desainer Lina kagum. Ia adalah Desainer ternama di kekaisaran ini, sebenarnya, statusnya adalah Marchioness, ia adalah istri dari Marquess Zouvan.


"Coba nona lihat, style mana yang menurut nona menarik?" tanya Lina tersenyum.


"Aku pikir.. ini semua menarik, tapi aku tidak menginginkan desain yang terlalu mewah," ucap Rubby ragu.


Lina mengangguk pelan, "Biasanya para wanita akan menginginkan style yang megah dan mekar, tapi Nona menginginkan desain yang tidak terlalu mewah? Pantas saja Baginda memilih anda untuk dijadikan istrinya," Lina tersenyum, lagi-lagi ia kagum pada Rubby.

__ADS_1


"Jeina, menurut mu style seperti apa yang suka dipakai oleh bangsawan yang akan menikah?" tanya Rubby pada Jeina yang duduk tepat di sampingnya.


"Hum.." Jeina terdiam dan mencoba berpikir. "Akhir-akhir ini, sedang trend style mengembang, em... para bangsawan juga biasanya memakai pakaian yang mewah dan perhiasan untuk memamerkan kekayaan," ucap Jeina menjelaskan.


"Begitukah?" Rubby mengangguk paham.


"Aku bukannya tidak menginginkan style seperti itu. Tapi, yang akan kulakukan nanti adalah pernikahan, bukan pesta besar yang diadakan kekaisaran. Apakah aneh jika aku memakai pakaian yang tidak mewah sebagai pasangan seorang Kaisar?" tanya Rubby.


"Sebenarnya tidak masalah, sih. Tapi nona bisa saja mendapat kritikan dan rumor buruk dari para bangsawan, karena mereka pasti menginginkan seorang permaisuri yang kaya dan berasal dari keluarga ternama," ucap Jeina kembali menjelaskan.


"Huft.." Rubby menghembuskan napasnya kasar, ia sebenarnya tidak mau terikat dalam pernikahan saat ini, apalagi dengan seorang Kaisar yang mempunyai banyak urusan politik. Tapi, Rubby juga tidak bisa menolaknya karena seperti kata Ayries, Zac adalah satu-satunya jalan untuk nya kembali ke Kekaisaran.


"Nona, saya sarankan anda memakai pakaian yang berhias permata namun masih terkesan elegan dan tidak terlalu mewah. Beberapa style nya juga saya desain seperti trend busana di kalangan bangsawan agar tidak terlalu polos," ucap Desainer Lina sambil menunjuk sketsa gaun pengantin yang akan dipakai Rubby.


"Apa ini cocok dengan nona?" tanya Desainer Lina. "Iya, ini sangat cantik." jawab Rubby mengangguk. "Bagaimana dengan Baginda?" tanya Rubby penasaran.


"Baginda berpesan untuk menyamai desainnya dengan nona, beliau akan memakai pakaian dengan bahan dan style mirip agar serasi," ucap Lina menjelaskan, dan hanya anggukan kepala yang disahut oleh Rubby.


"Kalau begitu, saya pamit pergi untuk mempersiapkannya. Nanti jika waktu yang tepat sudah ditentukan, saya akan kemari bersama perias nya langsung agar nona bisa langsung dirias dan di dandani," lanjutnya.


"Terima kasih, Marchioness." ucap Rubby tersenyum.


Marchioness Lina membungkuk hormat di hadapan Rubby, ia lalu mengambil barang-barangnya dan pergi berlalu keluar dari kamar Rubby.


"Jeina, kau betulan ingin ikut?" tanya Rubby.


"Sebenarnya saya akan mengunjungi rumah teman saya sebentar lagi, tapi untuk menghilangi rasa bosan jadi saya ingin mengikuti anda sebentar." ucap Jeina tersenyum.


Rubby mengangguk kecil, ia lalu berjalan ke teman diikuti Jeina di belakangnya.


Taman Istana..


Sebenarnya aku ingin mengobrol dengan anak-anak peri dan Ayries, tapi aku tidak bisa melakukannya sekarang karena Jeina ada bersamaku.


"Sejak kapan kau bekerja disini?" tanya Rubby pada Jeina untuk memecah keheningan.


"Uhm.. mungkin, sejak satu tahun lalu?" jawab Jeina. "Aku belum lama berada disini, jadi aku tidak mempunyai banyak teman," lanjutnya.


Rubby tersenyum tipis, ia memandang Jeina dan memerhatikan nya. "Berapa usiamu?" tanya Jeina.

__ADS_1


"A-aku?" Jeina terdiam dan menatap ragu Rubby. "Anu.. usia saya masih 17 tahun," ucap Jeina menunduk. "Sedari kecil aku tidak pernah menempuh pendidikan apapun, aku membantu ibuku untuk membuat kue di desa."


"Membuat kue?" tanya Rubby, dan Jeina mengangguk pelan. "Pasti kue buatanmu enak, ya? Aku penasaran bagaimana rasanya!" ucap Rubby tersenyum.


"Jika nona mau mencoba mencicipi kue buatanku dan ibuku, aku akan membawakannya saat aku mendapat izin cuti nanti!" ucap Jeina senang.


"Aku akan menantikannya," seru Rubby.


Jeina tersenyum senang. "Selain Vivi, nona adalah orang kedua yang mau tulus padaku." ucap Jeina terharu.


"Vivi?"


"Ya, dia adalah pelayan dari putri Baron Bileon, aku sering bertemu dengannya jika ada pesta, dan kami menjadi teman dekat!" ucap Jeina.


"Dia sangat berbeda dengan nona yang ia layani. Terkadang aku kasihan pada Vivi karena harus terkena amukan karena alasan tidak jelas oleh Nona Leyva, putri Baron Bileon. Sifatnya begitu keras pada para pelayan, tapi sepertinya dia juga menyukai Baginda!" seru Jeina dengan raut wajah kesal.


"Baginda?" tanya Rubby bingung. "Baginda pasti sangat populer di kalangan para wanita bangsawan, ya?" tanya Rubby tertawa kecil.


"Yah, tentu saja! Baginda itu seperti permata bagi mereka! Bahkan tidak jarang dari wanita bangsawan yang menggoda Baginda dan merencanakan buruk.." Jeina menghela napas dan memijit pelipisnya sendiri. Ia lalu menoleh untuk menatap Rubby, dan menggenggam jemarinya. "Tapi tenang saja! Nona Rubby itu berbeda dari mereka! Mungkin itulah salah satu alasan Baginda mau menikah dengan nona! Tidak hanya cantik, nona juga mempunyai hati yang baik" ucap Jeina tersenyum.


"Kau terlalu percaya padaku, Jeina." Rubby menghela napas kasar.


"Ah.." Jeina terdiam sejenak, "Nona, sepertinya saya harus pergi sekarang! Vivi, sahabatku itu, dia pasti sudah menungguku!" ucap Jeina. Ia berpamitan pada Rubby untuk pergi menemui Vivi, sahabatnya.


Setelah kepergian Jeina, Rubby lalu bangun dan menghampiri pohon Ayries.


"Rubby!!" ketiga peri itu terbang cepat ke arah Rubby, apalagi Lucy yang sangat senang dengan kehadiran Rubby.


"Apa kalian merindukanku?" tanya Rubby tertawa kecil.


"Mana mungkin aku merindukan wanita sepertimu!" ucap Raley menggeleng.


"Hey, bukankah kau yang sangat antusias mengajak aku dan Lucy untuk bertemu Rubby?" tanya Haley tertawa.


"Apa? Jelas-jelas begitu keluar Lucy yang langsung menghampiri Rubby dengan antusias!" ucap Raley tidak terima.


"Yah terserah kau saja, sih." balas Haley.


Rubby hanya bisa tertawa melihat dan mendengar kelakuan mereka. "Kalian tinggal dimana? Kenapa bisa ada di pohon ini?" tanya Rubby penasaran.

__ADS_1


Raley, Haley, dan Lucy saling memandang, mereka lalu mengangguk kecil. "Kami akan memberi tahu, tapi kau harus berjanji untuk tidak membocorkan nya!" ucap Raley menatap Rubby dengan tajam.


"Tentu saja, aku tidak akan membocorkan nya" jawab Rubby mengangguk.


__ADS_2