
"Biar.. aku saja yang menyuapimu"
"A... apa?" wajah Jiseyla memerah bak kepiting rebus. Ia memang biasanya akan meminta bantuan Edwrad untuk menyuapinya. Namun, kali ini tangannya sudah mulai sembuh, dan untuk apa ia merepotkan orang lain hanya untuk makan? begitu pikir Jiseyla.
"Ah, tidak usah. Tanganku sudah mulai membaik, dan aku tidak ingin merepotkan mu," ucap Jiseyla tersenyum tulus, wanita itu tetap mengambil sendok dan hendak menyuap sup hangat itu ke dalam mulutnya.
"Apa tangan anda benar-benar sudah baikan?" Edward mengerutkan kening tak percaya. "Hum.." Jiseyla mengangguk kecil.
"Kalau begitu, tolong suapi saya." Edwrad lagi-lagi menatap dalam Jiseyla dan sontak membuat jantung wanita itu berdegup kencang karena permintaan Edwrad yang diutarakannya
"Ta.. tanganku masih agak sakit untuk terangkat, jadi untuk menyuapimu---" Jiseyla sungguh merasa bersalah. Bukannya ia tidak mau, namun ia saja kesusahan untuk memaksa menyuapi dirinya sendiri, apalagi menyuapi orang lain?
"Kalau begitu, serahkan sendoknya pada saya, saya yang akan menyuapi anda." ucap Edward tersenyum tipis. Tak biasanya pria itu akan tersenyum di hadapan wanita, tapi kali ini berbeda.
"Tidak!" Jiseyla sontak menolaknya. "Aku memang belum sanggup menyuapi mu karena tangan ku harus terangkat, bukan? Namun, aku bersungguh sungguh kalau aku memang sudah bisa makan sendiri, oke?" Jiseyla berkata penuh penekanan, namun Edward hanya menjawabnya dengan gelengan kepala.
"Hanya ada dua pilihan, anda yang menyuapi saya, atau saya yang menyuapi anda." kata-kata itu lagi-lagi membuat Jiseyla tersipu.
Sialan, kenapa bisa ia tersentuh oleh kata-kata yang diucapkan oleh pria dengan eskpresi datar begitu? Jiseyla tak habis pikir.
"Baik baik, kau boleh menyuapiku, tapi jika kau lelah dan ingin kembali ke ruanganmu, katakan, ya? Toh, aku tidak berbohong kalau tanganku sudah mulai sembuh." tanya Jiseyla tersenyum dan mencoba mengatur nafasnya yang tak bisa tenang karena berdekatan dengan Edwrad. Apalagi, pria itu berucap dengan penuh perhatian, dan Jiseyla tak bisa menahan bahwa ia memang terbawa perasaan saat mendengar nya.
"Ayo, coba buka mulut anda!" Edwrad mulai menyuapi wanita itu seperti biasa. Tapi kali ini, Jiseyla tak bercerita apapun walau Edward sudah berada di hadapannya. Ia sudah cukup merasa bersalah karena membebani pikiran Edward dengan kisah-kisah menyedihkan miliknya.
"Apa ada yang mengganjal di hati anda? mengapa sejak tadi anda hanya diam saja, hum?" tanya Edwrad bingung.
"Aku tidak ingin membebani pikiranmu, Edward. Kau pasti lelah juga kan mendengar cerita yang selalu diulang-ulang setiap harinya?" ucap Jiseyla menghembuskan nafas.
Edward terdiam, ia bahkan berhenti menyuapi sup hangat untuk Jiseyla.
"A-apa ada masalah?" tanya Jiseyla berkata kikuk.
__ADS_1
Edward tak menjawab, pria itu justru menaruh semangkuk sup yang sudah hampir habis itu dan sendok diatasnya.
"Apa anda tidak pernah menganggap saya?" pertanyaan Edward lantas membuat Jiseyla mengernyitkan keningnya. Edward menatapnya dengan tatapan menikam, sangat! sehingga Jiseyla menelan salivanya kasar dan berkata gugup. "Ma-mana mungkin!" ucap Jiseyla sontak.
Edward semakin menatap tajam wanita di hadapannya itu. "Lady, apa kau pikir aku ini bukan pria? Mengapa Lady menganggap ku seolah-olah seorang hewan yang hanya diajak bicara, setelah itu, Lady bersikap seperti biasa?" pertanyaan Edward yang terdengar sedikit serak itu membuat wanita itu segera menunduk dan bergeleng kecil. "Mana mungkin aku menganggap kau sama seperti hewan! Kau.. tentu saja kau jauh lebih dari itu, Edward!" jelas Jiseyla tegas.
"Lalu, katakan, bagimu, dimana letakku.. ah, maksud saya, apa anda pernah meletakkan saya pada hati anda?" tanya Edwrad membuat Jiseyla susah payah menelan salivanya.
Jiseyla terdiam, rasanya begitu berat ia mengangkat suara. Hingga Edward tersenyum tipis dan menarik pergelangan tangan Jiseyla untuk diletakkan di dadanya. "Lady.. tolong, katakan dengan jelas." tatapan Edwrad berhasil menusuk pikiran Jiseyla, ia memejamkan mata sekilas dengan tubuh bergetar, berusaha menjawab pertanyaan Edward padanya.
"Bagiku, kau.. adalah temanku yang paling berharga! kau... kau bahkan pria pertama yang aku cintai! Ah.. ma-maksudku, aku.. aku menyukaimu karena kau adalah teman baikku.. ya, lagipula cinta pertama anak perempuan tidak pernah aku dapatkan, bukan? Aku... aku tidak pernah dicintai oleh ayahku! La... lalu mengapa aku harus menjadikannya pria pertama yang aku cintai?" tanpa sadar Jiseyla mengungkapkan segala hal yang mengganjal hatinya. Ia tidak tahan karena Edwrad terus menatapnya dengan tatapan menikam.
Edwrad tersenyum tipis, pria itu mendekatkan wajahnya pada wajah Jiseyla sehingga jantung Jiseyla berdegup kencang.
Jiseyla, tahan.. tahan! Jiseyla rasanya ingin berteriak saat itu juga. Sungguh! Ia sangat deg-degan menatap wajah Edward saat ini.
Edward mendekati wajahnya pada Jiseyla, ia juga memeluk Jiseyla perlahan.
Cup!
Kecupan hangat mendarat di kening Jiseyla, Jiseyla yang terkejut lantas berusaha menjauhkan tubuhnya dan Edwrad, namun pria itu menarik pinggang Jiseyla untuk mendekat pada tubuhnya.
"Jadi, aku adalah cinta pertamamu, ya?" Edward berbisik tepat di telinga Jiseyla membuat wajah Jiseyla kembali memerah karena malu. "A..anu, maksudku--" wanita itu tak bisa menjawab.
"Shttt!" Edwrad berkata pelan, kini pria itu menaruh dagunya diatas bahu Jiseyla. "Biarkan aku memelukmu sebentar." ucap Edwrad pelan.
Mungkin sikap Edwrad saat ini terkesan mesum, namun jauh di dalam hati Jiseyla, ia tidak pernah untuk tidak mempercayai Edwrad.
"Ya, terserah maumu." Jiseyla mengangguk kecil, entah apa yang merasuki Edwrad sehingga pria itu bermanja di pelukan Jiseyla.
"Lady-- maksud ku, Jiseyla, aku tidak tahu perasaan apa yang mengganjal di hatiku. Tapi saat kau mengatakan kau mencintaiku, aku sekarang tahu perasaan apa itu." Edward tersenyum tipis, sangat tipis. "Mungkin saja..." Edwrad terdiam dan tidak melanjutkan kata-katanya untuk beberapa saat. Hal itu membuat Jiseyla sedikit malu karena ucapannya yang terlalu jujur tadi.
__ADS_1
"Mungkin saja?" Jiseyla mulai mengangkat suara, ia tidak bisa terus terdiam dan terhanyut oleh kalimat-kalimat manis dan perhatian yang diutarakan Edwrad. Ia ingin mendapat jawaban serius dari mulut pria itu langsung.
"Mungkin, aku juga mencintaimu.." bisikan hangat serta nafas Edwrad yang bisa terasa oleh Jiseyla membuat wanita itu tak bisa berkutik. Namun ia memberanikan diri dan mendorong tubuh Edwrad menjauh. "Kau.. mencintaiku?" tanya Jiseyla penuh penekanan, ia tidak mau dibohongi hanya karena kata-kata manis yang tak akan berlangsung lama.
"Apa menurutmu, aku pandai berbohong?" tanya Edwrad tersenyum tipis.
Edward mengambil sesuatu dari saku celananya. Sebuah kotak merah terlihat jelas di hadapan Jiseyla. Edward juga mengangkat tangan dan kembali mendekati wajah Jiseyla.
Kali ini, Edwrad bukan hanya ingin mencium kening wanita itu, tapi ia juga melepas kalung yang mengait di leher Jiseyla, dan mengaitkan kalung berbentuk hati yang baru saja ia beli untuk Jiseyla.
"Sejak apa anda membelinya?" semua ini terasa mimpi bagi Jiseyla. Ya, ia adalah orang yang pertama mencintai pria itu. Bukan pada pandangan pertama, namun Jiseyla sungguh-sungguh tulus mencintai Edwrad, namun ia dilema apa perasaannya benar? Apa ia harus mempertahankan seorang pria yang bahkan tak pernah menerima cintanya? Apa ia akan ditolak mentah-mentah jikalau ia mengutarakan perasaan nya? Jiseyla berpikir begitu.
"Selamat tidur, pelangiku." Edwrad mencium kening Jiseyla, sebelum akhirnya ia pergi dari kamar Jiseyla saat itu.
~Flashback End~
*****
****
***
Hii Readers! Maaf author Icha jarang menyapa kalian karena author juga sedang mengalami masa kesibukan akhir-akhir ini! Sekali lagi maaf yaaa..
Setelah lihat perjuangan cinta bang Edwrad, jadi pengen deh punya cowok yang love language act of service banget, ya ga?
FYI, Act of Service ke pasangan itu bisa diibaratkan mencintai lewat tindakan/perlakuan ke orang yang kita sayang๐ค
jangan lupa baca terus kelanjutan 'Elf Princess', ya? Kedepannya mungkin akan ditampilkan scene Rubby sama Zac yang lebih banyak ( karena kan mereka tokoh utama ๐ฉโ๐ป )
Ngomong-ngomong, author mengucapkan terima kasih yang amat sangat banyak bagi yang setia menunggu kelanjutan up novel author, sekali lagi terima kasih, ya! And, mohon maaf apabila bertebaran typo karena author gak sempat baca ulang ditengah kesibukan nugas :'(
__ADS_1
See you readers, happy reading dan jangan bosan-bosan ninggalin jejak di karya author ini๐ Entah itu like, komen, dan gift, author akan sangat terbantu dengan dukungan readers! ๐